Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Malam yang Menyebalkan


__ADS_3

Part 96.


"Ini masalah pribadi Asiah dan Anema."


"Tapi. Pa! Anema telah melukai Alesa."


"Iya. Papa tahu. Pokoknya kamu jangan ikut campur. Papa tidak mau masalah ini semakin meruncing. Okay."


"Baik. Pa!" Fasya mengakhiri panggilan teleponnya setelah mengucapkan salam.


"Aku harus minta penjelasan mama Anema," batin Fasya, lalu menggulir layar ponselnya menelepon nomor kontak Anema, tapi tidak aktif, Fasya kemudian mencoba menelepon nomor kontak Saera juga tidak aktif.


"Ibu sama anak. Sama saja. Apa mungkin mereka ganti nomor hape," batin Fasya lagi.


"Saera apa kabarnya sekarang. Apa sudah senang hidupnya, setelah mengambil semua hartaku," gumam Fasya.


Sejak Fasya mentalak Saera, tak pernah sekali pun dia bertemu dengan wanita itu. Mungkin Saera sudah kaya raya jadi dia tak butuh lagi laki-laki kere seperti Fasya.


Sambil menggerutu kesal, karena tidak bisa menghubungi Anema dan Saera. Fasya kembali masuk ke ruang rawat Alesa. Dua orang suster berdiri di samping tempat tidur Alesa. Satu orang sedang berbincang dengan dokter Anzar dan satu orang sedang membuka jarum infus di pergelangan Alesa.


"Sus! Besok aku udah boleh pulangkan?" Tanya Alesa.


"Gimana dok? Apa Alesa boleh pulang besok?" Suster bukan menjawab pertanyaan Alesa, malah bertanya pada Anzar.


"Hemm... boleh nggak ya," ujar Anzar seraya memegang jidatnya.


"Kayaknya udah boleh. Makannya aja udah banyak tadi," canda Anzar, membuat Alesa salah tingkah.


Setelah mencabut jarum infus, memeriksa dan mencatat perkembangan pasien, kedua suster itu keluar, diiringi dengan tatapan Fasya.


"Dokter tidak sekalian pamit? Udah pukul sepuluh ni, waktunya Alesa rehat," ujar Fasya seraya menatap jam di layar ponselnya.


Spontan Anzar menatap jam di pergelangannya, tanpa disadari dua jam sudah dia berada di ruang rawat Alesa.

__ADS_1


"Sa! Kalau ada yang dibutuhkan, segera hubungi abang," ujar Anzar seraya beranjak dari duduk.


"Terima kasih untuk tawarannya. Tidak usah repot dokter, saya bisa mencarikan apa yang Alesa mau," ujar Fasya lagi dengan wajah datar.


"Iya. Bang! Terima kasih tawaran dan kunjungannya." Alesa menyela ucapan Fasya, lalu dia menarik tangan Anzar agar berjongkok.


"Tidak usah dengar ucapannya, dia sedikit..." Alesa berbisik, sambil menyilangkan jari telunjuk di dahinya dan tersenyum. Anzar tertawa kecil menanggapi ucapan Alesa.


Mata Fasya tak lepas menatap Anzar dan Alesa. Rasa tidak sukanya pada Anzar semakin menajam, kala Alesa berbisik-bisik. Alesa seperti sengaja melakukan itu, agar Fasya merasa bagaimana tidak enaknya diabaikan.


Setelah berpamitan dengan Alesa, Anzar beranjak diiringi Fasya sampai ke teras ruang rawat.


"Jauhi Alesa. Saya tidak suka dengan anda," ujar Fasya seraya mencekal lengan Anzar.


"Apa hubungannya dengan Alesa, yang tidak suka dengan saya. Anda! Bukan Alesa! Sampai kapan pun aku tak akan pernah menjauhi Alesa. Camkan itu!" Balas Anzar seraya menepis cekalan Fasya dengan kasar.


Tanpa menoleh lagi Anzar melangkah meninggalkan Fasya yang menatap kepergiannya. Dari Awal Anzar sudah menduga kalau Fasya tak menyukai kehadirannya.


Kesal Fasya mendengar ucapan Anzar, hingga di remas-remas rambutnya berkali-kali, lalu menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan kasar.


Sejurus Fasya melirik ke arah tempat tidur Alesa. Alesa tidak Ada, tiba-tiba terdengar suara gemericik air di kamar mandi. Fasya menafas lega, lalu mendudukkan bokongnya di sofa.


Klik... handle pintu diputar, daun pintu terkuak, Alesa ke luar dari kamar mandi, melangkah menuju tempat tidurnya. Malam ini merupakan malam yang paling sial bagi Alesa, tidur satu kamar dengan laki-laki yang menyebalkan dan sudah berstatus mantan suami.


Kalau Alesa mau, dia bisa saja mengusir Fasya dari ruang rawat ini. Namun, itu tidak dilakukannya, karena dia malas berdebat. Fasya yang terlalu egois pasti punya seribu alasan untuk membenarkan dirinya sendiri.


Alesa naik ke tempat tidur, dia menarik selimut, hingga menutupi dada. Kemudian berbaring memunggungi Fasya, beberapa menit kemudian Alesa pun terlelap, mungkin efek lelah dan obat yang diminumnya.


Seraya merebahkan tubuh di atas sofa, Fasya menatapi punggung Alesa. Dia berharap Alesa merubah posisi menghadap ke arahnya. Benar saja tiga puluh menit kemudian Alesa berpindah posisinya menghadap ke arah Fasya.


Dari jarak tiga meter Fasya menatapi wajah Alesa yang tak berniqab, mungkin niqabnya terlepas kala tidurnya sedikit lasak. Fasya terus saja menatap wajah mantan istrinya itu, hingga Alesa merubah posisinya menelentang. Baru Fasya memejamkan matanya.


Lama Fasya memejamkan mata, mencoba tidur. Namun, tak jua terlelap. Fasya merubah posisinya berulang-ulang, tak juga mau tertidur. Sementara jarum jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul dua dini hari.

__ADS_1


"Sial kenapa aku tidak bisa terlelap," gumam Fasya seraya bangkit.


Faysa menjulurkan kakinya ke lantai, kedua siku bertumpu di paha, lalu dia meraup habis wajahnya, Fasya menarik nafas panjang. Dalam hitungan detik, Fasya kembali merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan kedua tangan yang dilipat.


Mata Fasya menatap lurus ke atas langit-langit, tiga bayangan wanita yang pernah dinikahinya satu persatu membayang bergelayut manja di pelupuk matanya.


Fasya bangkit kembali, dengan cepat ditepis bayangan masa lalunya, Fasya turun dari sofa dan berjalan ke arah Alesa. Menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Alesa


Perlahan Fasya meraih jemari Alesa dan menciumnya berkali-kali. Tiba-tiba rasa kantuk menyerangnya. Fasya merebahkan kepalamya di tepi tempat tidur Alesa, dengan berbantalkan tangan kiri, sememtara tangan kanannya masih menggenggam erat jemari Alesa


*******


Suara azan subuh membangunkan Alesa, perlahan Alesa mengerjapkan mata indahnya. Dia terkejut saat menyadari tangan Fasya berada di atas perutnya dan Fasya mesih tertidur pulas.


Pelan Alesa mengangkat tangan Fasya dan menjauhkannya. Alesa turun dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil air wudhu semampunyanya.


Fasya terjaga dari tidurnya, kala


Mendengar bunyi gemericik air dari kamar mandi. Fasya mengangkat kepala, lalu meregangkan kedua tangan, tubuhnya terasa sakit karena ketiduran dalam keadaan duduk.


Setelah meregangkan ke dua tangan dan menggeliat sempurna. Fasya beranjak dari duduknya, dia keluar ruang rawat, menuju musalla menunaikan shalat subuh.


"Ke mana Fasya?" Tanya Alesa dalam hati, kala keluar dari kamar mandi, dia tidak melihat lagi sosok Fasya yang tadi masih tidur.


"Mungkin keluar cari udara segar," batin Alesa, lalu dia menunaikan shalat subuh. Setelah selesai shalat subuh Alesa kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur, karena dia belum terlalu kuat untuk beraktifitas.


Sepersepuluh menit kemudian, ada ketukan dari balik pintu. Sejurus Alesa menatap kearah pintu. Daun pintu terkuak setengah lebar, muncul wajah Asiah dengan adik laki-laki Alesa.


"Umi!" Sapa Alesa, dia bangkit, turun dari tempat tidur, lalu menyalami Asih dan mencium punggung tangannya.


"Bagaimana keadaanmu? Apa udah baikan?" Tanya Asiah menilik putrinya. Alesa mengangguk.


"Assalamualaikum," terdengar suara seseorang mengucap salam.

__ADS_1


Spontan Asiah dan Alesa menatap ke arah pintu.


__ADS_2