Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Membujuk Saera


__ADS_3

Part 28


"Auu," Fasya memegang jidatnya yang terantuk, terdapat luka gores, hingga terasa perih.


Saera tak memperdulikan teriakan kecil dan ringisan Fasya, dia berlari ke kamar sambil menangis. Alesa tertatih mendekati ke arah Fasya.


"Abang tidak apa-apa?" Tanya Alesa membantu Fasya bangun, lalu memeriksa jidat Fasya yang membiru dan terdapat luka gores.


Alesa membantu Fasya berdiri dan membawanya duduk di tempat tidur, Alesa ke luar mengambil air hangat, kemudian membuka lemari mengambil handuk kecil.


"Tahan sedikit," ujar Alesa sudah berlagak perawat yang sedang mengurus pasien. Alesa mengompres jidat Fasya, setelah itu batu memberi obat.


"Apa masih terasa sakit?" tanya Alesa seraya meletakkan kotak obat di atas lemari.


"Sedikit," jawab Fasya.


"Terima kasih. Alesa!" ujar Fasya seraya memegang kedua jemari Alesa. Seketika wajah Alesa merah merona.


Fasya mengurai pegangannya, lalu membelai lembut rambut Alesa dan mencium puncak kepalanya, beberapa detik Fasya mencium aroma wangi sampo dirambut Alesa. Ada perasaan aneh yang Fasya rasaksn secara sadar. Yah ... Fasya menyukai aroma tubuh Fasya.


"Apa kakimu tidak sakit lagi?" tanya Fasya mengurai ciumannya. Kini tangannya berpindah ke kedua pipi Alesa. Fasya menatapi wajah tanpa pembatas itu, rasanya Fasya ingin berlama-lama di situ.


"Sudah kurang," jawab Alesa seraya menepis lembut kedua tangan Fasya dari wajahnya.


"Sini. Biar Abang periksa dulu," Fasya meminta Alesa melunjurkan kakinya.


"Biar aku saja yang periksa. Bang! Abang pergilah susul Saera," ujar Alesa dia merasa tidak nyaman, karena dari tadi malam dia menjadi penyebab kenarahan Saera.


"Maafkan Abang ya. Kamu selalu jadi sasaran kemarahan Saera," ujar Fasya kembali menyentuh ke dua pipi Alesa. Alesa hanya mengangguk.


Fasya mengusap pipi Alesa, kembali mencium puncak kepalanya beberapa detik, lalu Fasya mengusap lembut kepala itu. Alesa hanya diam mendapat perlakuan manis yang kesekian kalinya dari Fasya.


Perlahan Fasya beranjak ke ruang kerja mengambil ponselnya, lalu menelepon Dea. Meminta sekretarisnya itu menggantikan dia meeting hari ini. Setelah mengirim file meeting ke Dea, baru Fasya menyusul Saera.


Begitu Fasya masuk ke kamar, dilihatnya Saera memasukkan pakaian ke dalam travelbag. Fasya menarik paksa tangan Saera dan mengajaknya duduk di tepi ranjang.


"Lepaskan!" rajuk Saera seraya menepis tangan Fasya.


"Saera! Abang minta maaf, telah membuatmu marah," ujar Fasya sambil merengkuh bahu Saera.


"Abang sudah tak sayang sama aku," ujar Saera seraya menarik resleting travelbag, kemudian memegang gagang travelbag.


"Saera! Jangan pergi. Abang mohon," bujuk Fasya seraya memeluk tubuh Saera dengan erat.

__ADS_1


"Maafkan Abang," Fasya meraih jemari Saera lalu menciumnya berkali-kali.


Saera menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit dihati, air mata masih deras meleleh di sudut netranya. Fasya menyesap air mata Saera, lalu memegang kedua pipinya.


Fasya ikut sedih melihat Saera menangis, dua belas tahun dia menjadi suami Saera, selalu menuruti apapun keinginanan Saera. Bahkan dia sering mengabaikan perasaannya sendiri demi memenuhi permintaan istrinya itu.


Hari ini Fasya tidak bisa membiarkan Saera untuk bertindak sesukanya pada Alesa. Karena Fasya tahu Alesa tidak bersalah dalam hal ini.


"Maafkan Abang ya," ulang Fasya lagi saat melihat Saera hanya diam membisu.


"Aku akan memaafkan Abang. Jika gadis itu pergi dari rumah ini," ucap Saera ketus.


Terkejut Fasya mendengar permintaan Saera. Fasya kembali merengkuh bahu Saera, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.


"Sayang. Jika itu permintaanmu, kali ini Abang tak bisa memenuhinya."


"Kenapa? Apa kamu..."


"Itu permintaan papa. Alesa tidak boleh keluar dari rumah ini," ujar Fasya menyela ucapan Saera.


"Kalau begitu aku saja yang pergi dari rumah ini," rajuk Saera.


Dengan wajah ditekuk Saera bangkit dari duduknya, meraih tas tangan dan ponselnya, kemudian menarik travelbagnya. Seketika Fasya berdiri menghalangi langkah kaki Saera.


"Sayang! Jangan pergi. Jika kau tak menurut aku akan menalakmu." Ancam Fasya.


"Oh. Ini tidak boleh terjadi. Fasya tidak boleh menceraikanku. Aku belum mendapat harta Malik sepeserpun," batin Saera dalam hati.


"Kamu boleh pilih, jika Alesa tetap tinggal di sini, belikan aku mobil baru atau rumah baru dan aku bersedia pindah dari sini," pinta Saera.


Sejenak Fasya diam, satu-satunya cara agar Saera dan Alesa tetap berada di rumah ini adalah memenuhi permintaan Saera. Membelikan Saera mobil baru.


"Baiklah, kita akan ke Showroom hari ini," ujar Fasya mengakhiri perdebatan.


"Sekarang mandi dan siap-siap," titah Fasya pada Saera.


Wajah Saera berubah ceria, kala mendengar Fasya akan mengambulkan permintaanya. Sebentar lagi dia bisa pamer pada rekan kerjanya.


"Ternyata Alesa ada gunanya juga," batin Saera.


Sementara Fasya meraih travelbag, membuka resletingnya, lalu mengambil baju-baju yang tadi Saera masukkan, menarohnya kembali ke dalam lemari. Kemudian keluar kamar menuju ruang kerja, terus ke kamar mandi.


Alesa di kamarnya sudah selesai mandi dan membersihkan lukanya, lalu mengganti perban dengan perban baru, lukanya masih terasa nyeri jika dijejekkan ke lantai. Namun, karena hari ini pertama masuk kelas, dia harus ke kampus juga.

__ADS_1


Gaun warna navy pilihan Alesa hari ini, dengan jilbab dan niqab senada. Insiden tadi pagi menyebabkan Alesa tidak bisa membantu Sri menyiapkan sarapan.


"Non! Ditunggu pak Fasya dan nyonyah untuk sarapan," terdengar suara Sri seraya mengetuk pintu.


"Iya. Bik," sahut Alesa seraya membuka pintu, sambil memperbaiki cantolan tas di bahu, Alesa berjalan menuju ke ruang makan.


Perlahan Alesa menarik kursi di samping Fasya lalu mendudukkan bokongnya. Fasya hanya meliriknya, kemudian meneruskan makan. Sementara Saera sama sekali tak terusik, dia terus saja menyuap makannya, hingga selesai, hari ini dibebaskannya Alesa berbuat apa saja, karena hatinya lagi senang.


Alesa mengambil piring dan dua sendok nasi goreng, dia pun makan dengan tenang. Suasana di meja makan sepi, tak seorang pun yang memulai pembicaraan, hanya ada sesekali bunyi sendok dan garfu beradu.


Sepuluh menit kemudian Saera selesai makab dan beranjak ke kamar mengambil tas tangan dan ponselnya. Fasya pun selesai dan menuju ruang kerja mengambil tas kerja dan jasnya. Sentara Alesa langsung menuju teras menunggu Fasya.


"Alesa! Kamu order gojek saja ya. Aku mau mengantar Saera ke Showroom," ujar Fasya seraya menggandeng Saera menuju mobil, Sejenak Saera menatap ke arah Alesa dan tersenyum penuh mistri. Begitu Saera masuk, mobil Fasya pun meluncur meninggalkan Alesa yang berdiri menatap kepergian Fasya dan Saera.


Alesa mengambil ponsel di tasnya, menggeser layar ponselnya mencari aplikasi gojek, lalu membuka dan mengorder ojek. Alesa berjalan ke luar pintu gerbang untuk mempermudah driver ojol mencarinya.


"Dengan Non Alesa Syarifah," seorang ojek berhenti di sisi Alesa.


"Iya benar," ujar Alesa.


Tit.. tit.. tit


Baru saja Alesa memasang helm yang diberikan driver ojol, sebuah mobil berhenti, pemiliknya menbuka kaca dan menjulurkan kepalanya.


"Bambang," batin Alesa.


"Bang! Ini ongkos ojeknya. Sekarang boleh pergi. Alesa ikut saya." Ujar Bambang menyodorkan uang lima puluh ribu.


"Baik Bang! Terima kasih," ujar driver dengan senang hati menerima uang yang diberikan Bambang dan mengambil kembali helm yang tadi diserahkannya ke Alesa.


"Hay! Aku..."


"Kamu naik mobil aku saja," sela Bambang ketika melihat Alesa melambai ke arah driver yang ingin pergi.


Bambang turun dari mobil, lalu membuka pintu dan meminta Alesa masuk.


"Dari mana kamu tahu alamat rumahku?" Tanya Alesa.


"Malam itu aku buntuti mobil yang menjemputmu dan malam itu juga aku mengetahui identitasmu," jawab Bambang seraya menekan pedal gas dan meluncur menuju jalan raya.


Dua puluh menit kemudian mobil yang dibawa Bambang memasuki area kampus. Bambang memarkir mobil, lalu turun dan membukakan pintu untuk Alesa.


"Alesa!" Terdengar sesorang memanggil Alesa.

__ADS_1


"Eh, pak Adra," sapa Bambang sambil menyalami dosen sastranya itu.


"Saya ada perlu dengan Alesa. Ayok Alesa ikut ke atas," titah Adra.


__ADS_2