Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kotak Musik


__ADS_3

Part 98


Empat belas tahun yang lalu, tepatnya Alesa masih di kelas empat sekolah dasar, dia pernah mengimpikan kotak musik, persis seperti yang Anzar berikan sekarang.


Masih terngiang diingatan Alesa, dia dan teman-temannya jalan-jalan ke pasar Tembilahan. Saat melewati sebuah toko, Alesa berhenti di depan sebuah estalase, dia memandangi kotak musik yang sedang berputar di balik kaca.


"Kamu lagi lihat apa?" Tiba-tiba Anzar mendekatinya.


"Kotak musik itu cantik ya," ujar Alesa kala itu.


"Iya! Kamu suka?" Tanya Anzar. Alesa mengangguk.


"Keh! Kotak musik berapa ya?" Anzar bertanya pada pemilik toko yang berperawakan cina.


"Tujuh puluh lah," kata si tokeh.


Anzar merogoh sakunya, dia mengeluarkan uang receh yang bergumpal, ada ribuan, lima ribuan dan sepukuh ribuan. Anzar meletakkan uangnya dia di teotoar jalan dan mulai menghitungnya.


"Kurang lima belas ribu," gumam Anzar.


"Kek, lima puluh lima ya," Anzar bernego.


"Enam puluh ribu, saya kasih," ujar se tokeh. Dia tidak mau kurang lagi.


"Nanti, kalau uangnya susah cukup kita kembali ke sini lagi ya," ujar Anzar, lalu meraih tangan Alesa dan menjauh dari toko.


Seminggu setelah itu. Anzar dan Alesa kembali ke sana lagi. Namun, kotak musiknya sudah terjual. Alesa sedih sekali, dia meninggalkan toko itu dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan sedih. Aku janji suatu saat nanti akan membawa kotak musik itu untukmu," ujar Anzar.


Beriring waktu Alesapun melupakan kotak musik itu. Dan Anzar pergi ke Bandung ikut kakaknya melanjutkan SMA di sana.


"Sa! Ayok turun," ujar Fasya membuka pintu mobil untuk Alesa. Alesa tersadar dari lamunannya.


"Minggir," ujar Alesa seraya mengibaskan tangannya ke arah Fasya. Fasya mundur beberapa langkah.


Dengan melenggok Alesa masuk, tanpa menoleh atau pun basa basi. Fasya menatapi punggung mantan istrinya itu, hingga menghilang di balik pintu.


"Nak! Fasya. Ayok masuk dulu," ajak Asiah.


"Tidak. Mi! Aku ditunggu papa di rumah," ujar Fasya, lalu menelepon Roy minta dijemput. Sepuluh menit kemudian Roy datang dan Fasya meluncur meninggalkan rumah Alesa.


*****


"Roy! Antar aku ke rumah mama Anema," ujar Fasya saat mobil yang membawanya meluncur di jalan raya.

__ADS_1


"Buat apa bos menemui Anema. Mau rujuk dengan Saera," ujar Roy, tetap memanggil Fasya dengan sebutan bos.


"Ntar kamu tahu, kalau sudah sampai ke rumah mama Anema," ujar Fasya lagi.


"Baiklah."


Mobil membelok ke sebelah kiri, kemudian meluncur menuju Arengka, terus belok lagi ke kanan masuk ke daerah panam. Sepersepuluh menit kemudian Roy memasuki pekarangan sebuah rumah, berpagar setinggi tiga meter dengan cat abu-abu rokok.


Roy memarkir mobil di samping pintu gerbang yang tertutup. Fasya dan Roy turun, melangkah mendekati pintu gerbang, mendorong terali yang menutupi jalan masuk.


Tok... tok... tok, Fasya mengetuk daun pintu dan mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam," terdengar seseorang menjawab salam dari dalam rumah, beberapa detik kemudian langkah kaki mendekati pintu utama. Seseorang memutar handle dan menguakkan daun pintu.


"Tante Diana."


"Fasya! Silakan masuk." Diana menguakkan pintu lebih lebar lagi.


Fasya mengajak Roy masuk dan duduk di sofa. Diana masuk ke dapur dan kembali lagi dengan nampan berisi dua gelas air teh. Diana meletakkan nampan di atas meja dan menyilakan Fasya dan Roy minum.


"Tante! Aku mau ketemu mama Anema," ujar Fasya.


"Anema sedang dirawat di rumah sakit," jawab Diana.


"Jika Anema dirawat berarti Alesa bohong kalau dia terluka dianiaya Anema," batin Fasya. Fasya sempat mencuri dengar perbincangan Alesa dan Bambang.


"Dipukuli seorang pemuda tak dikenal," ujar Diana lagi. Anema memang tidak menceritakan kronologis sebenarnya.


"Oh. Kasian mama Anema, apa mama Anema sudah melapor kepihak yang berwajib?"


"Tidak! Kata Anema pihak orang tua anak tersebut datang dan damai secara kekeluargaan," jelas Diana lagi.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Fasya.


"Tante! Boleh aku ketemu Saera."


"Untuk apa kamu ketemu dia?" Diana menatap intens pada Fasya.


Empat tahun Fasya menjatuhkan talak pada Saera tanpa kejelasan, hari ini tumben Fasya ingin bertemu dengan keponakan Diana itu.


"Bukannya kamu sangat membencinya," ucap Diana dengan nada ditekan.


Mendengar ucapan Diana, Fasya merasa tersudut, selama dia menalak Saera, dia memang tak pernah mencari Saera. Begitu Fasya mendapatkan Carla, dia sudah tidak butuh lagi Saera dan maupun Alesa. Apalagi Carla menghadirkan buah hati untuknya. Semakin sempurnalah hidup Fasya, sebelum badai itu datang.


"Atau kamu ingin mengambil kembali perusahaan dan rumah yang telah diambil Saera." Diana menatap intens pada Fasya.

__ADS_1


"Aku..."


"Penderitaan Saera setelah berpisah denganmu, tidak sebanding dengan harta yang didapatnya." Diana menyela ucpan Fasya. Diana tidak memberi kesempatan Fasya untuk membela diri.


"Maksud tante apa?" Tanya Fasya merasa tidak nyaman dengan tuduhan dia.


"Apa kata-kataku ada yang salah?" Diana bukannya menjawab pertanyaan Fasya dia malah balik bertanya.


"Tante bilang Saera menderita setelah saya cerai. Pada hal kenyataannya saya yang sengsara, karena Saera mengambil seluruh harta saja. Saya tidak terima kalau tante menuduh saya yang membuat Saera sengsara," Fasya membela diri, dia tak mau disalahkan.


"Ayok ikut tante. Kamu akan tahu kebenarannya." Diana beranjak dari duduknya.


"Ke mana?" Tanya Fasya.


"Menemui Saera," ujar Diana meraih kunci motor.


"Ayok! Siapa takut," ujar Fasya.


"Bos bawa saja mobil. Saya kembali ke kantor, ada rekan bisnis yang mau datang." Roy baru mendapat whatsapp dari Dea, kalau dia sedang ditunggu seseorang.


"Kamu ke kantornya pakai apa?"


"Dijemput sama Burhan, dia sudah otw," ujar Roy.


Roy merogoh saku celana, menyerahkan kunci mobil ke Fasya.


"Tante! Ikut di mobil saja tidak usah bawa motor," pinta Fasya. Namun, Diana tidak mau.


"Ikuti aku," ujar Diana, lalu menstater motornya dan melaju. Di ikuti Fasya dari belakang.


Mobil yang dibawa Fasya, sudah meluncur di jalan raya, mengikuti Diana yang mengandarai motor bebeknya. Dua puluh menit kemudian, Diana menghentikan motornya di depan sebuah TPU. Diana memarkir motor, menarik kuncinya dan turun.


"Tante! Kok berhenti di sini?" Fasya menurunkan kaca mobil dan bertanya heran kenapa Diana berhenti di depan tempat pemakamam umum. Dan tidak terlihat rumah sama sekali.


"Turan saja dulu," ujar Diana, dia mulai melangkah memasuki area TPU.


Perasaan Fasya tiba-tiba tidak nyaman, dia memarkir mobil di depan motor Diana. Begitu keluar dari mobil, Fasya berlari kecil menyusul Diana yang sudah meninggalkannya lebih kurang dua puluh meter.


"Tante! Apa maksud tante membawaku ke sini?" Tanya Fasya lagi, seminggu yang lalu Fasya ikut kepemakanan ini mengantar Abdurrahman keperistirahatan terakhirnya.


"Jangan banyak tanya. Ikut saja," ujar Diana meneruskan langkahnya. Kemudian berhenti di depan salah satu pemakaman yang gundukan tanahnya sudah kering, seperti pusara yang sudah berbulan-bulan.


"Makam siapa ini?" Tanya Fasya.


"Makam Saera."

__ADS_1


"Apa! Saera! Tente bohongkan. Tidak mungkin Saera meninggal," ucap Fasya seraya menggoncang bahu Diana. Dia berharap kalau telinganya salah dengar.


__ADS_2