
Part 104
Kata sah, membuat Fasya tersentak, tiba-tiba jantungnya berhenti berdetak. Dadanya terasa sesak.
"Bos! Kamu kenapa?"
"Bawa aku menjauh dari sini." Fasya gemetar, dia kehilangan kekuatan.
Roy meraih tangan Fasya membantunya berdiri, lalu menggamit tangannya. Melangkah ke luar dari ruang acara. Roy membawa Fasya menuju sofa di lobi.
"Tarik nafas dan bawa minum. Biar terasa lega kembali." Roy menyerahkan satu gelas air meniral.
Fasya menenggak beberapa teguk air yang diberikan Roy, lalu dia menumpukan kepala pada sandaran kursi. Dengan kedua tangan meraup habis wajahnya. Dua bulir kristal tanpa dipinta meluncur disudut netranya.
"Aku sudah kalah. Roy." Guman Fasya lirih, seraya menarik nafas panjang.
"Ikhlaskan. Di sini tidak ada kalah dan menang, karena jodoh itu akan datang di waktu yang tepat." Roy menepuk punggung Fasya. Roy tahu kalau Fasya sangat kecewa dan sedih atas pernikahan Alesa.
"Percayalah! Mungkin Tuhan sedang menyiapkan seseorang yang lebih baik untuk bos."
"Tak ada wanita lain, yang lebih baik dari Alesa."
"Benar! Dia memang wanita terbaik yang pernah kita kenal. Tapi bukan wanita yang tepat untuk bos, tempatnya bukan di sisi bos, tapi di sisi dokter Ridwan." Roy kembali menepuk bahu Fasya. Belum pernah Roy melihat wajah Fasya sesedih ini. Bahkan di saat dia dalam keadaan terpuruk sekalipun, Fasya masih bisa santai.
Mendengar ucapan Roy, Fasya sedikit terhibur. Benar kata Roy, baik belum tentu tepat buat kita, kalau tepat sudah pasti baik. Fasya menguatkan jiwa raganya, lalu dia beranjak dari duduk dan mengajak Roy kembali ke ruang acara.
"Bos yakin sudah kuat."
"Iya. Akan kucoba."
"Bos pasti bisa."
Kedua laki-laki itu beriringan masuk kembali ke ruangan. Alesa dan Ridwan sudah menduduki singgasana pengantin. Keduanya sangat serasi. Beberapa tamu sudah mencicipi hidangan dan sebagian ada yang memberi ucapan selamat dan berpamitan pulang.
Acara pesta berakhir pukul sepuluh malam. Dengan jeda tiga kali, shalat zuhur, asar dan magrib, tiga kali pula Alesa mengganti pakaiannya. Begitu semua tamu pulang, Alesa dan Ridwan digiring masuk kamar pengantin.
Saat berada di dalam, Ridwan melepaskan baju pengantinnya. Kemudian melilit tubuh bawahnya dengan handuk, dan bagian atas memakai singlet. Ridwan masuk ke kamar mandi.
Saat Ridwan keluar dari kamar mandi, posisi Alesa masih seperti tadi membelakanginya. Ridwan mendekati Alesa.
"Apa mau dibantu membuka aksesorisnya?" Ridwan tiba-tiba berdiri di depan Alesa, spontan Alesa menutup mata dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa? Aku ini suami mu." Ridwan tertawa melihat polah Alesa.
"Bukan! Kamu hanya suami pura-pura."
"Alesa! Tidak ada kepura-puraan dalam pernikahan kita. Aku mencintai," ucap Ridwan seraya menyentuh bahu Alesa.
Spontan Alesa menurunkan tangannya. Antara percaya dan tidak, saat mendengar ucapan Ridwan, bibir Alesa bergetar, dia tak bisa mengucapkan kata sepatah pun. Dia menatap lurus ke wajah Ridwan, mencari kebenaran ucapan Ridwan dibias matanya.
"Aku mencintaimu dalam doa. Dan Allah mengijabahnya."
"Ya Allah! Romantis sekali kata-kata itu," batin Alesa dengan hati berdebar.
"Kamu maukan menjadi istriku yang sesungguhnya?" Tanya Ridwan. Tanpa sadar Alesa mengangguk.
"Terima kasih sayang." Lagi-lagi Alesa mengangguk.
"Boleh abang membuka niqabmu?" Kembali Alesa mengangguk.
Perlahan Ridwan menarik niqab Alesa keatas. Dan melepaskannya.
__ADS_1
"Subhanallah! Begitu sempurnanya ciptaan mu. Ya Allah," batin Ridwan.
Laki-laki itu terpaku dan takjub saat mendapati, kalau wanita di depannya sangat cantik. Ridwan menatap wanita yang baru beberapa jam jadi istrinya.
"Hay." Alesa mengoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Ridwan, hingga Ridwan tersadar.
"I-iya." Ridwan tergagap.
"Kamu minta bantu kak Riri saja yang lepasi aksesorisnya. Abang takut tak bisa," ujar Ridwan, dia menjauh dari Alesa sambil mengatur nafasnya yang sedang bergejolak.
Ridwan lalu menelepon Riri. Saat Riri sang MUA dan dua asistennya datang, Ridwan sedang melakukan shalat isya. Begitu selesai shalat isya aksesoris di kepala Alesa pun sudah tak ada.
"Abang keluar dulu bentar. Aku mau lepasin gaun pengantinnya," titah Alesa.
"Iya." Ridwan ke luar, menuju lobi, duduk di sofa, sambil menggeser layar ponselnya. Membaca dan membalas ucapan selamat dari beberapa temannya.
Seperdua puluh menit kemudian, Riri muncul sambil menenteng tempat make up dan dua asistemnya membawa baju pengantin.
"Dokter! Maaf membuat bulan madu anda tertunda." Riri menggoda Ridwan seraya terkekeh.
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak buru-buru kok." Ridwan menanggapi ucapan Riri dengan senyuman, dia terlihat sangat bahagia sekali.
"Janda lebih berpengalaman," bisik Riri tawanya makin jelas, kemudian berlalu.
"Dasar mesum," batin Ridwan hanya tersenyum.
Sepeninggalan Riri dan dua asistennya. Ridwan masih beranjak dari duduknya, dia tidak langsung menuju kamar. Tapi masuk ke cafe hotel, Ridwan memanggil seorang pelayan.
"Kopi hitam."
"Baik. Bang, tunggu sebentar." Pelayan bergerak menjauh, lima menit kemudian kembali lagi dengan segelas kopi.
Lima menit kemudian, ritual mandi Alesa selesai. Mata Alesa melotot, saat dia membuka lemari, isi di dalamnya cuman ada tiga helai baju tidur yang minim dan transparan.
"Baju apaan ini," ujar Alesa, seraya menurunkan ketiga lingerie dan meletakkan di kasur.
"Mana bisa, aku pakai baju seperti ini," batin Alesa.
Alesa meraih ponsel, mencari nomor kontak Ridwan, dan menelepon laki-laki yang sudah jadi suaminya itu. Menanyakan prihal baju gantinya, karena tadi pagi waktu Alesa ingin menbawa baju ganti, dicegah oleh Rita mamanya Ridwan, katanya semua keperluan Alesa sudah disiapkan.
"Bang! Kenapa cuman ada lingerie, aku tak bisa pakai baju begituan?" Ucap Alesa setelah mengucap salam.
"Tunggu abang ke kamar. Nanti abang tunjukkan bagaimana cara makainya," ujar Ridwan setelah menjawab salam dari Alesa.
"Maksud aku..." Alesa ingin menjelaskan. Tapi panggilan telepon terputus. Alesa mencoba menelepon ulang, ponsel Ridwan malah tidak aktif.
"Ya udah, pakai yang ini saja." Alesa mengambil lingerie warna pink. Setelah mamakai baju serba minim. Alesa mengambil mukena yang tergeletak di nakas, dia pun melaksanakan shalat isya. Setelah shalat isya, Alesa membuka mukena dan meletakkan ke tempat asal.
Bulu kuduk Alesa meremang, saat melihat tubuhnya di depan cermin, memakai lingerie sama saja tidak berpakaian, lebih separoh tubuhnya terekspos, hanya bagian dada dan bokong yang tertutup.
"Gila! Seumur-umur aku tidak pernah pakai yang beginian," gerutu Alesa.
Mau bagaimana lagi, hanya lingerie yang ada. Sementara baju pengantin yang tadi dipakainya sudah dibawa Riri. Alesa mencoba menghubungi umi dan adik-adiknya, panggilan telepon masuk, tapi tak ada yang angkat.
"Apa sudah tidur semua?" Alesa melirik jam di layar ponselnya. Baru jam sebelas lewat tiga puluh lima menit.
Tok.. Tok.. Tok..
"Sayang! Buka pintunya."
"Aduh! Bagaimana ini," Alesa panik saat mendengar suara Ridwan. Alesa mengambil mukena yang tadi sempat dilepas, dan memasangnya kembali, lalu menyeret kakinya menuju pintu.
__ADS_1
Klik... daun pintu terkuak. Pandangan Ridwan lurus ke wajah Alesa.
"Belum shalat?"Tanya Ridwan.
"Sudah."
"Kok masih pakai mukena." Ridwan mendekat.
Alesa semakin kuat memegang mukenanya, dia semakin gugup, saat Ridwan mendekat dan menyingkap mukena yang dipakai Alesa. Mata Ridwan melotot melihat tubuh Alesa yang hanya dibalut baju tidur yang tipis dan transparan. Ridwan menelan salivanya.
Dada Alesa bergemuruh, seperti ada beribu tawon di dalamnya. Ridwan tak memperdulikan kegugupannya, dia malah mengangkat tubuhnya ke atas tempat tidur. Bibir Alesa kaku, dia tidak bicara sepatah kata pun, untuk mencegah Ridwan, agar tidak membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Tidak usah takut gitu," setengah berbisik Ridwan mengecup lembut cuping telinga Alesa.
Gejolak gairah Ridwan meronta-ronta, hingga dia tak bisa mengontrol diri. Aroma tubuh Alesa menggaur diujung hidungnya. Melihat Alesa memejamkan mata, Ridwan semakin yakin untuk menuntaskan malam pengantinnya.
"Sakit," terdengar lirih rintihan Alesa.
Ridwan menghentikan gerakannya, perlahan tapi pasti Alesa mulai menikmatinya, hingga pendakian Ridwan sampai ke puncak. Bahkan berkali-kali Ridwan memuntahkan laharnya.
"Terima kasih ya sayang," ujar Ridwan mengecup puncak kepala Alesa, lalu keduanya tertidur.
Suara azan subuh membangunkan Ridwan. Sebelum turun dari tempat tidur, dikecupnya kening Alesa yang masih tertidur pulas. Lalu turun dari tempat tidur, mengambil handuk, masuk ke kamar mandi.
Saat mendengar suara gemericik air, Alesa terbangan, seluruh tubuhnya terasa sakit, apa lagi diselangkangannya, terasa perih.
"Sudah bangun?" Tanya Ridwan yang baru keluar dari kamar mandi.
"Tubuhku sakit semua," ujar Alesa berusaha menggeliat.
Ridwan naik ketempat tidur, mengusap pipi dan mengecup dahi Alesa berkali-kali.
"Maafkan Abang yang sudah membuatmu capek," ujar Ridwan, seraya mengangkat tubuh Alesa, membawa ke kamar mandi.
"Abang keluar. Aku bisa mandi sendiri," Alesa mendorong tubuh Ridwan hingga sampai ke pintu kamar mandi. Dia pun mengunci pintu dari dalam.
Seorang office boy mengetuk pintu, mengantarkan sebuah koper. Ridwan meletakkan koper di atas tempat tidur.
"Darah apa ini," batin Ridwan saat matanya tertuju pada warna merah di atas sperai.
"Jadi Alesa masih perawan," gumam Ridwan. Dia berlonjak girang, saat Alesa keluar dari kamar mandi, tentu saja terheran-heran.
"Ada apa?" tanya Alesa.
Ridwan tidak menjawab pertanyaan istrinya, dia malah menggendong Alesa dan berputar-putar.
"Abang kenapa?" Tanya Alesa lagi.
"Mau lagi," jawab Ridwan.
"Shalat subuh belum," ujar Alesa.
"Habis shalat subuh ya." ujar Ridwan.
Alesa hanya mengangguk malu.
"Terima kasih sayangku." Ridwan berkali-kali mengecup kening Alesa. walaupun status istrinya janda, tapi masih tersegel.
Jika kehidupan Fasya tak semanis takdir. Tapi kehidupan Alesa dan Ridwan malah sebaliknya takdir yang sangat manis
TAMAT.
__ADS_1