Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Merasa Tak Dianggap


__ADS_3

Part 39


Melihat Alesa menutup wajahnya. Fasya merubah posisinya, menumpukan siku di atas kasur, lalu menarik tubuh Alesa hingga terbaring di sampingnya. Fasya membuka paksa tangan Alesa yang menutupi wajahnya, kini kedua insan yang berbeda jenis itu saling tatap.


Fasya menggeser wajahnya semakin dekat, hingga hidungnya menyentuh hidung Alesa. Nafas Alesa naik turun hingga terasa menyentuh kulit wajah Fasya. Tanpa di sadari tangan Fasya menekuk kepala Alesa, hingga dengan mudah bibir Fasya mematuk mangsanya yang hanya diam seribu bahasa.


"Abang! Kamu di mana?"


Alesa dan Fasya terkejut mendengar teriakan Saera, secepat kilat Fasya mengakhiri kisnya.


"Sial. Kenapa Saera bangun sepagi ini. Biasanya paling cepat jam delapan," gumam Fasya kesal.


Fasya beranjak turun dari tempat tidur. Seperti pencuri yang menghilangkan jejak, Fasya perlahan membuka pintu kamar Alesa dan menutup kembali, lalu berjingkat keluar langsung ke dapur mengambil air putih, kemudian beranjak ke ruang tengah sambil membawa gelas berisi air putih.


"Kamu dari mana. Sayang?"


"Dari dapur."


"Tadi malam tidur di mana?" borondong Alesa.


"Di mana? Ya di kamar kita lah. Sayang." Jawab Fasya, meraya merengkuh Saera dan mencium puncak kepalanya. Berusaha menutupi kesalahannya.


Saera mencium bau tubuh Fasya yang beda dari biasanya. Kecurigaan Saera semakin kuat, karena tadi waktu dia keluar kamar, langsung ke dapur tidak menemukan Fasya di sana.


"Apa Fasya tidur di kamar Alesa?" Batin Saera.


Seketika Saera mengurai rengkuhan Fasya, membalikkan tubuhnya dan mau berjalan menuju kamar Alesa.


"Eh, mau ke mana?" Secepat kilat, Fasya meraih tangan Saera, hingga langkahnya terhenti.


"Mau ke kamar wanita itu." Ketus Saera seraya menepis tangan Fasya.


"Ngapain ke sana. Hah!" Fasya mencekal lengan Saera, agar Saera tak melanjutkan niatnya.


"Melabraknya, karena dia sudah berani menggodamu," ujar Saera mendelek ke arah Fasya.


"Alesa tidak ada menggodaku," ujar Fasya seraya memegang kedua bahu Saera.


"Jadi Abang yang menggodanya. Iya?" Tanya Saera menukik.


Fasya terdiam, hingga mulutnya nganga, kala mendengar tuduhan Saera. Bagaimana bisa Saera tahu kalau dia habis bersama Alesa.


"Kenapa? Abang mau ngeles?" Tanya Saera lagi matanya membola menatap marah pada Fasya.


"Baru saja tadi malam Abang janji tak mendekatinya lagi. Abang sudah mengingkari," ujar Saera dengan suara bergetar.


"Maafkan Abang. Abang menemui Alesa, karena hanya ingin melihat keadaannya," ujar Fasya lagi, seraya menarik tubuh Saera ke dalam pelukannya.


"Melihat keadaannya, tidak mestia Abang tidur dan memeluknya kan," ujar Saera lagi, seraya memukul-mukul dada Fasya karena kesal.


"Abang tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan."


"Bau tubuhmu tak bisa berbohong. Bang!" ujar Saera mengagetkan Fasya.


"Abang minta maaf. Tadi Abang memeluk Alesa hanya menghibur dia karena dia lagi sedih teringan abi dan uminya," ujar Fasya lagi menutupi kebohongan dengan kebohongan lain.


"Aku akan memaafkan Abang. Tapi..."


"Tapi apa? Katakan saja Abang akan memenuhi permintaanmu," ujar Fasya mengurai pelukan lalu mencium dahi Saera.


"Aku mau kita pergi liburan hari ini."

__ADS_1


"Ke mana?"


"Ke Bali," ujar Saera lagi.


Sejenak Fasya terdiam, karena banyak kerjaan kantor yang akan terbengkalai jika dia pergi liburan. Tapi jika permintaan Saera tak dipenuhi, maka dia akan merajuk berpanjangan.


"Mau ya," ulang Saera saat melihat keraguan di wajah Fasya.


"Yah... Mana bisa dadakan seperti ni. Sayang! Tiket pesawat saja belum boking. Gimana?" Ujar Fasya.


"Aku udah beli tiket pesawat," ujar Saera. Sebenarnya Saera ingin memberi kejutan pada Fasya untuk liburan ke Bali dalam rangka Aniversary pernikahan mereka yang ketiga belas tahun. Dua hari yang lalu Saera sudah mempersiapkannya. Bahkan dia juga sudah memboking hotel di Bali.


"Baiklah. kalau gitu. Kamu mandi ge," ujar Fasya.


Sementara Saera berambus masuk ke kamar mandi, Fasya keluar menuju ke kamar Alesa.


"Sa!" Fasya memanggil Alesa seraya mengetuk pintu. Alesa membuka dan menguakkan daun pintu setengah lebar, lalu menjulurkan kepalanya.


"Ini ponselmu," ujar Fasya kemudian bergegas kembali ke kamarnya.


Dua puluh menit kemudian, Fasya dan Saera keluar kamar seraya menarik sebuah travelbag. Di luar Roy sudah menunggu, tadi ditelepon Fasya agar bisa mengantarnya ke bandara.


Saat melewati kamar Alesa, Fasya melirik ke arah pintu yang tertutup rapat. Fasya tidak diberi kesempatan oleh Saera untuk menemui Alesa.


"Kenapa Alesa tidak keluar dari kamarnya," batin Fasya.


Saera menggamit lengan Fasya hingga masuk ke dalam mobil.


"Tunggu! Tunggu!" Ujar Fasya seraya menghentikan gerakan Roy menekan pedal gas.


"Ada apa?" Tanya Saera.


"Bukannya tadi di cas di ruang kerja," ujar Saera mengingatkan.


"Oh. Iya," ujar Fasya lagi seraya menepuk jidatnya, lalu membuka pintu mobil, berlari ke ruang kerja, setelah meraih ponselnya, dia mengetuk pintu kamar Alesa. Namun, lima menit berlalu Alesa tidak membukakannya pintu.


"Abang!" Terdengar suara teriakan Saera. Mengagetkan Fasya.


"I-iya. Sabar dikit kenapa?" Sungut Fasya, dia gagal menemui Alesa.


"Nantì ketinggalan pesawat," gerutu Saera.


Begitu Fasya masuk, Roy menekan pedal gas dan meluncur melaju ke jalan raya. Sementara Alesa mengintip keberangkatan Fasya lewat gorden jendela.


"Aku memang tak dianggap ada oleh Fasya," batin Alesa, saat Fasya pergi tanpa pamit.


Begitu mobil Fasya hilang di balik pagar, Alesa ke luar dari kamarnya menuju dapur. Alesa membuka kulkas mencari sesuatu yang ingin di masaknya.


"Non! Maafkan bibik ya, tak sempat buat sarapan untuk Non," ujar Sri seraya tergopoh-gopoh berlari keluar sambil menenteng sebuah tas.


"Bik! Bibik mau ke mana?" Tanya Alesa seraya mengikuti Sri menuju ruang tamu.


"Bibik pulang kampung. Non! Tadi dapat telepon dari tetangga kalau ayah bibik meninggal dunia," ujar Sri berlinang air mata.


"Innalillahi wa innailaihirajiun," ucap Alesa.


"Bibik yang sabar ya," Alesa mengusap punggung Sri.


Lima menit kemudian sebuah mobil travel berwarna oren berhenti di depan pintu gerbang rumah Fasya. Travel yang dipesan Sri sudah datang. Alesa mengantar Sri sampai masuk ke mobil. Alesa melambaikan tangan, begitu mobil travel bergerak maju.


Tit, tit... bunyi kelakson mengejutkan Alesa yang baru saja ingin menutup pagar, memindai pandangannya pada mobil yang baru berhenti.

__ADS_1


"Mobil pak Adra," batin Alesa.


Adra ke luar dari mobil, dan tersenyum padanya


"Bang Fasya lagi tak di rumah," seru Alesa dari balik pagar.


"Aku mau ketemu kamu. Bukan Fasya," sahut Adra.


"Aku?" Alesa menunjuk dirinya.


"Iya. Abang mau membawamu ke dokter spesialis mata pagi ini," ujar Adra, seraya menatap intens ke arah Alesa.


"Tapi..."


"Siap-siaplah, Abang tunggu di teras," ujar Adra, menyebut dirinya dengan panggilan abang, dia ingin Alesa membiasakan memanggilnya Abang, bukan pak.


Alesa membuka pintu pagar, memberi ruang untuk Adra. Saat Alesa meminta Adra menunggunya di ruang tamu. Adra menolak dan memilih duduk di kursi santai yang ada di teras. Dia tidak enak bertamu sementara Fasya tidak ada.


Alesa masuk ke kamar, meraih handuk bergegas mandi, cukup lima menit ritual mandinya selesai, dan beberapa menit kemudian Alesa sudah rapi, sebelum ke luar menemui Adra, Alesa ke dapur dulu, menyimpan kembali bahan yang ingin dimasaknya tadi.


Segera melangkah menemui. Adra berdiri kala melihat Alesa ke luar pintu, setelah memastikan pintu sudah terkunci sempurna, Alesa menyusul Adra yang sudah menunggu di dalam mobil.


Tanpa Alesa sadari, ada sebuah mobil avanza parkir di seberang jalan dan pemilik mobil sedang memperhatikannya. Begitu mobil Adra meluncur, mobil avanza itu mengikutinya dari belakang.


"Mau ke mana Adra membawa Alesa," batin Bambang yang punya niat akan menjemput Alesa lagi. Tapi naasnya dia keduluan Adra.


Dua puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Adra memasuki klink praktek seorang dokter spesialis mata. Adra turun kemudian membuka pintu untuk Alesa.


Bambang menghentikan mobilnya sepuluh meter dari klinik, sambil mendengarkan musik, dia meraih ponsel dan mengirim pesan whatsapp pada Alesa.


(Sa! Kamu lagi di mana?) Bambang sengaja menanyakan keberadaan Alesa, dia ingin tahu apakah Alesa akan bicara jujur padanya.


Lima menit sudah berlalu, Bambang menatap layar ponselnya. Chatnya centang dua, tapi belum berwarna biru, itu tandanya belum di baca Alesa.


Dua puluh menit berjalan, masih belum biru, Bambang mulai gelisah, karena chat belum juga dibaca Alesa.


"Apa aku masuk saja ke klinik itu," batin Bambang tak sabaran menunggu chatnya di balas.


Baru saja Bambang membuka mobilnya, tiba-tiba Adra dan Alesa muncul dari dalam menuju ke mobil. Adra membuka pintu dan menyilakan Alesa masuk, mobil pun meluncur. Bambang buru-buru masuk kembali ke mobilnya dan mengikuti mabil yang membawa Alesa.


Di dalam mobil, Alesa yang duduk di samping Adra fokus menatap ke depan, dia memperhatikan satu persatu orang yang lalu lalang. Memastikan kalau matanya yang sakit masih bisa melihat dengan sempurna objek yang berada jauh di depan.


Adra yang fokus dengan stirnya, sesakali melirik Alesa dari spion depan, setakat ini dia masih penasaran dengan wajah di balik cadar itu. Adra meyakini kalau wajah Alesa sangat cantik, karena dua mata Alesa saja sangat indah.


"Dia pasti seperti bidadari yang kuidamkan," batin Adra.


"Adra sadar. Kamu sudah punya Carla," batin Adra lagi mengingatkan dirinya.


Alesa membuka tasnya, kala terasa getaran ponselnya, Alesa mengambil ponsel dan memeriksa panggilan yang baru masuk.


"Bambang," gumam Alesa dalam hari, lalu dia meneriksa beberapa pesan yang masuk. Dan menbuka pesan Bambang.


(Lagi di jalan) balas Alesa setelah membaca pesan whatsapp dari Bambang.


(Ke kampus ya?) Tanya Bambang lagi.


(Tidak) jawab Alesa singkat.


(Aku ke rumahmu ya. Tadi malam tak bisa tidur karena memikirkanmu)


Deg... Balasan Bambang membuat hati Alesa bergemuruh hebat.

__ADS_1


__ADS_2