Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Terkurung di Toilet


__ADS_3

Part 32


"Apa itu?" Tanya Adra saat Alesa masuk keruangannya seraya menenteng sebuah styrofoam.


"Kwetiau gareng," sahut Alesa.


Mendengar sahutan Alesa. Adra menarik nafas panjang, lalu dia meraih bungkusan di tangan Alesa.


"Bukannya tadi sudah janji, habis shalat langsung ke sini lagi. Eh... Malah kelayapan beli kwetiau," ujar Adra ada nada tak senang dari ucapannya.


Adra meletakkan styrofoam di atas meja. Ternyata benar kata Fasya kalau adiknya itu sangat kekekanakan.


Sementara Alesa masih berdiri ditempat semula. Entah kenapa Alesa merasa kalau Adra sudah terlalu ikut campur ke ranah pribadinya. Alesa ingin mengajukan keberatan. Tapi dia takut kuliahnya terancam. Namun, jika begini terus, Alesa jadi tidak bisa leluasa.


Vira masuk dengan dua orang office boy, membawa beberapa menu makan siang.


"Apa istimewanya wanita bercadar ini, hingga Adra begitu perhatian, sampai memesan menu makan yang spesial," batin Vira saat menatap Alesa.


Begitu meletakkan menu makan siang di atas meja. Vira dan dua office boy keluar dari ruangan, Adra meminta Alesa duduk di sofa dan makan bersama dia.


Alesa meletakkan tas sandangnya di atas sofa, lalu beranjak mengambil styrofoam berisi kwetiau pemberian Bambang.


"Sekarang waktunya makan siang. Jangan makan mie, nggak kenyang," ujar Adra memberi isyarat dengan tangan, meminta Alesa meletakkan kembali styrofoam di atas mejanya.


Alesa kembali ke sofa, tidak bicara sepatah pun. Dia mengambil jatah makan siang yang sudah di pesan Adra.


"Kenapa tidak dibuka saja niqabnya. Al! Biar lebih leluasa makannya," ujar Adra.


"Tidak susah kok makan," kelah Alesa.


"Ribet Al! Buka saja," ujar Adra lagi seraya mengulurkan tangan ingin membantu Alesa membuka niqabnya. Namun, Alesa mengelak dan bergeser beberapa inci. Alesa menggeleng.


Tangan Adra yang sudah terangkat, turun kembali, dia mengurungkan niat membuka niqab Alesa. Karena Alesa keberatan.


"Maaf," ujar Adra kala melihat Alesa kebaratan.


Andai saja tadi Alesa tidak berbuat salah. Pasti sekarang di sudah berada di rumah, istirahat dan tidur.


"Semua ini gara-gara Bambang," gerutuk Alesa dalam hati.


Setelah makan siang selesai. Adra kembali memanggil Vira dan memintanya untuk membersihkan sisa makanan di atas meja.


"Vir! Siapkan berkas meeting jam dua ini," titah Adra seraya melirik jam dipergelangannya.

__ADS_1


"Baik. Pak."


Selesai membersihkan meja, Vira keluar membawa sisa makanan, lalu masuk kembali membawa map berwarna biru, menyerahkannya ke Adra.


"Alesa! Kamu ikut aku meeting," ajar Adra.


"Aku?" Alesa menunjuk dirinya, seakan tak percaya kalau Adra memintanya ikut.


"Iya. Kamulah!" Ujar Adra meyakinkan.


Vira yang mendengar Adra mengajak Alesa jadi kesal, biasanya Adra kalau meeting selalu minta dia yang menemani, dan sekarang posisinya digantikan Alesa.


"Tapi aku tidak paham. Nanti malah bikin malu bapak," Alesa berusaha menolak.


"Abang! Bukan bapak," Adra protes memdengar Alesa memanggilnya bapak.


"Ini lagi di tempat umum," ujar Alesa seraya melirik kearah Vira. Adra yang paham maksud Alesa hanya tertawa.


"Di sana nanti, kamu hanya ditugaskan mendampingi aku, duduk manis dan dengarkan," cicit Adra menjelaskan.


"Saya harus ijin Fasya dulu," kata Alesa seraya mengambil ponselnya.


"Tidak usah. Fasya pasti tidak keberatan," ujar Adra lagi.


Seperlima menit kemudian, Adra dan Alesa keluar ruang kerja, menuju lift. Sementara Vira yang dari tadi mengamati gerak gerik Alesa. Mengikuti dari belakang.


Adra dan Alesa turun ke lantai dasar, lalu menuju tempat parkir. Adra membuka pintu mobil untuk Alesa. Begitu masuk Adra menstater mobil, menekan pedal gas dan meluncur menuju jalan raya. Sementara Vira juga sudah meluncur mengikuti mobil Adra menuju perusahaan Agrabisnis.


Dua puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Adra berhenti di sebuah gedung bertingkat. Adra memarkir mobil, lalu keluar dan menbuka pintu untuk Alesa. Vira yang mengamati gerak-gerik Adra dan Alesa dan mengambil beberapa gambar, di posisi Adra yang lagi mendekati Alesa. Lalu gambar itu dikirimnya ke Carla.


Begitu keluar dari mobil. Adra mengajak Alesa masuk, beberapa rekan bisnis Adra sudah berkumpul di ruang meeting.


Tiba-tiba Alesa merasa gugup, kala semua mata menatap kearahnya. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Dia berusaha menebar senyum keseluruh rekan bisnis Adra. Tentu saja tak seorang pun yang tahu kalau Alesa lagi tersenyum manis di balik cadar.


"Buat apa juga aku senyum pada mereka. Merekakan tak lihat," gerutu Alesa pada dirinya sendiri.


"Ayok duduk di sini," ajak Adra kala melihat Alesa ragu.


"Wah! Pak Adra punya sekretaris baru nih," ucap salah satu rekan bisnis Adra.


"Wajah di balik niqab. Pasti cantikkan pak Adra," goda rekan bisnis yang lain.


Mendengar guyonan rekan bisnis Adra, membuat Alesa salah tingkah, untungnya dia memakai niqab, jika tidak pasti wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.

__ADS_1


"Duh .. kelamaan di sini. Aku bisa jadi bahan pembicaraan mereka," batin Alesa tak menentu.


"Apa rapatnya sudah bisa kita mulai," ujar Adra mengalihkan pembicaraan agar rekan bisnisnya berhenti menggoda Alesa.


"Kita tunggu sepuluh menit lagi. Fasya sedang menuju ke sini," ujar laki-laki yang lebih tua dari yang lain.


"Jadi Fasya juga akan hadir di sini." Perasaan Alesa semakin tak menentu, apa lagi mengetahui kalau suaminya juga ambil bagian dalam pertemuan ini.


"Pak! Aku ke kamar kecil sebentar," bisik Alesa yang tiba-tiba rasa sesek pipis.


"Dari sini belok kiri, dua puluh meter di depan ada kamar kecil khusus wanita," balas Adra juga berbisik.


Sebelum keluar ruang meting, Alesa pamit dengan cara membungkukkan sedikit badannya, setelah itu baru dia keluar. Alesa mengikuti arahan Adra, benar saja dua puluh meter dari ruang meting ada tulisan toilet wanita.


Alesa masuk ke dalam salah satu toilet, dia menyandarkan punggungnya di balik pintu, menarik nafas dalam. Setelah melepaskan hajat dia pun merasa lega dan sedikit tenang. Ternyata berada diantara orang-orang berduit membuat Alesa merasa rendah diri dan kecil.


Klink... saat Alesa ingin memutar handle pintu kamar kecil, pintunya tidak bisa terbuka.


"Astagfirullah. Bagaimana ini," batin Alesa.


"Selamat bersantai Alesa! Nikmati tuh kamar kecil," terdengar suara dua orang dari luar, tertawa cekikikan.


Vira dan Carla yang sudah merencanakan untuk mengerjai Alesa datang tepat waktu. Saat Alesa keluar dari ruang meting. Vira dan Carla langsung mengikuti Alesa.


"Siapa kamu! Buka! Aku mohon jangan kurung aku di sini," teriak Alesa dari dalam.


"Syukurin. Emang enak, makanya jangan belagu, mau jadi asisten pak Adra."


"Vira! Itu kamu kan. Aku tidak mau jadi asisten pak Arda." Teriak Alesa lagi dari balik pintu.


"Kalau kamu tidak mau. Kenapa pak Adra meminta kamu yang menemani dia meting."


"Vira! Aku mohon buka. Nanti aku akan bicara pada pak Arda, agar kamu saja yang menemaninya."


"Sudah terlambat! Syukurin, bye- bye Alesa," ujar Vira lagi, terdengar kekehnya semakin menjauh.


Setelah bicara seperti itu, Vira dan Carla pergi meninggalkan Alesa. Vira masuk ke ruang meting dan Carla kembali ke klinik tempatnya bekerja.


Alesa tertegun sejenak, tangannya masih berpegangan di handle pintu, berusaha memutar-mutar gagang pintu. Namun, pintunya tak juga kunjung terbuka.


"Hay! Siapa pun yang ada di luar, tolong buka," teriak Alesa seraya menggedor-gedor pintu toilet.


"Aku harus minta bantuan pak Adra," batin Alesa seraya meraba saku gaunnya.

__ADS_1


"Astagfirullah. Ponsel ku di dalam tas, tas ada di ruang meting," gumam Alesa seraya menepuk jidatnya.


__ADS_2