
Part 42
Alesa masuk ke kamar, meletakkan barang belanjaan dan pemberian dari Bambang di atas kasur. Kemudian keluar membawa kantong plastik berisi buah ke dapur. Dia mencuci buah itu sampai bersih lalu menyimpannya di dalam kulkas.
Suasana rumah yang sepi, membuat perasaan Alesa sedikit tegang, karena dia tak biasa tinggal di rumah yang besar dan tak berpenghuni, rumahnya di kampung kecil dan penghuninya ramai. Jauh beda dengan rumah Fasya yang ditempatinya sekarang.
Setelah menutup kulkas. Alesa mengambil gelas kecil dan mengisinya dengan air, lalu dia membawa gelas berisi air ke kamar. Alesa meletakkan gelas itu di atas meja rias, memasukkan setangkai bunga mawar pemberian Bambang.
Sejenak Alesa menatap bunga yang masih terlihat segar. Kemudian Alesa mengambil paperbag kecil yang diberikan Bambang. Alesa mengeluarkan sebuah kotak kecil di dalamnya dan membuka kotak itu. Sebuah jam casio BABY-G BGA-260-1ADR bertengger indah di situ.
Alesa meraih ponsel, menggeser layarnya, saat melihat beberapa notif pesan whatsapp yang masuk, Alesa mengabaikannya, termasuk pesan dari Fasya, dia memilih mencari aplikasi google. Dia membrowsing harga casio BABY-G BGA-260-1ADR.
"Satu juta seratus enam puluh ribu," batin Alesa, dia memasukkan kembali jam tangan itu ke kotanya.
"Ini terlalu mahal. Aku harus mengembalikannya pada Bambang."
Kotak jam itu masih berada di tangan Alesa. Bagi orang-orang yang punya uang, jam seharga itu mungkin biasa saja. Tapi bagi Alesa itu terlalu mahal, dulu waktu SMA, Alesa pernah dibelikan abinya jam tangan seharga tujuh puluh lima ribu. Itu saja menurut Alesa sudah mahal. Apa lagi ini lebih satu juta.
Alesa memasukkan kembali kotak jam itu ke dalam paperbag kecil, lalu menyimpannya di dalam laci meja rias. Setelah itu Alesa mengambil paperbag yang berisi sepatu. Alesa mengeluarkan sepatu kulit itu, lalu memasang di kakinya.
Alesa duduk di tepi ranjang dengan menjuntaikan kaki. Sepatu warna hitam itu terlihat sangat serasi di kaki Alesa. Alesa berdiri sambil berpegangan di tepi ranjang.
"Kamu harus bisa. Alesa," batinnya seraya melangkah terseok-seok.
"Ih, susah sekali," gumam Alesa.
"Carla dan Saera sepatu mereka lebih tinggi dari ini. Tapi mereka bisa, masa aku tidak," batin Alesa lagi, memotivasi diri sendiri. Dia terus berjalan mondar mandir. Setengah harian Alesa mamakai sepatu itu selama melakukan aktifitas rumah.
Walaupun belum terlalu pas. Tapi Alesa yakin dia sudah bisa menyeimbangkan diri, saat memakai high heels. Paling tidak dia sudah bisa bersaing dengan Saera dalam berpenampilan.
Alesa memoto sepatu dan dua lembar baju yang dibelikan Adra, lalu memposting di store whatsappnya dengan caption ( Terima kasih, semoga rezekinya lancar)
Baru dua menit Alesa memposting di store whatsappnya. Fasya yang baru keluar dari bandara, dan berada di dalam mobil menuju hotel sudah melihat dan memberi komentar.
(Dari siapa barang-barang itu) tanya Fasya lewat pesan whatsapp.
Alesa membuka pesan whatsapp dari Fasya. Membaca pesan Fasya yang tadi diabaikannya, ternyata praduga Alesa tadi pagi salah, tentang Fasya yang pergi tanpa pamit. Alesa meneruskan membaca pasan yang baru masuk.
"Aduh! Kenapa juga ku posting. Cari masalahkan," batin Alesa menyesali kebodohannya.
Alesa menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Lama di tatapnya pesan whatsapp dari Fasya.
"Jujur atau bohong lagi." Alesa berpikir sejenak sebelum membalas pesan dari Fasya.
__ADS_1
(Di kasih sama Adra) balas Alesa. Dia memutuskan jujur pada Fasya. Dan sengaja memanasi Fasya. Kalau dia dapat perhatian lebih dari Adra. Karena tak didapat dari suaminya.
"Adra! Jadi Adra menemui Alesa waktu aku tidak ada," batin Fasya.
(Kembalikan barang-barang dari Adra. Jika kamu masih mau lanjut kuliah) balasan dari Fasya berupa ancaman.
Alesa menarik nafas lebih dalam dari tadi. Dia sudah menduga kalau Fasya pasti tidak setuju kalau dia menerima pemberian Adra. Apa ini bentuk rasa cemburu Fasya atau hanya sekedar menjaga gengsi. Alesa susah menebak perasaan Fasya pada yang seperti air di sungai pasang surut.
(Adra memberikannya ikhlas kok. Kenapa harus dibalikin) balas Alesa berharap Fasya tidak memaksanya.
(Kembalikan! Kalau abang bilang kembalikan. Maka kembalikan, tidak ada tapi. Titik) balas Fasya di akhiri dengan emoji marah.
Alesa yang tidak ingin berdebat, hanya mengiyakan. Dia malas melayani Fasya buang waktu saja, karena bagaimana pun Fasya tidak akan pernah mengalah. Fasya pun merasa lega kala mendapat balasan dari Alesa.
(Obat jangan lupa di minum) pesan Fasya berikutnya. Alesa membaca pesan itu dan membalasnya dengan emoji terima kasih.
Alesa meletakkan ponselnya. Kala mendengar azan zuhur berkumandang, dan mengakhiri chatnya dengan Fasya. Dia masuk ke kamar mandi, mengambil air wudhu dan menunaikan shalat, begitu selesai shalat Alesa naik ke atas kasur dan tidur.
*****
Carla yang mendapat kabar, kalau Fasya dan istrinya liburan ke Bali, langsung menelepon seseorang.
"Untuk penerbangan pukul sepuluh sudah full, kalau ibu dokter mau, bisa ikut penerbangan pukul dua sore atau malam pukul dua puluh," ujar seseorang yang diteleponnya.
"Baik. Saya ambil penerbangan pukul dua," ujar Carla seraya menutup teleponnya.
Sementara Fasya dan Saera yang baru saja sampai dan chek in hotel beristirahat sebentar, sebelum keluar pergi makan siang. Selesai makan siang Saera meminta ijin pada Fasya untuk tidak kembali ke kamar.
"Aku mau ketemu teman dulu. Tidak ikut ke kamar."
"Mau ke mana?" Tanya Fasya.
"Ke temu teman. Bentar aja kok," ujar Saera lalu beranjak pergi.
Saera ingin memberi kejutan pada acara puncak aniversery malam nanti. Makanya dia tidak ingin Fasya tahu apa rencana dia selanjutnya.
Sepeninggalan Saera. Fasya kembali ke kamar, sambil rebahan dia menelepon Alesa. Alesa yang sedang tidur terusik dengan geteran ponselnya yang tak henti-henti. Dengan setengah malas Alesa meraih ponselnya dan menerima panggilan Fasya.
Fasya menanyakan apakah Alesa sudah makan dan minum obat.
"Minum obatnya yang teratur. Biar cepat sembuh," pesan Fasya lewat panggilan telepon. Padahal tadi pagi Fasya sudah kirim chat pada Alesa dengan pesan yang sama. Sebenarnya itu hanya alasan Fasya saja, agar bisa menghubungi Alesa.
"Iya cerewet," balas Alesa.
__ADS_1
"Ingat! Harus banyak istirahat juga. Pekarjaan rumah biar bibik yang kerjakan."
"Tapi bibik pulang kampung. Bang!"
"Hah! Jadi Sri pulang kampung" Fasya memastikan kalau dia tak salah dengar. Masa iya Sri pulang tak pamit padanya.
"Iya. Bang! Ayahnya meninggal."
"Innalillahi wa innailaihirajium," ucap Fasya tak habis pikir, biasanya kalau pulang kamoung, Sri pasti kasih kabar ke dia.
"Mungkin dia lupa, karena sedang berduka," gumam Fasya.
"Kamu tidak takutkan, di rumah sendirian?" tanya Fasya khawatir. Karena Alesa baru beberapa hari berada di rumahnya. Pasti belum terbiasa.
"Hemmm." Hanya itu yang keluar dari mulut Alesa. Kalau dibilang takut pun, belum tentu Fasya perduli, atau dia malah mentertawakan Alesa.
"Abang percaya. Kamu wanita tangguh. Pastilah nggak takut," ujar Fasya lagi memberi semangat pada Alesa. Karena Fasya yakin Alesa berani, dia wanita mandiri bukan seperti Saera yang manja.
"Jika ada apa-apa. Segara kasih tau abang," ujar Fasya kemudian menutup panggilannya.
Setelah menutup sambungan telepon dengan Alesa. Fasya menelepon Roy untuk bisa menemani Alesa di rumahnya.
"Bos tidak salah memberi perintah ke aku. Buat menemani non Alesa?" Tanya Roy.
"Tidaklah. Kamu asisten ku, jadi apa pun perintah ku, kamu wajib jalankan."
"Tapi bos. Aku takut khilaf," ujar Roy seraya tertawa, dia sengaja menggoda Fasya. Ingin menguji apakah Fasya mencintai istri keduanya itu.
"Maksudmu? Takut khilaf?" Tanya Fasya tidak mengerti kearah mana pembicaraan Roy.
Mendengar Fasya bertanya padanya, membuat Roy menarik nafas panjang.
"Sudah punya istri dua. Tapi otak tak loading," gumam Roy.
"Roy! Apa kamu masih di situ?" Tanya Fasya lagi, saat tak mendengar suara Roy
"I-iya. Bos!"
"Khilaf maksudnya, itu bos..." ujar Roy sengaja menggantung ucapannya.
"Make love. Bos! Maklum aku kan jomblo karatan, kalau satu rumah dengan wanita semanis Alesa. Aku tak jamin..."
"Stop! Ku bunuh jika kamu berani mengganggu Alesa," ancam Fasya menyela ucapan Roy.
__ADS_1
"Hah! Bos tega."
Ucapan Fasya sudah menjawab keyakinan Roy.