Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Keterpurukan Fasya


__ADS_3

Part 79.


"Nih ambil!" Fasya melemparkan kunci mobil ke arah Carla, seraya menatap intens pada Carla. Dia tak habis pikir kalau Carla begitu tega membohonginya, Fasya menelan salivanya dengan kasar. kemudian berlalu dari hadapan wanita itu. Dia khawatir jika berlama-lama di situ akan terjadi sesuatu.


Sementara Carla hanya termagu menatapi punggung Fasya yang terus menjauh. Sebenarnya Carla tidak serius untuk mengambil semua fasilitas yang diberikan pada Fasya. Dia malah berharap Fasya meminta maaf pada saat dia meminta kembali fasilitas yang telah diberikan padanya. Namun, perkiraan Carla salah.


"Fasya! Kembalilah! Aku tidak serius dengan ucapanku," teriak Carla. Namun, Fasya semakin menjauh.


"Carla! Lupakan dia." John mendekat dan menahan langkah Carla, supaya tidak mengejar Fasya.


Plak... satu tamparan mendarat di pipi John. Carla menatap marah pada John, karena kedatangan laki-laki itu telah menghancurkan mahligai impiannya.


"Untuk apa kau mencariku? Hah! Kalau hanya untuk menghancurkan hidupku."


"Aku mencintaimu. Carla."


"Cinta! Ke mana kamu empat tahun yang lalu, saat aku membutuhkan tanggung jawabmu. Hah!"


"Aku..."


"Kau egois! Hanya memikirkan dirimu sendiri" Carla berteriak histeris.


"Carla dengar aku. Aku sangat mencintaimu, aku sudah mencarimu."


"Aku benci kamu John. Sejak kejadian itu, sejak kamu tinggalkan aku tanpa pesan," ujar Carla marah dengan mata berkaca-kaca.


Derai air mata tak terbendung, Carla sudah tak punya kata-kata lagi untuk meluahkan perasaannya. Tak pernah sedikitpun terbayang di benaknya, kalau akan bertemu lagi dengan kekasih masa lalunya, kenapa takdir hidupnya bersama Fasya akan berakhir stragis ini.


"Maafkan aku. Aku telah melukaimu," John menarik tubuh Carla dalam dekapannya.


"Kau jahat John! Kau Jahat! Hiks, hiks, hiks." Carla memukul-mukul dada John dengan kedua tangannya.


John membiarkan Carla melakukan apapun terhadapnya, hingga gerakan tangan Carla melemah. John mengeratkan rengkuhan dan pelukan pada wanita yang sangat dicintainya itu. Dan membiarkan Carla menangis di dadanya.


"Maafkan aku Carla. Aku tak pernah berniat mengabaikanmu, selama empat tahun aku berusaha mencarimu," ujar John merasa bersalah.


******


Sementara Fasya berjalan terus menyusuri ruas jalan, sedikit pun tak ingin mrnoleh ke belakang. Fasya memutuskan untuk melupakan Carla dan anaknya.

__ADS_1


Hingar bingar kendaraan tak Fasya hiraukan, dia berjalan tak tahu arah. Mau pulang pun tak tahu ke mana. Karena rumah miliknya sudah di sita oleh Saera. Sambil mengusap habis wajah dengan kedua tangannya.


Setelah memastikan sudah jauh dari klinik Carla. Fasya berdiri di pinggir jalan, seraya tangannya melambai menyetop mobil siapa saja yang lewat, yang ada dipikirannya sekarang dia hanya ingin menjauh dari Carla.


"Bos Fasya."


Roy yang kebetulan lewat menghentikan mobilnya, tepat di depan Fasya, lalu membuka kaca mobil dan meminta Fasya masuk. Fasya menarik handle pintu dan masuk, Roy yang melihat penampilan Fasya tidak bertanya sedikit pun, karena Roy tahu betul bagaimana ekspresi Fasya kalau lagi kacau. dia menarik pedal gas dan meluncur.


"Ada apa bos?" Tanya Roy setelah mobil berjalan beberapa seratus meter.


Fasya tidak menjawab pertanyaan Roy, dia kembali mgengusap wajah dengan kedua tangannya, lalu meremas rambutnya dengan kesal, ******* nafas terlihat sekali kalau dia sekarang sangat down.


"Aku sudah tak punya apa-apa sekarang," ucap Fasya.


Cett... Roy menginjak rem mendadak, lalu menghentikan mobilnya. Menoleh ke arah Fasya.


"Maksud bos?" Roy menatap intens ke arah Roy.


"Carla mencabut semua fasilitas yang diberikannya padaku," ujar Fasya lirih.


"Apa alasan Carla memperlakukan bos seperti itu?"


"Carla telah membohongiku, ternyata Al bukan darah dagingku," ujar Fasya kembali mengusap wajahnya.


Roy ikut prihatin dengan nasib Fasya, punya istri tiga, sekarang statusnya sama dengan dirinya. Roy merengkuh bahu Fasya lalu mengusap punggungnya, memberi kekuatan. Lalu Roy menekan pedal gas, dan mobilnya meluncur melajukan di jalan raya menuju ke rumah.


Sepuluh menit kemudian, Roy memasuki pekarangan sebuah rumah yang tidak terlalu besar, lalu dia memarkir mobil, turun dan membuka pintu untuk Fasya.


"Ini rumah siapa?" Tanya Fasya. Selama ini Fasya memang tak pernah berkunjung ke rumah Roy.


"Rumah aku. Bos! Walaupun kecil tapi nyaman," Sahut Roy, seraya mengajak Fasya masuk.


Fasya sudah ke luar dari mobil menghentikan langkahnya, sejenak dia memindai rumah Roy. Empat tahun dia menikah dengan Carla, selama itu dia tetap menjalin hubungan baik dengan Roy. Namun, dia tidak pernah tahu kalau Roy bekerja dengan Alesa.


Seraya mengikuti langkah Roy, Fasya masuk ke rumah Roy, Roy meminta Fasya duduk di sofa ruang tengah, lalu Roy ke dapur dan kembali lagi dengan dua gelas kopi.


"Minum dulu," ujar Roy menyerahkan secangkir kopi.


"Maaf aku merepotkanmu," ujar Fasya seraya meraih gelas kopi yang diserahkan Roy.

__ADS_1


"Kenapa bicara begitu, bukannya kita ini teman. Jadi kamu boleh tinggal di rumahku seberapa kamu mau," ujar Fasya lagi.


Mendengar ucapan Roy, Fasya terharu, dia menarik nafas lega, walaupun beberapa kali Fasya membuat Roy kecewa. Namun Roy tetap menganggapnya sahabat. Roy tak meninggalkannya di saat dia sedang dalam keadaan sulit.


"Terima kasih. Sudah mengijinkan ku tinggal di sini."


"Aku percaya. Bos pasti bisa melewati ini semua dengan baik dan tegar," Roy menepuk bahu Fasya, lalu meminta Fasya beristirahat menenangkan diri. Roy kembali ke kantornya.


Sejak saat itu Roy memenuhi kebutuhan Fasya dan dia terus memberi support Fasya agar bisa bangkit kembali. Bermodalkan laptop pinjaman dari Roy, Fasya mencari kerjaan secara online, dia menerima orderan apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk sementara mencukupi kebutuhan hidupnya.


*****


Sementara Alesa akan pergi menghadiri meting kedua di perusahaan Viral, setelah satu minggu penandatanganan kontrak kerja. Kali ini dia di jemput Bambang. Begitu sampai di ruang meting, Alesa tidak menemukan Fasya dan Carla.


"Kenapa Carla dan Fasya tidak hadir?" Tanya Alesa pada Bambang saat meting usai.


"Kata Viral perusahaan mereka mengundurkan diri," jelas Bambang.


"Kok bisa?"


"Entahlah," jawab Bambang seraya mengangkat kedua bahu, mengisyaratkan kalau dia tidak tahu apa-apa.


Tiba-tiba pikiran Alesa terusik ingin tahu apa penyebab Carla mengundurkan diri, bukannya kemaren dia sangat bernafsu ingin menyingkirkan Alesa. Mungkin ini bukti tuhan sayang dan dengar doa Alesa yang telah dizalimi oleh Carla dan Fasya.


"Kita makan siang dulu ya. Baru aku antar kamu ke kantor," ujar Bambang seraya melangkah menuju ke parkir. Alesa hanya mengangguk.


Bambang membuka pintu mobil untuk Alesa, lalu dia masuk dan duduk di belakang stir. Bambang menarik pedal gas dan meluncur meninggalkan kantor Viral menuju rumah makan padang yang berada di simpang lampu merah.


Seperlima menit kemudian mobil yang dikendarai Bambang sampai dan masuk ke area parkir rumah makan. Bambang memakir mobil, lalu turun dan membuka pintu mobil untuk Alesa.


Alesa dan Bambang berjalan beriringan masuk ke rumah makan, sejenak Bambang memindai ruangan mencari tempat yang kosong. Seorang pelayan menghampiri dan menunjuk kalau di dalam masih ada beberapa meja yang kosong. Bambang dan Alesa pun mengikuti arahan pelayan ini.


Bambang menarik sebuah kursi mempersilakan Alesa duduk, lalu dia mendudukkan bokongnya di samping Alesa. Seorang pelaya datang mengantar dua gelas air putih dan menanyakan minuman tambahan, setelah mencatat pesanan, pelayan pun berlalu.


"Hay Bambang." Seseorang menepuk bahu Bambang dari belakang. Spontan Bambang dan Alesa mendongakkan kepalanya.


"Brayen," gumam Bambang dan Alesa bersamaan.


"Boleh aku gabung?" Tanya Brayen seraya mata nakalnya menatap Alesa.

__ADS_1


Sekilas Alesa memandang ke arah Bambang. Brayen sudah mendudukkan bokongnya dikursi depan Alesa, tanpa menunggu Bambang mengijinkan.


"Apa kalian sudah menikah?" Tanya Brayen begitu dia sudah duduk dengan sempurna.


__ADS_2