Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Alesa Kabur


__ADS_3

Part 35


Carla yang berniat mengantar Fasya ke luar klinik. Begitu mendengar Adra ada, Carla mengurungkan niatnya. Sejak bertemu lagi dengan Fasya dan mendapat nomor whatsappnya, Carla sudah tak menbutuhkan tungannya itu untuk mendapat kabar Fasya


"Pasien masih ada. Aku tak bisa menemui Adra," ujar Carla memberi alasan.


Setelah berpamitan dengan Carla, Fasya dan Alesa ke luar.


"Bagaimana keadaan matamu. Al?" Tanya Adra cemas, kala melihat mata Alesa diperban.


"Dia baik-baik saja," ujar Fasya menjawab pertanyaan Adra.


"Baik-baik bagaimana, diperban seperti itu. Jika terjadi apa-apa dengan Alesa itu tanggung jawab kamu." Tuding Adra.


"Aku? Bukan aku saja. Kamu juga!" Fasya menunjuk dirinya, kemudian menunjuk Adra.


Adra ikut andil atas musibah yang dialami Alesa, dialah puncanya. Jika dia bisa menjaga Alesa dengan baik, tentu tidak akan terjadi perseteruan tadi. Fasya yang berniat membela Alesa masalah menyakitinya.


"I-iya, jelas-jelas kamu yang memukul Alesa," Adra tidak terima kala Fasya mengatakan yang bertanggung jawab atas musibah Alesa dia ikut terlibat.


"Aku bermaksud memukulmu, tapi karena Alesa menghalangi, akhirnya pukulanku mengenai matanya," protes Fasya.


"Stop! Stop!" Roy kembali menyadarkan dua sahabat itu dari perdebatan.


"Kalian berdua itu sama-sama salah dan sama-sama bertanggung jawab, atas apa yang dialami Alesa hari ini," ujar Roy menengahi.


"Tidak bisakah kalian berdua damai? Atau kalian berdua jatuh cintai dengan gadis bercadar ini," ungkap Roy.


"Enak saja kamu ngomong gitu. Nggak! Ramalanmu salah seratus persen," Fasya menyanggah ucapan Roy.


Dari mimik wajah Fasya, Roy bisa membaca kalau Fasya menyukai gadir bercadar itu. Begitu juga dengan Adra, tatapan matanya berbinar jika bersetatap dengan Alesa.


"Kalau begitu. Aku saja dengan Alesa. Aku kan masih jomblo," ujar Roy serius.


Fasya menelan salivanya kasar kala mendengar penuturan Roy yang menginginkan Alesa. Fasya menatap tajam pada Roy.


"Ayok kita pulang. Aku capek, ingin rehat," ujar Alesa mengeluh, dia sudah tak berdaya untuk ikut terlibat dalam perdebatan mereka.


Setelah bicara begitu, Alesa melangkah keluar meninggalkan Fasya dan Adra yang masih berdebat kecil. Melihat Alesa melangkah, Fasya dan Adra pun menyusul.


"Alesa! Kamu ikut abang ya. Biar Abang yang antar pulang," teriak Adra mengejar langkah Alesa.


"Alesa satu rumah denganku. Kenapa mesti ikut kamu." Fasya protes.


"Aku hanya khawatir dengan keselamatan Alesa," ujar Adra lagi menyulut emosi Fasya.


"Apa maksudmu bicara begitu. Hah!" Fasya menarik kerah baju Adra.

__ADS_1


"Inilah maksudku," ujar Adra menunjuk tangan Fasya yang nangkring di kerah bajunya.


"Kamu itu laki-laki penuh emosi. Aku khawatir kau akan menyakiti Alesa lagi," ujar Adra lagi.


Ingin rasanya Fasya menghajar Adra, jika tidak ingat Alesa. Fasya mencoba menetralkan emosinya, lalu melepaskan kerah baju Adra dengan kasar, hingga tubuh Adra oleng.


Sementara Alesa memesan ojek online, kala melihat Fasya dan Adra masih berdebat. Dia tidak ingin melihat perseteruan mereka lagi. Alesa capek, dia hanya butuh istirahat sekarang.


"Ayok. Sa! Kita pulang," ujar Fasya seraya meraih tangan Alesa.


Alesa menghindar dan menjauh dari Fasya, hingga Fasya gagal meraih tangannya.


"Kamu masih marah dengan Abang?" Tanya Fasya dia berusaha membiasakan diri di panggil abang.


"Aku tidak akan ikut siapa pun di antara kalian, sebelum kalian berdamai," ujar Alesa lantang.


Dua laki-laki itu saling pandang, tidak ada yang bergerak memulai, keduanya masih berdiri di tempatnya masing-masing. Sementara Alesa menunggunya dengan camas.


"Baik kalau begitu. Aku pulang pakai ojek saja," putus Alesa, karena ojek yang dipesannya pun sudah datang.


"Jangan. Sa!"


"Jangan. Al!"


Kedua laki-laki itu mencegah dengan menyebut panggilan yang berbeda. Namun, Alesa tak memperdulikan Fasya dan Adra, dia terus menuju ke jalan raya.


"Adra! Aku minta maaf," ujar Fasya akhirnya menyodorkan tangannya.


Dua laki-laki itu bersalaman dan saling peluk. Mereka menyadari keegoan mereka telah membuat Alesa menderita.


"Alesa!" Keduanya menguraikan pelukan dan berteriak bersamaan, saat melihat Alesa naik ke boncengan motor online dan melaju ke jalan raya.


Fasya dan Adra berlari ke arah mobil Adra, Adra membuka pintu mobil, Fasya masuk duduk di samping Adra. Adra menekan pedal gas lalu meluncur meninggalkan klinik.


Sementara mobil Fasya dikendarai oleh Roy, Roy melaju dengan arah berlawanan, dia mengambil jalan pintas untuk bisa mengejar Alesa.


"Aku harus bisa menyusul gadis itu dan mencari tahu siapa dia," guman Roy, seraya memacu mobil yang dibawanya dengan kecepatan tinggi.


Ojek online yang menbawa Alesa memacu motornya dengan kecepatan tinggi juga atas permintaan Alesa. Karena Alesa tahu, kalau Fasya dan Adra pasti menyusulnya. Dari kaca spion Alesa bisa melihat mobil Adra berjarak dua puluh meter darinya. Tapi dia tidak melihat mobil Fasya.


"Ternyata Fasya memang tak perduli padaku," batin Alesa, kala mengetahui Fasya tak menyusulnya.


Mobil Adra melaju, mengejar Alesa, tinggal beberapa meter lagi dibelakang.


"Bisa cepatan lagi nggak," teriak Alesa melawan deru riuhnya kendaraan.


"Wah, jangan. Non! Nanti kita malah dicegat polantas," ujar driver ojek online.

__ADS_1


Sepuluh meter dari depan, terlihat beberapa mobil berjejer, terjadi kemacetan lagi. Driver ojek online menyelip di antara mobil-mobil yang ada. Sementara mobil Adra jauh tertinggal karena ikut terjebak macet.


Driver yang membawa Alesa melesat dan menyalip di atas trotoar, hingga sampai panggal ke macetan, driver membelok ke kiri mengambil jalan pintas.


Baru sepuluh meter dari belokan, tiba-tiba sebuah mobil menyerempet mereka. Driver menekan rem mendadak, hampir saja mereka terjatuh, untung sang driver dengan cepat dan cekatan menahan motornya.


"Upsss," Alesa mengurut dadanya, dia bernafas lega, karena motor yang ditumpangi masih berdiri tegak.


"Inikan mobil Fasya," batin Alesa.


Roy yang mengendarai mobil Fasya berhenti dan turun, dia berjalan mendekati Alesa.


"Turun," titahnya seraya menarik tangan Alesa.


"Ada apa ini. Dia penumpang saya," ujar sang driver protes.


"Diam kamu!" Bentak Roy.


Dengan setengah terpaksa, Alesa turun dari motor, lalu meletakkan helm di boncengan. dia menatap ke dalam mobil, tidak ditemukannya Fasya di sana.


"Ayok masuk," perintah Roy seraya membuka pintu mobil.


"Hay! Lepaskan dia. Dia penumpang saya," ujar driver lagi.


"Diam! Atau kamu mau saya laporkan kepihak yang berwajib, karena telah membawa kabur istrinya bos Fasya," ancam Roy ngasal, dia berbisik di telinga driver agar tak terdengar oleh Alesa.


"Baik. Bang! Saya minta maaf, karena saya tidak tahu," ujar driver, mengambil helm yang diletakkan Alesa di boncengan, menyangkutkan di stang, lalu menstater motor dan pergi menjauh.


Roy masuk ke dalam mobil, menekan pedal gas dan melaju ke jalan raya.


"Kamu itu siapanya bos Fasya?" Tanya Roy. Alesa diam.


"Hay! Aku bertanya padamu," ujar Roy lagi menoleh ke arah Alesa, kala Alesa tak meresponnya.


"Aku," ucap Alesa saraya menunjuk dirinya.


"Iya kamu, emang ada orang lain di mobil ini," sungut Roy.


"Ulangi. Tadi kamu nanya apa?" Alesa sengaja mengajukan pertanyan dan berpura tak mendengar.


"Kamu itu ada hubungan apa dengan bos Fasya?"


"Hemm. Aku..."


Dreet... Dreet... Dreet.


Belum sempat Alesa menyelesaikan ucapannya, ponsel di saku kemeja Roy bergetar.

__ADS_1


Roy menepikan dan mematikan mobil, dia mengambil ponsel dan menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau. Menerima panggilan.


"Apakah Fasya yang meneleponnya," batin Alesa.


__ADS_2