Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Ke Kantor Viral


__ADS_3

Part 86


"Sarapan dulu," ujar Anzar menyerahkan satu styrofoam kepada Alesa.


"Apaan nih?" Tanya Alesa.


"Lontang sayur kesukaanmu," jawab Anzar. Dulu masa kecil Alesa paling suka makan lontong sayur, Anzar sering membagi dua jatah sarapannya untuk Alesa. Mereka berada di sekolah dasar yang sama. Alesa duduk di kelas satu dan Anzar di kelas empat. Kala Anzar SMP pun, masih berbagi sarapan, karena sekolah mereka seatap.


"Gagal diet nih aku," canda Alesa.


"Diet apaan dah kurus gitu." Balas Anzar, menatap intens pada Alesa. Sebenarnya tubuh Alesa sudah ideal, tidak kurus dan juga tidak gemuk. Anzar saja mengada-ada mengatakan Alesa kurus.


"Masak sich aku kurus," ujar Alesa seraya memperhatikan tubuhnya. Tentu saja Alesa tak terima.


"Nggak! Udah bagus kok, nggak kurus nggak gemuk," cicit Anzar seraya terkekeh.


"Makan lagi. Nanti keburu dingin tidak enak," ujar Anzar membuka box styrofoam miliknya.


Alesa pun ikut membuka styrofoam dan mulai menyuap, begitu juga dengan Anzar yang duduk di samping Alesa.


Sementara Fasya yang baru datang dari membeli bubur ayam untuk Alesa. Menghentikan langkahnya kala melihat ada sepasang sepatu laki-laki di depan pintu.


"Siapa yang datang sepagi ini," batin Fasya.


Fasya berjalan pelan, agar langkahnya tidak menimbulkan suara. Fasya mengintip dari balik dinding, di samping pintu yang terbuka lebar. Dia melihat Alesa yang sedang asik makan dan ngobrol dengan Anzar, hingga tak menyadari kedatangannya.


"Apa Aku sudah tidak ada lagi di hati Alesa," lagi-lagi Fasya membatin.


Entah kenapa saat melihat Alesa begitu akrab dengan dokter Anzar. Fasya tak menyukainya, ada rasa sakit seperti menusuk-nusuk dadanya. Fasya beranjak memutar tubuhnya, lalu melemparkan bubur itu ke tong sampah.


"Alesa sudah tak membutuhkan aku lagi," batin Fasya, tiba-tiba matanya memanas, dua butir kristal bergulir di pipinya. Menyesalkah dia?


"Jika aku tak bisa memiliki Alesa lagi, juga tidak untuk dokter itu!" Fasya lalu membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan rumah sakit.


*****


Pagi-pagi sekali Asiah bangun, dia membantu Sri membuat sarapan. Sri memasukkan nasi goreng spesial ke dalam rantang. Setelah Asiah sarapan, dia pun bersiap-siap berangkat ke rumah sakit.


"Umi! Aku ikut ke rumah sakit ya," ujar si bungsu.

__ADS_1


"Tidak usah, anak-anak di larang berada di rumah sakit," ujar Asiah membari Alasan.


Setelah bicara begitu pada anak bungsunya. Asiah keluar pintu utama, dia ke rumah sakit diantar Yanto. Hanya butuh dua puluh menit, Asiah sampai ke rumah sakit. Asiah turun dari mobil, lalu berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


"Sa! Fasya mana? Ini umi bawa sarapan untukmu" Tanya Asiah yang tak melihat sosok Fasya.


"Sudah pulang. Mi! Katanya lagi banyak kerjaan di kantor," jawab Alesa bohong..


"Aku dan dokter Anzar sudah sarapan," ujar Alesa, seraya mengambil baju ganti yang dibawa Asiah dan langsung masuk ke kamar mandi.


Asiah meletakkan rantang yang dibawanya di atas sofa, lalu mendekati tempat tidur suaminya, menarik kursi dan mendudukkan bokongnya dikursi itu. Lama ditatapnya laki-laki yang sudah hidup dengannya selama dua puluh delapan tahun itu.


Sementara Anzar yang tadi menemui dokter, masuk ke ruang rawat Abdurrahman sambil membawa hasil lab. Anzar memberikan hasil lab itu ke Asiah dan mengatakan kalau kanker yang menyerang paru-paru Abdurrahman sudah barada di stadium empat.


Mendengar penjelasan Anzar, kalau kanker yang menyerang suaminya, telah menyebar ke jaringan atau organ tubuh lainnya yang berada jauh dari nasofaring. Alesa menarik nafas panjang, dia menatap tubuh suaminya yang semakin kurus dan di mana-mana tergelantungan slang.


"Abi! Umi sudah mengikhlaskan. Jika abi ingin pergi," batin Asiah, dia meraih dan mencium punggung tangan suaminya, beberapa bulir kristal bening mengalir di pipi Asiah membasahi punggung tangan Abdurrahman.


"Umi! Umi yang sabar ya," ujar Alesa yang baru keluar kamar mandi dan sudah berganti pakaian. Alesa merengkuh kedua bahu wanita yang telah melahirkannya itu.


"Iya. Nak! Umi tak tega lihat abimu seperti ini, hiks, hiks, hiks." Asiah terisak. Alesa pun demikian, dua wanita itu saling menumpahkan kesedihannya.


"Alesa! Umi! Kita doakan saja semoga abi segera sehat kembali. Bagi Allah tak ada yang mustahil jika Dia berkehendak," ujar Anzar menyela, membuat kedua wanita itu menguraikan pelukannya.


Anzar hanya tersenyum mendengar ucapan Alesa. Dia ikhlas membantu orang tua Alesa, selain rasa kemanusiaan, karena mereka bertetangga, dan orang tua Alesa pun sangat baik pada keluarganya.


"Kamu tidak usah ngomong gitu. Sudah kewajibanku sebagai dokter menolong yang sakit," ujar Anzar.


"Alesa sama umi tidak usah sedih. Dokter akan mengusahkan yang terbaik buat abi, masalah hasilnya kita serahkan pada Allah," ujar Anzar lagi. Alesa dan Asiah pun mengangguk.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan, Alesa pamit karena ada meting lanjutan di perusahaan Viral, Anzar pun juga berpamitan kerena mau ke kantor dinas kesehatan ada sesuatu yang mau di urusnya.


Secara berbaringan Alesa dan Anzar keluar dari ruang rawat, berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju parkir, di parkir mereka berpisah. Yanto membuka pintu mobil untuk Alesa. Alesa melambaikan tangan ke arah Anzar sebelum masuk mobil dan meluncur meninggalkan rumah sakit.


"Apa mobil pak Fasya masih di rumah?" Tanya Alesa pada supirnya, begitu mobil sudah meluncur di jalan raya.


"Sudah diambil tuannya tadi pagi," jawab Yanto.


"Oh."

__ADS_1


"Baguslah dia sudah pergi, semoga saja dia tidak datang lagi," batin Alesa.


Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Yanto memasuki area perkantoran. Yanto memarkir mobil, kemudian turun dan membuka pintu untuk Alesa. Sebelum Alesa masuk, dia berpesan pada Yanto untuk membawa adik-adiknya jalan-jalan. Yanto mengangguk dan kemudian pamit.


Sebelum melangkah masuk, Alesa memindai sekitar, beberapa karyawan yang baru datang, terlihat saling sapa. Alesa melangkahkan kaki menuju pintu utama.


"Selamat pagi ibu Alesa," sapa resepsionis ramah, seraya mengangguk dan menangkupkan kedua telapak tangan di dada.


"Selamat pagi juga. Ina!" Balas Alesa, seraya menuju lift.


Kali ini, ada perasaan yang berkecamuk di dadanya. Dia akan bertemu dengan Bambang setelah kejadian semalam, Bambang yang pergi tanpa penjelasan. Apakah Bambang akan membenci Alesa setelah tahu kalau Alesa menikah. Banyak kemungkinan yang bermunculan di benak Alesa, hingga di melamun di depan pintu lift.


"Hay! Apa kamu hanya ingin berdiri di situ." Seseorang wanita menyapanya dan menahan tombol pintu agar tidak tertutup. Alesa tersadar dari lamunannya dan melangkah masuk lift.


"Apa kamu salah satu peserta meting dengan pak Viral?" Tanya wanita itu, saat lift membawa mereka ke lantai yang sama.


"I-iya," jawab Alesa mengangguk.


Lift terbuka kedua wanita itu keluar secara beriringan, dan wanita yang berada di sebelah Alesa mengatakan kalau dia bernama Rina dan dia sekretaris Bambang, dia menggantikan Bambang karena Bambang tidak bisa hadir.


"Pak Bambang pulang ke Singapura, karena ibunya meninggal," ujar Rina memberitahu Alesa.


"Innalillahi wa innailaihirajiun. Kapan meninggalnya?" Tanya Alesa menatap Rina dan menghentikan langkahnya.


"Semalam," ujar Rina.


"Kenapa Bambang tidak memberitahuku. Apa dia benar-benar marah padaku," batin Alesa, seraya melangkah kembali masuk ke ruang meting.


Empat jam sudah berlalu di ruang meting. Semua mata tertuju pada Alesa, ternyata tidak salah Bambang merekomendasikan Alesa menjadi rekan bisnis Viral. Viral berdecak kagum dengan ide-ide cemerlang Alesa dalam meningkatkan produk pemasaran.


"Kamu hebat. Sa!" Puji Viral menyodorkan tangan ingin menjabat Alesa. Namun, Alesa spontan menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.


Semua rekan bisnis yang hadir mengucapkan selamat kepada Alesa, karena semua programnya menjadi program unggulan di perusahaan besar yang dipimpin Viral. Dan mereka percaya kalau ide-ide cemerlang Alesa akan mendongkrak nama baik semua perusahaan yang bekerjasama dan bergabung dengan perusahaan Viral.


"Sebagai ucapan terima kasih. Aku ingin mengajak non Alesa makan siang," ujar Viral.


"Terima kasih pak Viral, bukan saya tidak mau memenuhi undangan bapak, saya harus buru-buru kembali ke rumah sakit, karena abi saya sedang di rawat. Mungkin lain kali saja," tolak Alesa.


"Baiklah. Kalau begitu saya akan mengantar non Alesa ke rumah sakit, sekalian menjenguk abi. Non!"

__ADS_1


"Tapi... saya jadi merepotkan anda," ujar Alesa, dia merasa tak nyaman jika berduaan di mobil Viral.


"Tidak! Sama sekali saya tidak direpotkan. Saya ingin bersilaturrahmi dengan orang tua. Non," ujar Viral lagi.


__ADS_2