Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Terbaca Pesan Alesa


__ADS_3

Part 18


Di kantor Fasya.


Rapat sudah bubar, jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit, Fasya meminta Dea memesankan makan siang untuknya, dia malas makan di luar, karena ada beberapa pekerjaan yang ingin diselesaikan.


Dreet, dreet, dreet. Ponsel Fasya bergetar, dari layar ponsel yang bercahaya tertara nama Saera.


"Assalamualaikum," sapa Fasya.


"Waalaikumsalam," balas Saera.


Saera mengabarkan kepada Fasya kalau dia tidak bisa pulang sesuai jadwal, karena ada beberapa pemotretan yang memerlukan waktu tambahan. Fasya tidak keberatan atas permintaan istrinya, karena dia pun tahu kalau Saera sangat profesional dengan pekerjaan. Maka Saera sangat di sayang atasannya.


Setelah menerima telepon Saera, Fasya melunjurkan kaki di atas sofa,lalu menumpukan kepala di sandaran tangan sofa, sejenak merehatkan otak dan pikiran.


Sambil menunggu pesanan makan siang, Fasya mengecek pesan whatsapp yang dari semalam belum sempat dibukanya. Mata Fasya tertuju pada pesan whatsapp Alesa, ada sepuluh pesan.


(Bang! Kirim alamat rumah) pesan terkirim pukul empat tiga puluh sore semalam.


(Bang! lagi di mana, kenapa panggilan aku dirijek) pesan terkirim pukul empat tiga puluh lima.


(Bang! Please kirim alamat rumah. Aku mau pesan gojek tapi tak tahu alamat yang dituju) pesan terkirim pukul empat lima puluh.


(Bang!) diakhiri emoji kesal.


(Bang!) diakhiri emoji marah.


(Bang!) diakhiri emoji nangis.


"Ya Allah. Jadi ini yang membuat Alesa semalam pulang tidak tepat waktu." batin Fasya, ada rasa penyesalan yang mendalam di hatinya.


Fasya meneruskan membaca pesan Alesa.


(Bang! Aku sendirian di halte ini) pesan terkirim pukul lima lewat tiga puluh menit.


(Bang! Hari sudah mulai senja. Aku harus ke mana?) pesan terkirim pukul enam sepuluh menit.


(Bang! Aku takut) pesan terkirim pukul enam tiga puluh.


"Maafkan abang Alesa. Abang tidak tahu kenapa ponsel abang bisa mati semalam" batin Fasya.


(Bang! ada seseorang yang menemani aku di halte sampai jam delapan malam. Jika abang tak datang menjemput aku, ijinkan aku menginap dirumahnya) pesan terakhir yang Alesa kirim pukul tujuh lewat tiga puluh menit.


Setelah membaca semua pesan Alesa. Fasya bangkit mengambil tas kerja dan kunci mobil yang tergeletak di atas meja.

__ADS_1


"Pak! ini pesanan makan siangnya," Dea datang, meletakkan pesanan di atas meja.


"Kamu saja yang makan, saya mau pulang. Tolong kamu hendel semua pekerjaan hari ini."


"Tapi pak..."


"Tak ada tapi. Ini perintah!" ujar Fasya.


Kalau Fasya sudah bicara begitu, tak satu orang pun yang berani membatah, walaupun akan ada meting penting.


Fasya bergegas ke luar dari ruang kerja, melangkah menuju parkir. Begitu masuk ke dalam mobil, dia pun melaju meninggalkan kantor menuju rumah. Dua puluh menit kemudian Fasya sudah memasuki pekarangan rumahnya.


Begitu keluar dari mobil. Fasya bergegas, tanpa mengucap salam dia langsung masuk ke kamar Alesa. Alesa yang sedang tertidur pulas setelah minum obat tak menyadari kedatangan suaminya.


"Alesa! apa kamu ba..."


Fasya tidak melanjutkan ucapannya, kala melihat istri keduanya itu hanya mengunakan baju tidur lengan pendek tanpa jilbab dan niqab. Posisi baring yang membelakangi Fasya, hingga Fasya hanya melihat rambut indah Alesa yang tergerai.


Ser... Tiba-tiba jantung Fasya berdetak lebih kencang dua kali dari biasanya. Fasya mengulurkan tangan ingin menjamaah tubuh wanita itu. Namun, diurungkannya, dia takut Alesa terbangun.


Fasya mundur beberapa langkah, lalu membalikkan tubuhnya. Dia teringat dengan perjanjian yang sudah disepakatinya dengan Alesa. Bahwa dia tidak akan menyentuh Alesa. Fasya membalikkan tubuh melangkah keluar meninggalkan Alesa.


"Ya Allah. Kenapa detak jantungku semakin kencang." batin Fasya seraya masuk ke kamar, lalu menghempaskan diri di atas tempat tidur.


Baru saja Fasya ingin memejamkan mata, ponsel di saku celana bergetar menggaruk-garuk. Fasya merogoh saku celana, menjawab panggilan yang masuk.


"Fasya! Ketemuan yuk. Sudah dua minggu aku di Pekanbaru, kamu tak ada waktu buat aku. Apa kamu tak kangen aku," Carla nyerocos kayak petasan, dia tak memberi kesempatan pada Fasya untuk bicara, bahkan untuk mengucapkan salam.


Ini sudah yang ketiga kali Carla menelepon dan meminta ketemuan, kemaren-kemaren bukannya Fasya tidak mau. Tapi Fasya sengaja menghindar, karena kalau boleh jujur dia masih punya rasa pada Carla walaupun dia sekarang sudah punya dua istri.


"Fasya! Kamu masih dengar aku kan?" Tanya Carla lagi saat Fasya tak menjawab.


"I-iya," jawab Fasya tergagap.


"Aku ini sahabatmu dari kecil. Masa mau kamu buang, gara-gara kamu sudah punya istri," rajuk Carla.


Mendengar ucapan Carla, Fasya meraup habis wajahnya.


"Fasya!" Terdengar lagi suara Carla.


"I-iya. Ntar malam kita ketemuan ya," ujar Fasya akhirnya. Fasya paling lemah pertahanannya, jika mendengar suara wanita mulai memelas.


"Janji ya. Kita ketemuan di tempat biasa ya," ujar Carla lagi.


Carla ingin mengajak Fasya di tempat biasa, di cafe lima tahun lalu yang sering mereka kunjungi. Carla mau bernostalgia, Carla mau Fasya mengingat kembali hari-hari yang pernah mereka lalui bersama.

__ADS_1


"Sip, baiklah! Kita ketemu di sana," ujar Fasya seraya menutup panggilan telepon.


"Ah! Kenapa Carla mau ke cafe itu. Apa aku sanggup," batin Fasya, dia kembali meraup habis wajahnya.


Faysa menarik nafas dalam, lalu menghembuskan ke sembarang arah, kemudian melanjutkan tidurnya yang tertunda. Fasya tertidur dan terbangun lagi kala mendengar suara azan magrib.


Setengah malas Fasya bangun dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Begitu selesai mandi, dia berpakaian dan keluar menuju dapur.


"Pak! Menu makan malamnya sudah siap," ujar Sri seraya meletakkan air putih.


"Saya mau makan di luar bersama dokter Carla," ujar Fasya seraya mengkhayal membayangkan wajah wanita yang dicintainya dari masih berseragam abu-abu.


Satu tahun setelah perpisahannya dengan Carla, komunikasi masih lancar-lancar saja. Begitu tahun kedua mulai tersendat-sendat. Saat dia mengabarkan kalau sudah tertarik pada gadis minang kelahiran Damasraya. Carla juga ikutan memamerkan teman pria yang gantengnya mengalahkan Fasya.


Tahun ketiga kabar hanya dua kali, tahun ke empat dan kelima sudah tidak sama sekali, Fasya sibuk dengan kuliahnya, di sisi lain dia juga sibuk menata hatinya untuk bisa melupakan Carla dan menggantinya dengan Saera.


Tahun ke enam, Fasya memutuskan menikahi Saera setelah gelar sarjana disandangnya. Dan berusaha melupakan cinta pertamanya. Setelah Fasya menikahi Saera, dia menyadari tak bisa mengikis rasa cintanya pada Carla.


Dulu Fasya tidak berani menyatakan rasa cinta pada Carla, karena perbedaan ekonomi yang sangat jauh. Orang tua Fasya bekerja di perusahaan papa Carla. Mana mungkin Carla mau menerimanya menjadi pacar, apa lagi saat Carla membuat kesepakatan tidak boleh berpacaran. Fasya semakin yakin kalau Carla tidak memiliki rasa padanya. Dari pada dia kecewa menyatakan cinta dan ditolak, dia pun akhirnya memendan rasa itu sampai bertemu dengan Saera.


"Dokter Carla yang tadi siang ke sini pak?" Tanya Sri membuyarkan lamunan Fasya.


"Iya. Bagaimana menurutmu, dia cantikkan?"


"Iya. Cantik! Tapi lebih cantik non Alesa," ujar Sri sambil memasukan nasi ke dalam piring sekaligus lauknya, lalu meletakkan di atas nampan.


"Heran! Sudah punya istri dua, masih sempat-sempat memperhatikan dokter Carla," batin Sri menggerutuk.


"Apa maksudmu. Sri!"


"Eh...Tidak pak! Maksud Sri bapak masih bisa menikah lagi dengan wanita lain. Lah jatah laki-laki kan empat," ujar Sri seraya terkekeh.


"Maaf ya. Pak! Saya cuman bercanda," Sri meralat ucapannya.


Sementara Fasya tersenyum mendengar penuturan Sri, dia membayangkan bagaimana jika Carla menjadi istri ketiganya. Fasya tersenyum sendiri memikirkan kegilaannya.


"Apa Carla mau jadi istri ketigaku," batin Fasya tersenyum tipis, Lekas-lekas dia menepis bayangan Carla.


"Bapak serius tidak makan di rumah," tanya Sri, lagi-lagi membuyarkan pikiran Fasya tentang Carla. Fasya hanya mengangguk.


"Itu mau di bawa ke mana?"


"Makan malam untuk non Alesa. Pak!"


"Sini biar saya yang antarkan."

__ADS_1


Fasya mengambil nampan yang sudah berisi, satu piring nasi beserta lauk dan satu gelas air putih dari tangan Sri.


__ADS_2