Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Perasaan yang Sama


__ADS_3

Part 46


Roy terkejut dan terbangun saat kamar terang benderang, karena PLN sudah hidup. Lebih terkejut lagi saat menyadari dia memeluk Alesa.


"Kalau bos Fasya tahu. Matilah aku," batin Roy seraya memindai isi kamar, mencari-cari mana tahu ada kamera pengintai.


Perlahan Roy menarik tangannya, genggaman Alesa terlepas, itu artinya Alesa sudah tidur nyenyak. Roy terkesima saat menatap wajah Alesa yang tanpa cadar.


"Ke mana cadarnya," batin Fasya kembali memindai di sekitar. Ternyata cadar Alesa tergeletak di depan pintu kamar, mungkin terjatuh kala Roy menggendongnya tadi dan tak terlihat karena gelap.


"Dia begitu cantik. Seperti bidadari," batin Roy, intens menatap wajah polos tanpa make up itu.


Entah kenapa, tiba-tiba ada deseran di dada Roy, kala menatap lekat wajah Alesa. Bibir tipis milik Alesa terlihat sangat ranum dan seksi.


"Apa bibir itu sudah di sentuh Fasya," batinnya ngawur.


"Bodohnya kamu Roy. Ya jelaslah, mana ada buaya kayak Fasya membiarkan istri cantik begini dianggurin." Roy menepis pikiran kotornya.


"Pantas saja Fasya begitu khawatur. Apa dia tahu kalau Alesa fabio dengan kegelapan," batin Roy lagi.


Wajah Alesa masih terlihat pucat, sisa rasa takut masih membayang di sana. Sambil menelan salivanya dengan kasar, perlahan Roy turun dari tempat tidur, terlalu lama menatap wajah cantik Alesa, bisa-bisa membuatnya khilaf.


Roy menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama. Sebelum dia melangkah ke luar kamar, Roy meraih cadar Alesa yang tercecer dan meletakkannya di tempat tidur. Kemudian Roy meraih ponsel dan memeriksa layarnya. Jam menunjukkab pukul tiga dini, berarti tiga jam dia tidur berpelukan dengan Alesa.


Roy tersenyum kala mengingat peristiwa yang baru saja terjadi. Ada untungnya juga Alesa fabio, Roy jadi dapat imbasnya. Biasa tidur berpelukan dengan gadis secantik bidadari. Andai saja dalam keadaan normal, pasti dia sudah bonyok-bonyok dibuat Alesa.


"Alesa! Aku bisa gila karena mu," batin Roy menepis bayangan Alesa yang terus melekat di benaknya.


Setelah keluar dari kamar Alesa, Roy kembali membaringkan tubuhnya di sofa, dia pun tertidur, hingga pagi. Saat terbangun sudah tersedia segelas kopi dan sepiring nasi goreng di atas meja.


(Terima kasih sudah menemaniku tadi malam. Aku mohon lupakan semua yang terjadi, jika kamu lapar, ini kubuatkan nasi goreng. Aku berangkat kuliah) pesan ditinggalkan Alesa di secarik kertas dan di letakknya di atas meja di tindih dengan ponsel Fasya.


"Aku tidak keberatan berada dalam kegelapan bersamamu. Alesa," gumam Roy senang, sejenak dia melupakan kalau Alesa adalah istri kedua Fasya.


"Masakan Alesa pun tak kalah ensk dengan masakan resto langganan Roy, bukan cantik saja, ternyata Alesa juga pintar memasak," batin Roy, seraya menyantap nasi goreng buatan Alesa, hingga tuntas. Begitu selesai makan Roy pulang ke rumahnya mandi dan berganti pakaian, terus ke kantor menggantikan Fasya menemui rekan bisnisnya.


****


Di kampus


Alesa dan Makita sedang berada di perpustakaan, mereka mencari referensi untuk mengerjakan tugas dari salah satu dosen.


"Sini kamu," tiba-tiba Vira datang menarik tangan Alesa dan mengajaknya ke luar perpustakaan.


"Lepaskan," ujar Alesa menarik tangannya yang sakit karena cekalan Vira.


"Ada apa kak. kakak menarik-narik teman aku," ujar Makita ikut keluar dan ingin cari tahu.


"Dia memfitnahku, hingga aku dipecat sama pak Adra," hujat Vira lantang seraya menudingkan tunjuknya ke arah Alesa.


"Aku? menfitnah kakak?" Kata Alesa menunjuk diri, lalu menunjuk Vira. Dia sama sekali tidak tahu kalau Vira dipecat.


"Maaf kak, aku tidak merasa telah memfitnah kakak, kakak dipecat pak Adra tidak ada hubungannya denganku," ujar Alesa membela diri.

__ADS_1


"Kamu kan yang memberitahu pak Adra. Kalau aku yang mengurungmu di toilet waktu itu."


"I-iya. Tapi memang kakak yang melakukannya." ujar Alesa lagi.


"Apa kamu punya bukti. Menuduh aku. Hah!" Vira mencekal dagu Alesa. Alesa yang merasa terancam dengan kasar menepis tangan Vira, hingga cekalannya terlepas.


"Kau..." Vira mengangkat tangan ingin menampar Alesa. Namun, sebuah tangan kokoh menghentikannya.


"Pak Adra," Terlihat wajah Vira terkejut dan menegang.


"Jangan mengkambing hitamkan orang lain, untuk membenarkan kesalahanmu. Cctv sudah membuktikan kebenarannya," ujar Adra.


"Tapi. Pak! Semuanya Carla yang merencanakan." ujar Vira berusaha membela diri dan melibatkan Carla. Sejatinya Vira sangat membenci Carla, karena Carla saingan terberatnya untuk meraih cinta Adra.


"Aku tidak perduli," ucap Adra tegas.


"Pergi dan jangan pernah menampakkan wajahmu di kampus ini lagi." Adra melepaskan cekalan di tangan Vira, seraya mendorong Vira, hingga terhuyung.


Adra lalu meraih tangan Alesa dan mengajaknya pergi dari situ. Makita yang tidak tahu apa-apa hanya melongo melihat kejadian itu. Dan membiarkan Alesa dibawa Adra menjauh.


Setelah melangkah beberapa meter. Alesa baru menyadari, kalau beberapa mahasiswa menatap heran ke arahnya dan Adra.


"Maaf. Bang!"


"Apa?" Adra menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Alesa, menatap intens ke arah Alesa.


"Bisakah lepaskan pegangannya?"


"Tidak! Ikut abang dulu," ujar Adra memaksa Alesa ikut ke ruangannya.


"Aku minta maaf. Karena tak bisa menerimanya," ujar Alesa menundukkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Adra. Dia sangat kecewa atas penolakan Alesa.


"Apa karena Fasya?" Tanya Adra lagi.


Alesa mendongakkan kepalanya, menatap ke arah Adra, lalu dia mengangangguk.


"Apa hak Fasya, dia melarangmu menerima pemberianku. Dia hanya abang sepupu mu kan?"


"Dia..."


Tok


Tok


Tok


Belum sempat Alesa menjelaskan, terdengar ketukan di pintu.


"Permisi. pak! Bapak ditunggu di ruang sidang."


"Baik. Saya akan segara ke sana," ujar Adra, memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerja, kemudian melangkah ke luar.

__ADS_1


"Pak!"


Adra menghentikan langkah, lalu menoleh ke arah Alesa. Dia menatap Alesa tak suka, karena Alesa kembali memanggilnya bapak.


"Aku pamit pulang."


"Pulanglah! Jangan pernah temui aku lagi," ucap Arda lagi, lalu meneruskan langkahnya.


"Pak!" Alesa mengejar Adra yang masuk ke dalam lift. Alesa ikut masuk.


"Saya minta maaf," ujar Alesa saat berada di lift.


"Minta maaf untuk apa?"


"Karena sudah mengembalikan baju dan sepatu yang bapak belikan," ujar Alesa lagi memberanikan diri menatap Adra.


Adra bergeming, fokus menatap pintu lift, tak merespon sedikit pun ucapan Alesa. Begitu pintu lift terbuka, Adra bergegas ke luar, dengan langkah panjang meninggalkan Alesa. Alesa menarik nafas, lalu melangkah ke depan kampus.


Alesa memesan gojek, dia sudah tidak berminat lagi ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugasnya. Sepersepuluh menit kemudian gojek yang Alesa pesan pun datang.


Hari ini dua orang laki-laki kecewa karena Alesa mengembalikan pemberian mereka. Tadi pagi Alesa menemui Bambang dan mengembalikan jam tangan yang diberikan padanya. Bambang terlihat sangat kecewa. Dan tadi barusan Adra yang dia kecewakan.


Alesa melakukan semua itu, karena dia tak mau mencari masalah dengan Fasya. Dia takut jika Fasya marah dan mengembalikannya ke kampung. Maka kuliahnya akan terbengkalai, otomatis dia tidak bisa mencari pekerjaan yang baik dan menguliahkan adik-adiknya.


Dua puluh menit gojek yang membawa Alesa berhenti di depan pintu gerbang rumah Fasya. Alesa turun dan membayar ongkosnya, setelah mengucapkan terima kasih, Alesa pun masuk.


"Kenapa mobil Roy masih ada. Apa dia masih tidur?" Tanya Alesa di dalam hati.


Klik... handle pintu yang diputar Alesa terkunci, dengan menggunakan kunci cadangan Alesa membuka pintu.


"Assalamualaikum." Alesa mengucap salam.


"Walaikumsalam," terdengar sahutan dari dalam.


"Fasya!" Batin Alesa.


Saat sampai ke ruang tengah, sosok yang ditemui bukannya Roy, tapi Fasya.


"Semalam katanya seminggu. Hari ini kok sudah pulang," batin Alesa menatap intens pada Fasya.


"Kenapa menatap abang seperti itu. Kangen ya."


Deg... Jantung Fasya yang berdebar kencang. Dia menutupi kegugupannya dengan menggoda Alesa. Pada hal dia yang teramat rindu pada istri keduanya itu.


"Kangenlah! Emang nggak boleh istri kangen sama suami atau diijinkan kangen dengan laki-laki lain," ujar Alesa ngasal.


"Eh. Salah! Maaf..." ujar Alesa lagi mencibir dari balik biqabnya.


"Hay! Ke mana?" Tanya Fasya kala melihat Alesa membalikkan tubuh.


"Ke kamar."


"Serius! Nggak kangen?" Tanya Fasya lagi dengan suara lantang seraya terkekeh, menggoda Alesa

__ADS_1


Alesa membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Fasya, lalu mengangguk. Kemudian membalikkan tubuhnya melangkah menuju kamar. Pada hal hatinya bilang kalau dia rindu sekali dengan Fasya. Namun, dia mengingkarinya.


"Kenapa Fasya tak menyusulku," batin Alesa berharap.


__ADS_2