Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Menikahi Carla


__ADS_3

Part 62


Di rumah Carla.


Lima hari setelah mengantongi surat pernyataan ijin dari Saera, acara ijab qabul pun segera dilaksanakan. Carla mengatur segala. Ibrahim Carlos tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun memenuhi keinginan putrinya, untuk tidak mengadakan pesta. Alasan Carla, Fasya ada pekerjaan ke luar kota yang tak bisa ditunda. Dan Carla berjanji pada papanya akan mengakan pesta ulang, jika ada ke sempatan.


Pernikahan Carla, cuman dihadiri oleh adik Ibrahim beserta keluarganya dan dari pihak Fasya hanya ada Roy.


Ijab qabul berlangsung lancar, Carla pun sah menjadi istri Fasya yang ke tiga, begitu usai ijab qabu, diselingi menyantap hidangan dan foto bersama. Satu setelah itu Fasya memboyong Carla ke luar dari rumah Ibrahim, dengan alasan akan membawa Carla keluar kota bersamanya. Pada hal hanya berpindah tempat ke rumah Fasya.


Sebelum meluncur ke rumah Fasya. Carla meminta Fasya singgah ke rumahnya dulu untuk mengambil pakaiannya. Begitu sampai di rumah Carla, menunggu Carla menyiapkan baju-bajunya, Fasya merebahkan tubuh di sofa, karena kecapean Fasya pun tertidur.


Saat Carla melihat Fasya tertidur. Carla meletakkan Travelbag di samping sofa, dia kembali ke kamarnya, berbaring rehat, diapun ikut tertidur. Dan terbangun kala senja menyapa.


"Fasya! Bangun!" Carla membangunkan Fasya yang masih pulas.


"Sudah pukul berapa?" tanya Fasya.


"Pukul enam lewat dua puluh menit." mendengar ucapan Carla. Spontan Fasya bangun, kemudian merapikan rambut dengan tangannya.


"Yuk." ujar Fasya seraya meraih gagang travelbag, meletakkan ke dalam bagasi mobil.


"Kenapa kita tidak ke hotel saja. Aku hanya ingin berduaan denganmu," rengek Carla begitu sudah berada di mobil.


"Tidak! Kalau ke hotel, takutnya papamu mengetahai kebohongan kita. Jadi untuk beberapa hari ini. Kamu di rumahku saja," ujar Fasya memberi alasan.


"Kenapa kita tidak keluar kota saja. Ke Padang atau bukit tinggi," usul Carla.


"Aku ada kerjaan, tak bisa ditinggalkan," ujar Fasya lagi.


Mendengar ucapan Fasya. Carla hanya bisa menarik nafas, bias kecewapun hadir di matanya. Tapi bagaimana lagi, ini takdir yang diinginkannya, menikah dengan Fasya.


Seperdua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Fasya, memasuki area rumahnya. Dia memarkir mobil, lalu turun membuka pintu mobil.


"Selamat datang di rumah kita," ujar Fasya sambil merengkuh bahu Carla.


Mendengar suara mobil berhenti, Saera keluar, menyambut kedatangan Fasya dan Carla. Saera bertingkah biasa saja, seperti tak terjadi apa-apa, walaupun kebaradaan hatinya sama sakitnya kala Fasya, membawa Alesa masuk ke rumah ini.


Dengan sengaja Carla menggamit lengan Fasya bergayut manja sambil mrmcibir ke arah Saera. Tanpa bicara sepatah pun Carla dan Fasya melewati Saera begitu saja. Tentu saja Saera geram melihatnya.


"Tunggu saja pembalasanku," batin Saera, lalu beranjak masuk, mendahului langkah Fasya dan Carla, masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Sementara Fasya meminta Carla duduk dulu di sofa ruang tamu, menjelang Sri menyiapkan kamar untuk Carla.


Sri menurunkan travelbag dan membawanya masuk ke kamar yang terletak di sebelah kamar Alesa.


"Pak! Kamarnya sudah saya siapkan," ujar Sri setelah mengantarkan travelbag.


"Fasya! Aku mau kita di kamar utama," ujar Carla, begitu melihat Sri membawa travelbagnya ke kamar tamu yang lebih kecil dari kamar yang ditempati Saera.


"Itu kamar Saera," ujar Fasya.


"Tapi anak kita maunya di situ, kamar ini terlalu kecil, apa lagi jika anak kita sudah lahir nanti," ujar Carla lago, merengek agar Fasya mengabulkan keinginannya.


Mendengar ucapan Carla, Fasya memutar haluan menuju kamar Saera.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Saera! Buka pintunya."


Mendengar suara Fasya, Saera menyeret langkahnya, membuka pintu.


"Carla mau tidur di kamar ini," ujar Fasya, tanpa basa-basi.


"Apa! kamu sudah mendapatkan Fasya. Dan sekarang kamu ingin menguasai kamarku. Oh no," ujar Saera ketus.


"Tapi. Sa! Ini kemauan anak yang dalam kandungan Carla," ujar Fasya dia berharap Saera bisa mengerti bagaimana perasaan wanita yang sedang ngidam.


"Anak.. Hahaha, hari gini kamu masih percaya yang kayak begituan," ujar Saera tertawa melihat wajah bego suaminya.


Sebenarnya Saera bisa saja mengusir Carla dan Fasya dari rumah ini, karena rumah ini sudah atas namanya. Hanya saja Saera ingin melihat penderitaan Carla dulu.


"Hay. Istri macam apa kamu yang tidak nurut dengan suami," kecam Carla saat mendengar penolakan Saera.


Brakkk.


"Bodoh amat," ujar Saera seraya menutup pintunya dengan kasar.


Fasya tidak bisa berbuat apa-apa jika Saera sudah begitu. Dia kembali membujuk Carla agar mau masuk ke kamar yang sudah disiapkan Sri.


"Sekarang kamu rehat saja dulu di kamar itu, nanti aku akan bujuk Saera lagi," ujar Fasya.


Dengan wajah ditekuk, akhirnya Carla masuk juga ke kamar yang disiapkan untuknya. Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Carla berpikir keras bagaimana caranya menyingkirkan Saera dari rumah Fasya.


Sementara Alesa yang tidak mau ikut campur urusan Carla dan Saera. Sibuk menyiapkan menu makan malam mereka. Begitu sudah terhidang Sri menjemput Saera, Fasya dan Carla.


"Istri ketiga. Apa maksudmu?" Tanya Carla menatap intens ke arah Saera.


"Alesa! Duduk di tempatmu," titah Saera.


"Kamu mau tahu kenapa aku bilang kamu istri ketiga. Karena Alesa istri kedua Fasya." Jawab Saera seraya mendudukkan bokongnya di samping kanan Fasya.


"Apa! Jadi..."


"Kamu baru tahu. Kasian amat," ujar Saera lagi seraya menyendok nasi memasukkan ke piringnya.


"Carla! Kamu mau ke mana?" Tanya Fasya saat melihat Carla beranjak.


"Ke kamar," ujar Carla dengan wajah cemberut.


Melihat Carla melangkah menuju kamar, Fasya pun beranjak dari duduknya, menyusul Carla. Namun, keluar lagi setelah tak berhasil memujuk Carla.


"Alesa! Tolong buatkan jus mangga untuk Carla," titah Fasya.


"Abang tak lihat, kalau Alesa lagi ngapain, lagi makankan," ujar Saera menyela ucapan Fasya.


"Kamu lanjut saja makan, selesai makan baru dibuatkan." Saera melarang Alesa beranjak dari duduknya.


Sejenak Alesa menatap Saera kemudian berpindah pada Fasya, Fasya tidak membantah ucapan Saera, karena dia tidak ingin berdebat lagi. Fasya pun ikut menyantap makan malamnya.


"Abang! Mana jusnya," terdengar teriakan Carla dari dalam kamar.


"Dasar tak ada sopan santun," ujar Saera menggerutu.

__ADS_1


Alesa yang sudah selesai makan beranjak membuka kulkas, mengambil satu buah mangga dan mengupasnya. Sementara Fasya yang baru selesai makan beranjak menemui Carla.


"Biar aku saja yang buat jus. Kamu bersihkan saja meja makan," ujar Saera mengambil alih buah mangga.


Begitu jusnya sudah jadi, Saera meminta Sri mengantarkan ke kamar Carla.


"Tunggu saja tiga setelah ini," batin Saera sambil tersenyum puas, kemudian kembali ke kamarnya.


Tok


Tok


Tok


Sri mengetuk pintu kamar Carla. Fasya membuka pintu di iringi dengan Carla.


"Bik! Masa buat jus lama banget." Bukannya berterima kasih. Carla malah menggerutu.


"Kamu tidak mau makan dulu. Nanti masuk angin kalau telat makannya," ujar Fasya mengingatkan Carla.


"Aku mau makan. Tapi nasi uduk," ujar Carla.


Fasya mengintip dari gorden jendela, di luar masih hujan lebat. Pasti tidak ada ojek yang mau mengantar.


"Tunggu hujan reda dikit. Nanti abang belikan, kamu minum saja jusnya dulu," ujar Fasya menyodorkan gelas jus mangga ke Carla.


"Kalau kamu capek, istirahat saja dulu. Abang ke ruang kerja sebentar, ada sesuatu yang harus diselesaikan untuk pertemuan besok,""ujar Fasya seraya keluar kamar menuju dapur.


"Alesa! Selesai kerjanya buatkan abang kopi. Antar ke ruang kerja ya," titah Fasya lalu beranjak menuju ruang tengah.


Saera yang mengintip gerak gerik Fasya keluar kamar, saat mendengar Fasya memerintahkan Alesa membuat kopi.


"Biar aku yang buat. Kamu selesaikan saja kerjamu," ujar Saera mengambil cangkir kopi.


"Tumben Saera berubah," batin Alesa.


Alesa dan Sri saling berpandangan. Namun, tak ada yang mengeluarkan pembicaraan, mereka pun meneruskan pekarjaan.


"Alesa! Antarkan kopi Fasya," titah Saera sambil mengaduk kopinya.


"Nya! Aduknya dari kanan ke kiri delapan putaran," jelas Alesa.


"Sama saja rasanya, mau mutarnya dari mana," gerutuk Saera.


"Antar sana," titah Saera.


Seperlima menit kemudian Alesa kembali dengan gelas kopi di tangan. Saera menatap heran, saat Alesa kembali dengan gelas yang sama.


"Disuruh bikin ulang sesuai aturan," ujar Alesa meletakkan gelas kopi di atas meja makan.


"Maksudnya?" Tanya Saera karena selama tiga belas tahun jadi istri Fasya, baru tahu kalau Fasya punya aturan tersendiri tentang pembuatan kopi.


"Kopi satu sendok, gula satu sendok, aduk dari kanan ke kiri, sebanyak delapan kali," ujar Alesa menjelaskan.


"Bikin kopi saja, serumit ini," gumam Saera.


****

__ADS_1


__ADS_2