Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Merindukan Istri kecil


__ADS_3

Part 43


Fasya langsung mematikan panggilan teleponnya, kala mendengar seseorang mengetuk pintu kamar.


"Permisi!" Terdengar suara seorang laki-laki. Tadi Fasya kira Saera yang kembali.


"Silakan masuk."


Fasya memfokuskan pandangannya ke pintu, seperlima detik kemudian, handle pintu bergerak.


Klik, handle pintu diputar, seorang office boy masuk membawa baju jas yang masih disarung plastik.


"Ini dari nyonya Saera. Saya dipinta mengantar ke kamar 202," ujar office boy itu menyerahkan ke Fasya.


Fasya mengambil dan menatap jas hitam itu secara intens, hingga dia tak mendengar lagi, kala sang office boy berpamitan.


"Untuk apa Saera membeli jas," pikir Fasya, dia sama sekali tak ingat kalau hari ini ulangan tahun perkawinannya yang ke tiga belas dengan Saera.


Setelah meletakkan stelan jas itu di sandaran kursi rias. Fasya kembali menelepon Roy, yang tadi dimatikannya mendadak, karena mengira Saera yang datang.


"Ada apa lagi. Bos?" Tanya Roy.


Roy sudah menduga kalau Fasya akan meneleponnya kembali dan kala mendengar Fasya mengancamnya untuk yang kedua kali, Roy terkekah.


"Bos! Combangin aku sama Alesa ya. Biar ku akhiri masa lajangku," ujar Roy lagi di sela tawanya.


Kali ini Roy bisa memastikan kalau wajah Fasya berubah merah padam. Untung saja cuman lewat telepon, jika bertatap muka habislah dia di hajar Fasya.


"Alesa mana cocok jadi istrimu. Kamu cocoknya dengan Dea," Fasya sudah mencombangi Roy dan Dea, Deanya mau tapi Roynya ogah. Payah!


"Dea! Nggak tipe aku bos. Aku mau gadis lembut kaya Alesa," ujar Roy lagi.


"Ayoklah bos. Bantu aku." Sambil bicara begitu, Roy cekikikan sampai sakit perut menahan gelak. Dengan berbagai alasan Fasya melarang Roy mendekati Alesa.


"Kenapa Fasya tidak jujur saja. Tinggal bilang kalau Alesa itu istrinya," batin Roy.

__ADS_1


"Lihat saja bos. Aku akan buat kamu mengakuinya," batin Roy tersenyum misterius.


"Awas saja kamu. Roy! Jika berani mengganggu Alesa," batin Fasya seraya mengakhiri panggilan telepon.


Fasya merubah posisi baringnya, dia menumpukan kedua tangan di kepala. Pandangannya lurus ke atas, menatap langit-langit kamar. Seketika bayangan Alesa melintas di benaknya, semua kejadian bersama Alesa masih jelas diingatannya.


Fasya tersenyum, kala mengingat wajah polos Alesa saat ketakutan karena bibirnya telah mengambil kesucian bibir Alesa. Pikiran mesum tiba-tiba saja melintas di otaknya.


"Fasya! Jangan lupa kata-katamu, yang sudah kamu diucapkan, kala Alesa menandatangani perjanjian itu," batin Fasya mengingatkan dirinya kembali.


"Alesa!"gumam Fasya, dia berusaha menepis bayangan gadis itu.


"Aku tidak boleh memikirkan Alesa. Lupakan Alesa. Fasya! Kamu punya Saera," guman Fasya, merubah posisinya, mengambil bantal guling dan membenamkan wajahnya. Namun bayangan Alesa tak jua hilang.


"Aku merindukan, istri kecilku itu," batin Fasya, lalu mengambil ponselnya menekan nomor kontak Alesa. Begitu sambungan telepon terhubung, Fasya tak bicara apa-apa. Dia hanya ingin mendengar Alesa mengucap salam. Suara Alesa membuat hati bergetar dan berbunga-bunga. Fasya tersenyum bahagia, setelah itu, dia pun bisa memejamkan mata, tertidur dengan mimpi indah.


*****


Sementara Saera yang sedang berada di sebuah ruang pertemuan yang bisa menampung tamu sekitar seratus orang, sedang mempersiapkan acara party yang akan diadakannya beberapa jam lagi.


"Untuk acara puncaknya di sini saja," ujar Saera menunjuk posisinya di depan kolam ikan.


"Baik nyonya."


"Tolong buat suasana di sini seromantis mungkin. Aku ingin suamiku sangat berkesan dengan kejutan ini," ujar Saera pada para pendekor, setelah memastikan tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Saera pun pamit ijin kembali ke kamarnya.


Begitu Saera sampai ke kamar, dilihatnya Fasya terkapar di kasur dan baju jas tergeletak di atas sandaran kursi. Saera mengambil stelan jas itu dan menggantungnya di dalam lemari.


Saera ikut membaringkan tubuhnya di samping Fasya dengan posisi miring. Dia menatap wajah laki-laki yang hari ini genap tiga belas tahun menjadi suaminya.


Dulu Saera memang satu kampus dengan Fasya. Namun, beda tingkat dan jurusan. Fasya terkenal laki-laki yang dingin, pendiam dan tidak suka bergaul dengan lawan jenis. Pendekatan Saera dengan Fasya, sebenarnya difasilitasi oleh ibunya Saera. Waktu itu Anema ibunya Saera menjadi dosen sekaligus ketua prodi, di kampus Fasya dan Saera kuliah.


Pertemuan demi pertemuan, seakan terjadi secara alami, pada hal semuanya Anema yang mengatur, Dia menjadikan Fasya mahasiswa dengan segudang masalah dan bahkan Fasya hampir di  drop out (DO).


Malik sangat marah pada Fasya, saat dia mendapat laporan dari pihak kampus tentang kasus demi kasus yang melibatkan Fasya. Dan Fasya pun mendapat peringatan terakhir dari Malik papanya. Jika dia di DO, maka Fasya akan di antar ke rumah nenek di kampung, untuk ikut mengerjakan kebun sawit.

__ADS_1


Dan pada saat itu Anema ibunya Saera datang menjadi pahlawan menyelamatkan Fasya, dengan persyaratan Anema meminta Fasya berpacaran dengan anak gadisnya. Tentu saja Fasya tidak keberatan, Saera selain cantik juga pintar, satu keberuntungan dia bisa mendapatkan Saera dengan mudah.


Anema membantu menyelesaikan kasus Fasya yang sebenarnya, tak pernah Fasya lakukan. Dan Fasya pun akhirnya dapat menyelesaikan skripsinya, berkat bantuan Anema, nama baik Fasya kembali pulih, dan Malik pun kembali bangga dan mempercayainya. Saat itu Fasya sangat berhutang budi pada Anema.


Anema membuat seakan-akan saera dan Fasya adalah pasang paling serasi di kampusnya. Fasya tak menyadari itu, dia mengira kalau Saera memang di takdirkan berjodoh dengannya. Setiap kesempatan pasti mereka selalu bertepatan di tempat yang sama.


Seperti malam puncak acara ulang tahun kampusnya. Semua orang hadir dengan membawa pasangan. Hanya dia dan Saera yang tidak, kemudian saat pulang bisa pula terjebak sama-sama di dalam lift, lalu terkunci di ruangan yang sama. Semua itu sudah di skenario oleh Anema.


Sampai saat ini, Saera sendiri belum tahu apa motif Anema begitu ingin sekali Fasya menjadi menantunya dan yang aneh lagi. Anema melarang Saera hamil anak Fasya. Setiap tiga tahun Anema akan membawa Saera ke dokter untuk mengecek dan mengganti alat kontrasepsi yang dipakai Saera.


"Ibu! Kenapa melarang aku mengandung anak Fasya?"


Pertanyaan itu pernah dilontarkan Saera pada ibunya. Saat Anema membawanya ke dokter kandungan dua hari sebelum pernikahannya digelar.


"Sebelum Fasya benar-benar mencintaimu. Dan memberikan Fasilitas yang cukup padamu, jangan pernah melahirkan anaknya."


Alasan itu yang selalu dilontarkan oleh Anema, jika Saera menolak untuk memperpanjang alat kontrasepsinya. Dan selama ini pun Fasya tidak pernah mempermasalahkan tentang anak pada Saera.


Saera menarik nafas panjang, lalu menghembuskan dengan kasar. Pikirannya menerawang ke langit-langit kamar. Tiga belas tahun bersama Fasya sudah membuatnya, sedikit demi sedikit jatuh cinta pada kesabaran Fasya menghadapinya.


"Saatnya aku memikirkan hidupku sekarang. Usia ku sudah tak muda lagi, aku harus punya anak," batin Saera.


"Aku harus melepaskan alat kontrasepsi ini, setelah pulang dari sini," batin Saera lagi.


"Bagaimana kalau ibu tahu, dan marah," Saera ambigu.


"Ah .. Itu urusan nanti." Saera membulatkan tekat untuk merubah hidupnya.


Saera kembali memalingkan wajahnya ke sosok Fasya di sampingnya. Dengkuran Fasya masih terdengar, itu tandanya Fasya sama sekali tak terusik dengan kehadiran.


"Aku tak akan membiarkan Alesa merebutmu," Saera menatap intens wajah suaminya.


Dan mulai hari ini, Saera berjanji pada dirinya sendiri untuk mempertahankan rumah tangganya dengan Fasya apapun yang terjadi. Dan mulai hari ini juga. Saera tidak akan mau lagi didikte oleh Anema ibunya.


Saera melingkarkan tangan di pinggang suami, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Fasya. Saat ini perasaan Saera begitu damai. Dia benar-benar sudah jatuh cinta pada pada laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2