Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Sahabat Selamanya


__ADS_3

Part 54


Suasana hati Alesa camuh. Dia tak habis pikir bagaimana Fasya bisa sebejat itu. Menghamili gadis di luar nikah. Sementara Fasya punya dua istri yang tak hamil-hamil. Sungguh! Itu hal yang sangat memalukan.


"Untung aku dan Fasya..." Alesa tidak meneruskan pikirannya.


Terbayang di benak Alesa. Andai dia punya anak dari Fasya. Pasti anaknya malu mempunyai ayah sebejat Fasya. Jika kelakuan Fasya asli seperti itu ada kemungkinan Fasya akan memanfaatkan Alesa juga.


"Aku harus ekstra hati-hati," batin Alesa, bulu kuduknya meremang kala ingat tadi malam dia hampir jadi korban Fasya.


Sayup Alesa mendengar suara mobil masuk dan berhenti. Alesa mengintip dari gorden, dilihatnya Roy turun dari mobil itu. Berselang waktu berikutnya. Fasya dan Saera keluar dari pintu utama, keduanya masuk ke dalam mobil yang dikendarai Roy.


"Mau ke mana mereka. Tak biasanya Saera pergi satu mobil dengan Fasya," batin Alesa.


"Semoga saja setelah ini, tak ada lagi perang dingin," batin Alesa.


Roy menutup kaca mobil, menekan pedal gas, dan meluncur meninggalkan rumah Fasya. Sementara Alesa menatap kepergian mobil itu, hingga hilang di balik terali pagar. Alesa menutup kembali gorden dan menghentikan aktifitas mengintipnya.


Jam dinding di kamar Alesa menunjukkan pukul sembilan tiga puluh menit. Drama pagi ini cukup mengejutkan dan menegangkan, Alesa tak tahu, apakah akan ada lagi drama-drama berikutnya.


"Sudahlah! Jalani saja skenario Tuhan yang sudah direncanakan," batin Alesa, seraya bergegas menyambar handuk masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Hari ini Alesa ada jadwal kuliah jam sepuluh tiga puluh dengan Adra. Dia tidak boleh telat, kalau tidak mau dapat hukuman dari dosen killer itu.


Hanya butuh lima menit Alesa sudah menyelesaikan ritual mandinya, lima menit kemudian Alesa sudah berpakaian rapi. Sebelum keluar kamar dia meraih ponsel dan ransel. Dia pun siap-siap mau berangkat ke kampus.


"Non! Sarapan dulu," sapa Sri kala melihat Alesa memperbaiki cantolan rasel di bahunya.


"Aku sarapan di kampus saja. Bik!" ujar Alesa, dia takut terlambat, jika sarapan dulu.


"Ini. Bibik sudah siapkan," ujar Sri menenteng box nasi berwarna ungu.


"Pagi ini tidak ada yang sarapan," ujar Sri lagi, seraya menyerahkan ke Alesa box ungu itu.


Alesa menerima box itu dan memasukkan ke dalam ransel. Lalu dia beranjak menuju pintu utama.


"Hati-hati. Non!" Seru Sri, lalu menutup rapat pintu utama. Dia trauma dengan kejadian tadi pagi.


Alesa mengorder gojek, dia menunggu di depan pintu gerbang. Sepuluh menit berlalu ojek online yang ditunggunya tak juga kunjung tiba.


"Apa ku batalkan saja," batin Alesa seraya menatap layar ponselnya.


"Kutunggu lima manit lagilah," gumam Alesa.


Lima menit pun berlalu, ojek online tak juga kunjung tiba. Alesa mengguhungi nomor kontak yang menerima orderannya.


"Maaf. Kak! Motor saya masuk bengkel. Bannya bocor, jadi harus di tambal dulu. Kalau mau batalkan. Batalkan saja kk," ujar si driver.


"Ihhh, coba kasih tau. Dari tadi aku sudah ku batalkan," gerutuk Alesa. Alesa pun membatalkan orderannya. Belum sempat Alesa mengorder ulang, sayup dia mendengar ada seseorang mamanggil namanya.

__ADS_1


Alesa mendongakkan kepala, mencari sumber suara yang memangilnya. Di seberang jalan sebuah mobil berhenti, Makita menurunkan kaca mobil dan berteriak memanggil Alesa.


"Ke kampuskan? Yuk!" Lambai Makita.


Tanpa pikir panjang Alesa berlari menyeberangi jalan. Lumayan bisa hemat sepuluh ribu. Begitu Alesa sudah di seberang jalan. Makita turun dan mengajak Alesa duduk di kursi belakang.


Setelah kedua gadis itu berada di dalam mobil. Mobil pun meluncur meninggalkan area rumah Fasya, melaju merambah jalan raya. Abang Makita yang bernama Madrid membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Madrid laki-laki yang bekerja sebagai manejer, di salah satu perusahaan swasta itu, memang raja jalanan.


Madrid hanya fokus menyetir, tak ada basa-basi sedikit pun pada Alesa. Sesekali dia melirik Alesa dan adiknya yang sedang membahas mata kuliah pak Adra. Dan Alesa yang biasa beramah tamah dengan kebanyakan. Dia pun menutup mulutnya rapat, tidak berani memulai pembicaraan.


Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Madrid memasuki area kampus. Madrid menepi dan berhenti.


"Terima kasih. Abang," ujar Makita lalu turun dari mobil disusul Alesa.


"Terima kasih tumpangannya. Bang!" ucap Alesa seraya keluar dari mobil.


Madrid tidak merespon ucapan Alesa.


"Belajar yang baik. Jangan pacaran," pesan Madrid, seraya berlalu.


"Abangmu ganteng juga. Ma!" Puji Alesa.


"Ganteng. Tapi galak," ujar Makita, seraya mensejajari langkah Alesa.


"Oh! Pantas saja wajahnya serius terus," gumam Alesa.


"Galak-galak. Abang aku baik hati," puji Makita sekalian promosi. Alesa hanya manggut-manggut menanggapi ucapan Makita.


"Nggak! Aku sudah kenyang. Ntar takut meler kalau makan lagi," ujar Makita, yang bobot tubuhnya sekarang sudah mencapai tujuh puluhan.


Alesa melirik jam dilayar ponselnya. Pukul sepuluh kurang sepuluh menit, masih ada waktu empat puluh menit. Masih bisa makan dengan santai. Baru dua suap Alesa makan. Adra masuk secara tiba-tiba, tentu saja semua mahasiswa bergegas mencari tempat duduknya.


Trang....


Cantika menyenggol tempat bekal Alesa. Nasi goreng spesial buatan bibik berhamburan di lantai. Box warna ungu itu tertelungkup, hingga nasinya tumpah tak bersisa, sendok terpelanting dan berhenti tepat di bawah kaki Adra.


"Maaf," ujar Cantika seraya menangkupkan kedua tangannya. Alesa hanya mengangguk.


Sejenak Alesa menatap ke lantai, lalu matanya membola, kala menyadari sendok miliknya jatuh di depan Adra. Dia menunjuk malu, kemudian beranjak dan jongkok memungut box nasi dan sendok yang tergeletak di lantai.


"Ijin pak. Saya bersihkan dulu," ujar Alesa seraya mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Adra.


Adra hanya mengangguk. Sebenarnya bisa saja Adra menyuruh pekerja kampus untuk membersihkan. Namun, itu tak dilakukannya. Biar saja Alesa bertanggung jawab atas kerusuhan yang dibuatnya.


Alesa pergi ke gudang meminjam sapu, skop sampah dan kain pel. Alesa menyapu nasi yang berserakan, memasukkan dalam skop, setelah itu mengepel lantai, hingga bersih.


Sepersepuluh menit lantai sudah bersih seperti semula. Alesa mengembalikan ke gudang alat kebersihan yang dipinjamnya. Saat Alesa kembali ke kelas. Adra sudah memulai kuliahnya, satu setengah jam kemudian Adra mengakhiri materinya.


"Tiga hari dari sekarang, semua tugas saya terima via email," ujar Adra memberi tugas baru.

__ADS_1


"Dan kamu Alesa. Karena hari ini membuat kesalahan lagi, hukuman Kamu buat dua makalah," ujar Adra sebelum dia keluar.


"Baik pak," ujar Alesa mengangguk.


Saat Makita dan teman-temannya ke kantin, Alesa keperpustakaan, dia mencari berbagai referesi untuk tugas dari Adra. Dua makalah, satu makalah sepuluh referensi, dua makalah berarti dua puluh. Alesa berkutat di perpustakan setengah harian, dia istirahat shalat zuhur dan asar saja, sampai-sampai makan siang pun terlupakan.


Pukul enam belas, Alesa merasa perih di perutnya. Dia baru ingat kalau hari ini, hanya dua sendok nasi goreng tadi pagi yang masuk perutnya.


"Pantas lapar banget," batin Alesa seraya memegang perutnya.


Alesa mengembalikan buku-buku yang tadi dipakainya. Setelah mengucapkan terima kasih pada penjaga perpustakaan, Alesa ke luar menuju kantin. Dia harus mengisi perutnya dulu baru pulang.


Begitu masuk ke kantin, Alesa memindai ruangan kantin mencari tempat duduk yang kosong, dibagian sudut paling kanan belum berpenghuni. Alesa memilih tempat itu.


"Makan apa kak?" Seorang pelayan katin bertanya.


"Nasi putih sambal telor, cabenya sedikit saja," jawab Alesa.


Segerombolan mahasiswa masuk, ada lima orang, salah satunya Bambang. Sekilas Bambang menatap ke arah Alesa. Sementara Alesa tidak melihat, karena Alesa duduk memunggunginya.


"Hay! Boleh aku duduk di sini?" Tanya Bambang menyapa.


"Eh... Boleh," sahut Alesa gugup.


"Kamu apa kabar?" Tanya Bambang lagi seraya mendudukkan bokongnya.


Sekilas Alesa melirik laki-laki yang duduk di depannya. Alesa merasa seperti baru mengenal Bambang. Begitu juga Bambang ada kecanggungan melanda di antara mereksa. Hingga kata yang keluar hanya sepatah-sepatah.


"Kamu masih marah sama aku?" Alesa memberanikan diri bertanya.


"Marah? Siapa yang marah?"


"Yah, kamulah. Sampai ninggalin aku tanpa pesan," ujar Alesa lagi.


"Aku bukan marah. Tapi kecewa," ujar Bambang.


"Kita lupakan saja masalah itu ya. Kita kan sudah janji untuk jadi sahabat selamanya," ujar Bambang lagi. Dia ingin berbaikan lagi dengan Alesa.


Mendengar ucapan Bambang, Alesa senang dan mengucapkan terima kasih pada Bambang, kalau Bambang tidak marah padanya. Bagi Bambang percuma tak bertegur sapa, kalau setiap hari bayangan Alesa selalu menyiksanya.


Seorang pelayan kantin mengantarkan pesanan Alesa. Nasi putih sambal telor dan teh es. Sementara Bambang hanya memesan jus Al pukat.


"Kamu belum makan siang. Sa?" Tanya Bambang kala melihat Alesa makan dengan lahapnya.


"Belum! Mana tadi pagi cuman sarapan dua sendok nasi goreng," ucap Alesa seraya menyuap suapan terakhir.


"Pantasan, lapar banget," ejek Bambang terkekeh.


Alesa jadi tersipu malu, saat menyadari kalau Bambang memperhatikannya. Selesai makan, Bambang menawarkan pulang bersama. Paling tidak hari ini, Alesa bebas ongkos gojek.

__ADS_1


"Lumayan lah dua puluh ribu, tak keluar, bisa nambah tabungan," batin Alesa.


__ADS_2