Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Menyimpan Rahasia


__ADS_3

Part 21


"Apa seharusnya aku jujur saja pada Adra, kalau Fasya itu suamiku, bukan abangku," pikir Alesa seraya berjalan mengiringi langkah Adra keluar dari cafe.


"Ingat! Jangan pernah bicara pada siapapun tentang pernikahan kita, jika kamu ingin kuliahmu selesai," ancam Fasya dua hari lalu, saat mengantar Alesa pertama kali ke kampus.


Ancaman Fasya, agar merahasiakan pernikahannya pada siapapun, masih terngiang jelas di telinga Alesa. Dan itu juga termaktub dalam surat perjanjian yang ditandatangani Alesa dua hari lalu. Hal itu membuat Alesa mengurungkan niatnya.


Alasan Fasya menikahinya karena permintaan papanya, sampai sekarang Alesa belum pernah berjumpa dengan papa mertuanya. Sementara alasan Alesa mau menikah dengan Fasya karena abinya. Alesa berpraduga kenapa Fasya merahasia pernikahan dengannya, mungkin karena Fasya sudah memiliki Saera.


"Baik Fasya! Aku akan memainkan peran dengan baik untuk menjadi adikmu. Jika itu yang kamu inginkan." batin Alesa terus mengikuti langkah Adra.


"Ternyata kamu menyukai menu kampung juga ya. Al?"


(Al...) Panggilan itu mengingatkan Alesa pada seseorang. Yah... hanya adik-adiknya yang memanggilnya dengan sebutan Al dan tiba-tiba dia jadi rindu suara riuh adik-adiknya.


"I-Iya. Pak. Semua masakan Riau ala kampung, saya suka," jawab Alesa.


"Padahal abangmu, si Fasya itu lebih suka makan kota," ujar Adra.


"I-Iya! Nama juga selera. Jadi beda-beda dan saya juga hanya adik sepupu Fasya!" jawab Alesa sekenanya.


Alesa yang baru dua hari bersama Fasya, tentu saja belum tahu apa kesukaan suaminya itu. Selain itu Alesa pun tidak ingin ambil tahu.


Adik sepupu mungkin lebih cocok bagi Alesa. Makanya dia sengaja mengatakan pada Adra, kalau dia hanya adik sepupu. Kemaren waktu dia akan melaksanakan ijab qabul, abi Abdurrahman sempat bertanya, dan Fasya menjawab, kalau dia adalah anak tunggal dari bapak Malik.


"Malik! Aku seperti pernah mendengar nama itu. Aku harus menyelidiki dan mengetahui siapa papa mertuaku," pikiran Alesa melayang jauh. Hingga dia tidak fokus kalau sedang berjalan bersisian denga Adra.


Brak...


"Maaf." Spontan wajah Alesa tersipu malu.


Alesa menabrak Adra yang berhenti melangkah karena menunggu Alesa yang jalannya terlalu pelan, hingga tertinggal beberapa langkah.


"Kamu kenapa? Jalan apa melamun?" tanya Adra menilik raut wajah Alesa.


"Hanya kepikiran kampung. Gara-gara cerita menu kampung," ujar Alesa jujur.


"Eh..Bapak sendiri. Kenapa menyukai menu kampung?" Alesa berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau, kalau Adra nanti bertanya tentang kampungnya.


"Yah... Hanya suka saja," jawab Adra sekenanya.


"Hanya itu?"


"Sudah bosan juga dengan makan menu kota, selain itu menu kampung menurutku lebih sehat." Jawab Adra.


Sementara Alesa tidak menyukai menu makanan kota, seperti burger, pizza, saffron, white Alba Truffle. Entah apalah yang nama serba aneh.


Menurut Alesa semua menu kota memang tidak cocok untuk lidah orang miskin seperti dia. Dulu dia pernah dikasih teman yang baru pulang dari kota sepotong pizza, Alesa tidak suka, dia lebih menyukai lempeng sagu cecah ke gula merah. Apa lagi jika makannya rebutan, terasa nikmat.


"Alesa dasar kampungan," batinnya senyum-senyum. Kala ingat adik-adiknya malah rebutan di kasih pizza satu potong.


Alesa kembali melamun, dengan cepat dia menepis bayangan adik-adiknya, kala menyadari dia sedang berjalan bersisian dengan Adra.


"Okay. Pak! Terima kasih ajakan sarapannya. Saya ke auditorium dulu," ujar Alesa pamitan.


"Baik, terima kasih kembali." Balas Adra, dia menatap punggung Alesa yang berbelok ke arah kanan, hingga Alesa menghilang di balik pintu auditorium.


Adra masih penasaran dengan gadis bercedar itu. Seperti ada misteri yang tersembunyi diserat mata indahnya. Entah kenapa sejak bertemu Alesa, Adra memiliki hasrat ingin lebih dekat dengan gadis itu. Adra mengangkat bahunya, tanda tak mengerti perasaan apa yang sekarang sedang melandanya. Dia pun meneruskan langkah menuju ruang rektorat.


Sementara Alesa melangkah mendekati auditorium, seraya melirik jam di pergelangan tangamnya, sudah menunjukkan pukul delapan lewat lima belas manit. Lima belas menit lagi kuliah umum akan dimulai. Alesa mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Alesa!"


Baru sampai di teras auditorium, sayup Alesa mendengar namanya di panggil, Alesa menoleh mencari sumber suara, seorang gadis berkacamata minus, setelan dress panjang warna pink, dengan jilbab senada, bersepatu kids dan ransel kecil di punggung, berjalan ke arahnya.


"Kamu baru sampai?" Tanya Alesa pada Makita, saat melihat nafas Makita ngos-ngosan. Makita teman wanita pertama di kampus ini yang di kenalnya dua hari lalu.


"Iya. Tadi supirku lambat bangunnya, jadi lambat, untung belum mulai," ujar Makita mengiringi langkah Alesa.


"Oh, kamu punya supir pribadi?"


"Hemm. Bukan! Dia abangku," jawab Makita.


Begitu memasuki auditorium, di deretan depan sudah terisi, tinggal dua baris di bagian belakang. Alesa dan Makita kebagian di dekat pintu ke luar masuk.


"Di sana yuk," ajak Makita menunjuk dua kursi yang masih kosong di deretan dua dari belakang.


"Janganlah. Di sini saja!" Alesa menolak ajakan Makita. Karena jika mereka ke bagian sana, akan banyak melewati mahasiswa lain. Alesa merasa tidak nyaman.


Setelah berdebat kecil, akhirnya Makita mengalah dan mendudukkan bokongnya di samping Alesa. Walaupun terlihat sedikit kesal.


Suara Mc sudah terdengar membuka acara ciri khas Riau dengan berpantun ria. Tepukan yang gemuruh menyambut kedatangan dosen muda yang bernama Adratama.


Adra dengan setelan jas hitam, kemeja putih dengan dasi yang senada. Laki-laki itu berjalan gagah menuju tempat duduk kehormatannya, semua mata mahasiswa baru fokus ke arahnya. Apalagi para mahasiswi berdecak kagum memuji ketampanannya.


Ternyata Adra yang akan mewakili untuk membuka kuliah umum pagi ini.


"Alesa! Dosennya ganteng banget," seru Makita menyenggol Alesa.


"Mana?" Alesa yang dari tadi fokus ke ponselnya jadi tersadar saat disenggol Makita.


"Itu yang pakai jas hitam," ujar Makita bersemangat.


"Andai Fasya itu Adra. Pengertian dan perhatian," batin Alesa mulai membanding laki-laki sepertemanan itu.


"Hay! Kamu kenapa senyum-senyum gitu. Jangan bilang kamu naksir pak Adratama," ujar Makita menyenggol kembali lengan Alesa, hingga membuyarkan lamunan Alesa.


"Apaan! Mana mungkin aku suka sama pak Adra," ujar Alesa sekenanya.


"Hah! Yang benar kamu. Pasti ada yang bermasalah dengan matamu. Masa cowok ganteng gitu kamu nggak doyan," cicit Makita kita panjang lebar.


"Maksudnya. Mana mungkin pak Adra suka sama aku," Alesa mengulang analisanya.


"Nah. Ini baru benar."


"Karena pak Adra sudah punya tunangan," bisik Alesa di telinga Makita.


"Apa? Serius?" Tanya Makita dengan mata membola menatap Alesa. Alesa mengangguk. Wajah Makita seketika berubah pias.


"Dari mana kamu tahu, kalau pak Arda sudah punya tunangan."


"Dari mimpi," jawab Alesa sekenanya, secara terkekeh, saat melihat ekspresi Makita. Sebuah cubitan pun melayang di bahu Alesa.


"Sssseeet. Jangan berisik." Alesa dan Makita dapat teguran dari seseorang.


Alesa dan Makita pun saling berpandangan, lalu menangkupkan kedua tangan di dada. Meminta maaf karena sudah membuat ketidak nyamanan.


Empat jam berlalu, kuliah umum selesai, mahasiswa baru pun berhamburan, ke luar dari auditorium.


"Ke kantin yuk," ajak Alesa, dia ingin membahasahi tenggorokkannya dengan teh es, sudah terbayang nikmatnya, apalagi cuaca cukup panas.


"Kayaknya aku tak bisa, supirku udah nunggu di parkiran," ujar Makita menolak ajakan Alesa.

__ADS_1


"Suruh saja supirmu nunggu tiga puluh menit lagi," ujar Alesa memaksa.


"Nggak bisa, ntar dia ngamuk-ngamuk, bisa heboh orang satu kampus," ujar Makita lagi seraya terkekeh, lalu berpamitan dan melambaikan tangan ke arah Alesa.


Sepeninggalan Makita, Alesa melangkah ke kantin. Selain haus dia juga lapar, Alesa menatap jam di pergelangannya, sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit, menang waktunya makan siang.


"Alesa!"


Alesa menghentikan langkahnya, memutar tubuh, menoleh ke belakang mencari sumber suara yang memanggil namanya. Seorang laki-laki berkemeja kotak-kotak, celana jeans hitam dan memanggul ransel, mendekat sambil tersenyum.


"Hay, mau ke kantinkan. Bareng yuk." Ajak Bambang seraya mensejajari langkah Alesa.


Alesa menatap intens pada laki-laki di depannya. Bagaimana bisa Bambang sudah mengenalinya.


"Kenapa? Kamu heran kalau aku sudah tahu identitasmu Alesa Syarifah Abdurrahman," kata Bambang menyebut nama lengkapnya.


"Jangan heran gitu. Jangankan namamu, alamat rumahmu saja aku sudah tahu. Apa lagi yang kamu sembunyikan ke aku," ujar Bambang lagi sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Hay! Kamu kayak hantu, bisa tahu semua," ujar Alesa kalah.


"Hahaha, kebetulan," Bambang tertawa menanggapi ucapan Alesa.


"Jangan bilang, kalau kamu nguntit aku," ujar Alesa nuduh, terus melanjutkan langkahnya.


"Kalau iya. Kenapa? Kamu nggak suka?" Tanya Bambang, membuat Alesa gelagapan.


Bambang berhenti melangkah dan berdiri tepat di depan Alesa, dia menghalangi jalan Alesa, hingga Alesa pun menghentikan langkahnya. kembali Bambang menatap intens pada Alesa. Seketika Alesa mengalihkan pandangannya, dia takut kalau Bambang bisa membaca isi hatinya.


"Nggak," jawab Alesa sekenanya. Nampak sekali dia berbohong, antara hati dan ucapan bertolak belakang.


"Kamu pasti bohong."


"Kok tahu, hahaha," Alesa berusaha bercanda, agar bisa menutupi kegugupannya.


"Tahulah."


"Dari mana?"


"Dari ramalan bintang," ucap Bambang membalas candaan Alesa, dia pun ikut tertawa.


Dua tahun tidak bertemu Alesa, membuat Bambang pangling. Tubuh Alesa yang dulunya kurus, kini sudah berisi dan yang jelas waktu itu Alesa tidak menggunakan pakaian syar'i dan berniqab.


"Pasti wajah dibalik niqab itu lebih cantik dari kemaren," batin Bambang.


"Sejak kapan kamu memakai niqab?" Tanya Bambang.


"Baru saja, setelah tamat SMA."


"Hemm, kamu tambah cantik dengan penampilanmu sekarang," puji Bambang tulus dari hatinya.


"Ah, gombal!" Ujar Alesa lagi, berusaha menutupi kalau dia salah tingkah mendapat pujian dari laki-laki yang menyebabkan dia berpenampilan seperti sekarang ini.


Dulu waktu mereka masih berseragam abu-abu. Bambang dan Alesa beda satu tingkat. Saat Bambang duduk di kelas sebelas SMA, dan Alesa kelas sepuluh, Alesa selain cantik juga pintar. Bambang pertama kali mengenalnya waktu Alesa membaca puisi pada acara memperingati hari guru. Sejak saat itu Bambang menyukai puisi-puisi yang dibuat dan di baca Alesa.


Namun, sampai Bambang tamat, dia tak pernah menyatakan kalau dia sebenarnya menyukai Alesa, karena kesannya Alesa pun tidak mau berpacaran, dia hanya ingin berteman.


Setelah tamat SMA Bambang pergi meninggalkan kota Tembilahan menuju Pekanbaru, untuk melanjutkan pendidikannya. Dan kini dia bertemu lagi dengan Alesa di kampus yang sama. Apakah ini jodoh namanya.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Bambang begitu mereka sudah berada di kantin dan duduk ditempat lesehan.


"Alesa! Ayok ikut." Baru saja Alesa mendudukkan bokongnya, tiba-tiba seseorang meraih tangannya dan mengajak ke luar kantin.

__ADS_1


__ADS_2