
Part 69
"Kita berpisah. Aku talak kamu," ujar Fasya, lalu masuk ke mobil dan menutup pintu mobil.
Mata Roy melotot memandang Fasya, tak salah apa yang di dengarnya. Hari laki-laki itu dua kali mengucapkan kata talak, untuk istri pertama dan keduanya.
"Apa ini bagian dari takdir," batin Roy geleng-geleng kepala.
Raut wajah Alesa berubah seratus delapan puluh derajat, dia menarik nafas dalam, mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya. Begitu mudahnya Fasya menalak dan melupakan janjinya pada Abdurrahman agar menjaganya.
"Non yang sabar ya," ujar Roy sebelum masuk ke dalam mobil. Sebenarnya Roy tak tega meninggalkan Alesa. Tapi dia juga tak mungkin membiarkan Fasya yang sedang terpuruk tanpa dia.
Mobil yang dikendarai Roy, bergerak perlahan, membawa Fasya dan Carla. Alesa mengiringi kepergian Fasya dengan sudut matanya, hingga mobil Fasya menghilang dari pandangan.
Carla bersorak gembira mendengar ucapan Fasya, itu Artinya sekarang dia satu-satunya istri Fasya. Carla tak menyangka sama sekali, kalau dia begitu mudah mendapatkan Fasya seutuhnya.
"Kita akan hidup bahagia selamanya," batin Carla menggamit tangan Fasya, lalu menyandarkan kepala ke bahu suaminya.
"Memuakkan," batin Roy melirik kelakuan Carla dari kaca spion depan.
Carla meminta Roy membawa Fasya ke klinik, untuk diobati luka lebamnya, setelah itu Carla mengajak jalan-jalan ke bukit tinggi, selain menghindar dari papa Ibrahim Carlos, Carla bermaksud menghibur Fasya dan sekaligus berbulan madu.
*****
Di rumah Anema
Senyum Anema mengambang, hari ini dia boleh puas dengan kerja baik yang telah ditunjukkan putrinya. Dia ingin sekali melihat muka laki-laki yang bernama Malik dan melempar sampah ke mukanya.
"Malik! Malik! Aku telah membuktikan ucapanku," batin Anema tersenyum bahagia.
Orang kepercayaan Anema telah mengirim berita tentang Saera yang telah berhasil menjadi CEO di perusahaan Fasya. Bahkan orang kepercayaan Anema itu juga mengirim video tentang pengusiran dan pemukulan yang di kantor Fasya.
"Hemm. Sesuatu banget," gumam Anema.
"Malik harus tahu ini."
Anema mengirim berita hangat itu kepada Malik lewat chat whatsapp. Dia berharap Malik mendapat serangan jantung dan meninggal seperti ibunya dulu.
(Malik! Anakmu sudah terusir dari kantornya dan aku sangat puas dengan hasil kerja putriku) Anema mengirim chat beserta video.
(Aku ikhlaskan perusahaan itu buat putrimu. Semoga setelah ini hatimu tenteram dan tak ada dendam lagi) Malik membalas Chat Anema.
Andai Malik ingin melakukan sesuatu pada Saera dan Anema, itu perkara yang sangat mudah. Tapi semua itu tak dilakukannya, karena dia ingin menebus kesalahannya pada Anema. Malik tak pernah tahu bagaimana perjuangan Anema menghadapi masa-masa sulitnya. Andai dari awal dia menyadari, mungkin takdir yang menimpa Fasya akan berbeda.
"Kenapa Malik menanggapinya sesantai itu," batin Anema, setelah membaca balasan dari Malik.
__ADS_1
Anema kesal, dia lupa kalau Malik memiliki beberapa perusahaan, kalau hal yang dihadipi Fasya sekarang adalah masalah kecil. Anema tidak berhasil membuat Malik stres.
Sementara Malik malah bahagia kalau akhirnya Fasya tahu siapa sebenarnya Saera dan kenapa dulu dia keberatan Fasya menikah dengan Saera. Sekarang semuanya sudah terjawab, tak perlu lagi Malik jelaskan. Bahkan kini Malik beranggapan Fasya akan hidup tenang dengan Alesa. Malik sama sekali tidak tahu kalau Fasya sudah menikah dengan Carla.
"Dasar laki-laki bodoh," batin Anema kesal, karena tak berhasil membuat Malik jatuh sakit. Segara Anema mengabaikan Malik. Untuk sementara dia tidak ingin memikirkan laki-laki itu.
Puaskah Anema sekarang, setelah mengetahui menantunya itu bangkrut. Tentu saja belum, dia akan puas , jika bisa menbuat Malik berlutut di hadapannya. Setelah ini dia akan merencanakan sesuatu buat Malik.
"Saera! Kita harus merayakan ini," batin Anema tersenyum penuh kemenangan.
Seraya menggulir layar ponsel, Anema mencari nomor kontak putri kesayangannya itu. Baru saja dia menggeser layar ponselnya, terdengar ketukan di daun pintu.
Mata Anema menatap ke pintu, dia mengurungkan niat untuk menghubungi Saera. Anema menyeret kaki, beranjak ke ruang tamu, memutar handle dan menguakkan pintu.
"Saera!" Ujarnya girang.
Daun pintu dikuakkan selebarnya, karena kegirangan Anema memeluk putrinya di tengah-tengah pintu. Beberapa saat dia dan Saera saling berpelukan erat, seperti orang yang sudah lama tak berjumpa.
"Sudah bu. Jangan lebay gitu," ucap Saera. Seraya meminta ibunya melonggarkan pelukan.
Tertegun Anema mendengar ucapan putri semata wayangnya itu. Perlahan dia mengurai pelukannya, lamat-lamat menatap wajah Saera, di mata indah Saera tampak ada kabut. Saera tidak terlihat bahagia.
"Kamu kenapa Saera?"
Kedua tangan Anema beralih ke wajah Saera, mengelus lembut pipinya. Saera menepis kedua tangan ibunya, lalu beranjak dan menghempaskan bobot tubuhnya di sofa. Saera menarik napas dalam, ada beben tergambar di sana.
"Iya. Ibu sangat puas, setelah sepuluh tahun penantian, akhirnya kamu mewujudkan mimpi ibu." Ujar Anema dengan derai tawanya.
Tawa Anema bagai jarum menusuk-nusuk dalam daging Saera. Kembali Saera menarik nafas panjang, dan membuangnya dengan kasar, dia berharap resah yang dia rasakan, hilang bersamaam dengan nafas yang dihembuskannya.
Anema ikut mendudukkan bokongnya di sebelah Saera, lalu melirik Saera yang menopang dagu dengan kedua tangannya, putrinya itu terlihat sangat lelah. Saera merubah posisinya, kini dia menumpukan kepala ke sandaran kursi, tiba-tiba dua kristal bening jatuh meluncur dari sudut netranya tanpa di minta.
"Saera ada apa denganmu?" Tanya Anema gundah, dia tak pernah melihat Saera sesedih ini.
"Aku kehilangan bu! Kehilangan Fasya, hiks, hiks, hiks."
Isak tangis Saera semakin kuat, hingga tubuhnya tergoncang, hatinya kini terasa hampa, terbayang wajah laki-laki yang tadi diusir dari kantornya. Sejatinya Saera sakit kala mengetahui Fasya menikahi Alesa dan Carla. Tapi lebih sakit saat melihat Fasya babak belur dihajar bodyguardnya.
"Ibu! Fasya sudah menalakku, rumah tanggaku hancur! Hancur!" Teriak Saera mengeluarkan semua sesak di dadanya. Dia menangis tergugu.
Anema memeluk erat putrinya, dibiarkannya Saera menumpahkam semua tangisnya. Anema mengusap punggung Saera dengan kasih. Dia sama sekali tak menduga kalau Saera bisa sehancur ini keadaannya sekarang.
"Saera! Maafkan ibu. Ibu terlalu egois," ujar Anema.
"Apa kamu mencintai Fasya?"
__ADS_1
"Entahlah bu! Tapi aku merasa sangat sakit saat Fasya menjatuhkan talak padaku. Aku sakit. Bu! Sakit! Hiks, hiks, hiks."
Airmata Saera semakin deras di pipinya. Anema tersentak kaget mendengar pengakuan dari putrinya. Bagaimana bisa Saera berkata begitu, sudah jelas dari video tadi, Saera dengan pogahnya mengusir Fasya dari kantornya.
"Saera! Kamu tidak boleh seperti ini. Kamu tidak boleh punya perasaan apa pun dengan Fasya," cicit Anema. Dia tidak mau ikut larut dalam tangisan putrinya, dan tak akan merubah pikirannya dari rencana semula.
Anema tak memperdulikan tangisan Saera, karena dia sudah mendidik Saera menjadi seorang pendendam sempurna. Tidak mungkin putrinya itu jatuh hati pada Fasya, yang jelas-jelas dibencinya.
"Sudah! Berhentilah menangisi Fasya," titah Anema, membuat Saera menoleh ke arah ibunya.
"Ibu egois! Kapan ibu bisa mengerti perasaanku!" Teriak Saera.
"Saera! Ini masalah harga diri! Jadi tolong jangan bawa-bawa perasaanmu," ujar Anema menegaskan pada Saera.
Mendengar ucapan ibunya, Saera hanya dian, percuma bedebat dengan ibu. Saera tahu betul bagaimana katakter ibunya yang tak pernah mau mengalah.
"Kenapa? Kamu ingin melihat ibu hancur. Silakan kembali pada suami itu," ujar Anema, menatap Intens pada Saera.
"Aku capek berdebat dengan ibu," ujar Saera, lalu bangkit dari duduknya dan bergegas menuju kamar.
Brak...Saera membanting pintu kamar dengan kuat, hingga membuat Anema terkejut. Saera mengunci pintu dari dalam, dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, dia menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal.
"Saera! Saera! Buka pintunya."
Seraya memanggil Saera, Anema mengetuk-ngetuk pintu. Beberapa menit berlalu, Saera tak kunjung membuka pintu.
*****
Sementara Alesa dan Sri sudah sampai di depan rumah Malik. Alesa meminta driver gojeknya untuk berhenti di depan pintu pagar. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih Alesa dan Sri turun.
"Benar ini rumahnya. Bik?"
"Iya. Non! Bibik pernah ke sini beberapa kali dengan pak Fasya," jawab Sri.
Rasa terpercaya Alesa memindai gedung berlantai dua yang berdiri kokoh di depannya, dengan pagar setinggi tiga meter, halaman luas dengan taman yang tertata rapi. Perpaduan cat yang senada, membuat suasana rumah menjadi sangat adem.
Seorang laki-laki paroh baya, berlari-lari kecil saat melihat Alesa dan Sri datang, dengan membungkuk hormat, laki-laki itu membuka pintu pagar.
"Nan Alesakan?" Tanya laki-laki itu. Alesa hanya membalas dengan anggukan.
"Saya Abdullah yang ditugaskan pak Malik menjaga rumah ini."
Laki-laki itu menyebut nama dan pekerjaannya seraya menangkupkan kedua tangan di dada. Lalu menyodorkan tangan menyambut tas yang dibawa Alesa dan Sri.
Melihat keramahan laki-laki itu Alesa membalas dengan senyuman. Kemudian masuk mengikuti langkah Abdullah.
__ADS_1
Begitu berada di dalam rumah, Alesa terkaget-kaget.