Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Siasat Carla


__ADS_3

Part 44


Carla sampai ke hotel tepat pukul tujuh malam, dia rehat sebentar, kemudian menelepon seseorang. Orang tersebut memberi informasi di mana acara party Saera di adakan.


Setelah mandi dan berpakaian. Carla ke luar kamar, dia melewati kamar sebelah yang ditempati Fasya dan istrinya. Carla pergi ke salon, karena dia akan menjadi salah satu tamu undangan Saera.


*****


Jam menunjukkan pukul delapan. Saera yang baru dari salon terlihat sangat cantik, bibir merah merekah dengan baju pestanya yang sengat seksi. Dua buah topeng gambar anggora digenggaman tanyanya.


Sementara Fasya masih memakai kaos oblong warna putih, berbaring santai sambil menggulir-gulir layar ponselnya. Begitu melihat Saera datang. Fasya menatap menampilan istrinya yang serba kekurangan bahan. Dari atas lengan baju cuman satu, satunya buntung, kemudian gaunnya di belakang ekornya panjang sedangkan di depan hanya dua jengkal dari pusar.


"Apa kamu tak punya baju lain selain ini?" Tanya Fasya menilik kaki jenjang istrinya yang terekspos.


"Ini yang tercantik dan yang terbaru," jawab Saera seraya berputar-putar di depan cermin.


"Aku cantik dan seksikan. Sayang!" ujar Saera kembali menatap cermin.


Kalau Saera sudah bicara begitu. Fasya hanya bisa diam dan menelan salivanya kasar. Karena Fasya tak mengerti fashion.


"Sayang! Aku tak usah ikut ke party temanmu ya." Tolak Fasya, sejatinya Fasya memang tidak menyukai pesta-pesta begitu.


Saera mengatakan pada Fasya, kalau acara yang mereka hadiri adalah acara party salah satu dari temannya. Tentu saja Saera tidak mengatakan kalau itu party dia dan Fasya. karena di ingin membuat kejutan pada Fasya. Setiap tahun Fasya juga memang tidak pernah mengingat hari pernikahannya. Fasya masa bodoh dengan hal-hal seperti itu.


"Nggak! Wajib ikut, semua teman aku bawa pasangan," ujar Saera.


Kalau Fasya tidak ikut, tentu rencana Saera akan gagal.


"Ayok! Ganti bajunya," Saera menarik tangan Fasya dan memaksanya bangun.


Setengah terpaksa, Fasya bangun dan turun dari tempat tidur. Saera mengambil stelan jas di dalam lemari.


"Ganti dulu kaosnya," ujar Saera memaksa Fasya melepaskan bajunya.


"Kenapa harus pakai jas. Terlalu formal," sungut Fasya. Saera tidak memperdulikan Fasya yang wajah Fasya yang ditekuk.


"Untuk malam ini. Aku mau abang yang paling ganteng dari sekian tamu undangan," ujar Saera sambil menyemprotkan farpum.


"Ntar ada yang naksir aku," ucap Fasya menggoda istrinya, sambil mencuil hidung mancung Saera Mendengar ucapan Fasya, Saera melotot.


"I-iya... Aku akan jadi yang paling ganteng malam ini," Fasya mengecup pipi Saera.

__ADS_1


"Kenapa harus pakai topeng. Nanti cantik kamu tak kelihatan" ujar Fasya lagi. Malam ini Saera memang tampil maksimal, riasan wajahnya sangat serasi dengan bentuk wajahnya yang oval.


"Tidak usah protes. Ikuti saja aturan yang punya acara," ucap Saera.


Fasya berdiri di depan cermin, memperbaiki kerah kemejanya, memasang dasi dan menyeprotkan makarizo ke rambutnya, agar terlihat lembab.


Begitu memastikan semua sudah sempurna. Saera memasang topeng di wajah suaminya, dengan bergandengan tangan Saera dan Fasya menuju tempat party.


Sementara itu, Carla yang dari awal menunggu Fasya dan istrinya ke luar dari kamar, mengikuti Fasya dan Saera secara diam-diam. Tak ada yang tahu kalau dia ikut berbaur dengan tamu lain.


Carla mengambil tempat paling sudut, agar bisa mengawasi gerak gerik Faysa. Carla duduk dengan santai, dia mengambil segelas air buah dan dua potong roti keju. Kedua menu itu hanya diletaknya di atas meja sebagai pelengkap.


Saat MC memanggil nama Fasya. Fasya sempat terkejut, lalu dia menatap istrinya seakan meminta penjelasan. Namun, belum sempat Fasya mengajukan pertanyaan, Saera menarik tangannya.


"Ayok kita atas panggung," ajak Saera seraya bergamit manja.


Mc memberikan microphon kepada Saera. Kemudian dua orang office boy mendorong sebuat meja yang berisi kue tar dengan tulisan Anniversary ke tiga belas.


Saat menatap kue itu, Fasya baru tahu kalau pasty ini di buat Saera untuk merayakan ulang tahun perkawinannya yang ke tiga belas. Fasya terharu sekali dengan kejutan yang Saera yang Saera buat.


"Terima kasih. Ya sayang! Maaf aku melupakannya," ujar Fasya memeluk Saera dengan mesra. Tidak sia-sia Saera menyiapkan party ini sudah jauh-jauh hari.


Sebelum pemotongan kue, Fasya mengumumkan kalau dia akan menghadiahkan sebuah rumah dan separoh saham perusahaan kepada istrinya. Kemudian kedua mengambil sebuah pisau dan memotong kue tar setinggi satu meter.


Suara tepukan gemuruh, menggema di ruang Party. Saera membagikan potongan-potongan kue kepada para tamu undangan.


"Terima kasih kasih. Nyonya Fasya," ujar Carla saat menerima potongan kue itu.


Selesai pemotongan dan mencicipi kue, acara di lanjutkan dengan dansa topeng. Lampu di matikan, suasana jadi remang-remang. Musik mulai hingar bingar terdengar sangat bising. Saera sudah berbaur dengan teman-temannya di panggung.


Fasya yang tidak menyukai dansa, duduk menyendiri sambil memainkan layar ponselnya. Carla yang dari tadi memperhatikan Fasya, mengambil dua gelas minuman, lalu menuju ke meja Fasya.


"Apa aku boleh duduk di sini?" Tanya Carla mengusik Fasya yang lagi asik memainkan layar ponselnya.


"Silakan," Fasya menarik sebuah kursi di sampingnya.


Carla meletakkan satu gelas minuman di depan Fasya dan yang satu lagi masih dipegangnya.


"Minumlah, tak membikinmu mabuk," ujar Carla seraya mendudukkan bokongnya di kursi.


Setelah duduk Carla mengajak Fasya bersulang, lalu meminum tuntas isi gelasnya. Fasya pun menghabiskan isi gelas sampai tetes terakhir. Carla kemudian membuka topengnya.

__ADS_1


"Carla!" Ucap Fasya terkejut. Carla hanya tersenyum manis.


"Pindah yuk. Di sini berisik," ajak Carla. Fasya mengangguk.


Tanpa sepengetahuan Saera Fasya dan Carla keluar dari tempat party, mereka duduk di kursi yang terletak antara kamar Fasya dan Carla.


Saat Fasya dan Carla asik berbincang, dua orang office girls mengantarkan snack dan dua gelas lemon the.


"Tambah pesanannya dua porsi Nasi jinggo," ujar Carla.


Sepeluh menit kemudian nasi jinggo yang menjadi salah satu menu makanan khas Bali yang memiliki nama begitu unik sudah terhidang.


Rasa yang ditawarkan nasi jinggo begitu gurih. Penyajian nasi jinggo pun dilengkapi dengan sate lilit, daging, mie, sambal goreng tempe serta sambal sebagai pelengkapnya.


"Yuk makan! Kayaknya enak nih" Ajak Carla.


"Cobain yang ini," Carla menyodorkan sate lilit ke mulut Fasya.


"Hemmm... enak dan gurih," ujar Fasya, dia kemudian bergantian menyuapi Carla.


Carla dan Fasya tak menghiraukan hingar bingar musik. Mereka berdua berbincang dan menghabis menu yang terhidang. Tak terasa tiga jam Carla dan Fasya di situ, dari pukul sembilan hingga pukul sebelas lewat lima puluh lima menit.


"Rehat yuk! Sudah hampir pukul dua belas," ujar Fasya menatap jam di pergelangan tangannya. Dia mulai mengantuk.


"Ini minumab penutupnya. Nona!" Seorang office girls mengantar dua gelas kecil cocolatos hangat, aromanya mengguar.


"Ini buatmu," ujar Carla menyerah satu gelas ke Fasya.


"Tidak membuatmu gemuk," ujar Carla lagi saat melihat keraguan Fasya.


Dengan tangan kanannya, Fasya meraih gelas kecil itu dari Carla, dia pun menenggak habis isinya. Melihat Fasya menghabiskan minuman di gelas kecil itu. Carla tersenyum penuh kemenangan.


Seperlima menit kemudian, kepala Fasya terasa berat dan sangat pusing, pandangannya pun mengabur. Carla dibantu oleh office girls yang tadi mengantar minuman membawa Fasya ke dalam kamarnya.


Sementara Saera masih berpesta dansa dengan teman-teman hingga dia melupakan Fasya. Karena dia sudah paham kalau Fasya tak suka acara party, makanya Saera tak heran jika Fasya menghindar dari pesta.


Pukul tiga dini pesta baru usai. Satu persatu teman-teman Saera pamit dan kembali ke kamar masing-masing.


Saera pun masuk ke kamar dalam keadaan remang-remang, karena lampu sudah dimatikan. Fasya memang begitu, dia lebih suka tidur dalam keadaan gelap gulita. Tanpa mengganti pakaiannya Saera langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Saera memiringkan tubuhnya, lalu tangan naik ke tubuh Fasya. Namun, gerakan tangan Saera terhenti, dia merasakan ada yang aneh. Saera bangun dan menghidupkan lampu.


"Hay! Siapa kamu!" Teriak Saera Dia menarik selimut. Dan dilihatnya seorang perempuan tanpa busana berada dalam dekapan Fasya.

__ADS_1


__ADS_2