Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Teras Kayu


__ADS_3

Part 48.


Di resto teras kayu.


Resto teras kayu jadi pilihan Fasya untuk makan siang bersama Alesa. Di resto itu, menawarkan banyak pilihan menu. Dari serba ayam, ikan, kerang, cumi dan sayuran lainnya. Dan menu bisa dipilih sendiri.


Menu yang tersedia sangat banyak. Alesa membulatkan mata menatap menu yang berjejer dengan bentuk liter U. Para pembeli tinggal memilih menu sesuai selera. Begitu mendapat menu yang cocok, tinggal bawa ke kasir. Dan sang kasir akan menghitung dan mencatat berapa uang yang akan di keluarkan untuk menu yang di pilih.


Fasya mengambil ikan gurami sambil ijau, cumi rica-rica, bakso bakar, sambil saus tiram dan salada. Sementara Alesa masih bingung mau ambil yang mana. Alesa mengikuti langkah Fasya dari belakang.


"Ambil saja yang kamu mau," bisik Fasya, saat melihat piring Alesa baru berisi nasi putih.


"Apa semua boleh dipilih," tanya Alesa bodoh.


"I-Iya," ujar Fasya seraya mengangguk.


Mendapat jawaban dari Fasya, Alesa semakin bingung. Pingin mencoba menu baru. Dia takut tak sesuai di lidah, akhirnya Alesa memutuskan untuk mengambil menu yang biasa dia makan, sepotong paha ayam goreng bumbu, sambal terong dan lalap timun.


"Dasar orang kampung, tak jauh dari terong dan timun," batin Fasya dalam hati.


Meja paling sudut jadi sasaran Fasya, karena dia memang lebih suku duduk di tempat yang tidak terlalu ramai. Alesa mengikuti ke mana Fasya. Fasya meminta Alesa duduk berdampingan denganya. Namun Alesa menolak, dia memilih duduk di depan Fasya.


"Sekali-kali move on lah dari terong dan timun," ujar Fasya mengejek, seraya menatap isi piring Alesa.


"Ini makan sehat, tidak menyebabkan tensi dan kolestrol," ujar Alesa memberi alasan. Tidak seperti menu yang Fasya ambil.


"Sehat apaan. Nggak ada gizinya," ujar Fasya lagi.


Malas berdebat dengan Fasya, Alesa diam tak merespon. Seperlima menit kemudian, seorang pelayan mengantarkan dua gelas jeruk peras dan dua gelas air putih.


"Dik, ikan gurami asam pedas manis satu. Antar ke sini ya," Fasya menyodorkan uang seratus ribu satu lembar.


"Baik. Bang!" Sang pelayan berlalu.


Lima menit kemudian, ikan gurami pesanan Fasya sudah terhidang. Aroma masakannya mengguar, menggeletek selera. Fasya menyodorkan ikan gurami itu kehadapan Alesa. Alesa menatap ikan gurami itu, kepulan asamnya masih terlihat segar.


"Pengganti ikan yang hangus tadi," ujar Fasya.


"Hemmm. Ikannya terlalu besar," ujar Alesa.


Ikan sebesar ini, kalau di kampung, Alesa bisa makan untuk tiga kali, dia, abi, umi dan adik-adiknya. Sedangkan ayam satu potong saja, cukup untuk dia berlima, uminya akan membagi beberapa cubitan untuk Alesa dan adik-adiknya.


"Apa lauk adik-adikku makan hari ini," batin Alesa sedih.


Alesa menatap isi piringnya, tanpa dia sadari dua bulir kristal jatuh di pipinya. Saat dia mengingat kembali, dulu dia dan adik-adiknya pernah makan hanya dengan pucuk ubi yang ditumis dan diberi bumbu rayco.


"Kamu kenapa?" Tanya Fasya membuyarkan lamunan Alesa.


Secepat kilat Alesa mengusap air mata dengan kedua tapak tangannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," jawab Alesa.


"Makanlah, kenapa hanya dipandangi saja," titah Fasya yang sudah dari tadi memulai aktifitasnya.


Alesa mengangguk, tangannya meraih sendok dan garfu.


"Kalau mau pakai tangan di sana bisa cuci tangannya," ujar Fasya sambil memoyongkan bibirnya, menunjuk kearah tempat pencuci tangan.


Sendok dan Garfu yang tadi sudah Alesa ambil, diletakkannya kembali. Alesa beranjak melangkan ketempat pencucian tangan. Beberapa detik kemudian duduk kembali di tempat semula.


Begitu sudah duduk, Alesa mengambil kembali sendok dan garfu yang tadi sudah dikembalikan ke tempatnya.


"Kenapa nggak jadi pakai tangan?" tanya Fasya heran.


"Mau belajar makan pakai sendok dan garfu," jawab Alesa mulai menyuap.


"Ikannya di makan. Jangan diangguri," ujar Fasya lagi, saat Alesa tak menyentuh ikam yang dipesan Fasya.


"Tapi ikannya..."


"Sudah! Makan saja semampunya," ujar Fasya lagi seakan tahu ke arah mana pembicaraan Alesa.


Saat Alesa ingin menggapai ikan gurami asam pedas manis itu. Tiba-tiba Saera muncul dengan piring di tangan, hanya berisi nasi putih. Kedatangan Saera membuat Alesa menghentikan gerakan tangannya.


"Saera!" Ujar Fasya tak menyangka akan bertemu Saera di sini.


"Kenapa terkejut begitu. Kamu tidak suka aku di sini," ujar Saera nada bicaranya sedikit tinggi seraya menatap Fasya dan Alesa bergantian.


"Tante gabung di sini," ujar Saera melambaikan tangan ke arah Diana.


Tanpa persetujuan Fasya, Saera langsung mendudukkan bokongnya di samping Fasya.


"Geser," ujar Saera meminta Fasya menggeser duduknya. Saera memberi ruang pada tante Diana. Begitu duduk Saera meletakkan piringnya di atas meja.


"Tante!" ujar Fasya, seraya melepaskan sendok makannya, dia monyodorkan tangan seraya menyalami Diana.


Melihat Fasya menggeser duduknya, Saera merapat, meminta Diana duduk di sampingnya. Sebelum duduk Diana menebar senyum pada Fasya dsn Alesa.


"Kamu siapa?" Tanya Diana, dengan sopan menyodorkan tangan ke arah Alesa.


"Alesa!" Jawab Alesa, melepas sendok dan garfu, menyambut tangan Diana.


"Maksudku apa hubungannya dengan Fasya. Teman apa saudara jauh?" Tanya Diana lagi, masih dengan senyum termanisnya.


Diana memang beda dengan Anema, walaupun dia kakak adik. Diana selalu ramah pada siapa pun, sopan dan santun. Tidak seperti Anema yang hanya akan bicara, jika merasa penting, Anema jarang sekali berbasa basi. Pantas saja Saera yang selalu emosian, mungkin sifat Anema nurun padanya.


"Dia keluarga jauh Fasya dari kampung. Tante lihat saja penampilan. Udik," ujar Saera seraya mencibir ke arah Alesa.


"Cantik kok," puji Diana, seraya merapikan duduknya. Diana sudah biasa mendengar ponakannya itu bicara seperti itu, sudah jadi karakter Saera.

__ADS_1


"Cantik apaan. Tante jadi ikutan udik," celetuk Saera.


"Husss. Nggak boleh menghina. Penampilan nggak penting yang penting ini. Hatinya," ujar Diana lagi. Saera mana peduli dengan wajangan tantenya.


Sementara Alesa yang terusik dengan kehadiran Saera, hanya melihat tingkah laku Saera yang sengaja memancing emosi Alesa. Namun, Alesa tak ingin berdebat makanya dia hanya diam.


"Ini ikan buat aku kan?" Ujar Saera, seraya menarik piring ikan gurami yang ada dihadap Alesa. Tanpa persetujuan dan basa basi. Saera langsung mengangkat ikan gurami itu pindah ke piringnya.


Piring yang sudah kosong dikembalikan Saera ketempat semula. Alesa menatap ikan yang sudah berpindah dipiring Saera. Alesa menelan salivanya dengan kasar, kala melihat Saera mencubit daging gurami miliknya.


"Dik!" Fasya memanggil pelayan.


"Ikan gurami dua..."


"Aku nggak mau gurami," ujar Alesa, sebelum Fasya memesanya.


"Serius?" Tanya Fasya menatap Alesa. Alesa mengangguk.


"Kalau gitu satu saja..."


"Tante juga tidak mau, tante alergi ikan" ujar Diana menyela.


"Oh, tak jadi dek," ujar Fasya.


"Kalian liburan ke Bali. Kok cuman sehari?" Tanya Diana di sela makannya.


"Saera mau pulang. Tan! Katanya ada kerjaan," jawab Fasya menutupi kenyataan yang sebenarnya. Sambil bicara begitu Fasya melirik Saera.


Malam setelah peristiwa itu. Saera yang tidak berhasil Fasya bujuk, memutuskan pulang ke Riau dengan penerbangan jam empat subuh.


Begitu sampai di Bandara Sultan Syarif Kasim, Fasya dan Saera sempat berdebat, karena Saera tidak mau pulang ke rumah Fasya.


"Saera bilang kamu yang mau pulang cepat," ujar Diana lagi seraya tersenyum ke arah Saera. Saera belum bercerita apa pun pada tantenya. Diana hanya ngarang.


"Apa kalian bertengkar?"


"Tidak tante! Kami baik-baik saja," jawab Fasya.


Sambil menyantap makan siangnya, Alesa menyimak apa yang dibicarakan Fasya dan Diana.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi antara Fasya dan Saera pada saat mereka di Bali," batin Alesa, mengingat kala dia sampai ke rumah tengah hari tadi, tidak menemukan Saera.


"Mungkin saja Saera dan Fasya bertengkar, hingga liburannya di batalkan," batin Alesa lagi.


"Ra! Kamu pulang ke rumahkan?" Tanya Fasya begitu mereka selesai makan.


"Nggak!" Jawab Saera ketus. Nada bicaranya masih marah pada Fasya.


"Pulang ke rumah kita ya. Kamu tak maukan, aku khilaf jika hanya berdua dengan Alesa di rumah," bisik Fasya di telinga Saera.

__ADS_1


"Sial!" Batin Saera.


__ADS_2