Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Mengambil Alih


__ADS_3

Part 66


"Bagi papa tidak ada menantu siri." Sela Malik menatap Fasya dengan pandangan menukik tajam. Dia tidak suka mendengar Fasya mengatakan kalau Alesa hanya berstatus siri.


Seketika wajah Fasya berubah merah padam, mendengar ucapan Malik yang bernada marah. Tapi tidak bisa dipungkiri, pernikahan Alesa dan Fasya memang dilakukan secara siri, karena waktu itu usia Alesa masih di bawah umur. Alesa yang tadi hanya diam menyimak perdebatan Malik dan Fasya, mengangkat wajahnya. Alesa sendiri pun baru tahu, kalau statusnya hanyalah istri siri.


"Silakan jika kamu ingin tetap bersama Saera. Tapi jangan usik apa-apa yang akan papa serahkan pada Alesa," ujar Malik lagi.


Fasya menghembuskan nafas kesal. Lalu meremas rambutnya berulang, dia tidak mengerti jalan pikiran Malik. Kenapa papanya itu menganak tirikan dirinya, malah mau menyerahkan perusahaan utama ke Alesa.


"Kenapa papa menzalimi anak sendiri," sugut Fasya.


"Menzalimimu. Apa papa selama ini terlihat seperti menzalimimu?"


"Alesa pasti tidak sanggup mengelola perusahan sebesar ini. Pa!" ucap Fasya lagi.


Bukan Fasya meremehkan kemampuan Alesa. Tapi Alesa kan baru kuliah semester satu, belum tahu apa-apa tentang bisnis dan mengelola perusahaan. Anak baru tamat SMA dari kampung lagi. Sudah pasti Alesa tidak sanggup.


"Alesa! Kamu maukan menerima tanggung jawab ini. Papa yakin kamu cerdas dan bisa memegang amanah ini," ujar Malik, memcoba membuat Alesa percaya diri, bahwa dia mampu, tidak seperti anggapan Fasya.


Malik sengaja tidak merespon ocehan Fasya, karena dia tahu kalau Fasya sedang berusaha menggoyah pendiriannya.


"Iya. Pa! Aku siap menerima tanggung jawab dari papa," ujar Alesa tegas.


Sengaja dia melakukan itu, dia hanya ingin membuktikan pada Fasya bahwa dia tidak sebodoh dan seburuk yang Fasya pikir. Dia terima saja dulu penawaran Malik, masalah kedepannya dia akan belajar. Mampu tidak mampu itu urusan nanti. Jika ada kendala dia bisa bertanya sama papa mertuanya itu. Jika nanti dia tak mampu, gampang tinggal serahkan kembali pada Malik. Itu yang ada dipikiran Alesa.


"Jangan asal nerima saja. Kalau tidak sanggup mundur, dari pada perusahaan papa gulung tikar, di tanganmu," bisik Fasya mengingat.


Mendengar Alesa menyanggupi keinginan Malik, membuat Fasya jengkel, seharusnya Alesa menolaknya. Ini malah sok-sok an menerima pula, katanya mungkin gampang mengurus perusahan besar sementara skil nol.


"Alesa! Alesa! Berpikirlah secara logika," ujar Fasya lagi tersenyum sinis.


"Keahlian apa yang kamu miliki. Hingga kamu menyanggupinya. Hah!" ujar Fasya lagi.


Sejenak Alesa menatap laki-laki yang telah merehkannya berkali-kaki. Dia tidak akan mundur, kata-kata Fasya dijadikannya cambuk, agar dia bisa menjaga amanah yang diberikan Malik.


"Tak usah perdulikan kata-kata Fasya," bisik malik di telinga Alesa.


Malik meraih sebuah pena yang tergeletak di atan meja, lalu menyerahkan satu pena ke Alesa. Malik menggoreskan mata pena di atas namanya. Kemudian memutar map itu ke arah Alesa. Dengan mengucapkan bismillah Alesa pun menggoreskan tanda tangannya di atas kertas berharga itu. Pupuslah harapan Fasya.

__ADS_1


"Terima kasih. Nak! Sudah memenuhi keinginan papa," ujar Malik menyalami Alesa.


"Aku yang berterima kasih. Pa! Karena papa sudah memberi kepercayaan yang sangat besar kepadaku," balas Alesa menyambut salam Malik. Lalu melirik Fasya.


"Burhan akan mendampingi sampai kamu benar-benar mengerti," ujar Malik, seraya menepuk pundak Burhan. Burhan pun mengangguk hormat.


Setelah menyerahkan berkas pemindahan perusahaan ke Alesa. Malik meminta Burhan mengantarnnya ke bandara sultan syarif kasim, karena dia akan kembali ke Medan.


Sementara Fasya meminta Alesa menemaninya ke kantor. Penuh kebisuan sepanjang perjalanan menuju kantor Fasya. Fasya sepertinya masih kesal karena Alesa tidak menolak permintaan Malik. Alesa pun diam tak ingin memulai pembicaraan dengan Fasya, dia lagi sibuk membalas chat dari Makita.


Sepuluh menit kemudian, mobil yang dibawa Fasya memasuki area parkir. Fasya menghentikan mobilnya dan turun.


"Kamu tunggu saja di mobil," ujar Fasya.


Alesa menarik nafas panjang, spontan dia melepaskan Handle pintu yang tadi sudah dipegangnya. Jadi Fasya mengajaknya hanya untuk menunggu mobilnya, bukan untuk masuk ke kantornya.


Sementara Fasya setelah bicara begitu, langsung beranjak pergi. Bukan tanpa alasan dia mwminta Alesa menunggu di mabil. Fasya tidak ingin orang-orang di kantor mengetahui keberadaan Alesa. Apa lagi sampai tahu, dia menikahi gadis kampung itu.


"Selamat pagi pak Fasya," sapa scurity, saat Fasya memasuki pintu utama kantor.


Fasya memindai ruang loby, dia merasa ada yang berbeda dari biasa. Tata letak beberapa pajangan telah berubah.


"Apa kamu staf baru?" tanya Fasya saat melewati resepsionis, biasa yang berdiri menyambut para tamu, kalau tidak niken pasti Nora.


"Iya. Pak."


"Lalu Niken dan Nora mana?" tanya Fasya.


"Mungkin pindah ke divisi lain," jawab resepsionis itu.


Setelah cukup berbasa-basi, lalu Fasya berjalan menuju lift, pintu lift terbuka, sosok Roy keluar dari lift, berpapasan dengan Fasya. Roy menarik tangan Fasya, menahannya agar tidak masuk lift.


"Bos! Kita perlu bicara sekarang," ujar Roy.


"Ada apa?" Tanya Fasya, melihat gelagat Roy yang tidak semestinya.


Roy menghela nafas, lalu menggamit tangan Fasya membawanya menjauh dari keramaian dan menepi. Kembali Roy menarik nafas sebelum berujar.


"Saera sudah mengambil alih puncak kekuasan di kantor ini," gumam Roy.

__ADS_1


"Apa maksudmu?"


"Saera sudah menggantika posisi. Bos!"


"Apa! Saera..."


Fasya tidak melanjutkan ucapannya, dia meraup habis wajah dengan telapak tangannya. Terduduk lemas dengan tertunduk, apa yang dutakutkannya, telah mendengar pedebatan Anema dan Malik telah menjadi kenyataan.


Tangan Fasya meremas rambutnya dengar kasar. Saera sudah menjalan peran yang disutradarai oleh Anema sepuluh langkah lebih dulu, baru Fasya tahu rencana Anema yang sebenarnya.


"Ini semua salah papa. Kenapa papa tidak bicara dari awal." gumam Fasya.


Saat Fasya memutuskan menikahi Saera. Malik memang tak menyetujuinya, tapi Malik tidak pernah memberikan alasan apapun. Malik hanya mengatakan pada Fasya kalau Saera bukan wanita yang cocok untuknya.


"Ah... Andai saja aku mengerti isyarat yang papa berikan, semua ini pasti tidak akan terjadi," batin Fasya seraya mengepalkan tinjunya.


"Aku harus menemui Saera sekarang!" Fasya beranjak.


"Tunggu bos!" Roy meraih tangan Fasya, hingga Fasya menghentikan langkahnya.


"Saera sudah menempatkan beberapa orang bodyguard di depan ruangan bos," jelas Roy.


Tadi pagi saat Saera yang bertindak meminpin rapat, menggantikan Fasya, jajaran direksi perusahaan sempat bertanya-tanya. Namun, dengan percaya diri, Saera mengumumkan kalau dia yang menggantikan kedudukan Fasya sebagai CEO, karena dia pemegang saham terbanyak.


Saera juga mengganti dan menempatkan orang-orangnya di bagian jajaran direksi, dia memecat beberapa kepala divisi yang dianggapnya tidak becus dan tidak mau bekerjasama, termasuk Roy.


"Saera!" Teriak Fasya geram, dia menepis tangan Roy, lalu berjalan menuju lift. Roy mengiringi Fasya.


Begitu sampai ke lantai tiga, Fasya dan Roy melangkah tergesa menuju ruangan yang sudah di ambil alih Saera. Pada saat Fasya sampai di ruangan itu, Saera sedang di wawancarai beberapa wartawan. Dia tidak terkejut dengan kedatangan Fasya.


"Saera!" Teriak Fasya, langkahnya terhenti, karena dua orang bodyguard menghadangnya.


"Lepaskan!" Teriak Fasya lagi, seraya menepis kasar tangan dua bodyguard itu. Namun, kekuatan Fasya dua kali lipat di bawah para bodyguard itu.


Puk.. Puk.. Puk, Saera bertepuk tangan menatap intens ke arah Fasya.


"Apa maksudnya semua ini?" Tanya Fasya dengan suara lantang.


"Turun nada bicaramu." Ujar salah seorang bodyguard yang sedang menyekap tangan Fasya.

__ADS_1


"Lepaskan dia," ujar Saera maju dua langkah.


__ADS_2