Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Perasaan Alesa


__ADS_3

Part 76


Malam ini Alesa diusik pesan whatsaap dari seseorang misterius itu. Alesa tidak membalas pesan itu, karena dia malas melayani orang yang dianggapnya tak penting.


(Terima kasih sudah mau membaca pesanku. Walaupun tak dibalas) pesan whatsaap itu masuk lagi.


Seraya menghela nafas panjang, Alesa menatap tulisan di pesan itu, lalu mengklik profil sang pengirim, tak ada identitas lain yang tertera di sana, selain nomor kontak.


"Buat apa aku mikirin orang tak jelas ni," batin Alesa, dia mematikan data selulur ponsel dan meletakkan di atas nakas.


Alesa mengambil laptop dan menghidupkannya. Ada banyak notifikasi di emailnya, Alesa membuka satu persatu pesan masuk. Dan ada beberapa pesan dari sang misterius yang mengiriminya buket bunga.


"Siapa dia? Kenapa bisa tahu alamat emailku?" batin Alesa.


Alesa lupa kalau emailnya sudah tercantum di corporate communication perusahaan, hingga siapa saja bisa tahu alamat emailnya. Bahkan dari iklan-iklan produk perusahaan berseleweran nomor whatsaap dan emailnya. Sekali lagi Alesa menarik nafas panjang. Alesa hanya membaca satu persatu email dari pengirim misterius itu, tanpa berminat untuk membalas.


Alesa menutup halaman webnya lalu membuka halam kerja, dia mulai fokus mengecek satu persatu laporan dari setiap divisi. Baru dalam bulan ini dia serius menggeluti dunia bisnis, sebelum-sebelumnya, dikerjakan oleh Burhan, Dea dan Roy. Karena Alesa fokus menyelesaikan kuliahnya.


Tepat pukul sebelas malam pekerjaan Alesa selesai. Dia menutup kembali berkas-berkan, mematikan laptop dan meletak di atas nakas, lalu membaringkan tubuhnya lelahnya dan dia pun terlelap.


******


Suara tahrim membangunkam Alesa, sambil mengerjapkan mata Alesa menggeliat sempurna. Cuaca dingin efek hujan tadi malam masih bersisa menyengat di jagat. Setengah malas Alesa bangkit dari tidurnya, masuk ke kamar mandi membersihkan diri dan berwudhu.


Selesai shalat subuh Alesa ke luar kamar, menuju teras seperti biasa menyirami bunga-bunga kesayangannya. Setelah itu ke dapur menyiapkan sarapannya sendiri.


Dua jam kemudian. Alesa sudah berpakaian rapi, Alesa memakai dres kantoran berwarna silver dengan hijab dan niqab senada, dia terlihat sangat anggun, sambil mencantolkan tas tangan di bahu, dia meraih kunci mobil dan menuju ke pintu utama, begitu masuk mobil, dia pun meluncur meninggalkan rumah menuju kantor. Hanya butuh dua puluh menit Alesa sudah sampai di kantornya.


Alesa turun dari mobil, lalu beranjak meninggalkan parkir, di depan pintu utama dia disambut ramah oleh dua orang scurity. Begitu memasuki kantor, dia disapa ramah oleh semua karyawan yang dilewatinya, Alesa begitu menghormati karyawannya dengan menangkupkan kedua telapakkan tangan di dada dan sedikit menundukkan kepala, setiap membalas sapaan.


Begitu sampai ke ruanga direkturat, ternyata di sana sudah ada Roy dan Burhan yang sedang serius menghadapi laptop masing-masing. Saat Alesa masuk, serentak keduanya menoleh dan menyapanya.


"Non! sudah sarapan?" Tanya Roy begitu saat bersisian.

__ADS_1


"Sudah!" Jawab Alesa.


"Syukurlah," ujar Roy.


"Ada apa?" Tanya Alesa, karena tak biasanya Roy bertanya begitu.


"Biar kuat. Saat bertemu mantan nanti," bisik Roy terkekeh.


Mata Alesa mendelek ke arah Roy, sementara Roy hanya tersenyum. Roy selalu mengingatkannya pada Fasya. Andai Alesa tak berniqab pasti Roy akan melihat wajah Alesa yang menegang. Untungnya semua itu bisa disembunyikannya. Alesa hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Roy.


"Aku sudah move on," ujar Alesa lagi.


"Yakin?" Tanya Roy lagi. Alesa hanya mengangguk.


Entahlah! Alesa sendiri tak tahu dengan perasaanya. Sejak Fasya memilih meningggalkannya dan pergi dengan Carla, sampai sekarang Alesa belum membuka hati untuk laki-laki lain. Alesa tidak menjawab pertanyaan Roy, dia hanya menarik nafas panjang.


"Non! Apa kita berangkat sekarang?" Tanya Dea begitu sampai ke ruangan Alesa.


"Yuk," ujar Alesa, seraya memperbaiki cantolan tasnya di bahu.


"Biar aku yang stir. Non!" Dea mengambil posisi duduk di belakang stir.


Mobil muluncur meninggalkan kantor, menuju jalan raya, di sepanjang jalan Dea tembang hati yang tersakiti. Alunan suara merdu Rosa, seakan mampu mengaduk-aduk perasaan Alesa, hingga dia menyimak syair lagu itu sebait demi sebait. Bahkan kali Dea mengajaknya bicara pun dia tak respon, hingga Dea berkali-kali melirik.


Ciiit.. Saat Dea tiba-tiba mengenjak rem mendadak, Alesa terkejut.


"Dea! Ada apa?" Tanya Alesa panik.


"Tidak ada apa-apa," jawan Dea enteng, merasa tak bersalah, dia malah tersenyum kecil.


"Non melamun ya. Apa lagi mikirin Bang Adra?" Tanya Dea sambil melirik dari kaca spion.


Dea sama sekali tidak pernah tahu kalau Alesa pernah menjadi istri Fasya, karena Roy dan Burhan tetap merahasiakannya hingga sekarang. Orang-orang di kantor, banyak beranggapan kalau Alesa punya hubungan spesial dengan Adra.

__ADS_1


"Nggaklah. Siapa yang mikiran Adra," jawab Alesa tertawa, karena dia memang sama sekali tak lagi memikirkan laki-laki itu.


Apa Adra tak termasuk ke dalam kategori tipe laki-laki idaman Alesa. Alesa tak berani berharap kalau dia akan dipilih Adra, karena banyak para cewek yang sedang antri mau jadi pendampingnya. Siapa yang tak suka dengan Adra, laki-laki mapan, tampan, baik dan sopan, selalu menghargai perempuan.


Sampai sekarang Adra masih betah saja menjomblo, apa mungkin dia belum move on dari Carla, wanita yang dicintainya waktu masih berseragam putih abu itu dan sempat menjadi tunangannya selama dua minggu, yang akhirnya dikhianati oleh Fasya temannya sendiri. Entah! Yang jelas empat tahun ditinggalkan Carla menikah dengan Fasya, dia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita lain, kecuali Alesa, itu pun sebatas rekan kerja.


Apa Adra tak tertarik dengan Alesa. Sangat tertarik, bahkan dia sudah jatuh hati dengan Alesa. Hanya saja dia selalu berusaha mengikis rasa cintanya, karena setahu dia Alesa masih sah menjadi istri Fasya, walaupun Fasya tak pernah peduli dengan Alesa.


"Apa Non tidak tertarik dengan bang Adra?" Tanya Dea lagi.


Pertanyaan Dea membuat Alesa menoleh ke arahnya. Kalau boleh jujur Alesa sangat mendambakan laki-laki seperti Adra yang jadi pendamping hidupnya. Alesa menarik nafas panjang, menelan salivanya dengan kasar, lalu dia pun menggeleng.


"Aku tak berani berharap," ucapnya.


"Kenapa? Kuihat bang Adra sangat perhatian sama. Non!"


"Perhatian yang diberikannya, hanya bentuk kasih sayang abang pada adiknya," ujar Alesa, karena Adra pernah bicara padanya, kalau Adra akan menganggap Alesa seperti adik kandungnya.


"Kalau gitu comblangin aku dong sama bang Adra," celetuk Dea seraya terkekah.


Tentu saja mata Alesa membola mendengar ucapan Dea, Alesa menoleh ke arah Dea, jadi sekretaris pribadinya ini, naksir sama Adra. Pantas selama ini Alesa lihat selalu memperhatikan Adra secara diam-diam.


"Lupakan saja. Non! Aku cuman bercanda," ujar Dea lagi, menatap Alesa dari kaca spion depan. Dea merasa tak nyaman setelah mengeluarkan isi hatinya.


"Serius juga tak apa-apa," ucap Alesa sedikit geter, sambil tersenyum miris di balik cadar.


"Sudah ah. Turun yuk," Dea menghentikan ucapannya, sambil membuka pintu mobil yang sudah di parkirnya.


Setengah hati Alesa turun, lalu beranjak meninggalkan parkir, matanya menatap gedung perkantoran tempatnya meting. Dadanya berdebar dua kali lipat dari biasanya, perasaannya campur aduk tak karukaruan. Tiba-tiba cuaca di perkantoran itu terasa gerah.


"Permisi kak! Ruang meting di mana ya?" Tanya Dea pada resepsionis.


"Di lantai tiga. Room mawar dua. Kak!" Jawab resepsionis seraya tersenyum ramah, sambil menunjukkan arah lift.

__ADS_1


"Non! Kenapa?" Tanya Dea saat melihat Alesa terlihat tak bersemangat.


"Gugup," jawab Alesa jujur.


__ADS_2