Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Pergi Dinner


__ADS_3

Part 82


Mobil yang dikendarai Bambang meluncur meninggalkan rumah Alesa, melaju di jalan raya.


"Enaknya makan di mana. Sa!"


"Hemmm. Gimana kalau ke lapangan bakset saja. Udah lama tak ke sana," ujar Alesa.


"Matahari?"


Alesa hanya mengangguk. Bambang pun membelokkan mobilnya ke jalan Tuangku Tambusai. lima kemudian memutar ke jalan pepaya. Mobil yang dikendarai Bambang masuk ke parkir, setelah memarkir mobil, Bambang keluar disusul Alesa.


Bambang dan Alesa berjalan beriringan menaiki tangga ke lantai dasar, lalu menuju lift, menekan tombol lantai tiga, dalam hitungan detik lift membawa Bambang dan Alesa naik ke lantai tiga. Begitu lift terbuka, mereka ke luar dan menyusuri koridor menuju cafe.


"Hay! Alesa." Sayup terdengar seseorang menyapa Alesa. Kala Alesa memasuki cafe.


"Makita! Cantika! Kalian di sini juga," Alesa membalas sapaan teman-temannya. Lalu berjalan ke arah dua sahabatnya.


"Yuk! Gabung di sini saja. Bang!" Ajak Makita melambai ke arah Bambang.


Bambang tidak merespon ajakan Makita, dia malah memandang kearah Alesa. Sebenarnya dia ingin malam ini dinner berdua dengan Alesa saja. Karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya pada Alesa.


"Boleh juga. Gabung dengan mereka," ujar Alesa.


Bambang, Cantika dan Makita sudah saling kenal. Waktu Bambang masih menjadi kakak kelas mereka. Alesa pernah mengenalkannya pada Makita dan Cantika. Bahkan dulu Makita gencar menarik simpati Bambang, hanya saja Bambang selalu abai padanya.


"Kalian baru sampai juga?" tanya Alesa mengambil posisi duduk di sebah Makita.


"Tidak! Baru sekitar lima menit," jawab Makita seraya menggeser duduknya, memberi ruang untuk Alesa.


"Lama tak ketemu. Ke mana saja?" Tanya Makita pada Bambang yang baru saja mendudukkan bokongnya di kursi depan Alesa.


"Dia ke Singapura. Ta! Menyelesaikan S2." Pertanyaan Makita dijawab Alesa. Bambang hanya tersenyum.


"Wah! Udah ganteng, pintar, karir bagus. Bakalan banyak nih yang ngantri," celetuk Cantika.


Lagi-lagi Bambang hanya tersenyum menanggapi ucapan teman-teman Alesa. Dia jadi salah tingkah kala mendapar pujian yang bertubi-tubi dari Cantika.


"Iya dong! Termasukkan kalian berduakan?" Alesa menempeli ucapan Cantik.


Mendengar ucapan Alesa, mata Bambang mendelek. Bisa-bisa Alesa nyeletuk begitu. Apa Alesa tidak tertarik pada Bambang.


"Kenapa tidak. Kalau kita-kita masuk kategori," ujar Cantika lagi terkekeh.


Obrolan ketika sahabat itu, membuat Bambang merasa tersanjung. Andai yang memujinya Alesa bukan Catika. Bambang pasti melambung ke awang-awang. Semua cewek boleh saja beraksi menarik simpatinya. Namun, bagi Bambang hanya mengharapkan Alesa mau jadi makmumnya.

__ADS_1


"Bang! Apa aku masuk kategori cewek idamam Abang?" Tanya Cantika sambil mengedipkan mata genitnya. Dengan percaya dirinya bertanya pada Bambang, secara Cantika juga idola di kampus mereka.


Tentu saja aksi Cantika, membuat bulu kuduk Bambang merinding, dari dulu Bambang tak menyukai tipe cewek bar-bar kayak Cantika. Dandanan menor kayak orang-orangan sawah, bibir merah, rambut pirang kayak rambut jagung. Kalau boleh jujur Bambang mau tertawa lihat dandanan Cantika, belum lagi baju yang dipakaipun terlihat aneh.


"Boleh juga. Kamu cantik, tapi kalau kamu pakai hijab kayak Makita pasti bakalan lebih cantik," ujar Bambang. Senyum Makita seketika jadi mekar saat dia dibilang lebih cantik dari Cantika.


"Akunya ribet Bang, kalau berpakaian kayak mereka. Apalagi seperti Alesa, gerah," cicit Cantika seraya memonyongkan bibirnya.


Mendengar celotehan Cantika. Alesa dan Makita hanya tersenyum. Walaupun Cantika berpenampilan bar-bar. Namun, di dalam berteman dia selalu tulus. Itu yang membuat Alesa dan Makita merasa nyaman saja bergaul dengan Cantika.


"Doakan saja akunya segera dapat hidayah. Dan bisa menutup aurat kayak mereka berdoa ya. Bang!" Celoteh Cantika seraya mencomot kentang goreng yang baru disajikan pelayan.


"Aamiin." Serentak Bambang, Alesa dan Makita mengaminkan.


"Yuk udahan ngobrolnya. Kita makan," ujar Bambang. Karena jika diturutkan bisa-bisa dia jadi biang gosip Makita dan Cantika.


Mereka pun makan, sesekali diselingi dengan obrolan ringan, terkadang terdengar juga tawa mereka, tiga puluh menit kemudian, makan mereka pun selesai. Tapi obrolan Alesa, Makita dan Cantika tetap nyambung.


"Kamu kenapa?" Tanya Alesa saat melihat Bambang *******-***** jemarinya.


Sebenarnya Bambang risih berada di antara Makita dan Cantika. Makita yang diam-diam melirik kearah. Cantika yang kadang sengaja menyenggol tangan. Bahasa tubuh Cantika membuat Bambang gerah. Pada cafe full ac.


"Abang! Kok diam tak ikut gobrol sama kita-kita," ujar Cantika.


"Nggak apa-apa," jawab Bambang.


Sebenar Bambang ingin mengajak Alesa pulang, karena niatnya ingin bicara serius dengan Alesa gagal total, gara-gara ada Makita dan Cantika.


"Apa di mobil saja nanti aku menyampaikannya ke Alesa," batin Bambang.


Untuk menghilangkan rasa bosannya, Bambang menggeser layar ponselnya. Membaca pesan whatsapp yang masuk dan membalas yang dianggapnya penting. Setelah semua pesan whatsapp dibaca, Bambang merambah kejajaring sosial.


Sepuluh menit kemudian Alesa, Makita dan Cantika menyelesaikan obrolannya, lalu memutuskan pulang. Sebelum meninggalkan cafe Bambang ke kasir membayar makan mereka.


"Terima kasih teraktirannya," ujar Makita dan Cantika, kemudian berlalu masuk ke lift.


Sementara Alesa dan Bambang berjalan menyusuri koridor mall, turun kelantai dua melalui tangga eskalator. Alesa mengajak Bambang ke store baju anak-anak, Alesa membeli beberapa lembar baju untuk adik-adiknya.


"Berapa totalnya kak?" Tanya Alesa saat dia mengambil belanjaannya di kasir.


"Sudah dibayar sama abang itu. Kak" jawab sang kasir sambil menunjuk Bambang yang sedang berpura-pura melihat-lihat baju.


Alesa berlalu dari kasir sambil memgucapkan terima kasih, lalu berjalan ke arah Bambang. Bambang mengambil paperbag di tangan Alesa, menawarkan jasa membantu Alesa membawa semua barang belanjaannya. Alesa menolak. Namun, Bambang tetap memaksa.


"Kirim nomor rekeningmu," bisik Alesa.

__ADS_1


"Nomor rekening apa?"


"Bank!, masa listrik," jawab Alesa menghentikan langkahnya.


"Buat apa?" Tanya Bambang berpura tak mengerti. Dia tahu kalau Alesa sebenarnya mau mentranfer uang untuk baju-baju yang sudah dibayarnya.


Mendengar pertanyaan Bambang, mata Alesa mendelek. Bambang tak memperdulikan, malah melenggang meneruskan langkah menuju eskalator.


"Hay! Mau pulang nggak!" Panggil Bambang.


Bambang membalikkan tubuhnya, kala menyadari Alesa tidak ada di sisinya. Alesa sengaja memperlambat langkah, karena kesal dicuekin Bambang.


"Dasar perempuan suka ngambek," batin Bambang.


Begitu Alesa sudah berada di sampingnya. Bambang memintanya berjalan duluan.


"Langsung pulang? Atau ada yang ingin dibeli lagi?" Tanya Bambang kala sudah berada di dalam mobil.


"Pulang," jawab Alesa tegas.


"Tidak beli donat buat adik-adik?" Tanya Bambang lagi seraya menarik pedal gas dan meluncur keluar dari parkir.


Alesa tidak menjawab pertanyaan Bambang, hanya sekilas menoleh kearah laki-laki itu, lalu kembali fokus menatap ke depan memperhatikan lalu lalang kendaraaan.


Sementara Bambang tidak mengulangi pertanyaannya, dia tahu Alesa masih kesal padanya tentang rekening tadi. Namun, Bambang tetap mampir di toko penjual donat.


"Aku saja yang turun," ujar Alesa, dia mencegah Bambang yang sudah memegang handle pintu.


Otomatis Bambang menarik kembali tangannya. Dia tidak membantah, dengan ekor mata ditatapnya punggung Alesa yang keluar dari mobil dan bergerak masuk ke toko donat. Dua puluh menit kemudian Alesa kembali dengan tentengan dua buah paparbag.


"Sudah?" Tanya Bambang. Alesa hanya mengangguk.


Mobil menjauh dari area toko donat. Bambang memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang. Sesekali diliriknya Alesa yang sedang asik dengan layar ponsel, lewat kaca spion depan. Alesa sedang membalas pesan whatsapp dari Makita dan Cantika.


"Lagi chatingan dengan siapa?" Tanya Bambang, kala melihat Alesa jari jemari Alesa lincah menari di kayboard hape.


Sejenak Alesa menatap ke laki-laki yang baru melontarkan pertanyaan. Terbersit di hatinya ingin mengerjai Bambang, Alesa tersenyum di balik niqab.


"Dari Adra. Katanya kangen aku," ujar Alesa datar.


Ceeett... Mendadak Bambang menginjak rem. Lalu menghentikan mobil dan menoleh ke Alesa. Ditatapnya wanita bercadar itu. Tiba-tiba gemuruh cemburu hadir di dadanya.


"Ya Allah! Perasaan apa ini," batin Bambang.


"Ada apa?" tanya Alesa kaget saat Bambang menginjak rem mendadak. Alesa menatap ke depan memastikan kalau Bambang tidak menabrak sesuatu.

__ADS_1


"Apa kamu mencinta Adra?" Tanya Bambang.


__ADS_2