
Part 101
Di rumah Alesa.
Hiruk pikuk suara alat dapur saling bersahutan, aroma masakan pun hilir mudik di ujung penciuman. Asiah dan beberapa ibu-ibu tetangga sedang sibuk memasak untuk persiapan syukuran atas gelas magister yang diraih Alesa.
"Kamu mau ke mana lagi." pertanyaan Asiah ditujukan pada Alesa yang baru saja pulang dari Bandung.
"Ke kantor. Mi," Alesa meraih kunci mobil yang tergeletak di samping televisi.
"Apa kamu tidak capek."
"Kalau ke kantor, capeknya langsung hilang." Alesa menyantolkan tas tangan di bahunya.
Bagi Alesa berdiam di rumah, tanpa melakukan apa-apa lebih terasa capek ke timbang dia ngantor. Begitu masuk ke mobil, Alesa meluncur langsung ke kantor. Sudah hampir lima bulan tempat kerjanya itu ditinggal, sejak dia fokus menyelesaikan tesis, hingga diwisuda.
Dua tahun lalu, Alesa mendaftar S2 sesuai janjinya ke pada Adra. Dia melanjutkan pendidikan di Bandung. Karena mengambil kelas eksekutif, Alesa kuliah hanya masuk sebulan dua kali. Sambil kuliah dia tetap bekerja, dan ngantor jika berada di Pekanbaru.
Pekerjaan sekaligus kuliah menyita waktu Alesa, sehingga dia melupakan urusan tentang percintaan dan menolak semua laki-laki yang coba mendekati. Hingga beberapa laki-laki patah hati karenanya.
Bambang memutuskan menikah, karena menyangka kalau Alesa rujuk dengan Fasya. Adra pun memutuskan menikah, karena tak bisa menaklukkan hati Alesa. Dokter Anzar pun patah hati dan meneruskan kuliah ke Singapora, Brayen ditolak Alesa, dengan Alasan Alesa tak sanggup patah hati, jika diteror oleh mantan-mantannya.
Sementara Roy memilih menikahi Dea, karena katanya menginginkan Alesa, sama dengan pungguk merindukan bulan. Terakhir Viral, dia tak terlalu berharap kalau Alesa memilihnya, karena status duda beranak satu dan Fasya yang mulai berharap Alesa mau kembali rujuk padanya.
Akanlah Alesa memilih Viral atau kembali ke Fasya. Entah!
Mobil yang dikendarai Alesa memasuki halaman kantor, setelah memakir mobil, dia turun dan langsung melangkah masuk. Beberapa karyawan menyapa Alesa dengan ramah. Alesa pun membalas dengan lambaian tangan.
"Hay Dea! Apa kabar kamu?" sapa Alesa sambil berdiri di depan pintu, saat melewati ruang kerja dea.
"Baik. Non!" Dea berdiri sedikit kepayahan, karena perutnya yang sudah membuncit dan terlihat jelas.
"Duduk saja. Tidak usah berdiri." Alesa beranjak mendekat.
"Selamat ya. Sudah berapa bulan?" Alesa menyalami Dea.
"Sudah sembilan bulan."
"Sudah sembilan bulan. Kenapa masih ngantor?"
"Dia tak bisa jauh dari aku." tiba-tiba Roy muncul sambil tertawa. Dea dan Alesa pun ikut tertawa. Senangnya hati Alesa melihat Roy dan Dea bahagia. Dia pun pamit ke ruang kerjanya.
Lima bulan tidak ada yang berubah di ruangannya. Alesa duduk sambil menumpukan kepala di sandaran kursi. Sambil merenung, dia mengingat kembali, peristiwa yang terjadi dalam hidupnya, dari masa sulit, hingga memiliki semuanya.
Kini Alesa telah meraih berkarir dan cita-citanya menjadi pembisnis yang handal, yang tak dianggap remeh oleh siapapun. Dia belajar dan terus belajar tanpa henti. Menaklukkan semua tantangan hidup, hingga dia lupa memikirkan untuk berumah tangga kembali.
Alesa menghela nafas panjang. Lalu membuka beberapa berkas yang sudah menumpuk di atas meja. Satu-persatu dibaca Alesa dengan teliti, baru ditandatanganinya. Setelah semua pekerjaannya selesai dia kembali ke rumah.
"Sa! Usiamu sudah dua puluh enam tahun. Umi mau kamu menikah sebelum umi kembali ke Tembilahan." Asiah menatap putrinya yang baru pulang dari kantor.
"Nanti saja bicara masalah itu. Mi! Masih banyak waktu, aku masih muda, belum tiga puluh." Alesa berusaha menghindar dan masuk ke kamarnya, naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya.
"Umi bukan mau ikut campur urusanmu. Tapi umi merasa tenang jika kamu menikah lagi." Asiah mengiringi langkah Alesa, lalu duduk di tepi ranjang. Dia lupa kalau dulu pernikahan yang Alesa lakoni telah merenggut masa remaja putrinya.
"Kamu rujuk saja dengan Fasya. Sekarang dia kan sudah sendiri" Celetuk Asiah, membuat Alesa bangkit dan duduk di samping Asiah. Tak pernah sedikit pun terpikirkan oleh Alesa untuk kembali pada Fasya.
"Tapi. Mi! Aku sudah punya calon." Alesa membual.
__ADS_1
"Serius?" Asiah menatap putrinya dan Alesa hanya mengangguk.
"Maaf Mi. Aku membohongimu," batin Alesa.
"Umi tak mau tahu. Undang calonmu malam ini. Jika dia tak datang, maka kamu harus kembali pada Fasya." Asiah merengkuh bahu putrinya.
Dua hari yang lalu, Malik meminta Asiah untuk membujuk Alesa mau rujuk pada Fasya, karena menurut Malik, Fasya sudah berubah baik dan dalam tiga tahun ini, Fasya tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun. Bahkan Malik sering mengintip Fasya secara diam-diam mendekap Foto perkawinannya dengan Alesa.
"Iya. Umi!" Alesa meraih tangan Asiah, lalu mencium punggungnya. Alesa mengiyakan karena dia mau Asiah segera keluar dari kamarnya. Dan tidak lagi membahas tentang Fasya.
"Kasih tahu umi, siapakah laki-laki beruntung itu." Asiah mengurai rengkuhanya, lalu mengelus lembut kedua pipi Alesa.
"Masih rahasia." Alesa mengambil kembali kedua tangan Asiah. lalu menautkan dengan kedua tangannya.
"Baiklah kalau begitu. Jika kamu bohong pada umi, kamu harus menerima tawaran umi, untuk rujuk lagi dengan Fasya," ucap Asiah dengan tegas, lalu keluar dari kamar Alesa.
"Ya Allah. Aku harus bagaimana, siapa yang harus kuhubungi agar mau menjadi pacar pura- puraku." Alesa memegang jidatnya, mengingat beberapa teman laki-laki yang belum menikah.
Sejenak Alesa berpikir keras, dia mengambil ponsel dan menggeser layar mencari nomor kontak seseorang dan memanggilnya.
"Assalamualaikum," sapa seseorang dari panggilan telepon.
Setelah membalas salam, Alesa menyampaikan hasratnya. Dengan perasaan gugup dan cemas Alesa menunggu jawaban laki-laki itu. Karena laki-laki yang dipinta untuk menjadi pacar pura-puranya meminta waktu sepuluh menit.
Dreet...Dreet... Dreet... Sepuluh menit berlalu, ponsel Alesa berdering, secepat kilat Alesa menggangkatnya.
"Assalamualaikum," sapa Alesa gugup.
"Aku tak mau jadi pacar pura-puramu. Tapi..."
"Tapi apa?" Alesa memotong pembicaraan sipenelpon.
Alesa sudah tak punya pilihan lain. Banyak teman laki-lakinya. Cuman jika dia asal comot, khawatir Asiah malah curiga. Jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih trauma jika harus kembali dengan Fasya.
"Dengarin abang dulu. Jangan asal menyela," ujar laki-laki dipanggilan telepon.
"Aku mau kita tunangan malam ini, bukan pura-pura pacaran."
"Tapi..." Alesa menyela lagi.
"Tidak ada tapi-tapi. Jika tidak mau yah ... batal." Ancam sang laki-laki, tentu saja membuat Alesa berpikir saratus kali.
"Baiklah."
Alesa mengiyakan saja, dari pada batal, dia harus cari yang lain, mana waktu sudah mepet. Setelah deal siapa yang menyiapkan cincin pertunangan. Alesa pun menutup panggilan teleponnya.
"Cari selamat saja dulu. Alesa!" Alesa menarik nafas lega, lalu mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Alesa bergegas menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi, cukup lima menit ritual mandinya pun selesai. Berwudhu dan melakukan shalat asar yang sudah di penghujung waktu.
Tok... Tok... Tok... tiga puluh menit Alesa selasai shalat, terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Non! Bibik boleh masuk."
"Iya. Masuk saja. Bik!"
Daun pintu terkuak, Sri sang asisten rumah tangga masuk membawa sebuah paperbag berwarna abu-abu.
__ADS_1
"Apa itu. Bik?"
Dreet... Dreet... Dreet, belum sempat Sri menjawab pertanyaan Alesa. Ponsel Alesa berdering lagi. Alesa mengalihkan pandangan ke nakas, lalu meraih ponselnya.
"Kamu pakai baju yang baru diantar kurir untuk acara pertunangan kita," panggilan telepon pun terputus.
"Bibik boleh keluar." Alesa meraih paperbag dari tangan Sri.
Sepeninggalan Sri. Alesa membuka paperbeg dan mengambil gaun warna biru wardah yang ada di dalamnya.
"Lumayan. Cocok pas di tubuhku," batin Alesa, seraya mematutkan gaun itu ke tubuhnya. Setelah merasa yakin pas. Alesa mengambil hanger dan menggantung gaun itu.
Sambil menunggu azan magrib, Alesa naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuh lelahnya.
Ting, terdengar notifikasi pesan whatsapp.
(Sa! Kamu suka nggak sama gaun yang aku beliin)
(Suka. Cocok sama aku. Terima kasih sudah mau repot-repot beliin aku gaun) balas Alesa diakhiri emoji maaf.
(Untuk calon istriku. Aku tak merasa repot)
Deg... Jantung Alesa berdetak kencang, dua kali lipat dari biasa.
"Jangan lebay. Sa! Ingat hanya pura-pura," batin Alesa seraya tersenyum kecut.
(Tapi kita kan cuma pura-pura) balas Alesa dengan emoji ngakak.
(Walaupun cuman pura-pura. Kita lakoni saja. Supaya tak ada yang curiga kalau kita cuman drama) balasan masuk lagi, diakhiri dengan emoji yang sama.
(Sudah azan. Shalat yuk) Alesa mengakhiri chatnya.
*****
Dua jam kemudian. Para tamu undangan sudah berdatangan. Malik bertindak sebagai penjaga tamu, mempersilakan para tamu masuk dan duduk lesehan di tempat yang sudah disiapkan.
"Alesa! Apa kamu sudah siap?" Asiah mengetuk kamar putrinya.
"Ntar lagi. Mi!"
"Ayok para tamu sudah datang." Seru Asiah dari balik pintu kamar.
Daun pintu terkuak. Alesa keluar seraya memperbaiki beros dihijabnya.
"U-umi! Baju kita..." Alesa menghentikan ucapannya. Dia menatap Asiah dan adik-adiknya, warna baju dan gaun yang sama.
"Bagaimana bisa dia menyiapkan gaun-gaun ni dalam waktu tiga jam," batin Alesa. Alesa tidak tahu kalau calon tunangan pura-puranya itu mempunyai butik terbesar di kota bertuah ini.
Melihat Alesa termagu di depan pintu kamar, membuat Asiah menarik dan menggamit lengannya, lalu melangkah ke ruang tamu menemui para undangan.
Malik bertindak sebagai tuan rumah, dia sibuk menyalami dan meminta para undangan masuk. Alesa segara mendekati mantan mertuanya itu. Menyalami dan mencium punggung tangannya.
"Selamat atas keberhasilannya." Malik menyentuk lembut kepala wanita itu.
"Terima kasih papa Malik."
Di depan rumah. Fasya baru keluar dari mobilnya, membawa rangkain buket bunga mawar. Dia menyerahkan buket bunga itu pada Alesa, seraya mengucapkan selamat pada Alesa sambil menyodorkan tangannya.
__ADS_1
"Terima kasih Abang sepupu." Alesa menangkupkan kedua tangan didada, saat Fasya ingin menyalaminya.