
Part 88
"Dok! Dokter!"
Belum sempat dokter menjawab pertanyaan Asiah, tiba-tiba suster Mira yang tadi sedang mengganti infus Abdurrahman berteriak. Spontan dokter, Asiah, Alesa, dan Fasya berlarian masuk.
"Ada apa. Sus?"
"Pak Abdurrahman sadar," ungkap Suster senang.
Semua mata tertuju pada Abdurrahman yang sudah membuka mata. Setika Alesa mendekat dan jongkok di samping Abdurrahman, dia meraih tangan Abdurrahman dan menciumnya berkali-kali. Alesa menangis haru.
"Abi! Aku senang sekali. Abi sudah sadar," ujar Alesa.
"A-Alesa." Terdengar lirih suara Abdurrahman yang terbata-bata.
"I-iya. Bi."
"Ma-mana Fasya?" Abdurrahman pertanya pada putrinya.
Spontan Alesa menoleh kebelakang. Dan memberi kode pada Fasya yang berdiri di belakangnya. Fasya mendekat dan berjongkok di samping Alesa.
"I-iya. Bi! Ini aku," ujar Fasya seraya menatap wajah pucat laki-laki setengah baya yang terlihat sangat letih.
"Sini," ujar Abdurrahman meminta Fasya duduk di sampingnya di tepi tempat tidur.
Fasya menoleh ke arah Alesa dan menatapnya, lalu berdiri dan duduk di tepi tempat tidur Abdurrahman. Alesa bergeser dan berdiri di samping Fasya.
"Nak! Terima kasih sudah menjaga putri abi dengan baik," ujar Abdurrahman lirih seraya melirik Alesa.
"Sa-saya..."
"Settt." Abdurrahman meletakkan telunjuknya di bibir, dia tidak mengijinkan Fasya untuk meneruskan ucapanya.
Sementara Fasya yang mendengar ucapan Abdurrahman, sangat merasa bersalah, karena selama ini dia tak pernah menjaga Alesa, seperti yang Abdurrahman sangkakan, Fasya merasa berdosa dan ingin meminta maaf pada laki-laki yang amanahnya telah Fasya abaikan.
"Nak! Abi titip Alesa padamu. Tolong jaga dan bimbing dia," ujar Abdurrahman lagi, suaranya semakin lemah. Fasya tak kuasa menahan, buliran-buliran penyesalan meluncur di sudut netranya.
"Abi. Jangan bicara banyak dulu, lebih baik abi istirahat," Alesa menyela ucapan Abdurrahman, kala suara Abdurrahman semakin kecil.
__ADS_1
"Abi baik-baik saja. Nak! Kamu tidak usah khawatir," ujar Abdurrahman sambil menarik nafasnya yang terasa sesak memenuhi dada.
"Sudah! Abi istirahat ya," Alesa mengusap dada Abdurrahman perlahan.
"Uhuk, uhuk, uhuk." Tiba-tiba Andurrahman batuk dan menyembur darah segar dari mulutnya.
"Abi!" Alesa terkejut.
Semua yang ada panik. Dokter segera meminta Alesa, Asiah dan Fasya keluar ruangan dan tim dokter segara mengambil tindakan, dua orang perawat membersihkan darah dari wajah Abdurrahman. Dada Abdurrahan naik turun dengan gerakan cepat, nafasnya terasa berat. Dokter Kemudian memasang Ventilator untuk membantu Abdurrahman bernafas.
"Tarik nafasnya pelan-pelan pak, kemudian hembuskan dengan pelan," kata suster menenangkan.
Perlahan gerakan naik turun dada Abdurrahman melemah, hampir tak ada pergerakan lagi. Dokter memeriksa denyut jantungnya, sama semakin melemah, detaknya seakam semakin kecil dan jauh. Dokter keluar menemui Asiah, Alesa dan Fasya, mengabarkan kalau keadaan Abdurrahman semakin melemah. Dokter menyarankan agar pasien jangan diajak bicara lagi.
Setelah dokter bicara begitu. Alesa dan Asiah masuk kembali ke ruang rawat. Asih meraih tangan suaminya, tanpa berkata sepatahpun dia menggenggan erat tangan itu dan Abdurrahman membalas genggaman tangan istrinya. Namun, beberapa detik kemudian genggaman tangan Abdurrahman melemah dan lepas.
"Abi! Abi!" Asiah menggoyang-goyang tubuh suaminya yang sudah melemah dan diam. Asiah kemudian meraba nadi suaminya, sudah tak ada denyutan lagi.
"Abi! Abi bangun. Bi!" Asiah tetap berusaha membangunkan suami.
"Dokter! Abiku kenapa," teriak Alesa saat melihat uminya panik.
Dokter mendekat, lalu memeriksaan keadaan Abdurrahman.
"Abi!" Teriak Alesa, spontan menubruk tubuh Abdurrahman.
"Abi! Kenapa abi tinggal Alesa. Hiks, hiks, hiks." Alesa menangis sambil mendekap erat tubuh Abdurrahman.
"Sudah. Nak! Ikhlaskan abi pergi, sekarang dia sudah tidak sakit lagi," Asiah meminta Alesa menguraikan pelukannya.
"Umi! Hiks, hiks, hiks," Asiah memeluk erat putri, dia membiarkan Alesa menumpahkan tangisan dalam pelukannya.
Asiah mengikhlaskan kepergian suaminya, sepuluh tahun lamanya Abdurrahman menderita, tiga tahun terakhir ini, dia hanya bisa duduk lemah di atas kursi roda.
"Sudah sayang. Abi pasti sedih bila melihat putri kesayangannya menangis," ujar Asiah mengurai pelukannya. Dia mengusap air mata putri dan berusaha setegar mungkin.
Sambil meraih tangan Alesa, Asiah mengajaknya keluar, kemudian menelepon beberapa kerabat, mengabar berita duka. Adik-adik Alesa datang ke rumah sakit bersama Yanto, keempat adik Alesa menangis saat mengetahui abi mereka sudah tidak ada.
Sementara Fasya menelepon Malik papanya, mengabarkan tentang meninggalkan Abdurrahman, Malik hanya mendoakan dari jauh, karena dia sedang berada di Mekkah melaksankan ibadah umrah dan dua hari lagi baru bertolak ke tanah air. Pada hal dia ingin sekali bertemu dengan Asiah.
__ADS_1
Asiah menenangkan adik-adik Alesa, kemudian meminta Yanto membawa mereka kembali pulang ke rumah. Fasya dan Alesa mengurus kepulangan jenazah Abdurrahman. Setelah semua administrasi beres, Alesa dan Asiah ikut ambulance yang membawa jenazah Abdurrahman.
Tangisan Alesa belum reda, walaupun dia sudah mengikhkaskan kepergian Abdurrahman. Namun, sepanjang jalan, lelehan air matanya terus saja membasahi niqabnya. Asiah yang melihat putri menangis dalam diam merengkuh bahu Alesa penuh sayang.
"Berdoa. Semoga Abi bahagia di sana," bisik Asiah ditelinga putrinya. Alesa hanya mengangguk.
Ngiangan Ambulance tak terdengar lagi, mobil putih berlist merah itu berhenti tepat di depan pintu rumah Alesa. Saat jenazah Abdurrahman diturunkan, jenazah disambut dengan tangisan adik-adi Alesa.
"Abi! Abi!" Si bungsu kembali hiteris saat jenazah Abdurrahman diangkat dan dibaringkan.
Si bungsu menangis tersedu hingga tubuhnya tergoncang. Bahkan dia pingsan berkali-kali. Fasya menggendong si bungsu menjauh dari jenazah Abdurrahman. Dan nembawanya ke kamar Alesa.
Jenazah Abdurrahman segera diselenggarakan, setelah dimandikan, dikafani dan disalatkan, kini saatnya dibawa keperistirahatan terakhirnya. Pemakaman pun berlangsung dengan lancar.
"Sa! Ayok kita pulang," ajak Fasya saat semua pelayat pulang satu persatu termasuk umi dan adik-adiknya.
Hampir tiga puluh menit Alesa tafakur di depan jenazah abinya yang sudah ditimbun tanah, sedikitpun Alesa tak beranjak saat Fasya mengajaknya pergi. Melihat Alesa bergeming, Fasya yang dari tadi menunggunya di pendopo pemakaman beranjak mendekat, kemudian berjongkok di samping Alesa.
"Sa! Hari sudah mulai senja. Kita pulang yuk, besok kita ke sini lagi temui abi," ujar Fasya seraya menyentuh lengan Alesa. Namun, Alesa menepis tangan laki-laki itu.
"Bicaralah apa abi. Tentang hubungan kita," ujar Alesa seraya menoleh pada laki-laki yang ada di sampingnya itu.
Fasya menatap ragu pada Alesa.
"Kenapa diam. Aku mau Abi tahu semua yang telah kamu lakukan padaku, sebelum kita pergi dari sini," ucap Alesa lagi.
"Tapi... Sa!..." Fasya tidak meneruskan ucapannya. Dia kembali menatap Alesa.
"Baiklah. Kalau kamu tidak ingin mengatakannya. Biar aku saja," ujar Alesa.
"I-iya. Aku saja," ujar Fasya.
Seraya menyentuh batu nisan Abdurrahman. Fasya mengakui semua kesalahannya, dari dia yang tak menganggap Alesa istri, menceraikan Alesa, hingga menuduh Alesa merampas semua harta yang seharusnya miliknya.
Pengakuan Fasya di dengar oleh seorang laki-laki yang sangat mencintai Alesa dan dia kembali ke Riau saat mendengar abinya Alesa meninggal dunia. Dan begitu sampai ke Riau sudah menjelang petang. Dia langsung ke rumah Alesa dan pada saat sampai dirumah Alesa, Asiah mengatakan kalau Alesa masih dipemakaman dan dia pun langaung kepemakaman.
"Oh. Jadi kamu laki-laki yang telah membuat penderitaan pada Alesa," Darah Bambang mendidih marah mendengar pengakuan Fasya, dia mendekat dan menarik leher baju Fasya dengan sangat geram.
"Bambang!" Alesa terkejut mendapat Bambang sudah berdiri di antara dia dan Fasya.
__ADS_1
"Lepaskan dia! Tak levelmu mengurusi laki-laki pengecut macam dia," ujar Alesa seraya menarik tangan Bambang. Bambang melepaskan cekalannya. Kemudian berdiri di samping Alesa. Kalau bukan karena sedang berada di pemakaman, sudah dihabisinya Fasya.
"Abi! Maafkan Alesa. Bi! Alesa tidak bisa menjadi anak seperti yang Abi harapkan. Alesa pamit pulang. Bi! Tenanglah di surga-Nya," gumam Alesa, lalu menarik tangan Bambang mengajaknya pergi.