
Part 41.
Adra dan Alesa saling berpandangan, kemudian tertawa berbarengan. Merasa lucu saja melihat tingkah Carla, yang tadi datang tiba-tiba dan marah-marah, lalu pergi tanpa pesan.
"Kamu kenapa tertawa?" Tanya Adra.
"Bapak sendiri kenapa ketawa?" Alesa balik nanya.
"Bapak lagi," ujar Adra pura-pura merajok.
"Maaf," ucap Alesa seraya menangkupkan kedua tangannya.
Adra dan Alesa kembali ke meja dan meneruskan sarapannya. Begitu selesai sarapan Adra mengajak Alesa belanja ke mall Pekanbaru.
"Kamu boleh belanja sesukanya. Abang yang bayar," ujar Adra.
Melewati sederatan pakaian anak-anak tanggung, mengingatkan Alesa pada adik-adiknya. Alesa tak tahu bagaimana heboh adik-adiknya, jika diajak ke sini.
"Kayaknya yang ini cocok buat kamu," Fasya membawa dua lembar tunik bahan batik. Cantik dan manis.
"Pasti harganya juga mahal," ujar Alesa.
"Ayok kita ke sana," ujar Adra mengajak Alesa ke kamar pas. Dia tak perduli dengan keberatan Alesa.
Adra memberikan tunik yang dipegangnya ke Alesa. Dia meminta Alesa mencoba, cocok dan pas ditubuh Alesa. Adra memberikan ke dua tunik itu kepelayan agar mengantarkan ke kasir. Kemudian Adra membawa Alesa untuk melihat-lihat sepatu.
"Coba kamu pakai ini?" Adra menunjuk Stiletto heels dengan tinggi lima centi meter.
Alesa menatap sepatu warna hitam dengan manik-manik kristal yang ditunjuk Adra. Sepatu yang terbuat dari kulit campuran, dibandrol dengan harga tiga ratus tujuh puluh ribu itu, cukup menarik perhatian Alesa.
"Coba saja kak," ujar pelayan menyapa ramah.
"Emang boleh dicoba. Tapi nggak dibeli?" Tanya Alesa konyol.
"Dicoba saja. Sa! Kalau cocok angkat," ujar Adra.
Rasa penasaran membuat Alesa melepaskan kids yang melekat di kakinya. Adra berjongkok mengambil Stiletto heels dan meletakkan di depan Alesa. Alesa menyodorkan kaki kanannya memasukkan ke dalam sepatu, lalu kaki kiri. Begitu Alesa berdiri sempurna, tubuhnya tak seimbang membuatnya oleng. Untung saja Adra sigap menyanggahnya, kalau tidak tentu saja Alesa melurut ke lantai.
"Upsss," ujar Alesa mengurut dada karena kaget.
"Tak bisa pakai sepatu kayak gini," ujar Alesa seraya melepaskan Stiletto heels dari kakinya.
"Kalau kamu suka ambil saja. Nanti di rumah bisa belajar makainya," ujar Adra seraya menyerahkan sepatu itu ke palayan.
"Eh, nggak..."
Belum selesai Alesa bicara. Adra meminta pelayan itu pergi, Alesa hanya bisa menarik nafas panjang, kala melihat pelayan itu menuju ke kasir.
"Udah yuk. Kita pulang," ajak Alesa.
Jika berlama-lama di sini, Alesa khawatir, kalau dia tertarik dengan yang lain. Walaupun sudah dapat aba-aba Adra yang membayar. Namun, Alesa merasa tidak nyaman.
"Tunggu dulu. Kita belum ke kasir," ujar Adra, lalu dia menuju kasir.
Setelah membayar tunik dan sepatu, Adra mengajak Alesa turun ke lantai dasar dengan menggunakan tangga eskalator. Untung saja ini yang kedua dia naik tangga berjalan itu, walaupun masih ada rasa gugup paling tidak, dia sudah tidak sekhawatir kemaren.
Begitu berada di lantai dasar, Adra mengajak Alesa belanja kebutuhan dapur. Adra yang terbiasa hidup sendiri, mengambil beberapa bumbu dapur, sayur, buah-buahan dan keperluan lainnya.
__ADS_1
"Sudah seperti ibu-ibu kompleks saja," ujar Alesa saat melihat tentengan Adra.
Senyum Adra mengambang saat mendengar ucapan Adra, sebenarnya Adra bisa saja menyuruh asisten rumah tangga belanja. Tapi dia lebih suka memilih sendiri bahan-bahan yang diperlukan, baginya ada kesenangan tersendiri jika bisa memilih sayur dan buah segar.
Setelah dari kasir Adra dan Alesa langsung menuju parkir. Begitu berada di dalam mobil, Adra menekan pedal gas meluncur meninggalkan Maal Pekanbaru menuju jalan raya. Dua puluh menit kemudian mobil Adra sudah berhenti di depan pintu gerbang rumah Fasya.
Adra turun membuka pintu untuk Alesa, kemudian membuka bagasi, mengambil barang belanjaan dan menyerahkan ke Alesa.
"Ini bukannya belanjaan bapak," ujar Alesa saat Adra menyerahkan kantong plastik penuh berisi buah.
"Abang!" Adra melotot ke arah Alesa, dia terasa tua kalau Alesa memanggilnya bapak. Sebenarnya emang sudah tua, sudah tiga puluh delapan. Adra saja yang belum move on dari muda, makanya tak mau di panggil bapak oleh Alesa.
"I-iya. Maaf! Abang," ujar Alesa seraya tertawa. Kala melihat mimik lucu Adra.
"Nah gitu dong. Awas kalau salah lagi, hukuman bukan cek laporan, setingkat lebih tinggi dari itu," ancam Adra, dia pun ikut tertawa.
"Ini," ujar Alesa mengembalikan plastik buah yang tadi disodorkan Adra padanya. Dan meletakkan kembali ke bagasi.
"Untukmu."
"Untukku?" Alesa meyakinkan kalau dia tak salah dengar.
"Iya. Abang beli untukmu," ulang Adra, meyakinkan Alesa.
"Ah. Aku jadi nggak enak. Banyak banget aku ngabisin duit Abang."
"Ini belum seberapa. Ambil saja!"
"Tapi..."
"Ya...udah, besok-besok kalau kamu sudah kerja dan punya duit. Abang minta traktir sama kamu," ujar Adra lagi memaksa Alesa menerima pemberiannya.
Alesa mengucapkan terima kasih, kemudian berdiri di depan pintu pagar. Adra membunyikan kelakson sebelum meluncur. Alesa melambaikan tangan dan menatap kepergian Adra hingga sampai belokan.
Begitu mobil Adra menghilang, Alesa membalikkan tubuhnya membuka pintu pagar dan masuk. Baru saja Alesa ingin menutup kembali pintu pagar, sebuah mobil berhenti.
Alesa mendongakkan kepala, melihat ke arah mobil yang berhenti, dia mengernyitkan dahinya kala mengenali mobil siapa yang baru datang.
"Bambang," batin Alesa.
Alesa mengurungkan niat menutup pintu pagar, menunggu si pemilik mobil ke luar. Seperlima detik muncul Bambang dari balik pintu, dan berjalan ke arah Alesa.
Deg... Entah kenapa detak jantung Alesa berdebar kencang dari biasanya. Saat teringat isi chat Bambang yang terakhir. Sementara mata Bambang tertuju pada barang belanjaan yang di tenteng Alesa.
Alesa yang sibuk dengan pikirannya, sampai lupa menyapa Bambang yang sudah berdiri di hadapannya.
"Habis belanja. Sa!" tanya Bambang basa basi, dia sudah tahu karena dia tadi menguntit Alesa dan Adra.
"Eh... I-iya," jawab Alesa tergagap. Pertanyaan Bambang membuyarkan lamunannya.
"Aku nggak diajak masuk," tanya Bambang lagi.
"Eh... Anu..." Alesa kembali tergagap mendapat sapaan Bambang berikutnya.
"Aku di rumah sendiri, Fasya lagi liburan sama istrinya dan Sri balik kampung. Jadi maaf tak bisa ajak singgah," jelas Alesa.
Bambang tak perduli dengan penjelasan Alesa, di menatap intens pada wajah Alesa. Merasa aneh karena ada yang berbeda.
__ADS_1
"Alesa! Kenapa matamu?" Tanya Bambang menilik netra Alesa, yang kelopaknya masih lebam dan sedikit membengkah.
"Eeeeh... Itu. Semalam aku terjatuh, tanpa sengaja mataku mengenai sesuatu," jawab Alesa menutupi kenyataan yang sebenarnya.
"Ya Allah. Sa! Kamu harus hati-hati. Sekarang apa masih sakit?" Tanya Bambang lagi khawatir.
"Sudah mendingan, tadi pak Adra sudah menemaniku ke klinik," ujar Alesa lagi
"Jadi, tadi Adra mengantar Alesa berobat, begitu perhatiannya Adra pada Alesa. Apa Alesa dan Adra punya hubungan spesial," batin Bambang.
"Seharusnya yang mengantar ku ke klinik Fasya. Tapi karena dia harus berangkat pagi-pagi. Fasya menelepon Adra untuk meminta tolong menemaniku," ujar Alesa menutupi kebohongannya dengan kebohongan kedua. Dia seakan tahu jalan pikiran Bambang.
"Maafkan aku, aku menbohongimu agar tak terjadi salah paham," batin Alesa merasa dosa-dosa terus bertambah.
"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Bambang.
Mendengar penjelasan Alesa, menghilangkan prasangkanya, kalau Alesa dan Adra punya hubungan khusus.
"Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya. Aku ada sesuatu untukmu," ujar Bambang kembali ke mobilnya. Bambang membawa sesuatu yang disembunyikannya dibelakang.
"Ini untukmu ," ujar Bambang seraya memberikan sekuntum bunga mawar putih dan sebuah paperbag kecil.
"Dalam rangka apa?" Tanya Alesa karena dia merasa hari ini, bukan hari lahirnya, bukan pula hari istimewa baginya.
"Hari persahabatan kita. Apa kamu lupa, dua tahun yang lalu kita berkenal di tanggal satu Maret dua ribu dua puluh satu dan sekarang satu Maret dua puluh dua tiga."
"Bukannya pertama kali kita kenalan di bulan Nopember, pas hari guru," ucap Alesa mengingatkan.
"Itu kita kenalan secara nyata. Dari bulan Maret pas acara ulang tahun sekolah kita. Aku sudah mengenalmu, dan diam-diam sudah mengikuti semua aktifitasmu di sekolah." Bambang memaparkan nostalgia.
Mendengar penuturan Bambang, membuat hati Alesa berbunga-bunga, ternyata Bambang punya perasaan yang sama dengannya.
"Kita akan terus bersahabat sampai semua impian kita berhasil. Jika kamu ada kesulitan apa saja, jangan segan-segan minta tolong aku ya," ujar Bambang lagi.
"Sahabat! Ternyata Bambang hanya menganggapku sahabat. Jadi isi chatnya tadi pagi hanya menggodaku saja," batin Alesa, dia jadi malu sendiri, karena sudah merasa kalau Bambang menganggapnya lebih dari sahabat.
"I-iya," ujar Alesa mengangguk. Ada bias kecewa di hatinya.
"Terima kasih," ujar Alesa, menerima pemberian Bambang dengan suka cita.
"Kamu rehat saja, semoga matamu cepat sehat dan bisa kuliah lagi. Aku ke kampus dulu ya."
Alesa hanya mengangguk.
"Besok. Jika sudah sehat dan mau ke kampus kabari. Aku jemput," ujar Bambang lagi, Alesa kembali mengangguk.
"Masuklah, aku akan pergi setelah memastikan dirimu masuk ke rumah" ujar Bambang.
"Bye," ujar Alesa melambaikan tangang, lalu menutup pintu pagar dan menguncinya. Sekali lagi dipandangnya Bambang dari balik terali pagar, sebelum dia membalikkan tubuhnya membelakangi Bambang dan melangkah masuk.
Begitu Alesa masuk, Bambang pun kembali ke mobilnya, Alesa menyingkap gorden jendela, melihat mobil Bambang remang-remang dari balik terali pagar, melaju meninggalkan rumah Fasya.
Begitu mobil Bambang menghilang dari pandangan, baru Alesa beranjak, dia masuk ke kamar membawa barang belanjaan yang dibelikan Adra.
Bambang dan Adra dua sosok laki-laki yang sama baiknya.
"Jika disuruh memilih. Aku akan memilih siapa," batin Alesa mengkhayal.
__ADS_1
****