
Part 83
"Kalau iya kenapa?" Alesa tidak menjawab pertanyaan Bambang, dia malah balik bertanya.
"Sa! Aku mencintamu. Aku ingin kamu menjadi istriku," ujar Bambang, tidak tahu dia memperoleh kekuatan dari mana, hingga kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya. Pada hal selama ini dia tidak pernah berani mengeluarkan sedikitpun kata cinta untuk Alesa.
"Maukah kamu jadi istriku?" Bambang mengulangi pertanyaannya. Seraya menatap intens ke wajah Alesa.
Tentu saja pertanyaan Bambang membuat Alesa kalang kabut, dia tak tahu harus menjawab apa. Sekilas Alesa menatap Bambang, lalu menunduk, debar jantungnya berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya.
"Hemmm. Antar aku pulang, nanti sampai ke rumah kujawab pertanyaannya," ucap Alesa akhirnya, dia punya Alasan untuk menunda.
Gerakan tangan Bambang kembali menekan pedal gas, avanza silver itu meluncur mulus di jalan raya. Bambang memacu mobil kesayangannya lebih kencang dari tadi. Bambang berharap segera sampai ke rumah Alesa dan mendapat jawaban.
Sementara Alesa masih berpikir keras, jawaban apa yang akan diberikan pada Bambang. Apakah dia berkata jujur tentang pernikahannya dengan Fasya atau dia diam saja, toh dia masih perawan karena selama menjadi istri Fasya dia masih tersegel.
"Ya Allah! Aku harus bagaimana," Alesa ambigu.
Keramaian lalu lintas, sedikit pun tak mengusik pandangan Alesa, karena pikirannya sedang berkecamuk, antara berterus teranga apa adanya, dengan diam dan menyembunyikan statusnya kalau dia itu sudah janda. Berkali Alesa mendesah menghembuskan nafas.
Dua puluh menit kemudian, avanza silver itu membelok dan masuk ke pintu gerbang rumah besar berlantai dua itu. Bambang memarkir mobilnya tepat di depan pintu utama rumah Alesa. Begitu mobil berhenti, Bambang turun diiringi Alesa. Dari dalam rumah keluar Sri, mengambil barang belanjaan Alesa.
"Bik! Buat dua gelas teh," titah Alesa sebelum Sri masuk.
Alesa mengajak Bambang masuk ke ruang tamu. Namun, Bambang menolak, dia meminta Alesa menemaninya di teras saja. Alesa memenuhi keinginan Bambang, dia duduk di kursi yang terbuat dari bambu itu, bersebelahan dengan Bambang.
Lima manit kemudian Sri datang membawa nampan berisi dua gelas teh dan empat hirisan cake. Setelah meletakkan nampan itu di atas meja, Sri pamit kembali ke dapur.
Hening sejenak.
Bambang sedang menyusan kata, untuk mengulangi ucapan yang tadi spontan dia lontarkan. Namun, kenapa sekarang lidahnya terasa kaku, seperti ada yang menghimpit, hingga susah digerakkan.
Karingat mulai mengucur di alur punggung Bambang, tiba-tiba saja dia terserang demam. Bahkan kini di keningnya pun sudah mengucur bintik-bintik air itu. Bambang meraup habis wajahnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Minumlah! Nanti dingin," Alesa menawarkan teh, dia memecah keheningan dan kekakuan yang tercipta seketika.
"I-iya." Bambang tergagap, lalu menautkan tapak tangannya sebelum dia menyentuh gelas itu.
Alesa meraih satu gelas, menyodorkan ke Bambang. Tangan Bambang gemetar saat menerima gelas dari Alesa, untung saja lampu diteras redup dan tamaran, hingga tak kentara.
Bambang mereguk isi gelas yang masih terasa hangat. Setelah tenggorokannya basah oleh air teh buatan Sri, lidahnya yang kaku sedikit longgar.
"Sa!.. Aku..." Bambang menggantung ucapannya.
Pandangan Alesa beraleh ke wajah Bambang. Debar jantungnya bergemuruh, telapak tangannya terasa dingin. Tapi berkeringat.
"Abang ingin jawaban Alesa, tentang pertanyaan abang di mobil tadi," ucap Bambang kembali berbahasa formal dengan menyebut dirinya abang. Pada hal dulu dia dan Alesa sudah sepakat beraku-aku.
"Pertanyaan yang mana. Bang!" Alesa berpura lupa, karena teramat gugup.
"Yang tadi."
"Abang... aku..." Alesa tak meneruskan ucapannya. Dia meraih gelas teh dan mereguk isinya.
"Jawablah. Sa! Abang tak kisah jika jawaban Alesa menyakitkan," ujar Bambang seraya menelan salivanya pelan.
"Maafkan aku. Bang!" Alesa memalingkan wajahnya. Dia menatap intens pada Bambang yang seketika beroman gusar.
"A-aku sudah menikah. Tapi.."
"Apa! Kamu sudah menikah." Bambang menyela ucapan Alesa yang belum selesai, dia terkejut setengah mati. Spontan bambang berdiri dari duduknya.
"Maafkan! Abang sudah lancang padamu. Meminta wanita yang sudah bersuami menjadi istri," ujar Bambang, lalu meraih kunci mobil dan ponsel.
"Tunggu dulu, dengarkan penjelasanku." Alesa mencoba menahan langkah Bambang.
Tak memperdulikan ucapan Alesa. Bambang menarik handle pintu mobil dan masuk. Lalu menarik pedal gas dan muluncur tanpa memandang ke arah Alesa. Bambang melaju di jalan raya.
__ADS_1
Dua ratus meter menjauh dari rumah Alesa. Bambang menghentikan mobilnya, dia tak mampu menahan gejolak rasa yang menyesak di dada. Bambang menangis seraya *******-***** rambutnya dengan kasar.
Selama ini yang Bambang takutkan adalah penolakan Alesa. Tapi kali ini bukan ketakutan yang Bambang rasa. Namun, kesakitan batin yang mendalam. Dua tahun tak bertemu, ternyata Alesa sudah menemukan tambatan hatinya.
"Ya Allah, kenapa sesakit ini," batin Bambang dalam isaknya.
Seumur hidup, hingga usianya dua puluh enam tahun. Bambang tak pernah meneteskan air mata karena wanita dan cinta, hari ini. Itu terjadi, karena wanita yang disukanya sejak putih abu-abu itu kini sudah menjadi milik laki-laki lain.
"Aku tidak boleh seperti ini," batin Bambang lalu mengusap air mata dengan kedua tapak tangannya.
"Ingat Bambang! Jodoh, rezeki dan kematian Allah yang menentukan. Jika Alesa bukan jodohmu, berarti ada wanita lain yang lebih baik sedang disiapkan Allah untukmu." Bambang berusaha menerima kenyataan tak semanis takdir yang diharapnya.
Setelah memastikan dia baik-baik saja. Bambang kembali menekan pedal gas dan mulunjur ke jalan raya menuju rumahnya.
Sementara Alesa yang tak berhasil mencegah kepergian Bambang. Hanya berdiri dan menatap mobil Bambang yang semakin jauh dan menghilang, seraya menarik nafas panjang Alesa meraih tas tangannya di atas kursi, lalu masuk ke dalam dan terus ke kamar.
Alesa membuka niqab dan hijabnya, dia mengganti gamisnya dengan baju tidur, melepaskan ikatan rambut, lalu masuk ke kamar mandi membersihkan wajah dan menggosok gigi. Seperlima menit kemudian dia sudah berada di atas tempat tidur.
Baru saja Alesa ingin merebahkan tubuhnya, terdengar bunyi getar ponselnya. Alesa menganggkat telepon dari adik laki-lakinya yang mengabarkan kalau mereka sudah sampai di Pelalawan. Itu artinya tiga atau dua jam lagi, adik-adiknya akan sampai.
Setelah mematikan panggilan telepan dari adiknya. Alesa menatap jam di layar ponselnya, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit. Alesa mencaba menghubungi ponsel Asiah uminya, masuk tapi tak diangkat.
"Pasti umi lagi tidur, semoga saja umi tidak mabuk," batin Alesa, secara Asiah sama dengan Alesa tempo dulu, kalau naik mobil pasti mabuk.
"Apa kutelepon dokter Anzar saja, untuk memastikan posisi abi dan umi," batin Alesa seraya menatap layar ponselnya. Ada kebimbangan di hatinya. Takut malah mengganggu dokter Anzar.
Dreet... Dreet... Dreet... Ponsel yang masih digenggaman Alesa bergetar. Sejenak Alesa menatap layar ponsel yang menyala, antar percaya dan tidak dia mengeja nama yang tertara di layar ponsel.
"Fasya! Kenapa dia mengebelku," batin Alesa, dia hanya menatap layar ponselnya.
"Mungkin hanya salah tekan," batin Alesa lagi berpraduga, saat panggilan itu berakhir. Namun, seperlima detik kemudian panggilan Fasya masuk lagi.
"Assalamualaikum," terdengar suara Fasya, saat panggilan sudah terhubung.
__ADS_1