Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Terbawa Perasaan


__ADS_3

Part 37


Setelah menguping perdebatan Saera dan Fasya. Alesa kembali merabahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menarik nafas panjang, lalu menelan salivanya dengan kasar, tenggorokannya terasa kesat dan kering.


"Aku belum asar," batin Alesa kala melihat jam dindang sudah menunjukkan pukul empat tiga puluh menit.


Secepat kilat Alesa meraih handuk, masuk ke kamar mandi, lalu mengguyur tubuhnya dengar air dingin. Air dingin membuat tubuh terasa segar kembali, setelah menghadapi beberapa ketegangan hari ini. kAlesa kembali melihat wajahnya di cermin, kelopak matanya sudah tidak sebengkak tadi. Walau pun lebamnya masih terlihat membiru.


Lima menit kemudian Alesa sudah menyelesaikan ritual mandinya. Setelah mamakai baju, dia langsung mengerjakan shalat. Begitu selesai shalat, dia kembali merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Tak ada niat untuk ke luar kamar.


Bayangan perdebatan Fasya dan Adra kembali terbayang di wajah Alesa. Wajah Fasya yang sangat marah, ketika tahu kalau sekretaris Adra yang menguncinya di dalam toilet.


"Apa Fasya mulai menyukaiku, sampai segitunya dia peduli padaku," batin Alesa berasumsi.


Alesa menarik nafas panjang, dia tak berani mengambil kesimpulan yang dibuatnya sendiri. Walaupun ada rasa senang kala melihat Fasya peduli padanya.


"Dasar lebay. Alesa! Alesa! Baru dapat perhatian dikit dah klepek-klepek," batinnya mentertawakan diri sendiri, karena berharap Fasya menyukai dirinya.


Tok


Tok


Tok


"Non!" Sri mengetuk pintu dan memanggil Alesa. Alesa mencagher ponselnya dan meletakkan di atas nakas. Lalu beranjak menuju pintu.


"Iya. Bik," sahut Alesa seraya menguakkan daun pintu.


"Mata Non kenapa?" Tanya Sri kaget saat melihat kelopak mata Alesa biru dan sedikit bengkak.


"Tidak apa-apa, hanya dapat musibah," ujar Alesa.


"Oh." Hanya itu yang keluar dari mulut Sri, lalu dia menyampaikan kalau Alesa di tunggu Fasya dan Saera di ruang makan.


"Aku masih kenyang. Bik! Nanti saja makannya," ujar Alesa, dia malas bertemu Saera dan berdebat lagi. Biarlah dia akan makan setelah mereka tidur.


Sri kembali ke dapur setelah mendapat jawaban dari Alesa. Sementara Alesa menutup pintu dan menguncinya, dia kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Sambil bertumpu dengan kedua tangannya. Pikiran Alesa melayang ke kampung halaman, dia teringat Abi, umi dan adik-adiknya. Belum genab dia seminggu berada jauh dari mereka, rasa rindunya sudah bergelayut manja. Biasanya jam segini mereka duduk di ruang tamu sekaligus ruang keluarga untuk membantu adik-adik mengerjakan PR.


Tak terasa dua jam pikiran Alesa melanglang buana. Rasa lapar menyadarkannya kalau kampung tengah belum terisi. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh tiga puluh menit, biasanya jam segini Saera sudah tidur dan Fasya sedang berada di ruang kerjanya.

__ADS_1


Perlahan Alesa pembuka pintu dan keluar dari kamar. Saat melewati ruang kerja Fasya terlihat gelap, itu artinya Fasya juga sudah tidur. Alesa lanjut menuju ruang tengah. Pintu kamar Saera tertutup rapat.


Suasana sangat sunyi tak terdengar suara apa pun. Sri pun pasti sudah tidur. Alesa mengambil piring, lalu membuka mejikom dan mengambil nasi, kemudian membuka tempat penyimpanan lauk, tidak ada apa-apa di dalamnya. Alesa menarik nafas panjang.


"Apa Sri tadi tidak masak, atau sudah mereka habiskan," pikir Alesa.


Alesa beranjak menuju kulkas, mengambil sebutir telor, seutas daun bawang dan dua buah cabe rawit. Untung saja di kulkas Fasya selalu ada stok yang tersedia. Kalau di kampung sudah pasti Alesa akan menahan lapar sampai pagi.


Perlahan Alesa mengambil penggorengan, dia membuat telur mata sapi di taburi daun bawang. Begitu telornya sudah masak, Alesa menarik kuris dan mendudukkan bokongnya, dan dia mulai makan, setelah membubuhkan kecap asin di atas gorengan telor.


Baru beberapa suap. Alesa mendengar suara kaki mendekat, spontan Alesa menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Tiba-tiba bulu kudungnya meremang.


Apa mungkin hanya halusinasi dia saja, atau ada.... Eh...Alesa meneruskan pikirannya. Fokus makan menyuap nasinya kembali. Setelah menyelesaikan makan, bergagas dia kembali ke kamar.


"Abang! Kenapa di kamarku?" Tanya Alesa kaget saat dia masuk dan melihat Fasya sudah berbaring di atas tempat tidur.


"Ini kamarku juga," jawab Fasya santai, dia mengambil bantal guling dan memeluknya.


Alesa diam, dia hanya menatap ke arah Fasya, lalu meraih ponsel di atas nakas dan mendudukkan bokongnya di kursi rias.


Melihat Alesa diam dan duduk di kursi rias, Fasya bangkit dan turun dari tempat tidur, mendekat ke arah Alesa.


"Obatmu sudah diminum." Fasya menenteng bungkusan plastik yang masih utuh. Tadi Fasya sempat memeriksanya.


"Nanti saja makan obatnya, saat mau tidur," ujar Alesa, seraya menjangkau plastik di tangan Fasya. Namun, kalah cepat, Fasya mengangkat tinggi plastik itu.


Fasya membuka plastik, mengambil kepingan obat, dan membuka satu persatu, menyerahkan ke Alesa tiga butir pil. Alesa menatap butiran pil yang sudah berpindah di tangannya.


"Ayok," ujar Fasya sambil memberi isyarat dengan tangannya.


Alesa ragu, jika dia langsung memasukkan obat ini ke mulut, tanpa pengiring makanan lain. Pasti dia akan memuntahkan kembali obatnya. Karena Alesa gangguan kesulitan menelan atau disfagia.


"Kenapa?" Tanya Fasya, kala melihat Alesa hanya diam.


"Tak bisa makan obat?" Fasya kembali bertanya. Alesa mengangguk.


"Hahaha," Fasya tertawa geli saat melihat wajah polos Alesa mengangguk.


"Dasar anak kecil," ujar Fasya memegang kepala Alesa.


Fasya mengajak Alesa ke dapur, mengambil piring kecil dan sendok. Kemudian meminta pil yang dipegang alesa. Setelah pil dimasukkan ke dalam piring, Fasya mengambil sendok untuk menghangcurkan pil menjadi bubuk.

__ADS_1


Setelah menjadi puyer, Fasya memasukkan kedalam sendok dan meminta Alesa membuka mulutnya. Namun, Alesa masih ragu.


"Ayok di minum. Pasti bisa," ujar Fasya saat melihat Alesa ragu.


Alesa mengambil sendok berisi puyer dari tangan Fasya, kemudian menuang air putih di dalam gelas.


"Bismillahirrahmanirrahin."


Sendok puyer masuk ke mulut Alesa. Namun, tetap terbuang, karena belum sampai obat ketenggorokan, dia berlari ketempat pencucian piring, muntah. Semua yang dimakannya tadi ikut keluar.


Fasya menyodorkan gelas air putih ke Alesa, lalu mengusap punggungnya perlahan. Kemudian menggamit Alesa dan memintanya duduk di kursi. Fasya beranjak mengambil gelas, air hangat, teh dan gula.


"Minum ini, biar terasa segar."


Setelah meminum teh pemberian Fasya, Alesa kembali ke kamar.


"Tidur dan istirahatlah," ujar Fasya seraya mencium puncak kepala Alesa sebelum dia meninggalkan kamar Alesa.


****


Setelah Fasya kembali ke kamar. Alesa tidak bisa memejamkan mata. Pada hal matanya yang cedera sudah lumayan terasa nyaman, tidak ada lagi denyutan nyeri. Berulang Alesa memindahkan posisi tidur. Namun, tak juga terlelap.


Bayangan Bambang tiba-tiba melintas di benak Alesa. Alesa meraih tas di atas nakas, tadi dia lupa memberitahu Bambang, kalau dia ikut meting bersama Adra, pada hal Bambang menunggunya di balkon.


"Mana ponselku," batin Alesa saat meraba-raba isi tasnya. Dia tak menemukan benda pilih itu.


Alesa bangkit dari tidurnya, duduk di atas kasur, lalu menumpah isi tas. Namun ponselnya tetap tak ada.


"Apa ponselku dengan Fasya," batin Alesa.


Alesa menatap jam dinding jarum pendeknya sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh delapan menit.


"Apa ku tanya saja sama Fasya," ujar Alesa, lalu memutar handle pintu, dia keluar menuju kamar Fasya.


Begitu sudah berada di depan pintu kamar Fasya. Alesa ragu untuk mengetuk, dia takut kalau Saera terbangun dan pasti akan memakinya. Alesa hanya berdiri dan menatap pintu itu.


Sementara Fasya di dalam kamar. pikirannya sedang menerawang, dengan berbaring di atas lengan dan menatap lurus ke langit-langit kamar. Bayangan Adra dan Alesa datang secara bergantian.


"Mengapa Adra begitu perhatian pada Alesa. Apa dia menyukai Alesa?" Batin Fasya.


"Apa Alesa juga menyukai Adra," batin Fasya lagi.

__ADS_1


"Aku harus menanyakan pada Alesa," gumam Fasya lalu beranjak membuka pintu kamar.


__ADS_2