Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Syarat Dari Saera


__ADS_3

Part 52


"Carla! Kamu yakin itu anakku?"


"Fasya! Kenapa kamu bertanya begitu, kamu menuduhku melakukannya dengan laki-laki lain. Iya! Kamu jahat, hiks, hiks, hiks." Carla menangis seraya memukul dada Fasya dengan kedua tangannya.


"Sudah! Hentikan Carla." Fasya memegang kedua tangan Carla.


"Fasya! Ini anakmu, kamu harus menikahiku," ujar Carla lagi sambil mengusap perutnya yang datar, masih dengan deraian air mata. Carla mendekat dan bergelayut manja di tangan Fasya.


"Iya. Aku akan menikahimu. Jika itu benar anakku," ucap Fasya.


"Ini benaran anakmu. Fasya, hiks, hiks, hiks," ucap Carla seraya menangis lagi, karena Fasya masih meragukannya.


"Cup! Cup! Sudah jangan menangis." Fasya memegang kedua pipi Carla dan menyesap air matanya.


"Iya. Aku percaya. ini anak kita," ujar Fasya lalu merengkuh Carla dalam pelukannya beberapa saat.


Carla pun menghentikan tangis dan mengurai pelukan Fasya. Kini dia melingkarkan tangan di leher Fasya. Dan menautkan bibirnya ke bibir Fasya.


Melihat kelakuan Carla yang tak tahu malu, membuat Alesa menelan salivanya dengan kasar. Apalagi saat melihat Fasya membalas pagutan Carla dan menikmatinya.


"Masih ada aku dan bibik saja, mereka begitu. Pantas saja hamil duluan. Dasar tak tahu malu," batin Alesa membuang muka.


"Aku mau kita menikah besok." cicit Carla tiba-tiba.


"Apa! Besok!" Seketika wajah Fasya kaget hingga menegang.


Alesa yang mendengar tanpa sengaja pun ikut kaget, begitu juga dengan Sri. Meraka berdua saling berpandangan, tak ada kata komentar yang keluar dari mulut Sri dan Alesa.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" Rajuk Carla.


"Besok terlalu cepat. Kita harus urus segala sesuatunya," ujar Fasya. Bukan dia tak mau menikahi Carla. Tapi tak secepat ini.


"Perutku semakin hari, semakin membesar. Aku tak mau orang-orang tahu. Kalau aku hamil tapi belum punya suami," ujar Carla lagi.


"Besok ya."


Mendengar permintaan Carla. Fasya menarik nafas panjang, dia berusaha mengumpulkan oksigen sebanyak mungkin, agar rasa sesak di dada sedikit longgar.


Fasya mendudukkan bokongnya di sofa, sambil meraup habis wajah dengan kedua tangannya dia mendesah gelisah. Pikirannya berkecamuk, baru saja dia berbaikan dengan Saera dan sekarang dia akan membawa masalah baru dengan menikahi Carla.


Carla ikut menghempaskan bobot tubuhnya di samping Fasya, dengan wajah ditekuk sedemikian rupa, dia terus mendesak Fasya untuk segera menikahinya.


"Carla! kamu pulang dulu ya. Aku ingin bicarakan dulu masalah ini dengan Saera. Aku mohon kamu mengerti," bujuk Fasya, dia berharap Carla bisa pergi secepatnya, agar kemarahan Saera bisa reda.

__ADS_1


"Tidak! Aku mau pulang. Jika bersamamu," ujar Carla menyandarkan kepalanya di bahu Fasya.


"Carla! Aku mohon kamu pulanglah. Nanti kita bicara, setelah aku bicara pada istriku," bujuk Fasya lagi, seraya meraih tangan Carla dan menggamit membawanya keluar.


Di depan pintu utama. Carla tiba-tiba memeluk Fasya dan meminta Fasya mengecup bibirnya kembali. Fasya pun memenuhi permintaan Carla, agar carla secepatnya keluar dari rumahnya.


"Berjanjilah demi anak kita. Kamu segera menikahiku," ujar Catra sambil menarik tangan Fasya keperutnya.


"I-iya. Aku berjanji," ujar Fasya seraya kembali mengusap-usap perut Carla dengan lembut.


Seperlima menit kemudian Fasya meraih tangan Carla dan berjalan bergandengan menuju mobil Carla. Fasya membuka pintu mobil dan menyilakan Carla masuk, sebelum Carla menutup pintu mobil, kembali dia melingkarkan tangannya ke leher Fasya. Dan bibir itu kembali menyatu. Apa mungkin Carla ngidam bibir Fasya, setiap kali melihat bibir Fasya dia selalu terhasrat melakukan penyatuan.


Fasya mendorong pelan tubuh Carla, mengurai pagutannya, jika berlama-lama, bisa-bisa Carla tak jadi pulang. Fasya kemudian menutup pintu mobil Carla.


"Aku tunggu kamu di rumah," ujar Carla menekan pedal gas mobilnya kemudian membunyikan kelakson ke arah Fasya terus meluncur meninggalkan rumah Fasya.


Sementara Alesa antara percaya dan tidak, mengurut dada yang tiba-tiba menyesak menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Walau bagaimana pun dia merasa sedih atas perbuatan Fasya.


"Heran. Istri sah diangguri, anak gadis orang dihamili," batin Sri.


"Ayok. Non! Kita ke dapur lagi." Ajak Sri, saat melihat Alesa mengurut dada.


"Non! Yang sabar ya," ujar Sri lagi.


"Non! Istirahat saja. Biar bibik saja yang masak," ujar Sri kala malihat Alesa hanya berdiam diri.


****


Setelah mendengar pengakuan Carla, rasa sakit menusuk-nusuk di hati Saera bertubi-tubi, rasa sakit akibat tamparan dan benturan saat dia bergelut dangan Carla masih terasa perih. Kini didapatkannya tamparan yang lebih dahsyat, bahkan berpuluh kali lipat rasa sakitnya.


"Fasyaaaa! Aku kecewa padamu," batin Saera seraya memukul-mukulkan tinjunya ke bantal guling, menumpahkan semua rasa kesal. Tangisnya pecah.


Baru saja tadi malam dia berbaikan dengan Fasya, dan Fasya mengajaknya mengawali dari awal lagi, sekarang Carla datang mengacaukan segalanya. Saera yang baru ancang-ancang mau melepas alat kontrasepsi dan program hamil. Carla malah sudah menawarkan calon bayi dirahimnya.


"Oh. Tuhan! Apakah ini akan jadi akhir kehidupanku dengan Fasya," batin Saera.


Baru dua bulan lebih dia di madu dengan Alesa, kini akan di madu lagi dengan Carla. Sedikitpun Saera tak pernah mebayangkan kalau Fasya akan mengkhianatinya berkali-kali.


Alesa bisa saja Saera kuasai dan kendalikan. Nah ini Carla. Wanita ular itu, dengan segala cara dilakukannya untuk mendapatkan Fasya. Apa Saera bisa menaklukkannya.


"Jangan biarkan Carla menang. Jangan biarkan Carla mengambil semuanya darimu. Saera!" batin Saera memotivasi dirinya sendiri.


Saera beranjak dari tempat tidur. Dia mondar mandir seperti setrikaan. Berpikir bagaimanan caranya menyingkirkan Carla dari kehidupan Fasya.


"Aku harus menemui ibu, minta pendapatnya. Eh... tidak! Jangan ibu. Tante Diana saja," gumam Saera.

__ADS_1


Setelah menemukan ide. Saera menyambar handuk yang tergantung di balik pintu. Masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Lima menit ritual mandi pun selesai, Saera memakai baju dan bermake up. Saera bersiap-siap.


"Saera! Buka pintunya sayang." Terdengar suara Fasya dari luar.


Saera mengalihkan pandangannya ke pintu, handle pintu yang diputar dari luar bergerak-gerak. Namun karena terkunci dari dalam pintu pun tak terbuka.


"Mau apa lagi dia? Tak puaskah menyakitiku," gumam Saera, Saera menyisir rambutnya, tak memperdulikan panggilan Fasya.


Tok


Tok


Tok


"Saera!"


Dengan menghela nafas panjang, Saera menyeret kakinya menuju ke pintu.


Klik... Saera memutar handle dan menguakkan daun pintu setengah lebar. Lalu kepalanya menjulur.


"Apa lagi yang ingin kamu jelaskan. Hah!" Ketus Saera.


Fasya menatap Saera dari ujung rambut hingga kaki.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Fasya kala melihat penampilan Saera yang bersiap mau pergi.


"Terserah! Tak ada urusannya denganmu," ketus Saera lagi.


"Duduklah sebentar. Abang ingin bicara padamu," ujar Fasya, lalu merengkuh bahu Saera dan menyeretnya masuk, duduk di tepi tempat tidur.


"Besok, Abang akan menikah dengan Carla," ucap Fasya langsung ke intinya. Saera tidak terkejut, karena dia sudah menduga dan dia pun sudah menyiapkan satu rencana.


"Boleh! Tapi ada syaratnya," ujar Saera, karena jika dia menolak pun Fasya akan tetap menikah dengan Carla. Karena Carla sudah punya ke kuatan untuk mendesak Fasya. Jadi percuma.


"Apa pun syaratnya akan abang penuhi."


"Sebegitu cintanya Fasya dengan Carla, hingga tak berpikir dua kali," batin Saera sedih, mendapat kenyataan yang sesungguhnya.


Saera mengajukan tiga syarat pada Fasya, Syarat pertama. Hanya boleh nikah siri, syarat kedua. Rumah yang Fasya beli hadiah anniversary ke tiga belas balik nama atas nama Saera dan syarat ketiga. Tujuh puluh persen saham perusahaan menjadi milik Saera.


"Aku mau hari ini juga, kita ke notaris," ujar Saera mengakhiri kesepakatannya.


Tak ada pilihan lain, jika ingin pernikahannya dengan Carla berjalan lancar. Maka Fasya harus memenuhi permintaan Saera.


"Baiklah. Sekarang kita temui ke pengacara," ujar Fasya setuju.

__ADS_1


__ADS_2