Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Syarat Dari Saera


__ADS_3

Part 53


Akhirnya kesepakatan di buat, Saera dan Fasya menemui pangacara. Rumah yang baru dibeli balik nama atas Saera dan tujuh puluh persen saham perusahaan resmi menjadi milik Saera.


Selesai menandatangi pindahan nama dan kepemilikan saham. Fasya dan Saera berpisah. Saatnya mereka mengurus kerjaan masing-masing.


Saera menelepon supir pribadi, agar menjemput dan mengantarnya ke kantor. Sementara Fasya duduk di kursi tunggu. Sepersepuluh menit kemudian supir Saera datang, Saera pun pamit pergi. Setelah itu Fasya juga meluncur.


"Bos yakin dengan keputusan ini?" Tanya Roy yang menjadi saksi penyerahan saham tujuh puluh persen ke Saera.


"Itu syarat yang dipinta Saera," ujar Fasya seraya membuka pintu mobil dan duduk di samping Roy.


"Syarat? Syarat apa bos?" Tanya Roy yang tak tahu menahu tentang Carla. Roy menekan pedal gas dan meluncur.


"Carla hamil dan aku harus menikahinya," jawab Fasya mengagetkan Roy.


Cittt... Roy menginjak rem mendadak mendengar ucapan Fasya. Dia menepi dan menghentikan mobil, lalu menoleh ke arah Fasya.


"Apa! Bos menghamili anak gadis orang. Bagaimana bisa?"


Sambil menghela nafas, Fasya menelan salivanya kasar. Dia pun mencerita kronologi kejadian, dari awal berangkat ke Bali, hingga dia ketangkap basah oleh Saera sedang tidur dengan Carla.


"Gila! Bos! Sudah punya istri dua, malah anak gadis orang dihamili. Bos! Bos! Hebat! Bisa jadi alasan nambah istri lagi," Roy berdecak kagum, ilmu apa yang dipakai Fasya, hingga para cewek nempel padanya. Sementara Roy sampai saat ini, jangankan istri, kekasih saja belum punya.


"Apa maksudmu? Apa kamu tahu kalau Alesa itu istriku?" Tanya Fasya seraya menarik kerah baju Roy.


"Dari mana kamu tahu? Katakan padaku," ujar Fasya lagi semakin kuat mencengkram kerah baju Roy.


"Anu bos..." Roy tak meneruskan ucapannya.


"Duh... kenapa aku bisa keceplosan begini," batin Roy menyesal. Tapi semuanya sudah terlanjur. Dia harus mencari cara agar Burhan dan Alesa tidak di salahkan.


"Siapa yang memberitahumu."


"Lepas dulu. Bos! Aku tercekik tak bisa bicara," ujar Roy ngeles. Dia berpikir keras harus bicara apa.


Akhirnya Roy mengarang cerita, dengan mengatakan, pada malam itu di saat Fasya memintanya menemani Alesa. Roy melihat ponsel Alesa tertinggal di meja sofa, karena wallpaper ponselnya gambar Fasya, Roy jadi penasaran.


"Maaf bos. Karena penasaran, aku jadi lancang membuka ponsel Alesa yang kebetulan tak dikunci," ujar Roy seraya menarik nafas panjang baru meneruskan ucapannya.


"Dan di dalam ponsel itu..." Roy sengaja menggantung ucapannya.


"Apa yang ada di ponsel itu?" Tanya Fasya penasaran.


"Alesa menulis nama kontak bos dengan sebutan my love, aku semakin penasaran dan mencari tahu kenapa Alesa menyebut bos dengan panggilan my love, aku lalu ...." Roy kembali mengantung ucapannya, berpikir keras untuk melanjutkan kebohongannya.

__ADS_1


"Terus?" Tanya Fasya lagi.


"Aku membuka aplikasi whatsappnya dan membaca chat adik-adik Alesa, menanyakan tentang bos."


"Alesa bicara apa pada adik-adiknya?"


"Alesa bilang hidupnya bahagia, suaminya sangat sayang padanya, perhatian, baik hati, ke mana-mana diantar dan dijagain," ujar Roy mengarang. Pada hal semua itu Roy ucapkan untuk menyindir Fasya.


"Maafkan aku non Alesa." Batin Roy dalam hati.


Roy mengetahui semuanya dari cerita Alesa. Bahkan Roy juga tahu, kalau Saera memperlakukan Alesa seperti pembantu. Namun, Alesa menerimanya dengan ikhlas, satu-satunya yang Alesa inginkan bisa menyelesaikan kuliah dan mendapat pekerjaan.


"Apa Bos memcintai Non Alesa?" Tanya Roy mengalihkan pembicaraan.


Fasya menghela nafas lagi, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Roy. Karena dia sendiri tak mengerti dengan perasaannya. Jika dia bilang tidak, dia cemburu melihat Alesa dengan laki-laki lain. Entahlah.


"Apa bos mencintai gadis bercadar itu?" Tanya Roy lagi.


"Tidak! Aku menikahinya karena permintaan papa," jawab Fasya akhirnya. Karena di yakin dia hanya punya rasa kasian dengan Alesa. Bukan cinta.


"Tuan Malik maksudnya?"


"Iya, siapa lagi. Emang aku punya papa berapa?"


"Jadi bos tak memcintainya," batin Roy, tiba-tiba ada rasa bahagia menjalar di dada Roy. Wajah Alesa membayang di mata Roy.


"Apa kamu pernah bicara pada orang lain tentang hubunganku dengan Alesa?" Tanya Fasya seraya menoleh ke arah Roy.


"Tidak! Mana berani aku bicara ke orang-orang tanpa seinjin bos," ujar Roy tetap fokus menyetir.


"Apa kamu memberitahu Alesa. Jika kamu sudah tahu statusnya?" Tanya Fasya lagi, tumben Fasya sudah kayak wartawan saja.


"Tidak," jawab Roy lagi menutupi kebohongan demi kebohongan.


"Kenapa bos tak bisa mencintai Non Alesa. Dia cantik banget... Ups." Roy keceplosan lagi, segera dia menutup mulutnya dengan tangan.


Kali ini Fasya menatap Roy serius, bagaimana bisa Roy bicara begitu, karena Alesa selalu memakai niqab.


"Itu bos. Malam tadi saat aku mengantar bos pulang gara-gara mabuk. Waktu aku duduk di ruang tamu menunggu Saera keluar ingin pamit, tanpa sengaja melihat Alesa keluar dari kamar bos, tanpa niqab dan jilbab," jelas Roy seakan tahu jalan pikiran Fasya.


Sejurus Fasya mencerna ucapan Roy, mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam. Samar wajah Alesa membayang, yang dia ingat. Waktu Saera masuk dan menamparnya, dia melihat Alesa keluar sambil menangis, sementara niqab dan jilbabnya tergeletak di lantai.


"Apa malam itu, aku..." batin Fasya.


"Ah!" Fasya mengepal tinju tangan kanannya, lalu meninju tapak tangan kirinya.

__ADS_1


Malam itu, Fasya merasa sesuatu yang aneh di dalam minumannya. Dia menjadi candu, biasa dia hanya mau minum dua atau tiga gelas. Tapi malam itu tidak, Fasya seperti ingin menghabiskan semua isi botol bis itu. Semakin ditenggak semakin kering tenggorokan.


"Ada apa Bos!" Roy menatap ke arah Fasya.


"Malam itu. Aku hampir saja menodai Alesa," jawab Fasya gamang, gara-gara minuman keras itu, Fasya hilang kewarasannya.


"Apa! Jadi bos dan Alesa. Belum..." Roy tertawa gelak. Dia rasa tak percaya kalau Fasya membiarkan istri keduanya itu masih perawan.


Mendengar Roy tertawa. Fasya tertegun dan berpikiran apa ada yang salah dengan pernyataannya tadi. Tawa Roy semakin kencang saat menatap Fasya yang terlihat bego.


"Ada ya. Buaya di kasih daging nolak," ujar Roy lagi terkekah.


"Bisa saja kamu."


Bukkk.. Fasya melayangkan tinju ke bahu Roy, karena geram dia katai buaya sama Roy. kemudian Fasya pun jadi ikut tertawa.


"Sekarang kita ke mana. Bos?" Tanya Roy mengalihkan pembicaraan.


"Ke rumah Carla," ujar Fasya.


Mobil meluncur sesuai dengan petunjuk Fasya, hanya butuh dua puluh menit, mobil yang di kendarai Roy memasuki sebuah area klinik.


"Inikan klinik, Kenapa Fasya meminta ke sini?" Batin Roy seraya menatap sebuah plang yang bertulisan klinik bunda permai dr. Carla Pratiwi.


"Busyet. Jadi calon istri bos yang ke tiga, seorang dokter," batin Roy, semakin kagum pada Fasya, dalam peristrian Roy kalah banyak dengan Fasya. Begitu juga dengan karir, dari segi apa pun Roy tetap kalah dengan Fasya.


"Apa sebanyak itu tulang rusuk Fasya yang hilang. Sementara tulang rusukku tak ada yang patah," gumam Roy, karena sampai sekarang di belum ada tanda-tanda menemukan tulang rusuknya yang patah.


Begitu mobil di parkir, Fasya turun. Rasa penarasan membuat Roy ikut turun dan membuntuti ke mana Fasya, dia ingin sekali melihat rupa calon istri Fasya yang ke tiga.


"Kamu tunggu di sini ya. Aku masuk ke ruang Carla," ujar Fasya.


"Tidak bolehkah aku ikut masuk?"


"Tidak! Ini percakapan penting, tak ada orang luar yang boleh ikut campur," ujar Fasya lagi.


"Dan satu lagi. Aku tak percaya padamu, sebab kamu selalu keceplosan kalau bicara," lanjut Fasya.


Mendengar ucapan Fasya, Roy menarik nafas panjang. Gagal rencananya ingin melihat rupa calon istri Fasya yang ke tiga.


"Apa dia lebih cantik dari Alesa," batin Roy lagi.


Fasya masuk ke ruangan Carla. Sementara Roy duduk di ruang tunggu. Masih penasaran tingkat tinggi.


*****

__ADS_1


__ADS_2