Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Gagal Meting


__ADS_3

Part 64


Perlahan Carla membuka matanya, bibirnya bergetar karena menahan sakit.


"Perut sakit," lirih suara Carla hampir tak terdengar.


"Tunggu sebentar," ujar Fasya.


Fasya berlari keluar kamar, menuju dapur.


"Bik! Tolong buatkan teh dan bubur untuk Carla," titah Fasya.


Sri mengambil sebuah gelas dan mangkok, menuangkan air panas. Mengisi gelas dengan gula dan teh celup. Lalu menuang kemasan buryam ke dalam mangkok, mengaduk rata, setelah memberi bawang goreng, meletakkan gelas teh dan mangkok bubur ke dalam nampan, terus menyerahkan ke Fasya.


"Terima kasih," ujar Fasya.


Dengan langkah lebar. Fasya menuju kamar Carla seraya membawa nampan yang diterima dari Sri. Fasya meletakkan nampan itu di atas nakas.


Kepulan air teh dan buryam masih terlihat meliok-liok, Fasya membangunkan Carla, menunpukan punggungnya kesandaran tempat duduk. Fasya mengambil satu sendok teh, meniupnya berkali-kali, begitu yakin sudah tidak panas lagi, dia memberikan ke Carla.


Dalam sepuluh menit. Carla sudah menghabiskan satu gelas teh dan satu mangkok bubur, karena dia memang menahan lapar dari delapan jam yang lalu.


"Maaf ya. Tadi malam aku ketiduran, jadi lupa pesankan nasi uduk buatmu," ujar Fasya sambil meletakkan kembali mangkok yang sudah kosong ke dalam nampan.


"Kamu kenapa tadi malam meninggalkan ku sendirian. Kamu jahat Fasya." Mata Carla berkaca-kaca mengingat baru sehari berada di rumah suaminya. Dia sudah diperlakukan tidak baik oleh laki-laki yang dicintainya.


Melihat Carla menangis, Fasya menarik tubuhnya ke dalam pelukan, lalu mengusap-usap punggungnya. Tangisan Carla semakin kuat terdengar.


"Kenapa tadi malam tidak membangunkan ku. Jika kamu sakit."


"Saera mengusirku. Saat aku berusaha membangunkanmu." Adu carla.


"Saera melakukan itu padamu?" Carla mengangguk.


"Kamu harus beri pelajaran pada istrimu itu. Aku tak terima diperlakuan begitu," ujar Carla merengek dengan wajah cemberut.


"Sudah. Jangan menangis lagi, nanti aku bicara sama Saera," ujar Fasya seraya menyeka sisa air mata di pipi Carla.


Hati Carla senang, mendengar Fasya memenuhi permintaannya untuk memberi pelajaran pada Saera. Rasa tak sabar ingin melihat Saera dimaki dan diusir Fasya dari rumah ini.

__ADS_1


Dreet... Dreet... Dreet, ponsel Fasya bergetar, dari layar yang menyala tertera nama Burhan sebagai pemanggil.


"Assalamualaikum," sapa Burhan saat panggilan terhubung.


"Ada apa pak?" Tanya Fasya setelah menjawab salam Burhan.


"Pak Malik meminta pak Fasya ke kantor sekarang," ujar Burhan.


"Emang papa sudah pulan?"


"Iya, baru beberapa menit sampai di kantor." Burhan menjelaskan.


"Dan pak Malik meminta pak Fasya membawa non Alesa," ujar Burhan lagi.


Malik pergi ke Medan karena mengurus bisnisnya di sana. Sejak Fasya menikah dengan Alesa tiga bulan yang lalu, Malik berangkat ke sana.


"Baik pak Burhan, sebentar lagi aku meluncur ke sana."


Fasya menarik nafas pajang, lalu mematikan Panggilan telepon. Malik ingin bertemu dengan Alesa, apalagi yang ingin direncanakannya sekarang.


"Aku ikut menemui papa ya," celetuk Carla tiba-tiba.


Sejenak Fasya menatap istri ke tiganya itu. Dia belum tahu bagaimana reaksi Malik, jika tahu dia menikah lagi. Apakah Malik merestui atau malah marah.


Wajah Carla tambah cemberut, karena Fasya tak mengijinkanmya ikut. Carla dan Malik sudah saling kenal. Bahkan Carla sudah beberapa kali bertemu, seharusnya Fasya tidak usah takut membawanya ketemu Fasya, karena selama ini hubungan Carla dan Malik baik-baik saja.


"Kalau aku ikut pasti papa Malik tidak keberatan," ujar Carla lagi.


"Papa Malik, ingin ketemu Alesa. Papa pasti tidak suka jika aku membawa orang lain."


"Orang lain. Jadi kamu anggap aku orang lain," rajuk Carla.


"Tidak sayang! Maksud aku papa hanya ingin aku bersama Alesa. Jangan marah gitu." Fasya meraih kepala Carla dan mencium dahinya.


"Satu lagi. Jika kamu ikut keliaran, nanti ketemu sama papa Ibrahim, kan ketahuan kalau kita bohong sama dia," ujar Fasya lagi.


Setelah diutarakan berbagai alasan, akhirnya Carla mengalah.


"Kalau begitu. Kamu istirahat saja di kamar, kalau ada yang dibutuhkan bisa minta sama Sri."

__ADS_1


Carla hanya mengangguk. Walau pun sebenarnya dia masih kesal. Dia menatap punggung Fasya hingga menghilang di balik pintu.


Setelah bicara begitu, Fasya keluar kamar, menuju kamar Alesa. Tanpa mengetuk dulu, Fasya memutar handle dan memguakkan pintu kamar Alesa yang memang tidak terkunci.


Spontan Alesa menatap Fasya yang langsung masuk dan duduk di sampingnya.


"Kamu tidak ngampuskan hari ini?"


"Tidak," jawab Alesa sambil menggeleng. Jadwal kuliah dengan ibu Mahrita yang semalam dikensel hari ini pukul depan, malah dikensel lagi minggu depan.


"Terima..."


"Bersiaplah. Kita pergi ke kantor papa, ku tunggu sepuluh menit" ujar Fasya lalu keluar.


Alesa yang ingin mengucapkan terima kasih pada Fasya karena sudah membelikannya jilbab dan martabak semalam mengurungkan niatnya. Fasya sepertinya tidak ingin mendengar dia bicara.


Sepeninggalan Fasya, Alesa mematikan notebooknya, lalu mengambil handuk. Tak biasanya dia belum mandi jam segini, tadi niatnya mau menyelesaikan tugas dari pak Hudari. Karena besok di sudah mulai kerja menjadi asisten Adra.


Alesa masuk ke kamar mandi, menghidupkan shower dan membiarkan air mengguyur tubuhnya beberapa menit. Lima menit kemudian ritual mandinya pun selesai.


Beberapa baju sudah Alesa keluarkan, dia bingung mau pakai baju apa. Dia harus terlihat cantik, karena ini pertama kali dia berjumpa dengan papa mertua.


"Alesa! Apa kamu sudah siap?" teedengar ketukan dari pintu.


"Lima menit lagi," jawan Alesa.


Dia tersadar waktu lima menit telah dia habiskan, hanya untuk memilih baju apa yang akan dipakainya.


"Yang ini saja," batin Alesa, dia memakai gaun petak-petak hitam abu-abu, dipadukan dengan jilbab abu-abu.


"Semoga saja Fasya suka dengan penampilanku, karena jilbab yang dibelikannya semalam aku pakai," gumam Alesa seraya berdiri di depan cermin.


Setelah memastikan semuanya sudah rapi. Alesa meraih tas tangan dan ponselnya, sambil mencantolkan tas di bahu Alesa keluar kamar, bergegas menuju pintu utama dan langsung ke luar menuju mobil, Fasya sudah menunggu di sana.


"Lama betul dandannya. Ternyata biasa aja," celetuk Fasya saat Alesa sudah duduk di sampingnya.


Fasya mengira, kalau Alesa akan membula cadar dan memakai make up, dandan menor karena ingin berjumpa dengan papa mertua. Eh ternyata tidak, tidak ada yang berubah dengan penampilannya.


"Jadi apa saja dikerja selama lima belas menit," batin Fasya seraya menekan pedal gas, dan meluncur meninggalkan rumah, melaju ke jalan raya.

__ADS_1


Baru beberapa meter dia meninggalkan rumah. Burhan kembali menelepon, menanyakan apakah Fasya sudah berangkat, karena Malik akan kembali ke Medan penerbangan pukul empat sore.


"Buat apa papa pulang ke Riau, kalau hanya beberapa jam. Apa cuman ingin bertemu Alesa."


__ADS_2