Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kota Bertuah


__ADS_3

Part 9


Setelah Alesa berada di kota Pekanbaru. Di rumah Fasya.


***


Suasana hening, kala Alesa dan Saera sudah duduk di sebelah Fasya, tak ada yang memulai pembicaraa. Fasya sengaja menempatkan Alesa di sisi kiri dan Saera di sisi kanannya.


Saera dengan penampilan mini dress yang tipis dan tranparan, di atas paha dan tanpa lengan, seperti baju yang kekurangan bahan. Sementara Alesa dengan pakaian yang serba terturup, hanya matanya yang terlihat. Mereka berdua bagai langit dan bumi.


"Hay madu! Bagaimana cara kamu makan dengan berpakaian seperti ini. Aneh," ujar Saera mengejek Alesa sambil terkekeh.


"Iya. Sa! Kenapa tidak kamu buka saja niqabmu. Inikan di rumah," Fasya ikut menempeli ucapan Saera.


"Gimana makan coba, mulutnya ditutup," ujar Fasya lagi.


Mendengar ujaran Saera dan Fasya. Alesa menatap dirinya, tidak ada yang salah dengan pakaiannya, biasa saja. Alesa mengangkat kedua bahunya tanda tak perduli dengan omongan Suami istri itu.


"Dasar orang kampung," ejek Saera kembali terkekeh. Kali Fasya pun ikut terkekeh.


"Ya sudah sayang. Biarkan saja dia seperti itu, untuk apa kita pikirkan," kata Fasya lagi, dia ikut menatap aneh kearah Alesa.


Menu makan malam sudah terhidang dan tersusun rapi, menunggu dicomot dan disantap tuannya. Saera berdiri mengambil sendok dan memasukkan nasi ke piring Fasya. Alesa tak mau kalah dengan cekatan mengambil sepotong paha ayam goreng dan meletakkannya ke piring Fasya. Melihat perbuatan Alesa membuat Saera melotot.


"Singkirkan ayam itu. Lesa! Fasya elergi dengan ayam," ujar Saera meminta Alesa mengambil kembali ayam yang sudah diletakkannya di piring Fasya.


"Kamu harus banyak belajar dari Saera ya, agar tahu apa saja yang boleh kamu lakukan di rumah ini." ujar Fasya melirik ke arah Alesa.


"Baik." ujar Alesa mencomot potongan paha ayam dari piring Fasya


Alesa kembali duduk manis. Perlahan di singkap sedikit niqabnya. Namun masih menutupi separoh wajahnya. Alesa menggigit dan memakan ayam dari balik cadarnya. Bukan itu saja, Alesa malah menyantap bagian Saera. Sebenarnya Alesa juga tidak doyan ayam, dia hanya ingin membuat Saera emosi dan marah.


Saera menatap jijik melihat tingkah kampungan Alesa yang makan sesukanya. Seperti orang kelaparan yang tak pernah makan enak. Saera menelan kasar salivanya, selera makannya pun hilang. Bahkan saat dia ingin mengambil jus buah naga kesukaannya, Alesa menyambarnya lebih dulu. Pada hal Alesa sudah menghabiskan satu gelas.


"Hay! Itu jatah aku," ujar Saera melotot.


Dengan cekatan Alesa berdiri dan menghindar dari jangkauan Saera. Dia pun memasukkan gelas jus ke mulutnya dengan cara menyingkap niqabnya dan memutar tubuhnya berbalik membelakangi Fasya dan Saera.


Glek... Glek... Alesa menenggak gelas berisi jus hingga tandas. Setelah itu, dia memutar tubuhnya kembali ke posisi semula.


"Maaf. Sudah habis," ujar Alesa santai sambil membalikkan gelas jus, menandatakan kalau jusnya habis sampai tetes terakhir, dari balik cadar Alesa tersenyum. Dia merasa puas untuk hari ini bisa membuat istri pertama Fasya kesal.


"Aghhh. Ah kenyang," ujar Alesa menutup mulutnya yang mengeluarkan bunyi kekenyangan.


Fasya yang melihat kelakuan Alesa malah tersenyum geli. Dia merasa kalau Alesa masih kekanak-kanakan. Mungkin karena Alesa baru saja menamatkan SMA, jadi wajar kalau dia belum sedewasa Saera yang sudah berusia 34 tahun. Fasya merasa terhibur dengan kelakuan Alesa yang masih lugu dan polos itu.


"Dasar kampungan," dengus Saera lagi kesal.

__ADS_1


"Mau lagi?" Fasya tidak memperdulikan kekesalan istri pertamanya. Dia berdiri dari duduknya dan menyodorkan jus jeruk miliknya ke Alesa.


Alesa memasang wajah paling manis ke arah Fasya, kepalanya mengangguk, sebenarnya Alesa tidak doyan jus jeruk. Tapi dia tidak boleh melewatkan kesempatan ini.


"Mau," ujar Alesa sambil menyodorkan tangannya ingin menggapai gelas dari tangan Fasya.


Mata Saera membola menatap ke arah Fasya, lalu menyambar gelas jus jeruk di tangan Fasya dengan cepat dan kasar, hingga gelas itu berpindah padanya. Semakin mendidih emosi Saera kala melihat Fasya sama sekali tak terganggu dengan kelakuan kampungan Alesa.


"Kamu mau sayang? Bukannya kamu tidak suka jeruk?" ujar Fasya bertanya, seraya menatap wajah Saera yang terlihat sangat kesal.


Mendengar pertanyaan Fasya, Saera tambah geram. Dia mengepal kedua tangannya, dengan geraham mengeras. Bisa-bisanya Fasya menganggap kelakuan Alesa yang memalukan itu biasa saja.


"Ya sudah. Jika kamu mau yang itu, biar Alesa di buatkan bibik saja," ujar Fasya lagi.


"Kalau Saera mau, biar saja. Bang! Alesa nggak apa-apa kok," ucap Alesa seraya melirik nakal pada Saera.


"Apa? Anak kecil ini memanggil ku. Saera. Dia harus ku beri pelajaran," batin Saera.


Byur....Saera menyiramkan jus jeruk itu ke arah Alesa. Namun gagal. Jus jeruk itu malah tumpah ke wajah Fasya, karena saat Saera menujukan siraman ke wajahnya. Alesa mengelak dan mendorong tubuh Fasya kedepan, hingga melindungi tubuhnya, dia pun selamat dari amukan Saera.


Ingin rasanya Alesa terkekeh saat melihat wajah laki-laki yang sudah bergelar suami itu berubah warna. Namun, cepat-cepat Alesa membekap cadarnya, agar suara tawanya tertahan.


Dengan tangan kanan Fasya menyeka wajahnya. Dia menarik napas dengan kasar lalu menatap ke arah Saera. Namun kekesalannya dialihkan ke Alesa.


"Alesa!" teriak Fasya, tatapannya berpindah pada Alesa.


Tentu saja Alesa terkejut. Secepat kilat dia menyambar beberapa lembar tissu, lalu menyeka wajah Fasya. Wajah yang berlumuran dengan jus jeruk itu, mirip gunung meletus yang sedsng mengeluarkan lava.


"Ma-maaf! Aku tidak sengaja mendorong abang," ucap Alesa seraya menggigit bibir bawahnya yang gemetar, karena selama ini dia tak pernah mendapat bentakan dari siapa pun.


"Menjauh!" Tiba-tiba Saera menarik tangan Alesa lalu mendorongnya, agar menjauh dari Fasya. Saera tidak akan memberikan peluang pada Alesa mencari-cari kesempatan mendekati suaminya. Fasya hanya miliknya seorang, walaupun Fasya sudah menikahi gadis kampung itu.


"Sayang! Maaf! Aku mau menyiram gadis kampungan itu. Tapi dia mendorongmu," ujar Saera seraya ikut menyeka lembut pipi Fasya dari sisa jus jeruk yang masih menempel.


"Sayang! Abang tidak apa-apa kok, kamu nggak salah. Dia yang salah, kerena mendorong abang." ujar Fasya menatap intens ke arah Alesa.


"I-iya. Maaf," balas Alesa.


"Maaf! Maaf.... Dasar kampungan," ucap Saera sambil mengerucutkan bibirnya mencibir.


"Sudahlah sayang," Fasya berusaha menenangkan suasana.


"Tidak usah buang waktu urusi anak kecil itu. Nanti kamu ajari dia bagaimana bersopan santun, usianya saja baru delapan belas tahun lebih beberapa bulan, jadi wajarlah kalau dia belum mengerti banyak hal," ujar Fasya lagi, mencoba membuat Saera mengerti. Fasya juga tidak sedang membela Alesa, dia hanya tidak ingin Alesa merasa tidak nyaman dan kemudian minta di atar balik ke kampung.


Mendengar ungkapan Fasya, Saera semakin membenci Alesa. Dia takut kalau Fasya terus saja membela Alesa, lama kelamaan Alesa jadi besar kepala dan akan berani padanya. Saera tidak akan membiarkan itu terjadi, dia harus bisa membuat Fasya membenci gadis bercadar itu dan memulangkannya kembali ke Tembilahan.


"Sekarang kalian berbaikan ya," Fasya meraih tangan kedua istrinya, merangkum dalam satu genggaman. Namun keduanya secara kasar menarik tangannya masing-masing.

__ADS_1


"Alesa! Minta maaf pada Saera!" titah Fasya.


Sejenak Alesa mendongakkan dagunya menatap ke arah Fasya, apa tidak salah Fasya menyuruhnya meminta maaf, yang salah itu Saera bukan dia.


"Minta maaf atau kamu keluar dari rumah, malam ini juga," ancam Fasya saat melihat Alesha bergeming.


Keluar dari rumah ini, sebenarnya tak ada masalah bagi Alesa, hanya saja sekarang dia tidak tahu harus ke mana dan kota Pekanbaru pun masih terlalu asing baginya. Tentu diluar sana tidak aman buat gadis seperti dia. Selain itu dia juga tidak punya uang sepeserpun.


"Ayok! minta maaf," ulang Fasya seraya menyenggol bahu Alesa.


"I-iya... Aku minta maaf," ujar Alesa menyodorkan tangannya ke arah Saera. Tangan Alesa terlihat gemater.


"Aku akan memaafkanmu. Tapi dengan syarat," Saera tidak menerima uluran tangan Alesha. Dia melipat kedua tangannya di dada. Ini kesempatan Saera untuk membuat perhitungan pada istri kedua Fasya.


"Baiklah, aku menerima syaratnya," ucap Alesa.


"Syaratnya. Mulai besok semua pekerjaan rumah kamu yang bereskan dan satu lagi panggil aku nyonya."


"Saera! kau..."


"Abang tidak usah ikut campur, biar aku yang ajari dia supaya bisa jadi istri abang benar," sela Saera sebelum Fasya selesai bicara.


"Tapi Saera..."


"Saera lagi, bukannya tadi aku sudah bilang panggil aku nyonya." Saera emosi kala mendengar Alesa memanggil namanya.


"I-iya nyonya, mulai besok saya akan mengerjakan semua pekerjaan rumah."


"Bagus! kamu tidak boleh membantah perintahku," ujar Saera lagi menohokkan telunjuknya ke bahu Alesa.


Terlihat sekali kalau Saera sangat tidak memyukai keberadaan Alesa. Fasya merengkuh bahu Saera dan mengalihkan pembicaraan. Fasya tidak ingin melihat Saera tambah kesal karena keberadaan Alesa.


"Sayang! ayok kita lanjutkan makannya," ujar Fasya sambil melirik piring makan Saera yang luaknya cuman tiga sendok.


"Aku sudah tak selera. Bang," ujar Saera bergelayut manja di lengan kekar Fasya.


"Biar Abang suapin. Pasti selera lagi," pujuk Fasya.


Melihat kemesraan Fasya dan Saera. Alesa membuang muka, saat menyadari dia tak dibutuhkan lagi. Alesa bergegas memutar tubuhnya beranjak menjauh dari Saera dan Fasya.


"Mau ke mana?" tanya Saera, kala melihat Alesa memutar tubuhnya.


Pertanyaan Saera menghentikan langkah Alesa, dia kembali ke posisi awal, menatap Fasya dan Saera bergantian.


"Ke kamar," jawab Alesa ragu.


"Enak saja. Tunggu di sini sampai kami selesai makan," ujar Saera mendelek ke arah Alesa.

__ADS_1


"Hah!"


Bersambung


__ADS_2