Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kampus


__ADS_3

Part 11


Tok


Tok


Tok


Alesha terbangun gara-gara ketukan di pintu, seraya mengucel-ngucel matanya, dia melirik jam dinding baru menunjukkan pukul empat tiga puluh menit. Siapa yang membangunkannya sesubuh ini. Sri atau Saera.


Setangah malas Alesa bangkit dari tempat tidur, mengambil niqab di atas nakas dan memasangnya. Lalu melangkahkan kaki ke arah pintu, memutar anak kunci dan menguakkan daun pintu.


"Abang!" Alesa terkejut saat melihat sosok Fasya berdiri tegak di depan pintu, perkiraannya meleset.


"Ini untukmu. Jangan sampai Saera tahu kalau hape ini aku yang kasih," ujar Fasya menyodorkan sebuah hape merek samsung keluaran terbaru.


Antara percaya dan tidak, Alesa menerimanya dengan senang. Dia pun mengucapkan terima kasih sebelum Fasya menghilang pergi menjauh.


"Ternyata Fasya baik banget," ucap Alesa mendekap ponsel barunya.


Dengan hati berdebar, Alesa membuka kotak persegi panjang itu, sebuah benda pipih dikeluarkannya. Mata Alesa membulat, karena hape yang pernah jadi impiannya kini jadi kenyataan.


"Ya Allah terima kasih. Engkau telah mengirim orang baik untukku," ujar Alesa bersujud.


Dasar lebay. Alesa memeluk dan menciumi hape barunya berkali-kali. Tiba-tiba saja dia membayangkan Fasya yang sedang dipeluknya.


"Hehehe, apa aku cewek matre. Baru di kasih hape saja senangnya sudah selangit," batin Alesa merasa gila.


Suara azan subuh menyadarkan Alesa dari kesenangannya. Dia bergegas ke kamar mandi membersihkan diri dan berwudhu. Setelah menunaikan shalat, dia memasukkan nomor kontak ke hapenya baru. Lalu beranjak ke dapur untuk menunaikan tugasnya mengerjakan pekerjaan rumah.


"Aku harus melakukan semua tugasku, agar kuliahku bisa lancar, dan bisa segera pergi dari rumah ini," batin Alesa.


"Non! sudah bangun," sapa Sri saat melihat Alesa.


"Iya. Bik! Bibik sudah lama bangunnya?"


"Baru juga. Non!"


"Alesa bantu ya. Bik!"


"Nggak usah. Non!"


Sri merasa tidak enak, jika memperkerjakan Alesa. Karena dia tahu kalau Alesa istri muda Fasya. Semalam waktu Alesa didamprat Saera, sekilas Sri mendengar kalau Saera menyebutnya pelakor. Itu artinya Alesa nyonya kedua di rumah ini.


"Bik! Kasih tahu aku masakan kesukaan Saera dan Fasya."


"Kalau nyonya Saera sukanya cumi pedas rica-rica, pak Fasya gurami saos asam pedas." ujar Sri menjelaskan.


Setelah mendapat info dari Sri. Alesa membuka kulkas, mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan, kebetulan gurami dan cumi pun ada. Alesha mulai meracik bumbu-bumbu dibantu Sri.


Serrr.... Terdengar bunyi masakan Alesa. Aromanya membumbung, dan pastinya menggoda siapa saja yang menciumnya dan akan berminat mencicipinya.

__ADS_1


"Non! Seperti koki internasional, pintar dan cekatan sekali masaknya," puji Sri.


"Di kampung aku jadi tukang masak di rumah. Jika liburan atau hari minggu membantu umi memasak di warung ibu Dahlia." ujar Alesa sambil terus memainkan sendok penggorengan.


Setiap subuh Alesa membantu umi memasak untuk sarapan, selain itu umi Asiah juga sering ambil orderan pesanan tetangga untuk syukuran kecil-kecilan. Warga di sekitar rumah Alesa sangat menyukai masakan nasi kuning atau nasi merah Asiah.


Biasanya kalau Asiah lagi dapat job. Alesa akan kebagian memasak ayam tomat, temannya nasi kuning dan nasi merah. Sesekali dia juga kebagian memasak sop dan gulai nangka muda untuk kuah lontong. Jadi soal masak-memasak kepandaian Alesa tidak diragukan lagi.


Menu cumi pedas rica-rida dan gurami asam pedas sudah selesai. Alesa meminta Sri untuk menghidangkan di atas meja, sementara dia masuk ke kamar untuk mandi dan berpakaian.


Fasya dan Saera yang sudah berpakaian rapi dengan stelan kantor keluar dari kamar menuju meja makan. Saat melihat menu yang tersusun rapi di atas meja, mereka berdua pun langsung makan dengan lahapnya.


"Menu cumi rica-ricanya pas banget, pedasnya nendang." puji Saera seraya menikmati.


"Guraminya juga enak. Coba dech sayang, kamu cicip," Fasya mencungkil daging gurami, lalu menyuapi Saera.


"Bagaimana?"


"Enak. Lebih enak dari biasanya."


Sri yang dari tadi mendengar percakapan majikannya hanya diam, tak memberi komentar sedikit pun, karena nyonya Saera sangat tidak suka asisten rumah tangga nyeletuk kalau tidak diminta pendapat.


"Bik! panggil Alesa. Bilang padanya ditunggu di meja makan."


"Baik. Pak!" Sri bergegas menuju kamar Alesa.


Seperlima menit Alesa pun keluar dari kamar dengan pakaian rapi.


"Eh... siapa yang suruh kamu duduk di situ," Saera mengusir Alesa yang mau mendudukkan bokongnya ke kursi di samping Fasya.


"Ambil nasimu dan duduk di sana." ucap Saera sambil menunjuk ubin lantai.


Alesa mengikuti perintah Saera, dia mengambil nasi dan lauk seadanya, kemudian duduk bersila di lantai. Bagi Alesa makan duduk di lantai bukan masalah, dia sudah biasa begitu. Alesa pun menghabis makannya dengan santai.


"Aleha! tolong ambil tak aku di ruang kerja." ujar Fasya seraya melangkah keluar.


Sementara Saera sudah berangkat diantar supir pribadinya, karena arah kantor Fasya berlawanan, makanya Fasya menyiapkan supir pribadi untuk istrinya. Sebenarnya Saera bukan tidak bisa membawa mobil sendiri. Alasan Fasya mencari supir pribadi untuk Saera karena dia tidak ingin Saera merasa capek setelah seharian bekerja.


Saera bekerja di sebuah perusahan bonafit yang bergerak di bidang eksplorasi, transmisi serta produksi minyak dan gas. Di sana Saera menduduki jabatan sekretaris direktur dan sering melakukan perjalanan dinas keluar kota, seperti hari ini Saera akan pergi ke Singapore untuk dua minggu ke depan.


"Alesa! Cepat! abang udah telat nih," teriak Fasya yang sudah menunggu di dalam mobil.


Setengah berlari Alesa keluar dari rumah sambil menenteng tas kerja Fasya. Alesa menarik handle pintu depan mobil. Namun, gerakannya tertahan saat Fasya memintanya duduk di kursi belakang.


"Siapa juga yang mau ikut mobil abang, aku cuman mau menaroh ini," ujar Alesa meletakkan tas kerja Fasya.


"Minta uang jajan dan uang gojek," Alesa menengadahkan tapak tangannya ke arah Fasya.


"Kamu mau pergi pakai gojek?"


"Iya. Sekalian minta alamat kampusnya."

__ADS_1


"Nggak! ini hari pertama kamu. Masuk cepatan," titah Fasya.


"Tapi..." Alesa ragu ingin meneruskan ucapannya.


"Tapi kenapa?"


"Aku takut mabuk," jawab Alesa polos.


Sambil geleng kepala tak jelas Fasya mentertawakan Alesa.


"Dasar kampungan," batinnya, lalu meminta Alesa duduk di sampingnya. Alesa pun menurut, tak ada pilihan selain ikut sama Fasya, karena sekarang dia tak pegang uang satu sen pun. Malamg benar nasibmu. Alesa!


Mobil bergerak meninggalkan rumah Fasya, melaju ke jalan raya. Sementara pandangan Fasya lurus ke depan dan fokus menyetir. Alesa juga demikian, dia menatap dan mengingat setiap ruas jalan yang dilewati. Maklum di pertama kali Alesa menginjakkan kaki ke kota Pekanbaru.


Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Fasya berhenti disebuah pintu gerbang.


"Turun! kamu sudah sampai, kamu bisa jalan kaki masuk ke dalam dan bawa berkas ini, serahkan pada orang yang ada di kartu nama ini." titah Fasya sambil menyodor sebuah map dan kartu nama.


"Siapa dia?"


"Kamu tidak perlu tahu, cukup sampaikan saja berkas di map itu."


"Dan ini uang jajan kamu hari ini. Dan ingat! Jangan pulang sebelum ku jemput," ujar Fasya lagi sambil menyodorkan uang seratus ribu dua lembar.


"Ini uang untuk jajan semua?" tanya Alesa tak percaya, karena umi Asiah memberinya jajan satu hari cuman sepuluh ribu.


"Iya! itu jatah jajanmu untuk satu hari."


"Terima kasih," ucap Alesa seraya meraih tangan Fasya mencium punggung tangannya, lalu keluar dari mobil dengan girang. Begitu Alesa ke luar, Fasya pun meluncur meninggal Alesha.


"Kalau setiap hari aku di kasih uang dua ratus ribu, sebulan aku bisa punya uang enam juta," gumam Alesha seraya menatap lembaran merah yang masih berada di genggaman tangannya.


Tit... Tit...


Alesa terkejut saat mendengar bunyi kelakson mobil di samping telinganya, hingga uang kertas yang dipegangnya terjatuh tepat di depan mobil yang tadi hampir menyerempetnya.


Alesa tidak memperdulikan mobil dan pengemudi avanza itu, dengan santai dia berjongkok dan memungut uangnya. Tentu saja kelakuan Alesa membuat si pemilik Avanza abu-abu itu emosi dan membuka kaca jendela.


"Hay kamu!" teriak si pemilik avanza saat melihat Alesa menjauh dengan melangkahkan kaki lebar-lebar. Dia tidak ingin berurusan dengan orang kaya, dan itu pasti merepotkannya.


Seperdetik kemudian avanza abu-abu itu menyusul dan berhenti tepat di depannya. Sang pemilik membuka pintu dan turun, lalu melangkah ke arah Alesa.


"Mati aku," batin Alesa.


Alesa menatap langkah kaki yang memakai Loafers shoes warna hitam itu semakin mendekat ke arahnya dan berhenti satu meter di depannya. Alesa tidak berani mengangkat kepalanya. Dia belum siap melihat wajah sangar yang akan membentak dan marah-marah padanya.


Sedetik, dua detik, hingga beberapa detik Alesa menunggu. Namun tak sepatah pun pemilik avanza itu mengeluarkan kata-kata. Karena penasaran kenapa orang yang berdir dihadapannya tidak mengeluarkan ucapan makian, perlahan Alesa mengangkat wajahnya.


"Bambang! Apa aku bermimpi," batin Alesa mencibut lengannya.


"Au sakit," ucap Alesa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2