
Part 6
"Saera angkat sayang."
Berkali dirijek. Fasya tak berputus asa, dia tetap mencoba menghubungi Saera, hingga batrai ponselnya habis. Sialnya lagi Fasya tidak membawa cagher, karena perginya tadi dadakan.
"Pak! Bisa pinjan cagher ponselnya." Fasya mengusik keseriusan Burhan menyetir. Burhan membuka laci dasbor mengambil cas ponsel dan memberikannya pada Fasya.
Fasya menerima cagher dari Burhan. Namun malangnya cas ponsel Burhan tidak cocok ke ponselnya. Apes dech! Fasya berdecak kesal.
"Kenapa. Bos?"
"Tidak cocok."
"Yang benar! Sini biar saya coba," ujar Burhan menepikan mobil, dia penasaran, biasanya semua ponsel bisa memakai caghernya. Berkali Burhan mencoba, tetap gagal dan akhirnya menyerah.
"Kita cari saja nanti di depan, Bos! Banyak yang jual," ucap Burhan seraya menekan pedal gas, dan meluncur kembali melanjutkan perjalanan.
Sambil menyandarkan kepalanya ke kursi, Fasya mendengarkan tembang lawas yang diputar Burhan. Tanpa sadar Fasya memejamkan mata dan tertidur pulas, hingga dia melupakan ponsel dan caghernya.
Sementara Saera yang baru sampai ke rumah, langsung ke kamar mencari Fasya. Begitu mencari di segala sudut tidak ditemukannya sosok Fasya. Saera keluar kamar menuju dapur.
"Bik! Apa bapak belum pulang?"
"Kayaknya belum. Nyah!"
"Dari tadi pagi?" Saera mengulangi pertanyaannya. Tak biasanya Fasya tidak pulang dan tidak mengabarinya hingga sesore ini.
Saera kembali ke kamar, mengambil tas tangan yang tergeletak di atas nakas. Merogoh tas dan mengambil ponselnya. Saat dicek ternyata ponselnya mati. Saera beranjak mengambil cagher.
Begitu ponsel menyala. Saera melihat beberapa notifikasi panggilan tidak terjawab dari Fasya. Saera menggeser gagang telepon berwarna hijau, menelepon Fasya tapi ponsel Fasya tidak aktif.
"Kenapa Fasya mematikan ponselnya? Ke mana dia?"
Saera kembali menggulir layar ponselnya, masuk ke media sosial, mengecek akun facebook dan istagram Fasya, tidak ada yang baru, statusnya masih yang lama, status seminggu yang lalu. Saera beralih ke akun tiktok, sama juga masih status lama.
"Ke mana Fasya?" tanya Saera membatin dia mulai kesal.
Sambil menggulir layar ponselnya Saera mencari nomor kontak kantor Fasya. Lalu melirik jam di pergelangannya, sudah menunjukkan pukul lima lewat lima belas menit.
"Semoga saja Dea masih di kantor," batin Saera.
"Hallo! Bisa bicara sama pak Fasya," ujar Saera begitu sambungan telepon terhubung.
"Maaf nyonya, pak Fasya lagi dinas luar kota," jawab Dea sekretaris Fasya.
"Dinas luar kota. Ke mana?"
"Saya tidak tahu. nyah!" jawab Dea.
"Dasar sekretaris bodoh, masa kamu tidak tahu bosmu pergi ke mana," gerutu Saera.
Mendengar ucapan istri Fasya. Dea hanya memcebik, dia sudah biasa di maki-maki istri bosnya itu. Dea tahu persis bagaimana perangai Saera yang sebenarnya.
"Tadi pagi pak Fasya hanya mengabari, kalau dia pergi ke rumah sakit tempat pak Malik dirawat." ujar Dea lagi, lalu menutup teleponnya, dia tidak ingin mendengar suara wanita judes itu lagi.
"Dasar sekretaris belagu," umpat Saera, begitu mengetahui Dea memutuskan panggilan telepon. Dea selalu begitu, tak ada sopan santun, menutup telepon sesukanya. Membuat emosi Saera meletup-letup.
Dulu, Saera pernah meminta Fasya agar memecat sekretarisnya itu. Tapi situa bangka Malik malah memarahi Fasya dengan mengancamnya, akan menurunkan jabatan Fasya, jika memecat wanita menyebalkan itu.
Seraya menarik nafas panjang, Saera menatap layar ponsel, berharap Fasya menghubunginya. Semenit, dua menit, lima menit belum ada tanda-tanda ponselnya berdering.
"Apa sebaiknya kuhubungi rumah sakit saja," batin Saera.
Saera menghubungi suster Ida, asisten dokter Irvan. Saera dapat jawaban yang mengecewakan. Kalau Fasya sudah pergi dari rumah sakit lima jam yang lalu.
"Kemana Fasya? Kenapa dia tidak pulang ke rumah?" beberapa pertanyaan muncul di kepala Saera, karena tak biasanya Fasya seperti ini.
"Awas saja kalau dia pulang nanti," batin Saera.
Saera melanjutkan pembicaraan dengan suster Ida, menanyakan keadaan papa mertuanya. Dari jawaban suster Ida, kalau kesehatan Malik sudah membaik, dan bahkan dia sudah kembali ke rumah.
__ADS_1
"Apa Fasya pulang ke rumah papanya. Dan situa bangka itu meminta menemaninya, hingga ponsel pun tak boleh diaktifkan. Tunggu saja pembalasanku Malik," gumam Saera geram sambil mengepal tinjunya.
Sementara Fasya dan Burhan sudah memasuki kota Tembilahan. Fasya menatap arloji di tangannya, sudah menunjuukkan pukul delapan malam.
"Apa kita cari penginapan. Bos?" Tanya Burhan.
"Kita cari alamat ini dulu," ujar Fasya menunjukkan alamat yang tertera di belakang sebuah foto yang tadi di serahkan Roy.
Burhan menepikan mobilnya, kemudian bertanya pada seorang laki-laki yang masih menjajakan jualannya.
"Dari sini lurus, di depan ada jembatan belok kiri," ujar laki-laki itu memberikan arahan.
Burhan memacu mobilnya sesuai penjelasan bapak pedagang asongan tadi, sambil matanya menatap mencari nama gang yang tertera di alamat itu. Setelah menemukan Burhan membelokkan mobilnya dan masuk ke jalan gang yang sedikit sempit.
"Permisi pak! Apa bapak kenal dengan orang yang ada difoto ini?" Burhan menyodorkan foto itu.
"Ini Abdurrahman guru TPA di sini. Saya mengenalnya dan gadis bercadar ini putrinya." Jawab laki-laki.
"Kalau boleh tahu rumahnya yang mana ya?" Tanya Burhan lagi.
"Itu rumahnya pak, yang paling ujung." Laki-laki menunjuk dengan ibu jarinya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Burhan kembali menjalankan mobilnya menuju rumah yang paling ujung. Begitu mobil di parkir, Fasya dan Burhan turun.
Tok
Tok
Tok
Fasya mengetuk pintu yang terbuat dari papan dan tertutup rapat. Terdengar langkah kaki mendekat, seorang remaja putra tanggung muncul di depan pintu.
"Dek! Apa benar ini rumah bapak yang ada di foto ini?" Tanya Fasya sambil menyodorkan selembar foto pada anak laki-laki yang berdiri di depan pintu.
"Iya benar," remaja tanggung itu menjawab.
"Ini fota abiku Abdurrahman dan ini foto kakakku. Alesha namanya," jelas remaja itu lagi memperkenalkan.
"Bisakah saya bertemu dengan abimu?"
"Siapa dek?" Tiba-tiba seorang gadis bercadar keluar.
Fasya menoleh kearah gadis bercadar itu dan memastikan kalau dialah gadis yang bernama Alesha itu.
"Oh ada tamu. Kenapa tamunya tidak disuruh masuk. Dek!" Kata Alesha sambil menguakkan daun pintu lebih lebar lagi.
"Maaf kami bertamu malam-malam," sapa Fasya.
"Silahkan masuk. Saya akan panggilkan abi dan umi," ujar Alesa lalu masuk ke dalam diikuti adiknya.
Sepeninggalan Alesa. Fasya memindai ruang tamu, di situ hanya ada sepasang kursi yang terlihat sudah sangat usang. Dan di dinding sebelah kiri tergantung sebuah foto keluarga hitam putih. Di sebelah kanannya ada sebuah meja kacil di atas tergeletak televisi model sembilan puluhan. Tak ada yang istimewa menurut Fasya.
Seperlima menit kemudian keluar seorang wanita, tangan kanannya menggendong seorang anak perempuan yang masih balita, dan tangan kirinya menggamit lengan laki-laki yang sedang terbatuk-batuk.
"Selamat malam bapak dan ibu," sapa Fasya ramah.
Sepasang suami itu tidak menjawab sapaan Fasya. Mereka berdua malah saling pandang, lalu menatap tamunya dari atas turun ke bawa. Karena tidak mengenali tamunya.
"Silakan duduk. Nak! Maaf rumah saya terlihat usang dan berdebu," ujar laki-laki itu tersadar dan meminta Fasya duduk di kursi.
"Biar saya duduk di bawah saja. Pak," ujar Fasya.
Tidak mungkin Fasya duduk di kursi bersama Burhan, sementara kursinya cuman ada dua buah.Tentu sangat tidak pantas, kalau Fasya duduk di atas dan tuan rumah duduk di bawah.
Sekilas Fasya menatap laki-laki tua seumuran papanya itu. Laki-laki itu mirip sekali dengan laki-laki di foto yang diberikan papanya.
"Tidak salah lagi, dialah laki-laki itu," gumam Fasya.
"Dan gadis bercadar itu. Pasti dia yang dimaksud papa," batin Fasya lagi.
"Maaf. Apakah bapak yang bernama Abdurrahman?" Tanya Fasya memastikan serta menyalami laki-laki itu. Laki-laki tua itu mengangguk dan menerima uluran tangan Fasya.
__ADS_1
"Alesa! Bentang tikar. Nak," teriak ibunya memanggil Alesa.
Gadis bercadar itu membawa tikar yang terbuat dari plastik, dengan lebar dua kali dua meter. Setelah dibentang, Alesa menyilakan tamunya duduk. Kemudian Alesa masuk ke dapur dan kembali lagi dengan dua gelas teh hangat. Setelah meletakkan gelas teh, Alesa mengambil adik bungsunya yang berada di pangkuan umi Asiah dan membawa masuk ke dalam kamar.
"Silakan di minum, hanya itu yang bisa kami suguhkan," ujar abi Alesa.
"Apakah anak berdua ini yang akan membeli rumah saya?" Tanya Abdurrahman.
Fasya dan Burhan saling berpandangan kala mendengar pertanyaan laki-laki itu.
"Kenapa bapak ingin menjual rumah ini?" Fasya balik bertanya.
"Saya ingin berobat, saya ingin sembuh, saya tidak mau mati, kasian anak-anak saya masih butuh saya," ujar Abdurrahman dengan mata berkaca-kaca.
"Jika bapak menjual rumah ini, istri dan anak-anak bapak akan tinggal di mana?"
"Saya akan mencari kontrakan murah buat mereka dari sisa uang penjualan rumah ini," ujar Abdurrahman lagi.
Mata Fasya memindai dari sudut kesudut rumah itu. Dia mengira-ngira berapa rumah ini pantas dihargai.
"Tapi saya tidak tertarik dengan rumah ini," ujar Fasya berlagak.
"Tolonglah. Nak! Suami saya sangat membutuhkan uang itu. Kata dokter jika suami saya tidak menjalani operasi dalam tiga bulan ini. Nyawanya tak bisa tertolong lagi." Istri Abdurrahman ikut menyela.
Mata wanita itu mulai berlinang, dia tidak bisa membayangkan bagaimana menafkahi anak-anaknya, jika suami tiada. Tak ada jalan lain selain menjual rumah yang sudah dua puluh tahun di tempatinya. Dia sudah mencoba mencari pinjaman. Namun, tak ada saudara yang mau meminjamkan uang sebanyak itu.
"Iya. Nak! Tolonglah saya, saya butuh uang penjualan rumah ini, untuk mengobati paru-paru saya yang bocar," kali ini Abdurrahman menangkupkan kedua tangan ke dada memohon kemurahan hati Fasya.
Helaan nafas panjang dikeluarkan Fasya, sebenarnya dia tak butuh rumah buruk ini, dia hanya ingin menikahi anak gadis Abdurrahman.
"Baik saya akan membeli rumah ini seharga dua puluh juta." ujar Fasya.
"Dua puluh juta? Saya butuh lima puluh juta untuk operasi. Nak." Ujar Abdurrahman lagi, kalau hanya dihargai dua puluh, ke mana lagi dia mencari kekurangannya.
"Lima puluh juta terlalu mahal. Pak! Tapi... saya bisa membelinya dengan harga seratus juta dengan satu syarat."
"Apa syaratnya akan saya penuhi," ucap Abdurrahman dengan antusias.
Mendengar penawaran seratus juta. Tentu saja Andurrahman senang, karena masih ada sisa lima puluh juta, dengan uang segitu dia bisa mengontrok rumah untuk istri dan anaknya setelah rumah ini terjual.
"Syaratnya putri bapak mau menjadi istri kedua saya" ucap Fasya menatap laki-laki di depannya.
Seketika wajah laki-laki itu menegang, dia tidak menduga kalau tamunya menyukai Alesa putrinya. Andurrahman dan Asiah saling berpandangan.
"Nak..."
"Fasya! Nama saya Fasya," ujar Fasya mengenalkan diri, karena dari tadi dia belum menyebut namanya.
"I-iya! Apa Nak Fasya serius ingin menjadikan putri saya istri kedua?"
"Iya. Itu kalau bapak restu, kalau tidak juga tidak apa-apa. Berarti rumah ini tidak jadi saya beli."
"Tapi putri saya masih dibawah umur, usianya baru delepan belas tahun, beberapa bulan."
"Saya akan menikahi Alesa secara siri," ujar Fasya dia tahu ke mana arah pembicaraan Abdurrahman.
"Nikah siri," gumam Abdurrahman ragu.
"Iya. Jika nanti umur Alesa dua puluh tahun. Saya akan menikahinya secara resmi," ujar Fasya lagi meyakinkan Abdurrahman.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan menikahkan putri saya dengan nak Fasya," ujar Abdurrahman.
Setelah melakukan perundingan, terjadilah kesepakatan, pernikahan akan dilangsungkan dua hari lagi, karena pada hari ketiga Fasya aksn kembali ke Pekanbaru.
"Di dalam kartu ini ada uang seratus lima puluh juta. Seratus juta harga rumah ini dan lima puluh jutanya untuk persiapan pernikahan saya dan Alesa," ujar Fasya menyodorkan kartu ATM.
Dahi Abdurrahman sedikit berkerut. Sejatinya dia tidak ingin Alesa menikah secepat ini. Tapi dia butuh uang untuk segera menjalani operasi. Abdurrahman menerima ATM itu dengan suka cita.
"Terima kasih. Nak!" Ujar Abdurrahman seraya meraih tangan Fasya dan menciumnya berkali-kali.
"Dasar orang tua lebay," batin Fasya.
__ADS_1
"Bapak tidak perlu berterima kasih dengan saya. Saya melakukan ini, karena sebentar lagi saya akan menjadi menantu bapak," ujar Fasya mengurai pegangan Abdurrahman.
Bersambung