Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kejahatan Vira


__ADS_3

Part 33


"Pak! Alesa menyuruh saya menggantikannya, dia lagi sakit perut. Katanya nggak enak sama bapak, kalau harus bolak balik ke kamar kecil," bisik Vira, kala dia masuk ruang meting dan duduk di samping Adra.


"Apa! Alesa sakit perut," mata Adra membulat saat mendengar Vira mengatakan Alesa sakit perut, dia segera beranjak dari duduknya.


"Selamat sore semuanya. Maaf saya telat." Fasya datang dengan dua asistennya.


Melihat Fasya datang, Adra mengurungkan niatnya menemui Alesa, dia duduk kembali di kursinya. Melihat Adra kembali ke posisi awal, Vira tersorak senang dalam hati, paling tidak gadis bercadar itu lebih lama merengkuh di toilet.


Adra membagikan satu persatu Hardcopy pada rekan bisnisnya, setelah memastikan semua dapat. Adra memulai mempresentasikan penawarannya. Perusahaannya memperkenalkan produk Virgin coconut oil yang sangat banyak manfaatnya bagi kehidupan sehari-hari.


Satu jam memaparkan sekaligus mempromosikan Virgin coconut oil kepada rekan kerjanya, mendapat sambutan yang luar bisa. Delapan puluh persen rekan kerjanya tertarik untuk bergabung dengan perusahaannya.


Begitu meting selesai, Vira menyerahkan point-point penting yang sudah di catatnya dengan rapi, kemudian dia berpamitan pada Adra untuk meninggalkan tempat pertemuan.


Dua jam sudah berlalu Alesa belum juga muncul. Sementara rekan bisnis Adra sebagian sudah pamit kembali ke kantornya, hanya tinggal Fasya dan Roy.


"Adra! Apa ini tas Alesa?" Tanya Fasya saat melihat tas yang tergeletak di samping Adra. Sebenarnya tadi Fasya sudah mengenali tas itu. Namun, dikiranya tas Vira dan hanya modelnya yang sama.


"Iya. Tadi aku meminta Alesa menemani meting, karena dia sakit perut makanya digantikan sama Vira." Jelas Adra.


"Sekarang Alesa mana?" Tanya Fasya.


"Alesaaaa.."


Adra tidak meneruskan ucapannya, dia meraih ponsel yang tergeletak di depannya, menggeres layar mencari nomor kontak Alesa.


Dret... Dret... Dret


Semua mata tertuju pada tas Alesa, saat mendengar getar ponsel. Fasya membuka tas Alesa dan mengambil benda pipih itu.


"Ponsel Alesa," ujar Adra, dia mulai cemas.


"Kata Vira tadi Alesa bolak balik ke kamar kecil," ujar Adra lagi.


"Hah! Yang benar?"


Melihat Adra mengangguk, Fasya langsung berdiri dan bergegas dari ruang rapat, perasaannya menjadi tidak nyaman. Adra menyusul Fasya dari belakang. Fasya berlari ke toilet wanita.


"Alesa! Alesa! Apa kamu ada di dalam?" Fasya mengetuk daun pintu dan membuka satu persatu.


Mata Fasya tertuju pada salah pintu yang gerendel pintunya terkunci dari luar. Fasya menarik gerendel kunci dan menguskkan daun pintu lebar-lebar.


"Alesa!"


Alesa yang terduduk di sudut ruang kursi tersadar dari kantuknya. Saat melihat Fasya yang berdiri di depannya. Spontan Alesa berdiri dan menghambur ke arah Fasya.


"Abang Fasya! Terima kasih. Aku tak tahu kalau abang tak datang, berapa lama berada di sini," ujar Alesa memeluk Fasya.

__ADS_1


Sementara Adra yang tadi mengikuti Fasya dari belakang. Merasa sangat bersalah, karena dua jam sudah berlalu, baru dia menyadari kalau Alesa tidak berada di sampingnya.


"Alesa! Maafkan Abang ya," ujar Adra penuh penyesalan.


Alesa menguraikan pelukannya pada Fasya, lalu menatap ke arah Adra dan beraleh ke Fasya. Fasya kembali merengkuh, lalu mencium puncak kepala Alesa.


"Kamu tidak apa-apakan?" Tanya Fasya mengurai pelukan. Mata Adra membola saat melihat Fasya mencium puncak kepala Alesa.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Fasya mengusap lembut kepala Alesa.


"Vira!" ujar Alesa keceplosan. ups.. Alesa menutup mulutnya dengan tangan, seharusnya dia tidak mengadu. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.


"Apa! Vira! Kurang ajar," gumam Fasya. Lalu beranjak mendekat kearah Adra.


"Kau tidak becus menjaga Alesa," ujar Fasya, tiba-tiba menarik kerah baju Adra dan melayangkan tinjunya. Namun, salah sasaran, karena Alesa spontan menghadang, hingga wajah Alesa yang terkena pukulan.


Pukulan Fasya mengenai mata Alesa, Alesa terhuyung. Rasa pusing dan perih terasa menyatu, seketika pandangan Alesa berubah ngambang. Alesa mendekap matanya dengan tangan kanan.


Rasa perih menjalar hingga Alesa tidak bisa membuka mata. Denyutan di kepala pun semakin kuat. Alesa mencoba membuka mata, seperti ada yang menghalangi, pandangan Alesa mengabur, hitam dan tak terlihat apa-apa. Alesa luruh ke lantai.


"Alesa!" Adra dan Fasya kaget, bersamaan menyebut nama Alesa.


Keduanya spontan berjongkok, Fasya mendorong tubuh Adra yang ingin mengangkat Alesa. Adra bangkit kembali, dia menepis tubuh Fasya hingga terduduk di lantai. Terjadi perebutan dan saling sikut.


"Tidak usah sentuh. Alesa," teriak Fasya berdiri seraya menarik tangan Adra.


"Kamu yang menyakiti dia. Kamu memukulnya," Adra ikut berteriak dan menepis pegangan tangan Fasya.


Bukkk... Bukkk, dua tendangan menghantam perut Adra, Arda terjerembab ke lantai.


"Bangun! Lawan aku," ujar Fasya seraya kembali menarik kerah baju Adra.


Adra berusaha menahan emosi, dia tidak ingin membalas pukulan Fasya. Jika dia mau, dia bisa saja menghajar Fasya habis-habisan. Adra sang juara tekwando, cuman sekali gebrak, dia bisa merobohkan Fasya.


"Pukul! Pukul saja aku! Sampai kamu puas," ujar Adra menyorongkan pipi kiri.


"Stop! Stop! Kalian berdua dasar bodah, malah berkelahi. Emangnya gadis ini siapa, hingga kalian berdua rela saling pukul," kecam Roy berteriak kencang.


Asisten Fasya itu menatap bosnya dan Adra bergantian, dia tidak habis pikir, dua sahabat baik dan akrab bisa baku hantam hanya gara-gara gadis bercadar itu.


Teriakan Roy menyadarkan Fasya, seketika pandangannya beralih pada sosok Alesa yang terbaring di lantai keramik.


Brukkk...


Fasya mendorong tubuh Adra, hingga terjerembab, dia pun beranjak mendekati Alesa yang terabaikan hampir sepuluh menit. Fasya mengangkat tubuh Alesa ala bridal style, kemudian bergegas menuju lift. Sementara Roy dan Adra mengiri Fasya.


Setengah berlari, Fasya menuju tempat parkir.


"Roy! Buka pintu belakang," titah Fasya.

__ADS_1


Roy berlari kecil mendekat, dengan segera dia membuka pintu mobil. Fasya masuk ke mabil dan memangku Alesa.


"Kita ke kelinik terdekat," perintah Fasya, begitu Roy masuk dan duduk di depan stir.


"Pak! Tunggu." Seseorang berteriak ke arah Roy dan Fasya seraya melambai tangan dan berlari kecil.


"Ini tas gadis yang bapak bawa tadi," ujar office boy sambil menyerahkan tas Alesa dan ponsel. Roy menerima tas dan ponsel itu, meletakkan di samping kursinya.


Setelah mengucapkan terima kasih, Roy menarik pedal gas, meluncur melaju ke jalan raya. Sementara Adra yang sudah berada di dalam mobil. Diam-diam mengikuti ke mana Fasya membawa Alesa.


Di dalam mobil Fasya menggenggam tangan istrinya, dia tak henti-hentinya mencium jemari Alesa. Sesekali Roy melirik dari kaca spion depan, semua gerak- garik Fasya tidak luput dari perhatian Roy.


"Siapa gadis itu. Kenapa si bos terlihat sangat cemas," batin Roy, tetap fokus menyetir.


"Ah.. Perih," Alesa sadar dia meraba kembali matanya yang kena bokem Fasya.


"Sa! Kamu sudah sadar. Maafkan Abang ya, Abang tak bermaksud menyakitimu," ujar Fasya seraya mengusap-usap pipi Alesa di balik cadar.


Ada tetesan darah di sudut mata kanan Alesa. Alesa berusaha mengerjapkan mata kanan berkali-kali, terasa sangat berat.


"Kenapa sakit sekali," ujar Alesa kala dia tak mampu membuka kelopak matanya dengan sempurna.


"Kamu yang kuat ya, kita akan segera sampai ke klinik," ujar Fasya.


"Abang jahat! Kenapa Abang memukulku, hiks... hiks...hiks," Alesa menangis, dia sedih karena Fasya membuat matanya terasa buta.


"Abang minta maaf. Abang tak sengaja," ujar Fasya lagi.


Alesa bangun dari pangkuan Fasya, dia menumpukan kepalanya di sandaran kursi. Perih masih terasa di bekas pukulan Fasya.


Sebenarnya ini tidak seratus persen salah Fasya. Andai saja Alesa tidak menghadang Fasya untuk memukul Adra, sudah pasti yang dapat pukulan adalah Adra.


Fasya meraih kepala Alesa dan menyandar di bahunya. Dia menyesal sekali, karena tidak bisa menahan emosi.


Mobil yang dikendarai Roy berhenti di sebuah klinik. Roy memarkir mobil, turun dan membuka pintu untuk Fasya dan Alesa.


"Sini Abang bantu turun" ujar Fasya seraya memegang kedua tangan Alesa.


"Klinik. Buat apa kita ke sini?" Tanya Alesa dia masih mendekap mata kanannya dengan tangan.


"Mengobati mata mu, agar tidak infeksi." Jalas Fasya.


Alesa pun turun, dibimbing Fasya masuk ke klinik, di iringi oleh Roy dan Adra, Fasya masuk ke ruangan jaga. Roy dan Adra hanya duduk di ruang tunggu. Setelah berbicara pada perawat jaga. Fasya dan Alesa di panggil masuk ke ruang dokter.


Seorang perawat meminta Alesa membuka tangannya, agar bisa jelas melihat lukanya. Kelopak mata Alesa terlihat membiru.


"Adoh... bagaimana ini bisa terjadi? Apa kamu terjatuh? Atau dipukul seseorang." Perawat terlihat kaget, hingga melontarkan beberapa pertanyaan.


"Tidak!" Jawab Alesa sambil menggeleng.

__ADS_1


"Jadi kena apa?" Tanya perawat itu lagi menyelidik


"KDRT." Jawab alesa asal.


__ADS_2