Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Kedatangan Carla


__ADS_3

Part 51


"Siapa? Pagi-pagi bikin heboh," ujar Alesa, sejenak menghentikan pekerjaan.


"Biar bibik yang lihat. Non!" Sri bergegas menuju ruang tamu. Sementara Alesa meneruskan pekerjaannya.


"Fasya! Fasya! Buka pintunya!"


Terdengar jelas teriakan seorang wanita.


Dor


Dor


Dor


Gedoran di pintu utama semakin kuat, di tambah lagi bunyi gembok terali yang di goyang, hingga suaranya sangat berisik. Untungnya tadi waktu Alesa selesai menyapu halaman, dia mengunci kembali pintu utama saat masuk ke rumah. Jika tidak tentu tamu yang tak diundang itu sudah menerobos masuk.


"Berisik sekali," batin Saera.


Saera yang baru masuk ke kamar, melemparkan kembali sisir yang tadi dipegangnya. Bunyi gedoran yang semakin kencang dan sangat mengusik , memaksanya keluar untuk melihat apa sebenarnya yang terjadi.


"Ada apa. Bik?" Tanya Saera pada Sri, saat melihat Sri mengintip dari lubang pintu.


"Nya! Ada seorang perempuan di luar sana, berteriak memanggil pak Fasya," ujar Sri berdiri di depan pintu utama, dia tidak bisa mengenali wanita diluar itu, karana tubuhnya menutupi lobang pengintip.


"Siapa? Apa bibik mengenalnya?" Tanya Saera lagi. Sri mengangkat kedua bahunya, menandakan kalau dia tak mengenali wanita itu.


"Fasya! Fasya!" Terdengar lagi teriakan wanita itu, memanggil Fasya.


Sri masih berdiri di tempatnya. dia tak berani membuka pintu, jika belum ada perintah. Mana tahu wanita di luar sana sangat berbahaya.


"Bagaimana. Nya! Apa kita telepon polisi saja," usul Sri. Dia takut kedatangan wanita mengancam keselamatan majikannya.


Sementara Fasya yang diteriaki wanita itu, berada di kamar mandi di ruang kerjanya dan sedang mengguyur tubuhnya di bawah shower, hingga suara air bisa meredam suara di luar.


Sejenak Saera dan Sri berpandangan, lalu sama-sama menarik nafas. Ada-ada saja, selesai masalah satu datang lagi masalah baru.


"Buka saja. Bik!" Titah Saera akhirnya.


"Tapi. Nya!"


"Tak apa-apa. Buka saja."


Klik... Sri memutar anak kunci, lalu menguakkan daun pintu. Tanpa basa-basi, Carla menerobos masuk.


"Dokter Carla!" Seru Sri kaget. Dia tak menduga sama sekali kalau yang berteriak-teriak tadi adalah dokter wanita yang cantik itu. Walaupun Sri baru sekali bertemu. Namun, dia masih mengenali Carla.


Dengan langkah lebar. Carla menuju ke ruang tengah. Saera yang melihat Carla masuk tanpa ijin, menarik tangannya.


"Mau apa kamu?" Tanya Saera, saat Carla ingin masuk ke kamarnya.


Mendapat perlakuan Saera, Carla menghentikan langkahnya, lalu menatap intens ke arah Saera. Dulu sebelum kehadiran Saera di dalam hidup Fasya. Carla bebas berkeliaran di rumah ini.


"Lepaskan," teriak Carla menepis kasar tangan Saera. Dan mendorong Saera supaya minggir dan memberinya jalan.


"Siapa yang mengijinkanmu masuk. Hah!" Saera pun berteriak tak mau kalah dengan Carla. Saera berdiri di depan Carla, merentangkan tangan, menghalangi langkah Carla.

__ADS_1


Tatapan Saera tajam, begitu juga Carla, keduanya saling menatap, tak seorang pun mau mengalah.


"Aku tak perduli, aku hanya ingin bertemu Fasya. Mana dia." Cerca Carla menepis kedua tangan Saera yang menghadangnya, lalu mendorong tubuh Saera, hingga Saera tersingkir dan kesempatan itu dimanfaatkan Carla menerobos.


"Fasya! Fasya!" Carla masuk ke kamar Saera.


Begitu sudah di dalam kamar, dia menyingkap apa saja, yang menurutnya Fasya bisa bersembunyi. Carla menarik selimut, di kiranya Fasya yang terbaring di bawah selimut ternyata hanya bantal dan guling. Tak menemukan Fasya, Carla membuka pintu kamar mandi, tak ada juga sosok Fasya.


"Fasya! Kamu di mana?" Carla berteriak, dia tak memperdulikan celotehan Saera.


"Dasar gila kamu, teriak-teriak di rumah orang," maki Saera.


"Keluar dari kamarku," usir Saera seraya mendorong Carla keluar.


Dengan kedua tangan. Saera memaksa Carla keluar dari kamar, dengan cara mendorong punggung Carla. Spontan Carla membalikkan tubuh, menghadap ke arah Saera.


"Lepaskan," cicit Carla lantang.


"Kamu tak berhak melarangku. Ini rumah Fasya, bukan rumahmu," ketus Carla seraya menudingkan telunjuk ke arah Saera.


"Hay. Aku ini istri Fasya. Aku nyonya di rumah ini." Saera mempertegas penjelasannya, agar Carla sadar diri.


"Nyonya? Fasya itu cintaku. Kamu telah merampasnya dariku, dia milikku jauh sebelum kamu ada." Lagi-lagi Carla menudingkan telunjuknya ke dada Saera.


"Fasya? Cintamu? Jika iya kanapa dia memilih menikah denganku. Bukan denganmu," ungkap Saera. Saera baru tahu kalau Carla dan Fasya punya hubungan masalalu.


"Pergi dari sini! Saera kembali mendorong Carla lebih kuat dari tadi. Karena dia tersulut emosi dengan ucapan Carla yang tak punya sopan santun.


"Jangan pegang! Jangan dorong-dorong! Hah!" Seru Carla tak terima.


Dukk... Dorongan Saera kali ini, membuat tubuh Carla tak seimbang, hingga terhuyung dan jidatnya menciun tepi pintu. Secepat kilat Carla berdiri, mata memerah marah, emosinya ikut tersulut dengan perlakuan Saera.


"Kamu...." Carla memegang pipinya yang terasa hangat.


Kemarahan Saera memuncak, dengan cepat maju menyerang Carla. Carla yang sudah siaga, bersiap mendapat serangan Saera. Carla dan Saera sering serang, pukul dan tendang.


Trang...


Saera mengabil pas bunga, ingin memukul kepala Carla. Namun, Carla menangkis dengan tangan, hingga pas bunga jatuh ke lantai, hancur berkeping.


Carla pun ikut melempar apa saja yang bisa digapainya, hingga beberapa barang berserakan. Begitu keduanya saling tarik dan jambak, tak ada yang mau melepaskan pegangan di rambut, Carla dan Saera pun berguling-guling di lantai.


Alesa yang masih berada di dapur mencuci piring pun terusik dengan kegaduhan yang terjadi. Ada bunyi beberapa barang berjatuhan. Rasa penasaran membuatnya melangkahkan kaki ke ruang tengah.


"Ada apa?" Batin Alesa, kala melihat beberapa barang berserakan di lantai.


"Carla? Kenapa dia bisa di sini? Apa yang Carla dan Saera ributkan?" Berbagai pertanyaan hadir di benak Alesa.


Mata Alesa membola. Lirikan matanya mengikuti gerakan ke arah mana Saera dan Carla berguling-guling. Keduanya terlihat sangat lucu, saling menjambak, menindih dan menerjang, keduanya sudah seperti pegulat sedang merebutkan piala bergilir.


"Bagus. Nya! Tarik rambutnya. Nya!" Sri berteriak-teriak memberi semangat pada Saera. Sambil mengepalkan tinjunya, gaya Sri sudah seperti wasit, mondar mandir mengikuti ke arah mana Saera bergeser.


Melihat Sri yang bersemangat memberi komentar. Alesa geleng-geleng kepala. Bukannya dihentikan, Sri malah mengompori Saera.


"Bibik!" Teriak Alesa, membuat Sri menghentikan aktifitasnya.


"I-iya. Non!"

__ADS_1


"Apa yang sebenarnya terjadi. Bik!" Tanya Alesa, menyadarkan Sri.


"Serukan. Nya!"


"Dipisahkan. Bik! Bukan disemangati," ujar Alesa lagi.


"Ini. Non! Anu..."


"Hentikan!" Terdengar teriakan Fasya sangat lantang, membuat Saera dan Carla saling melepaskan cekalannya. Lalu segera bangkit dan berdiri. Wajah keduanya terlihat babak belur, sudah kayak badut.


Belum sempat Sri memberikan penjelasan pada Alesa, Fasya berteriak histeris, Fasya yang baru keluar dari ruang kerjanya, sudah berpakaian rapi.


"Carla!" Gumam Fasya lirih, begitu melihat ternyata yang menjadi lawan Saera adalah Carla.


Dua bulan ini, sejak kejadian di Bali itu. Carla seakan menghilang dan kenapa hari ini dia tiba-tiba datang membuat keributan dengan Saera.


"Berhenti!" Ujar Fasya melerai perkelahian Carla dan Saera. Fasya berdiri di antara keduanya.


"Ada apa? Tidak bisakah dibicarakan baik-baik!" tanya Fasya.


"Dia yang mulai. Masuk kerumah kita tak ada sopan santun," ujar Saera seraya memegang tangan kanan Fasya.


"Dia yang menyerangku duluan," Carla tak mau ngalah.


"Kamu yang menamparku," protes Saera.


"Siapa suruh kamu mendorongku," ujar Carla seraya ingin menggapai tangan Saera.


"Sudah! Sudah! Hentikan!" Teriak Fasya, membuat Carla dan Saera seketika diam.


"Kamu! Untuk apa ke rumahku dan buat keributan?" Tanya Fasya, seraya merengkuh bahu Saera istrinya, lalu mendekapnya. Saera tersenyum sinis kearah Carla penuh kemenangan.


"Aku ke sini, minta pertanggung jawabanmu! Aku hamil. Kamu harus menikahiku," cicit Carla, membuat wajah Saera dan seisi rumah terkejut.


"Apa! Kamu hamil?" Tanya Fasya matanya membola menatap Carla seakan tak percaya. Lalu dia menoleh ke arah Saera.


"Dasar perempuan sundal. Bisa-bisanya hamil di luar nikah dengan suami orang," maki Saera mencibir kearah Carla.


"Tuh. Urus pacarmu," ujar Saera menepis tangan Fasya, hingga terlepas dari bahunya.


"Saera! Kamu mau ke mana?" Fasya mencoba menggapai tangan Saera dan mencegahnya.


"Lepaskan!" Saera menghempas kasar tangannya, hingga pegangan Fasya terlepas.


"Saera!" Fasya kembali ingin menggapai tangan Saera. Namun, Carla menarik tangan kirinya dan mencegah Fasya menghalangi Saera yang beranjak masuk ke kamar.


Hati Saera hancur berkeping-keping, kala Fasya lebih memilih bersama Carla, ketimbang mengejarnya masuk ke kamar, Derai air mata Saera tak terbendung. Dia menutup pintu kamar dengan kasar. kemudian mengunci pintunya dari dalam.


"Saera! Saera! Buka pintunya sayang!" Fasya mengetuk-ngetuk pintu kamar dari luar.


"Biarkan saja dia. Di sini ada aku, aku dan anak kita lebih membutuhkan kamu," Carla merengek manja dengan mata berkaca-kaca. Fasya pun menghentikan gerakan tangannya. Lalu merengkuh bahu Saera.


Sementara Alesa masih bergeming di tempatnya. Terpaku seribu bahasa, saat mendengar berita kejutan yang tak disangka-sangka. Bulu kudungnya meremang mendengar pengakuan Carla.


Alesa tak habis pikir, bagaimana bejatnya kelakuan suaminya. Alesa memamdang jijik ke arah Fasya yang sedang berpeluk mesra dengan Carla.


"Carla hamil anak Fasya. Bagaimana mungkin, bukannya dia tunangan Adra," batin Alesa tak habis pikir.

__ADS_1


"Apa Adra tahu masalah ini," batin Alesa lagi.


__ADS_2