Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Alesa Sadar


__ADS_3

Part 93


Setelah menutup panggilan telepon. Malik kembali beranjak ke arah Asiah.


"Dik! Abang shalat zuhur dulu ya," ujar Malik seraya memasukkan ponsel ke saku celananya kembali.


"Iya," ujar Asiah seraya mengangguk.


Malik beranjak menuju musalla, mengambil air wudhu dan menunaikan shalat zuhur. Selesai shalat zuhur Malik menelepon Fasya mengabarinya kalau Alesa dirawat dan memintanya segera ke rumah sakit. Setelah itu baru Malik menemui Anema.


"Hay! Kamu sudah bangun," sapa Malik begitu masuk ke ruang rawat Anema. Dilihat wanita setengah baya itu duduk bertumpu di sandaran kursi.


Anema menoleh ke arah Malik, dia menatap laki-laki yang sedang menarik sebuah kursi dan mendudukkan bokongnya, kini posisi Malik berada di samping Anema.


"Terima kasih sudah membawaku ke sini," ujar Anema begitu Malik duduk.


"Boleh aku meminjam ponselmu, aku mau menelepon Diana, supaya mengambil mobil ku di TPU."


"Mobilmu sudah dibawa sama orang kepercayaanku, sudah ada di parkiran rumah sakit," ujar Malik.


Waktu dia membawa Anema ke rumah sakit, Malik sudah menelepon Burhan agar mengutus anak buahnya mengambil mobil Anema. Sementara ponsel Anema yang tergeletak di samping Anema waktu itu, sudah di amankan Malik di dalam mobil Anema.


"Ini kunci mobilmu dan ponselmu, dan di dalam mobil," ujar Malik merogoh saku celananya menyerahkan kunci mobil.


Seorang pramusaji mengantarkan ransum dan meletakkan di atas nakas, setelah berpesan pada pasien untuk segera makan, dia pun keluat. Malik beranjak mengambil ransum dari rumah sakit lalu kembali lagi duduk di posisi semula.


"Sekarang kamu makan. Biar cepat sehat." Malik menyodorkan sendok berisi bubur ke mulut Anema.


Sekali lagi Anema menatap Malik, Anema menemukan ketulusan di mata Malik, sedikit pun tak ada tanda kebencian di bias mata itu. Pada hal Malik tahu, kalau Saera sudah menguras habis harta Fasya.


"Ayok buka mulut," ujar Malik kala melihat Anema bungkam.


"Aku makan sendiri saja," Anema berusaha duduk normal. Namun gagal, rasa pusing di kepala masih berdenyut hebat, di saat dia berusaha duduk sempurna pandangannya buram.


"Aduh." Anema memegang dan menekan kepala dengan kedua tangan.


"Sudah! sandaran saja. Jangan dipaksakan," ujar Malik.


Begitu Anema sudah bersandar kembali, Malik mulai menyuapinya hingga buburnya habis, kemudian mengambil sedotan dan air minum.


"Apa kamu butuh sesuatu. Aku bisa belikan?" Tanya Malik seraya meletak kembali ransum yang sudah kosong di atas nakas.

__ADS_1


"Tidak! Terima kasih," ucap Anema.


"Baiklah, kalau begitu saya keluar sebentar. Nanti ke sini lagi."


Anema hanya mengangguk, Malik beranjak keluar ruang rawat Anema. Sepeninggalan Malik, Anema menarik nafas lega, dia tak tahu nasibnya jika tidak bertemu Malik, mungkin dia sudah mati di pemakaman itu.


"Aku akan membuat perhitungan pada Asiah dan anak-anaknya," batin Anema penuh dendam.


*****


Sementara Malik pergi ke kantin, membeli nasi bungkus dan beberapa cemilan untuk Asiah. Dia teringat kalau Asiah sendirian menunggu Alesa. Pastilah susah meninggalkan Alesa, walau hanya sekedar membeli makanan.


Setelah menerima bungkusan nasi dan cemilan. Malik segera meninggalkan kantin, menyusuri koridor rumah sakit. Dalam jarak sepuluh meter, Malik hanya melihat Fasya sedang duduk di kursi tunggu, sementara Asiah tidak terlihat.


"Fasya! Mana tante Asiah?" Tanya Malik begitu sudah berada di depan ICU.


"Papa dari mana?" Fasya bukan menjawab pertanyaan Malik, tapi dia malah balik bertanya.


"Nih, beli nasi untuk tantemu," jawab Malik seraya mengangkat plastik bungkus nasi.


"Tante? Umi maksud papa?" Tanya Fasya heran, kenapa papanya menyebut Asiah dengan panggilan tante.


"Eh. Abang sudah di sini lagi."


"Papa! Papa belum menjawab pertanyaanku," ujar Fasya penasaran.


"Papa?" kini Asiah yang keheranan, kenapa Fasya memanggil Malik dengan sebutan papa. Asiah yang tadi ingin membuka bungkus nasi menghentikan gerakannya, dia menatap Fasya dan Malik secara bergantian.


Malik dan Fasya pun saling berpandangan, tentu saja Asiah tidak tahu kalau Fasya itu anak Malik, karena Malik mau Fasya belum sempat bercerita pada Asiah tentang keluarga mereka.


"Kamu memanggil abang Malik. Papa?" Tanya Asiah meyakinkan, kalau apa yang di dengarnya tidak salah.


"Fasya putraku. Dik!" Malik menjawab pertanyaan Asiah.


"Putra? Maksudnya Fasya anak abang?"


"Iya," jawab Malik seraya menangguk.


Mendengar jawaban Malik, mata Asiah membola menatap Malik tajam, dia emosi dengan pengakuan Malik.


"Jadi kalian berdua, sekongkol untuk membohongi keluarga ku. Kenapa Abang malakukan ini padaku." Tiba-tiba Asiah marah, karena Malik dan Fasya tidak berterus terang tentang status mereka.

__ADS_1


"Abang tidak pernah bermaksud membohongimu dan keluarga. Abang takut jika kamu tahu kalau Fasya putra abang. Suamimu menolak pernikahan itu," ujar Malik berusaha memberi pengertian pada Asiah.


Akhirnya Malik menceritakan, tentang amanah papa angkatnya untuk menemukan Asiah putrinya. Malik menyebar orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Asiah. Saat keberadaan Asiah ditemukan secara detil, Malik meminta Fasya untuk menikahi Alesa, semua itu Malik lakukan untuk membantu perekonomian Asiah yang sedang sulit.


"Kenapa Abang tak menemuiku waktu itu. Apa abang malu punya adik yang kehidupannya berada ditarap yang paling rendah?" Tanya Asiah seraya menatap Malik dengan mata berkaca-kaca.


"Maafkan abang. Bukan maksud abang tak perduli dengan kesulitanmu. Abang takut kamu menolak bantuan dari abang," jelas Malik. Kalau boleh jujur, saat mengetahui keberadaan Asiah, dia ingin sekali menginjungi adik angkatnya itu.


"Jadi papa Malik dan umi Asiah..." sela Fasya, dia sengaja menggantung ucapannya.


"Papa dibesarkan oleh kakek Hendro, kakek Hendro itu papa umi Asiah," jawan Malik menjelaskan. Fasya hanya manggut, mengertilah dia sekarang.


Percakapan Asiah, Fasya dan Malik terhenti, saat seorang perawat mengabarkan kalau Alesa sadar. Asiah dan Malik bergegas masuk ke ruang rawat. Sementara Fasya menunggu di luar, karena pengunjung hanya boleh masuk berdua dan secara bergantian.


"Sayang! Akhirnya kamu sadar juga." Asiah mengusap kedua pipi Alesa.


"Umi! Papa!"


Seorang dokter datang memeriksa keadaan Alesa, dan dokter berpesan pada Asiah dan Malik untuk tidak terlalu banyak mengajak Alesa berbicara dulu. Setelah memastikan dan mencatat perkembangan Alesa dokter pun keluar dari ruang rawat.


"Umi dan Papa Malik keluar ya. Kamu istirahat saja." Asiah dan Malik beranjak keluar. Melihat putri sudah sadar, Asiah melupakan kemarahannya pada Malik.


"Fasya! Temui istrimu," ujar Asiah begitu keluar dari ruang rawat.


Spontan Fasya menatap Malik papanya, seakan dia meminta Malik menjelaskan yang sebenarnya pada Asiah. Malik menarik nafas panjang, dan dia meminta Fasya untuk segara menjengok Alesa, agar Asiah bisa tenang dulu karena tadi dia sempat emosi.


Fasya beranjak masuk ke ruang rawat Alesa, sementara Malik mengajak Asiah untuk menyantap makan siangnya dulu.


"Sa! Maaf. Abang baru tahu kalau kamu lagi dirawat," ujar Fasya seraya mendudukkan bokongnya di kursi sebelah kiri tempat tidur Alesa.


Hening sesaat.


Alesa hanya melirik sebentar ke arah Fasya, kemudian kembali ke posisi awal, dia sudah tidak ingin membahas apapun lagi tentang laki-laki yang sudah menalak dan meninggalkannya selama empat tahun.


"Sa!" Fasya kembali menyebut nama Alesa, kala melihat Alesa bergeming.


Fasya menatap intens pada Alesa, dia menarik nafas panjang, dan perlahan menghembuskannya. Begitu bencinya kah Alesa padanya, hingga memandang dan bicara pun sudah tak sudi. Tangan Fasya terulur ingin menyentuh Alesa. Namun, dia ragu.


"Alesa pasti sudah tak ingin melihatku di sini," batin Fasya perih.


"Sa! Abang..."

__ADS_1


"Aku mau istirahat. Ku mohon menjauhlah," ujar Alesa lirih, menyela ucapan Fasya.


__ADS_2