
Part 14
Dengan langkah lebar Alesa berusaha mensejajari laki-laki yang membawa kabur sisa uangnya.
"Tunggu!" Alesa mencekal lengan laki-laki itu.
"Hay! Lepaskan. Bukan mahram," ujar laki-laki itu menatap jari Alesa yang mencengkram lengannya.
"Maaf," ujar Alesa searaya mengurai pegangannya.
"Aku hanya ingin kembalian uangku," Alesa menadahkan tangannya kearah laki-laki itu.
"Ayok, ikut! Nanti ku kembalikan uangmu." ujar laki-laki itu terus melangkah lebih cepat lagi dari tadi.
Brak... Makalah yang dibawa laki-laki itu terjatuh, karena tersenggol tanpa sengaja oleh seorang mahasiswa yang sedang bergegas.
"Bambang Kusuma Wijaya," Alesa mengeja nama yang tertera di makalah yang masih tergeletak di lantai. Alesa berjongkok ingin memungut makalah itu. Tapi kalah cepat dengan Bambang.
Makalah yang terjatuh sudah berpindah kepemiliknya. Lalu Bambang melanjutkan langkahnya lebih cepat lagi, hingga Alesa tertinggal beberapa langkah.
Saat Alesha sedang kerepotan mengimbangi langkah Bambang. Ponsel di dalam tasnya bergetar. Alesha menghentikan langkah, membuka tas dan mengambil ponselnya, dari layar yang menyala tertulis kalau yang menelepon suaminya.
"Assalamualaikum," ujar Alesa begitu sambungan telepon terhubung.
"Abang tidak bisa menjemputmu, karena ada meting mendadak, kamu order gojek saja. Bisakan?" ujar Fasya setelah menjawab salam Alesa.
"Iya bisa." jawab Alesa.
"Kalau kamu nggak bisa, cari toturialnya di yuotube. Gampang tu," ujar Fasya lagi, lalu panggilan pun terputus tanpa salam penutup.
Setelah panggilan terputus, Alesa memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, dan saat menatap ke depan, dia sudah kehilangan jejak Bambang yang membawa kabur sisa uangnya.
"Ke mana dia menghilang," batin Alesa sambil celingak celinguk, memandang ke kiri dan ke kanan. Namun, sosok yang dicarinya lenyap bagai di telan bumi.
"Yah, sudahlah ikhlaskan saja," batin Alesa terus berjalan menuju perpustakaan.
Di perpustakaan terlihat sepi, hanya ada dua tiga orang mahasiswa. Mungkin karena masih dalam suasana libur, makanya sepi pengunjung. Alesa mengitari rak-rak buku yang berjejer rapi.
Mata Alesa tertuju pada sebuah buku yang berjudul Muhammad Sang lnspirator Dunia karya Dr Aidh Al-Qarni. Alesa berjalan ke arah rak buku itu, saat tangannya ingin meraih buku itu, sebuah tangan sudah mendahuluinya.
"Apa kamu ingin membaca buku ini?" terdengar suara seorang menyapanya.
Deg... Kali ini debaran jantung Alesa berdetak kencang. Dia beradu pandang, telaga di mata laki-laki itu, masih teduh seperti dulu, kala pertama kali Alesa mengenalnya.
"Kamu lagi, kenapa di mana-mana itu ada kamu." cerca Alesa seraya merampas buku yang ada ditangan Bambang.
"Aku akan terus membayangi, sebelum kamu mengatakan padaku, siapa kamu sebenarnya," ujar Bambang mengekor.
Entah kenapa mendengar pengakuan Bambang membuat hati Alesa senang. Setelah buku Muhammad Sang lnspirator Dunia itu berada di tangannya. Alesa bergegas pergi mencari tempat duduk yang nyaman untuk bisa melahap isi buku itu. Dan laki-laki itu pun tak tinggal diam, dia meraih sembarang buku, lalu duduk di sebelah Alesha.
"Bisakah kamu pergi dari sini," ucap Alesha berbisik. Alesa takut keceplosan kalau Bambang lama-lama berada di dekatnya.
"Apa kamu mengikhlaskan uang kembalian tadi?"
__ADS_1
Mendengar ucapan laki-laki itu, Alesa mendongakkan wajahnya, mengalihkan pandangan pada laki-laki itu.
"Mana kembaliannya. Sini!" Alesa menadahkan telapak tangannya.
"Kamu tunggu di sini, saya ambil dulu di mobil. Jangan ke mana-mana," ujar Bambang, lalu beranjak.
Alesa menatap punggung laki-laki itu, hingga menghilang di balik pintu. Alesa tak tahu. Apakah Bambang masih penasaran dengan dirinya atau hanya berpura-pura saja.
Suara azam asar berkumandang. Alesa melirik jam di layar ponsel menunjukkan pukul tiga tiga puluh. Dia beranjak mengembalikan buku Muhammad Sang lnspirator Dunia kembali ke rak semula. Andai saja dia sudah resmi menjadi mahasiswa dan memiliki kartu mahasiswa, sudah pasti buku itu dipinjamnya untuk dibawa pulang.
"Pustakanya tutup pukul berapa kak?" tanya Alesa pada salah satu karyawan.
"Pukul lima dik."
Masih ada waktu sekitar satu jam lagi buat Alesa untuk melanjutkan membaca buku itu. Setelah mengucapkan terima kasih Alesa bergegar keluar dari perpustakaan.
Begitu keluar perpustakaan, Alesa menatap ke arah parkir, tidak ditemukannya Bambang di sana.
"Ah apa dia membohongoku," batin Alesa, lalu membalikkan tubuhnya ke arah kiri.
"Kamu mahasiswa baru ya?"
Seorang wanita yang tadi bersamaan keluar dari perpustakaan bertanya pada Alesa. Alesa menghentikan langkahnya.
"I-iya." jawab Alesa.
"Sama. Aku juga mahasiswa baru." ujar wanita itu, lalu menyodorkan tangannya.
"Aku Makita." ujarnya memperkenalkan diri
Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan menuju musallah untuk menunaikan shalat asar. Setelah selesai shalat asar, perbincangan Alesa dan Makita pun berlanjut.
Makita berasal dari Bangkinang, mereka berdua sama-masa merantau di Pekanbaru. Bedanya Makita sudah sering ke Pekanbaru dan tahu seluk beluk kota bertuah ini, sementara Alesa kota yang terkenal dengan lancang kuning ini sangat asing baginya.
Tiga puluh menit kemudian Alesa dan Makita berpisah. Jemputan Makita sudah datang, sementara Alesa berjalan menuju gerbang kampus, di samping gerbang kampus ada halte perhentian bus.
Alesa mendudukkan bokongnya di kursi panjang yang disiapkan di situ. Di sampingnya ada dua orang mahasiswa sedang menunggu bus, keduanya sibuk dengan ponselnya masing-masing. Tak ada tegur sapa. Bahkan saat bus datang kedua naik, tanpa meninggalkan kesan sedikit pun.
"Aneh, manusia-manusia di kota tidak ada yang ramah," batin Alesa.
Beda sekali di kampung, setiap berpapasan pasti bertegur sapa, mau kenal atau tidak. Orang-orang kampung lebih berbudaya, santun dan ramah. Alesha merasa sangat asing berada di kota, tapi bagaimana lagi, inilah kenyataan hidup dia sekarang.
Seraya menarik nafas panjang. Alesa merogoh tas mengambil ponselnya, menggeser layar ponsel mencari play store, lalu mendonwload aplikasi gojek. Begitu selesai aplikasi di donwload, Alesha bingung bagaimana cara menggunakannya. Jujur di memang gaptek, tapi tidak bodoh-bodoh amat.
Alesa membuka tutoril gojek di youtube, dia menyimak dari awal sampai akhir berkali-kali, hingga dia paham betul.
"Beres! ternyata gampang," batin Alesa, dia pun membuka aplikasi yang sudah terdonwload.
Perintah pertama ke mana tujuan anda.
"Tujuan berarti alamat rumah Fasya," batin Alesa.
Alesa kembali menggeser layar ponsel, mencari nomor kontak Fasya, begitu ketemu, dia pun menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau. Panggilan masuk tapi tak diangkat, Alesa coba sekali lagi, tapi dirijek.
__ADS_1
"Mungkin Fasya masih meting," pikir Alesa.
Berpindah ke aplikasi whatsapp, Alesa mengirim pesan meminta alamat rumah, dengan sabar Alesa menunggu, semenit, dua menit, sepuluh menit bahkan tiga puluh menit. Pesan Alesa sudah centang dua tapi belum berwarma biru.
Berkali Alesa mengecek aplikasi whatsappnya, berharap Fasya sudah membaca dan membalas pesannya. Namun, satu jam berlalu tetap saja sama. Alesa kembali menghubungi nomor kontak Fasya, kali ini berada di luar jangkauan, Alesa mencoba mengirim pesan dan pesannya centang satu. Itu artinya ponsel Fasya tidak aktif.
"Ya Allah aku harus bagaimana," Alesa mulai cemas.
Jam dilayar ponselnya sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh menit, sebentar lagi senja akan menjalang, mana langit terlihat mendung. Sambil menggenggam erat ponselnya Alesa melangitkan doa-doa.
Tit... Tit...bunyi kelakson mobil mengejutkannya.
"Di sini kamu rupanya. Tadi aku menyusulmu ke perpustakaan, tapi kamu sudah tidak ada. Ini uang kembaliannya."
Alesa menyodorkan tangan mengambil uang kembalian dari Bambang. Bambang kemudian mendudukkan bokongnya di samping Alesa.
"Kamu menunggu bus, jam segini sudah tidak ada bus yang lewat, nanti setelah magrib baru ada lagi," ujar Bambang.
"Ayok! ikut aku saja, ku antar kamu pulang." ajak Bambang.
Alesa bergeming, dia ragu ingin mengatakan kesulitan yang sedang dihadapinya sekarang, takut kalau nanti dia malah ditertawakan. Apa lagi Bambang tahu kalau Alesa dari waktu berseragam abu-abu hingga kini masih suka berharap bisa menjadi pendamping Bambang.
"Ah... Alesa! Alesa! Mimpimu terlalu tinggi," gumamnya.
"Ayoklah ikut! Aku antar pulang," ulang Bambang lagi. Alesa masih bergeming.
"Kamu mau sampai magrib di sini?" tanya Bambang saat melihat Alesa hanya menatapi lanyar ponselnya.
"Heh!" ujar Bambang menggoyang-goyang tapak tangannya di depan wajah Alesa.
Perlahan Alesa menggankat wajahnya.
"Aku tidak tahu harus pulang ke mana." ujar Alesa hampir tak terdengar.
"Maksudmu?" Bambang bigung dengan jawaban wanita di depannya.
"Aku tidak tahu alamat rumah," ujar Alesa lagi.
"Apa? Kamu tidak tahu alamat rumahmu?"
"Tidak!" Alesa menggeleng lemah.
"Bagaimana bisa? apa kamu amnesia?"
Alesa pun bercerita, kalau dia baru semalam dari kampung dan ini pengalaman pertama pergi ke Pekanbaru. Tadi pagi diantar Fasya ke kampus, karena Fasya tidak bisa menjemput, dia disuruh naik gojek. Masalahnya sekarang Alesa tidak tahu alamat yang dituju dan ponsel Fasya tidak aktif.
"Corobah sekali abangmu, membiarkanmu ke kampus sendirian, bagaimana jika kamu bertemu orang jahat, dibagal dan dilecehkab," gerutu Bambang sampai gerahamnya mengeras.
"Ternyata Bambang mengkhawatirkanku. Apa aku jujur saja padanya, kalau aku Alesa adik kelasnya waktu di SMA," batin Alesa mulai bimbang.
Mendengar Bambang menyebut begal, nyali Alesa menjadi ciut. Alesa sering mendengar di berita-berita tentang orang yang disebut begal. Bulu kuduk Alesa meremang, dia membayangkan begel datang dan menculiknya.
"Ya Allah. Jangan sampai terjadi," batin Alesa.
__ADS_1
"Coba hubungi lagi nomor abangmu, mana tahu sudah aktif." Usul Bambang.
"Hah! Ponselku mati," ujar Alesa semakin cemas.