Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Dokter Carla


__ADS_3

Part 17


Fasya sudah berpakaian rapi stelan kantor sambil memasang dasi di menuju ke ruang makan.


"Alesa belum bangun. Bik?" tanya Fasya saat tidak menemukan Alesa di dapur, karena semalam dia sudah berjanji pada Saera akan mengerjakan semua pekerjaan rumah.


"Belum. Pak!" Jawab Sri seraya mengelap tangannya yang baru selesai mencuci piring.


"Apa bapak ingin saya memanggil non Alesa?"


"Tidak perlu," cegah Fasya, lalu dia menenggak segelas susu yang sudah disiapkan bibik.


Pagi ini Fasya tidak ingin bad mood gara-gara bertemu Alesa, kejadian tadi malam masih membuatnya kesal pada istri keduanya itu. Setelah menyantap nasi goreng spesial buatan Sri. Fasya beranjak.


"Bik! katakan pada Alesa hari ini, dia tidak boleh ke mana-mana, sebelum aku pulang," ujar Fasya menuju ruang kerja mengambil tas, jas dan kunci mobil.


"Baik pak!" jawab Sri seraya mengikuti langkah Fasya. Begitu Fasya keluar gerbang Sri mengunci pintu gerbang, dia tidak ingin Fasya marah dan memecatnya, hanya karena lalai dengan perintah.


Dua jam setelah kepergian Fasya, Sri sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Saat melewati kamar tamu, asisten rumah tangga itu merasa heran, kala matanya tertuju ke kamar yang ditempati Alesa, kunci pintu kamar tergantung di luar. Sri menggapai handle pintu, ternyata terkunci.


"Apa pak Fasya, mengunci non Alesa dari luar tadi malam," batin Sri. Tadi malam Sri sempat melihat Fasya menyeret Alesa masuk ke kamar dan marah-marah. Tapi Sri tidak tahu apa kejadian selanjutnya, karena dia memang tidak mau tahu apa urusan manjikan, yang penting baginya bekerja dan digaji.


Klik... Sri memutar anak kunci, menguakkan daun pintu setengah lebar. Perlahan Sri mengulurkan kepala ke dalam, dan saat melihat tubuh Alesa bergelung selimut, Sri mendekat.


"Non! Non Alesa," Sri memanggil Alesa. Namun, Alesa bergeming tak ada sahutan dan pergerakan.


Sri lebih mendekat, lalu menyentuh bahu Alesa yang posisi baringnya membelangi Sri. Tubuh Alesa tertelentang, tangannya terkulai lemah ke tempat tidur. Sri terkejut saat mendapati wajah Alesa yang sangat pucat.


"Non! Non Alesa!" panggil Sri lagi sambil meraba dahi Alesa, terasa hangat. Sri mencoba membangunkan Alesa. Namun, tetap tak ada sahutan.


"Ya Allah. Apakan non Alesa meninggal," pikir Sri panik, seraya memegang pergelangan tangannya.


"Syukurlah denyut nadinya masih ada."


Sri berlari ke kamarnya, dan kembali lagi ke kamar Alesa sambil membawa ponselnya. Sri menghubungi Fasya, tapi ponsel Fasya berada di luar jangkauan.


"Ya Allah bagaimana ini," Sri mulai cemas, sekilas dia menatap Alesa yang tak bergeming.


"Non jangan mati, tahan ya non," ujar Sri, lalu masuk ke ruang kerja Fasya, dia mengacak-acak meja kerja Fasya mencari nomor kantor Fasya.


"Alhamdulillah," Sri menemukan kartu nama Fasya lengkap dengan nomor telepon kantor.


Sri menghubungi nomor kantor Fasya. Panggilan masuk tapi tak ada yang angkat, Sri mengulangi sekali lagi.


"Assalamualaikum. Ini kan..."


"Kakak! tolong kasih tahu pak Fasya, kalau istrinya sakit dalam keadaan kritis," Sri menyela ucapan sekretaris Fasya.


"Ini dengan siapa? pak Fasya sedang rapat."

__ADS_1


"Ini Sri Asisten rumah tangga pak Fasya. Saya tidak mau tahu ya. Kak! Jika kakak tidak memberi tahu pak Fasya dan istrinya meninggal dunia. Ini tanggung jawab situ," ujar Sri mengancam, lalu memutuskan panggilan telepon.


Tentu saja ancaman Sri membuat Dea sekretaris Fasya gelabakan, terpaksa dia menerobos masuk ke ruang rapat, dengan tatapan tajam Fasya yang tak bersahabat, karena Fasya paling tidak suka kalau dia sedang rapat ada yang mengganggu.


(Pak! tadi asisten rumah tangga bapak menelepon ke nomor kantor, mengatakan istri bapak sakit dalam keadaan kritis) Fasya membaca tulisan di secarik kertas yang baru di sodorkan Dea.


"Dea! tolong kamu lanjutkan rapat," ujar Fasya memerintah Dea, kemudian keluar dari ruangan rapat.


Fasya merogoh saku jas dan celananya, mencari benda pipih kesayangannya. Karena tak ditemukan, Fasya mencoba mengingat di mana dia terakhir meletakkan benda itu.


"Oh, iya di dalam tas," Fasya ingat benda itu, dimasukkannya dalam tas waktu dia pulang kantor semalam.


Bergegas menuju ruang kerjanya, membuka tas yang dari pagi masih rapi. Pagi ini begitu sampai di kantor Fasya langsung memimpin rapat, karena tadi agak telat sampai ke kantor. Fasya mengacak-acak isi tas, tak ditemukannya benda pipih itu, dengan terpaksa dikeluarkan semua isi tas. Menyembollah ponsel di sela-sela berkas.


"Ah! Ponselnya mati lagi," gerutuk Fasya tak jelas, seraya mencolokkan chager. Begitu chager tersambung ke listrik, lanyar ponsel nyala, masih tertera batrai ponselnya tujuh puluh persen.


"Masih tujuh puluh persen. Kok bisa mati," batin Fasya, lalu menekan tombol pawer.


Begitu ponsel menyala, banyak notifikasi whatsapp berdenting. Namun, diabaikan Fasya, dia menggeser layar ponsel mencari nomor kontan Sri.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Setelah menjawab salam, Sri memaparkan keadaan Alesa panjang lebar.


"Sri! kamu tidak usah panik, saya akan menelepon dokter." ujar Fasya seraya mematikan sambungan ponselnya.


Sementara di rumah Fasya. Sri asisten rumah tangganya menggerutuk tak jelas, bagaimana bisa Fasya mengatakan tidak usah cemas. Sementara keadaan Alesa sudah kristis.


"Aghh." terdengar rintihan pelan dari Alesh.


"Non! Non sudah sadar. Tunggu sebentar ya. Non!" Sri berlari ke dapur dan kembali lagi dengan segelas teh hangat.


"Non! buka dulu niqab dan jilbabnya ya," pinta Sri, agar dia bisa memijat kepala Alesa.


Alesa hanya mengangguk lemah, matanya terbuka sebentar, lalu tertutup lagi. Tenaga Alesa sudah habis terkuras karena menahan sakit sepanjang malam. Tadi malam dia menduga kalau pagi ini nyawanya ikut habis. Namun, tuhan masih menginginkannya melakoni drama kehidupan selanjutnya.


"Non Alesa sangat cantik, kalah cantik nyonya Saera," ujar Sri tanpa sadar membandingkan kedua istri Fasya.


Sri mengangkat sedikit bahu Alesa, menyandarkan dibahunya, lalu membari minum teh hangat kuku. Wajah Alesa dingin dan pucat, bibir kering dan bergetar. Teh hangat masuk ketenggorokan Alesha beberapa sendok. Alesa merasa sedikit memiliki tenaga.


Rasa pusing masih membuat Alesa tidak bisa bangun, mual di perut pun masih menghentak-hentak. Setelah memberi minum teh hangat pada Alesa, Sri membaringkan Alesa kembali, lalu keluar kamar mengambil bubur yang tadi dimasaknya.


"Non! Ayok bangun lagi dan makan buburnya," Kali ini Sri membantu Alesha menumpukan kepala ke sandaran tempat tidur.


Dreet, dreet, dreet. Suara getaran panggilan masuk terdengar di ponsel Sri. Sri meletakkan piring bubur di atas nakas, menerima panggilan telepon dari Fasya yang mengabarkan kalau dokter Carla sudah sampai di pintu gerbang.


Setelah mematikan panggilan telepon. Sri bergegas keluar membuka pintu gerbang, lalu mengajak dokter Carla masuk.


Carla adalah teman dekat Fasya waktu SMA yang baru pulang dari Singapore dua minggu yang lalu. Carla tidak tahu persis Fasya menikah dengan siapa, dua tahun yang lalu Carla memang sempat kecewa ketika mendapat undangan pernikahan Fasya.

__ADS_1


Dua tahun setelah menyelesaikan kuliah. Carla mencoba peruntungan di negeri orang, dia tidak ingin kembali lagi ke Pekanbaru, alasan terkuatnya karena tidak ingin bertemu dengan Fasya, laki-laki yang dicintainya sejak berseragam abu-abu itu.


Dulu saat di SMA semua teman mengatakan mereka pacaran dan pasangan serasi. Tapi Carla dan Fasya sepakat hanya menjadi teman dan sahabat. Tidak ada yang boleh pacaran selagi menggunakan seragam abu-abu, dan hanya fokus sekolah.


Setelah tamat Carla memutuskan ke Singapore melanjutkan pendidikannya dan Fasya melanjutkan kuliah di Padang.


"Carla! Kalau sudah sampai. Jangan lupa kabari aku," ucap Fasya sambil melambaikan tangan saat mengantar Carla ke bandara.


"Iya! Kamu juga, sering-sering kabari aku," teriak Carla lalu melangkah masuk ke ruang tunggu.


Itu pertemuan terakhir Carla dan Fasya, hingga sampai sekarang Carla belum ada bertatap muka dengan Fasya, dua tahun lalu saat Fasya mengundangnya. Mereka sempat melakukan video call.


"Silakan dokter. Di sini kamarnya," ujar Sri membuyarkan lamunan Carla, seraya menarik tangan Carla yang ingin melangkah ke kamar Fasya.


"Oh. I-Iya. Bik!" ujar Carla sedikit kaget. Carla tahu seluk beluk keadaan rumah Fasya, karena dulu Carla sering hampir setiap hari main di rumah ini. Apalagi jika ada pekerjaan sekolah.


Perlahan Carla mengikuti langkah asisten rumah tangga itu dari belakang, tiba-tiba debar jantung Carla berdetak kencang, dia merasa gugup kala ingin dihadapkan pada wanita yang telah merampas Fasyanya. Perasaan Carla kini bercampur aduk.


Begitu sampai di kamar Alesa, Sri mempersilahkan masuk dan dia kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.


Perlahan Carla melangkahkan kaki, dia menatap wanita yang baring dengan posisi membelakanginya.


"Inikah wanita yang telah merampas Fasya dari sisiku," batin Carla perih, ada bulir yang tiba-tiba meluncur di sudut netranya. Calra menyeka air matanya dan berusaha menetralkan debaran jantungnya.


"Hay! aku Carla. Dokter yang dipinta Fasya untuk memeriksa anda," ujar Carla memperkenalkan diri seraya menutupi kegugupannya.


Alesa memalingkan wajahnya dan terkejut.


"Dokter Carla," ujar Alesa.


"Kamu alesakan?" tanya Carla ragu, karena semalam waktu ketemu Alesa dia memakai jilbab dan niqab. Tapi tatapan mata dan suaranya masih bisa dengan jelas Carla ingat.


"I-iya," jawab Alesa.


"Tadi sekretaris Fasya bilang, kalau yang sakit istrinya, eh ternyata kamu," ujar Carla seraya duduk di tepi ranjang.


"Mungkin dokter salah dengar," ucap Alesa.


Sejenak Carla menatap Alesa dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wajah Alesa yang pucat masih memancarkan aura kecantikan alami. Bahkan bibirnya yang mengering pun masih terlihat sensual.


"Kamu cantik sekali," puji Carla jujur.


"Dokter juga cantik. Sangat cocok dengan pak Adra yang tampan dan ganteng," ujar Alesa membalas pujian Carla. Carla hanya tersenyum.


"Kamu sakit apa. Semalam waktu kita ketemu baik-baik saja," Carla meraba dahi Alesa, hangat.


"Mungkin hanya masuk angin," sahut Alesa.


Uwek... Tiba-tiba rasa mual kembali menyerang perut Alesa.

__ADS_1


__ADS_2