
Part 91
Malik yang baru mendarat di bandara sultan syarif kasim Pekanbaru, mengambil ponsel di saku celana, menelepon Fasya agar segera menjemput. Hampir satu jam Malik menunggu, baru terlihat batang hidung Fasya.
"Maaf. Pa! Tadi terjebak macet," ujar Fasya merasa bersalah, karena membuat Malik menunggu.
Fasya membuka pintu mobil dan menyilakan Malik masuk, kemudian menarik pedal gas dan meluncur meninggalkan bandara. Empat pukuh lima menit kemudian Fasya menghentikan mobil di depan sebuah rumah sederhana, sekitar berukuran lima meter kali sepuluh.
"Rumah siapa ini?" Tanya Malik seraya menatap heran pada putranya.
"Ini rumah Roy. Aku tinggal di sini bersama Roy. Pa," jawab Fasya seraya memasukkan anak kunci dan memutar handle dan membuka pintu.
"Papa tidak usah bertanya. Lebih baik papa masuk dan istirahat dulu, nanti aku akan carita pada papa," ujar Fasya, dia menyela saat melihat Malik ingin menanyakan sesuatu.
"Papa tidak mau masuk, sebelum kamu cerita apa yang sebenarnya terjadi," ujar Malik berkekeh tatap berdiri di teras.
Melihat keras kepala Malik, Fasya masuk mengeluarkan dua buah kursi plastik, dia meminta Malik duduk. Fasya masuk ke dapur dan kembali lagi dengan segelas air putih di tangan.
Seraya mendudukkan bokongnya di kursi, Fasya menyerahkan gelas berisi air ke papanya. Lalu dia menarik nafas panjang. Sebelum dia melanjutkan kisahnya, Fasya terlebih dahulu meminta maaf pada Malik.
Kata demi kata terucap dari bibir Fasya, kali ini dia ingin bicara jujur pada Malik, tak satu pun yang ditutupinya, dia sudah siap menerima hukuman apa pun dari Malik papanya.
"Aku minta maaf sekali lagi. Karena telah mengecewakan papa," ujar Fasya mengakhiri ceritanya.
"Jadi Saera meninggalkanmu dan sudah mengambil alih rumah dan perusahaanmu?" Tanya Malik, Fasya hanya mengangguk.
Mendengar pengakuan putranya, Malik menarik nafas panjang, kemudian menghembuskannya pelan, berharap rasa sesak di dadanya berkurang. Malik menyesap air putih di dalam gelas beberapa teguk.
Masih terngiang di telinga Malik sumpah serapah Anema yang berjanji akan menghancurkan karir dan hidup putranya, ternyata Anema sudah memenangkan misinya. Anaknya sudah mewujudkan impian Anema.
"Kenapa kamu merahasiakan semua ini dari papa?"ujar Malik seraya memegang kedua bahu putranya.
"Aku tidak ingin menjadi beban pikiran papa lagi. Aku malu pak."
"Kamu itu anak papa satu-satunya. Papa tidak akan membiarkan kamu terpuruk," ujar Malik lagi.
Sejurus Malik menatap manik mata Fasya. Di sana malik menemukan kabut penyesalan dari putranya. Malik menepuk pundak Fasya dengan lembut, banyak pengajaran yang Fasya dapat dari kejadian demi kejadian dalam hidupnya.
__ADS_1
"Sekarang kamu kerja di mana?" Tanya Malik lagi.
"Di rumah. Pa! Aku menerima orderan pembuatan desain, video, dan banyak yang lainnya," jawab Fasya.
"Coba dari awal kamu bilang sama papa. Hidupmu pasti tidak semenderita ini," ujar Malik lagi.
"Aku takut papa marah, karena aku telah melakukan kebodohan demi kebodahan." Dua bulir kristal bening tiba-tiba mengalir disudut netra Fasya.
"Maafkan papa. Papa terlalu keras padamu, hingga kamu merasa selalu dikekang."
"Tidak. Pa! Ini murni kesalahanku. Aku anak yang durhaka, tak pernah menuruti kata-kata papa." Buliran air mata Fasya kini menganak sungai karena terharu dengan perlakuan Malik kali ini.
Suasa menjadi melankolis, dua laki-laki itu saling berpelukan dan menangis, semuanya sudah terjadi, tak ada gunanya untuk saling ego.
"Ayok ikut papa, kita temui Alesa," ujar Malik seraya menyesap sisa air mata dipipi Fasya. Fasya hanya mengangguk.
"Tapi pa! Alesa tidak menginginkan kehadiranku lagi," ujar Fasya, karena tadi pagi saat Fasya mengantar Alesa ke makam Abdurrahman, Alesa menyuruhnya pergi.
"Kalau begitu. Papa saja yang menemui dan bicara pada Alesa," ujar Malik pada Fasya. Dia tahu putranya bersalah dalam hal ini, tapi Malik sudah tidak ingin lagi menyudutkan Fasya. Dia ingin melihat putranya itu bahagia di sisa umurnya.
Fasya menyerahlan kunci mobil Roy pada Malik, Malik mengambil kunci mobil, lalu berjalan kearah mobil di parkir, Malik masuk kemudian menekan pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah Roy.
"Tidak salah aku menyerahkan rumah ini pada Alesa," gumam Malik.
Tok... Tok... Tok... Malik mengetuk pintu utama yang tertutup rapat. Sayup terdengar suara kaki diseret dari dalam. Handle pintu diputar, daun pintu terkuak setengah lebar.
"Pak Malik. Silakan masuk pak," ujar Sri seraya menguakkan daun pintu selebarnya.
"Sri! Apa kabar kamu?" Tanya Malik sambil melangkah masuk.
"Baik. Pak!"
"Saya mau ketemu Alesa," ujar Malik begitu mendudukkan bokongnya di sofa.
"Non Alesa pergi ke pemakaman bersama nyonya Asiah dan adik-adiknya," jawab Sri.
Setelah mendengar penjelasan Sri. Malik berpamitan masuk ke dalan mobil dan meluncur meninggalkan rumah Alesa menuju jalan raya. Seperlima menit kemudian, Malik sudah sampat di depan pintu gerbang TPU. Malik memarkir mobil dan turun.
__ADS_1
Sebuah mobil avanza berwarna hitam terpakir di sisi jalan masuk. Perlahan malik memasuki area pemakaman, suasana pemakan terlihat sepi, tidak ada tanda-tanda ada orang lain selain dia.
"Di mana pusara Andurrahman," batin Malik.
Perasaannya bercampur aduk, dia gugup saat mengingat akan bertemu dengan wanita yang sangat dicintainya setelah berpisah lebih kurang tiga puluh tahun. Malik terus menyusuri jalan memasuki area perkuburan semakin ke dalam.
"Tolong... Tolong..."
Sayup terdengar suara seseorang meminta tolong. Malik menajamkan prndengarannya, tiba-tiba bulu kudungnya berdiri, dia merinding, membayangkan sesuatu.
"Apa ada hantu di siang bolong," gumam Malik. Malik memutar tubuhnya.
"Tolong... Tolong aku."
Suara itu semakin jelas, Malik menghentikan langkahnya, lamat-lamat Malik mencari sumber suara. Sepuluh meter di depannya ada seorang wanita terbaring dengan posisi membelakinya.
"Kamukah yang meminta tolong?" Tanya Malik dari jarak dua meter. Dan dia bersiap-siap kabur jika wanita di depannya berubah wujud. Perlahan tubuh itu bergerak dan menghadap kearahnya.
"Anema! Kamu Anemakan?" Malik berjongkok, lalu merapikan anak rambut Anema yang berserakan. Dia memastikan kalau penglihatannya tidak salah.
"Ma-malik. Tolong aku," ujar Anema seraya berusaha mengangkat tangannya.
Dengan kedua tangannya, Malik menggendong Anema, setengah berlari membawa Anema ke mobilnya. Membuka pintu mobil dan membaringkan Anema di kursi belakang, setelah menutup pintu mobil, Malik menarik handle pintu mobil di samping stir, begitu sudah berada di dalam mobil, Malik menarik pedal gas dan meluncur meninggalkan TPU.
Dua puluh menit kemudian, Malik memasuki Area parkir rumah sakit. Malik menghentikan mobilnya di depan pintu utama UGD. Malik turun dan meminta bantuan para perawat untuk membawa Anema ke UGD.
Setelah pemeriksaan dan diambil visum. Dua orang perawat mendorong brankar membawa Anema ke ruang rawat, diikuti oleh Malik. Setelah baju Anema diganti dengan baju bersih, lalu diberikan suntikan dan obat, Anema pun tidur karena kelelahan.
Kaki Malik melangkah keluar dari ruang rawat, diliriknya jam dipergelangan tangannya, sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit. Malik baru menyadari kalau dari tadi pagi, perutnya belum terisi apa-apa. Pantas saja rasa lapar melilit-lilit.
Sambil menggulir layar ponsel mencari nomor kontak Alesa, Malik berjalan menyusuri koridor rumah sakit, dia menuju ke kantin belakang rumah sakit. Begitu masuk ke kantin, Malik mencari posisi meja di sudut kiri, setelah memesan pesanan, Malik duduk di kursi, dan menelepon nomor kontak Alesa. Aktif tapi tak ada yang angkat, Malik mencoba menghubungi sekali lagi.
"Assalamualaikum," terdengar suara gadis kecil mengucap salam dari sambungan telepon yang terhubung.
"Benar ini nomor Alesa?" Tanya Malik setelah menjawab salam.
"Iya benar. Saya adiknya."
__ADS_1
"Oh... Bolehkan ponselnya diberikan ke Alesa, saya ingin bicara penting," ujar Malik lagi.
"Kakak sedang dirawat, tidak bisa menerima telepon. Pak," sahut gadis kecil itu.