
Part 13
"Aku..." Alesa tergagap kala tiba-tiba wanita itu mencengkram bahunya dengan kuat.
"Beraninya kamu duduk di kursi Adra," ujar wanita itu mengurai cengkraman.
Sejenak Alesa menatap Wanita cantik dengan rambut tergerai indah itu. Alesa ingat foto wanita yang kemaren di lihatnya di dalam laci meja kerja Fasya dan di belakang foto itu tertulis dokter Carla.
"Dia dokter Carla. Iya benar, aku pasti tidak salah," batin Alesa.
Sementara Carla tentu saja tidak mengenal Alesa, karena dia memang tidak pernah bertemu Alesa.
"Lagi apa kamu di ruangan tunangan saya."
"A-aku tadi disuruh bang Adra untuk menyelesaikan laporan ini." ujar Alesa seraya menunjuk ke arah layar laptop.
"Beraninya kamu memanggil abang pada Arda. Panggil dia dengan sebutan pak. Dia di sini dosen dan orang penting," ujar wanita itu lagi sambil mencengkram bahu Alesa.
"Pergi dari sini." wanita itu menarik tangan Alesa dengan kasar dan mendorongnya ke luar. Alesa tidak menduga sama sekali, kalau dokter Carla bisa berbuat itu padanya.
"Atau aku salah orang, karena dokter Carla yang ku kenal sangat lembut," batin Alesa dalam hati.
Brak... Tubuh Alesa berbenturan dengan seseorang.
"Alesa! Kamu tidak apa-apa?" tanya Adra yang kebetulan datang dan dia membantu Alesa bangun.
"Carla! Kamu kenapa mengusir Alesa." Adra marah pada Carla.
Mendengar Adra menyebut nama wanita itu, Alesa jadi yakin kalau dia benar dokter Carla yang dikenalnya. Tapi kenapa sikafnya sangat berbeda.
"Aku..."
"Sekali lagi kamu seperti ini. Kita putus, aku sudah tak tahan dengan sikapmu yang terlalu posesif," tutur Adra dengan suara tinggi.
"Aku melakukan ini, karena aku cinta dan sayang padamu."
"Sikapmu itu keterlaluan. Carla! Baru satu minggu kita bertunangan. Kamu cemburu pada semua wanita. Bagaimana jika kita menikah nanti. Apa kamu akan mengurungku, hingga tak bertemu dengan wanita mana pun," ujar Adra lagi.
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan wanita lain, aku tidak mau kehilanganmu," ujar Carla membela diri.
"Carla! Kamu tidak perlu cemburu padanya. Dia adik Fasya, teman lamamu."
Fasya...
Mendengar nama itu disebut, terasa sembilu menusuk-nusuk hati Carla. Fasya laki-laki cinta pertamanya itu, telah meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Fasya telah menggores luka paling dalam di hati Carla. Fasyalah alasan Carla menjadi wanita posesif pada Adra. Dan Adra hanya menjadi bayang-bayang Fasya dalam hidup Carla.
Dulu hanya ada Fasya dalam hidup Carla, setiap hari dia bersama Fasya, di sekolah, di mall, di tempat bermain. Bahkan boleh dikatakan tiada hari tanpa Fasya, dan waktu itu Carla yakin betul, kalau Fasya akan memilih dia menjadi wanita yang menghuni hatinya. Namun, Carla salah, kebersamaan setiap hari bersama Fasya tidak menghadirkan cinta di hati Fasya.
Kala Fasya mengenalkan Saera sebagai pacarnya pada Carla. Saat itu dunia Carla benar-benar hancur, Carla terpuruk, karena tidak sanggup menghadapi kenyataan. Carla istirahat dan mengambil masa langkau selama dua semester.
Begitu dia yakin mampu menghadapi kenyataan kalau Fasya dan Saera sudah menikah, Carla kembali lagi ke Pekanbaru untuk mengabdi di rumah sakit swasta milik kakeknya. Walaupun sebenarnya Carla belum ikhlas melepaskan Fasya seutuhnya.
Ketika bertemu Adra dan Carla tahu kalau dulu Adra mengejar cintanya. Kesempatan itu Carla gunakan untuk menarik simpati Adra dan mengajaknya bertunangan, sebenarnya tujuan utama Carla menjalin hubungan dengan Adra hanya ingin mendapatkan kabar-kabar tentang Fasya. Sejatinya Carla belum mampu mave on dari Fasya. Sementara Fasya tidak tahu sama sekali kalau Carla juga memendan rasa padanya.
"Adik? Adik dari mana, bukannya selama ini Fasya tak punya adik," batin Carla seraya menilik Alesa dari atas ke bawah.
"Alesa. Itukan nama istri Fasya yang sakit kemaren. Apa Fasya membohongiku, kalau dia sudah menikah. Apa dia sedang menyembunyikan pernikahannya," batin Carla lagi. Beberapa pertanyaan bersarang dikepala Carla.
__ADS_1
Sekali lagi Carla memperhatikan Alesa. Dia harus mencari tahu siapa sebenarnya wanita ini. Semoga saja benaran adik Fasya. Itu yang ada dipikiran Carla sekarang.
"Alesa! Kakak minta maaf ya, karena sudah salah paham sama kamu," ujar Carla menyodorkan tangan ke arah Alesa. Alesa menyambut uluran tangan Carla.
"Adra! Aku minta maaf. Semua itu aku lakukan karena aku takut kehilanganmu," ucap Carla berdrama quin dengan mata berkaca-kaca. Kalau sudah begitu Adra akan melunak dan segera memeluknya.
"Sudah! Jangan menangis," Adra menyesap air mata yang merembes di pipi Carla. Adra sendiri tidak bisa memastikan kalau dia mampu bertahan dengan Carla. Jika sikaf Carla selalu begitu, lama kelamaan cinta Adra yang besar bisa terkikis. Adra merasa tidak bebas dan terkekang.
Melihat Adra dan Carla berbaikan Alesa pun berpamitan. Dia tidak ingin berlama-lama diantara dua sepasang kekasih itu.
Alesa melangkah menuju lift, dia melihat ke kiri dan ke kanan tidak ada orang lain selain dirinya. Alesa berdiri termagu di depan menunggu pintu lift terbuka sendiri. Sepuluh menit berlalu pintu lift masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda kalau akan terbuka.
Alesa kembali memandang ke kiri dan ke kanan, berharap ada orang tempatnya bertanya. Namun harapannya gagal, karena orang-orang sudah pada istirahat shalat di lantai dasar.
"Ku coba saja menekan tombol-tombol ini," batin Alesa mendekat.
"Bagaimana kalau aku salah tekan tombol dan liftnya macet," gumam Alesa mengurungkan niat.
"Kenapa aku bodoh sekali," ujar Alesa menepuk jidatnya, lalu merogoh tas mengambil benda pipih miliknya. Menggeser layar ponsel mencari youtube torurial menggunakan lift dengan benar.
"Ternyata gampang." gumam Alesa seraya memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Dia pun mempraktekkan ilmu dari youtube yang baru saja ditontonnya. Dia jadi tersenyum sendiri, karena kebodohannya.
Lift terbuka, Alesa masuk terus menekan tombol lantai dasar, dalam hitungan detik lift sudah membawanya turun. Alesha ke luar dari lift terus menuju musallah kampus untuk menunaikan shalat zuhur.
Setelah shalat. Alesa berjalan mengitari sudut-sudut kampus, dia harus mengetahui seluk beluk kampus, agar saat sudah masuk kuliah, dia tidak bingung lagi.
Begitu sudah puas mengitari kampus. Alesa merasa haus dan lapar, dia pun berjalan kembali, mencari-cari cafe atau kantin kampus.
"Kak! kantin di mana ya?" Alesa bertanya pada mahasiswa yang berpapasan dengannya.
"Di depan, sebelah kiri dik."
Begitu sampai di kantin, Alesa mencari meja paling sudut, karena dia tidak terlalu suka pada keramaian. Sambil menunggu pesanan, Alesa kembali mengambil ponselnya. Pantas saja kampung tengahnya terasa perih, ternyata jam sudah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit.
"Permisi. Apa boleh saya duduk di sini."
Mendengar seseorang menyapanya, spontan Alesa mendongakkan kepala ke arah sumber suara.
"Hay! kamu wanita bercadar yang tadi pagi itukan?"
Laki-laki pemilik avanza yang tadi hampir menyerempetnya sudah duduk di depan Alesa. Alesa tidak merespon ucapan laki-laki itu. Dia masih mereka-reka apakah laki-laki yang sekarang duduk di depannya, benar Bambang kakak kelas, yang telah mengusik hari-hari dua tahun terakhir ini.
"Apa ku tanyakan saja padanya. Dia itu Bambang apa bukan," batin Alesa.
"Kamu siapa? Sepertinya tidak asing. Apa kita selama ini pernah bertemu?"
Belum sempat Alesa melontarkan pertanyaan, malah laki-laki bertanya padanya. Menyadari laki-laki itu tak mengenalinya sama sekali. Alesa pun akhirnya memutuskan untuk tidak akan bertanya apa pun pada laki-laki itu.
Sementara laki-laki di depan Alesa berusaha mengingat, apakah dia pernah bertemu dengan gadis ini. Rasa penasaran bergelayut di depannya.
"Hay! kanapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" Tanya laki-laki itu sambil melepaskan topi yang dipakainya.
"Benar dia Bambang," batin Alesa kala melihat tanda lahir kecil, warna kecoklatan di antara sisi dahi dan sisi rambut laki-laki itu. Tanda itu membuat Alesa yakin, kalau laki-laki di depannya benar Bambang yang dicintainya.
"Hay! Jawablah! Kamu siapa?"
"Apa itu penting?" Alesa malah balik bertanya.
__ADS_1
"Iya. Sangat penting, karena aku merasa suaramu sangat familiar." ujar laki-laki itu lagi.
"Jika suaraku sangat familiar di telingamu. Pasti kamu mengenaliku." Tantang Alesa, dia tidak ingin menyebutkan identitasnya.
"Apa kita pernah bertemu sebelum?"
"Selalu," jawab Alesha singkat.
"Boleh kau membuka cadarmu, agar aku bisa mengenalimu," pinta laki-laki itu, seraya menangkupkan kedua tangannya di dada tanda permohonan.
Alesa tersenyum tipis, dia berhasil membuat laki-laki di depannya penasaran. Dan tentu saja Alesa tidak mau memenuhi permintaan laki-laki itu untuk membuka cadarnya.
"Biar saja Bambang tidak mengenali aku. Mungkin ini lebih baik, ketimbang dia tahu," batin Alesa lagi.
"Please dik! sebentar saja," Laki-laki itu bermohon pada Alesa, karena dia merasa pernah dekat.
"Tidak! Emang kamu siapa, beraninya memintaku membuka niqab ini," jawab Alesha tegas.
"Kamu tega membuat aku penasaran."
"Salah kamu! kenapa bisa lupa dengan teman sendiri," ungkap Alesha santai.
Dalam hati Alesha tertawa, ternyata cadar yang digunakan banyak manfaatnya, salah satunya membuat orang tak bisa mengenalinya, dengan demikian dia bisa mengerjai orang tersebut.
"Teman? Apa aku tertular virus amnesia," batin laki-laki itu.
Seraya memijat-mijat pelipisnya, laki-laki itu terus mengingat satu persatu temannya. Namun, gagal menemukan teman wanitanya yang bercadar, sejak dari lahir hingga usia dua puluh satu, dia merasa belum punya teman wanita yang bercadar.
"Ya Tuhan. Kenapa aku semakin penasaran dengan gadis ini. Suaranya begitu familiar di telingaku," batin laki-laki itu terus berusaha mengingat. Sementara Alesha masih asik dengan ponselnya, dia tak perduli kalau laki-laki yang duduk di depannya sedang memperhatikannya dengan intens.
"Kak! Ini pesanannya," seorang pelayan kantin meletakkan menu makan siang Alesa.
"Dik! pesan satu lagi dengan menu yang sama." ujar laki-laki itu.
Setelah berbasa-basi. Alesa segara menyantap makan siangnya dari balik cadar. Cukup sepuluh menit makannya pun sudah selesai, lalu beranjak dari duduknya.
"Hay! kamu mau ke mana?"
"Pulang." jawab Alesa.
"Tunggu!"
Laki-laki itu ikut berdiri, padahal makannya baru dua suap. Dia tidak ingin kehilangan jejak wanita yang telah membuatnya penasaran. Laki-laki itu pun mengiringi langkah Alesa menuju kasir.
"Sudah dibayar sama abang itu. Kak," ujar sang kasir saat Alesa menyodorkan selembar uang ratusan.
"Emang berapa harga makanan saya?"
"Lima belas ribu."
"Apa adik punya uang kecil, saya mau tukar." ujar Alesa pada sang kasir. Alesa berniat membayar makanannya, dia tidak mau terhutang budi pada siapapun.
"Ada. Tapi tidak cukup. Kak." jawab sang kasir.
Setelah mengucapkan terima kasih. Alesa membalikkan tubuhnya, dan laki-laki itu berdiri tepat di depannya. Alesa tidak kaget karena dia sudah menduganya.
"Nih, kembalikan delapan puluh lima ribu," ujar Alesa menyodorkan uang ratusan yang tadi dipegangnya.
__ADS_1
"Okay." laki-laki itu mengambil uang di tangan Alesa dan memasukkan ke saku kemejanya, lalu beranjak keluar kantin.
"Hay! Mana kembaliannya?" Teriak Alesa saat menyadari Bambang telah keluar mendahuluinya.