
Part 84.
"Waalaikumsalam," balas Alesa dengan suara lirih, dia masih tak percaya, kalau bisa mendengar kembali suara Fasya setelah Fasya menjatuhkan talak empat tahun lalu.
"Sa! Umi barusan meneleponku. Katanya sudah masuk Pekanbaru dan sekarang sudah menuju rumah sakit." ujar Fasya langsung ke intinya.
Sebenarnya tadi Fasya juga kaget Asiah meneleponnya. Dia hampir saja keceplosan mengatakan tak satu rumah dengan Alesa, saat Asiah mengatakan sudah menghubungi Alesa tapi nomornya sedang sibuk. Untung Fasya sempat berpikir jernih. Dari pembicaraan Asiah, Fasya mengambil kesimpulan kalau wanita setengah baya itu belum tahu kalau dia dan Alesa sudah berpisah.
"Kata umi tadi dia meneleponmu dan nomor ponselmu sedang sibuk," ujar Fasya lagi.
"Oh, I-iya tadi saya menelepon adik. Terima kasih infonya," ujar Alesa terbata.
"Maafkan aku umi. Aku belum kasih tahu umi, kalau sudah pisah dengan Fasya" batin Alesa merasa bersalah, hingga uminya nyasar menelepon ke Fasya.
Asiah yang tidak tahu menahu bagaimana hubungan Alesa dan Fasya menduga kalau Fasya dan Alesa baik-baik saja. Alesa bukan tanpa alasan tidak memberi tahu pada umi dan abinya, kalau Fasya sudah menalaknya, karena dia tidak mau kesehatan abinya terganggu.
"Sa! Apa kamu masih di situ?" Tanya Fasya yang tak mendengar respon Alesa.
"I-iya," jawab Alesa gugup.
"Apa abi dan umi belum tahu kalau aku sudah berpisah?" Tanya Fasya lagi.
"I-iya. Aku tidak mau abi tahu berita ini dan aku mohon padamu jangan bicara apapun pada umi dan abi," ujar Alesa lagi lalu menutup teleponnya.
Alesa meraih tas tangan, memasukkan ponsel dan mengganti bajunya. Kemudian mengambil kunci mobil di atas nakas. Begitu keluar kamar Alesa menuju ke kamar Sri, mengabari Sri kalau adik-adiknya dua atau tiga jam lagi sampai.
"Non! Mau ke mana?" Tanya Sri saat melihat Alesa sudah berpakaian rapi.
"Ke rumah sakit. Abi dan umi sudah masuk kota Pekanbaru dan sekarang sedang menuju rumah sakit."
Setelah menitip pesan pada Sri, Alesa beranjak ke luar, sayup dari luar terdengar suara mobil masuk. Dan saat Alesa membuka pintu utama, sebuah toyota berwarna putih berhenti di depan rumahnya.
"Mobil siapa?" Batin Alesa bertanya, matanya tertuju pada pintu mobil, menunggu sang pemilik turun.
"Fasya! Kenapa dia ke sini."
Mata Alesa berkerjap, dia ingin memastikan kalau laki-laki yang berdiri di depannya benar Fasya. Fasya yang baru turun dari mobil langsung berjalan mendekat ke arah Alesa.
__ADS_1
"Kamu mau ke rumah sakitkan?" Tanya Fasya, tanpa basa basi.
"Ayok ku antar," ujar Fasya lagi seraya meraih tangan Alesa.
"Aku bisa pergi sendiri," ujar Alesa seraya menarik tangannya dari genggamam Fasya.
"Dasar laki-laki yang tak berperasaan," gumam Alesa.
Dulu dengan gampang Fasya menikahinya, kemudian menalaknya dan sekarang tanpa beban dan rasa bersalah sedikitpun Fasya datang. Dan mengajak Alesa pergi bersama ke rumah sakit. Apa yang ada dipikiran Fasya. Apa dikiranya Alesa itu wanita gampangan.
"Aku tidak boleh pergi dengan Fasya," batin Alesa, seraya menarik nafas panjang.
"Aku tahu. Kamu marah padaku, untuk kali ini lupakan itu, demi abi," ujar Fasya datar.
Alesa bergeming, tidak bicara sepatah pun, juga tak beranjak. Antara percaya dan tidak dengan ucapan Fasya. Semudah itu dia mengeluarkan kata-kata lupakan.
"Enak banget dia ngomong. Dasar laki-laki tak berperasaan," lagi-lagi Alesa membatin.
Diamnya Alesa bukan karena dia lemah, dia masih mengingat jasa Malik papanya Fasya. Walau bagaimana keluarga Fasya terutama papanya, punya andil besar atas kesuksesan Alesa. Alesa tidak mau menjadi kacang yang lupa kulitnya. Dia harus tetap menjaga sikap pada Fasya.
"Baiklah! Jika kamu tidak mau semobil dengan aku. Kamu duluan, biar aku dibelakang menyusul," ujar Fasya lagi, kala tak mendengar respon Alesa. Alesa mendongakkan wajahnya menatap Fasya.
"Selamat malam pak Fasya," Yanto menyapa Fasya dengan ramah. Walau bagaimana pun Fasya dulu anak majikan Yanto, biar sekarang Yanto bekerja dengan Alesa dia tetap menghormati Fasya.
"Malam juga Yanto! Kamu makin sehat saja. To," balas Fasya seraya menepuk pundak Yanto.
Yanto hanya tersenyum, lalu pamit mengeluarkan mobil dari garasi. Saat mobil sudah berada di sisi Alesa, Yanto turun dari mobil dan membuka pintu depan, menyilahkan Alesa masuk.
"To! Apa aku boleh ikut di mobilmu?" Tanya Fasya.
Mendengar pertanyaan Fasya, Yanto memandang ke arah Alesa, dia tak berani mengiyakan, sebelum dapat persetujuan Alesa. Alesa hanya mengangguk, terlalu egois rasanya, jika dia tidak mengijinkan Fasya ikut.
"Silakan pak Fasya," ujar Yanta, begitu mendapat ijin dari Alesa.
Fasya menarik handle pintu mobil dan duduk di kursi belakang. Begitu Fasya sudah berada di dalam mobil, Yanto menarik pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah papanya yang sudah dihibahkan Malik ke Alesa.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tak ada yang memulai pembicaraan, baik Alesa maupun Fasya hanya asik menatap layar ponsel masing-masing. Yanto yang fokus menyetir sesekali mengintip Alesa dan Fasya lewat kaca spion depan.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian mobil yang dibawa Yanto memasuki area parkir rumah sakit. Yanto memarkir mobil lalu turun, mengeliling membuka pintu untuk Fasya dan Alesa.
"Terima kasih," ujar Fasya.
Seperdetik kemudian sebuah ambulance memasuki area rumah sakit dan berhenti di depan pintu utama rumah sakit. Alesa mendelati ambulance itu. Begitu pintu ambulance terbuka, dokter Anzar keluar.
Laki-laki yang sepermain Alesa, lebih tua lima tahun dari Alesa itu, nampak lebih gagah sekarang dengan jas putihnya. Alesa menatap tak percaya, kalau Anzar yang dulu kurus krempek, kini berisi padat dan tegap, kulitnya yang coklatpun sudah bersih.
"Hay! Kamu Alesakan?" tanya Anzar. Alesa mengangguk.
"Kamu bercadar sekarang. Apa kutu di kepalamu sudah tidak ada?" Anzar mengenang masa kecilnya. Kala mereka habis berenang di sungai, mereka akan heboh mencari kutu di kepala Alesa.
Alesa tertawa malu, mendengar celotehan Anzar. Anzar pun dengan spontan mengusap kepala Alesa dengan tangannya. Ternyata tak ada yang berubah dengan Anzar yang sudah jadi dokter dengan Anzar yang dulu.
"Dokter! Terima kasih sudah menemani orang tua saya selama di perjalanan," ucap Alesa seraya menangkupkan kedua tangan di dada.
Mata Anzar tak berkedip saat melihat Alesa begitu sopan padanya, Alesa sekarang bukan Alesa yang dulu, ugal-ugalan dan bar-bar. Kini Alesa terlihat sangat manis, tutur bahasanya pun sangat lembut.
Anzar sama sekali tak menduga kalau gadis tetangganya yang dulu dekel dan ingusan sudah secantik dan sedewasa ini. Dulu waktu Anzar SMA, Alesa masih berpakaian seragam putih merah, dengan ramput yang dikucir sesuka hati, suka main lumpur dan hampir setiap hari mencari ikan di parit, hingga Anzar dan teman-temannya selalu menyebut Alesa dengan panggilan anak parit.
Dua orang perawat rumah sakit datang membantu menurukan dan mengeluarkan Andurrahman yang terbaring lemah di atas barankar. Bersamaan dengan itu Asiah turun seraya memegang botol infus suaminya.
"Umi!" Begitu melihat sosok Asiah. Alesa memeluk wanita setangah baya itu.
Dokter Anzar mengambil alih botol infus di tangan Asiah, brankar di dorong oleh kedua perawat menuju ruang UGD. Alesa menyelesaikan semua administrasi yang berhubungan dengan identitas pasien. Setelah dilakukan pemeriksaan, Abdurrahman dibawa ke ruang rawat.
"Umi! Umi pulang dengan Yanto. Istirahat di rumah, biar Aku dan Alesa yang menunggu abi," ujar Fasya, kala Abdurrahman sudah berada di ruang rawat.
"Abang juga boleh pulang istirat. Besokkan kerja, biar Aku saja yang menunggu abi," celetuk Alesa menyela ucapan Fasya.
Terpaksa Alesa berbahasa formal, andai tak lagi bersama uminya, tak sudi lagi dia memanggil laki-laki itu dengan sebutan abang. Alesa berharap Fasya segera pergi dari rumah sakit.
"Abang akan tetap di sini. Besok bisa minta cuti," ujar Fasya mematahkan pendapat Alesa.
Alesa menarik nafas panjang, dia heran untuk apa Fasya bertahan di sini dan menaminya atau hanya sekedar menunjukkan pada umi, kalau dia laki-laki yang bertanggung jawab.
"Tidak Fasya! Aku tak akan membiarkanmu menarik simpati umi dan Abi. Di saat keadaan abi membaik aku akan menceritakan semua perlakuanmu padaku," batin Alesa.
__ADS_1
"Pulanglah. Aku tak mau kamu ada di sini," bisik Alesa pada Fasya.