
Part 92
Mendengar penjelasan gadis kecil itu. Malik menanyakan Alesa dirawat di mana dan saat mendapat jawaban, Malik membayar pesanannya yang belum sempat disantap, dia bergegas meninggalkan kantin, menuju ruang ICU.
Dari kejauhan Malik melihat sosok Asiah, dua orang remaja dan dua anak-anak, sedang duduk di teras ruang ICU. Pelan tapi pasti Malik terus berjalan mendekat, semakin dekat Malik semakin gugup, debar jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang dua kali dari biasa.
"Wanita itu terlihat kurus dan tak terawat," batin Malik iba.
"Asiah," sapa Malik yang sudah berdiri di depannya.
Mendengar seseorang menyebut namanya. Asiah tidak langsung mendongakkan kepala, dia menatap sepatu laki-laki itu, terus ke atas hingga sampai ke wajah. Laki setengah baya sedang tersenyum ke arahnya, Asiah hampir tak mengenali, karena Malik terlihat lebih gagah dengan postur tubuh yang berisi dan kokoh, tidak seperti tiga puluh tahun yang lalu, kurus krempeng.
"Abang Malik!" sapa Asiah ragu, dia berdiri dan menilik laki-laki yang sudah berdiri di depannya sambil merentangkan tangan. Malik mengangguk mengurai keraguan Asiah, Asiah berhambur dalam dekapannya, dia menangis terharu.
Malik mendakap erat wanita yang kini terlihat kurus dan lebih tua dari usianya. Namun, aura kecantikannya masih tergambar berbaur dengan garis-garis lelah di wajahnya. Dua bulir kristal tiba-tiba meluncur di sudut netra Malik saat dia merasakan tubuh Asiah tergoncang dalam isaknya. Malik tak kuasa menahan rasa haru atas pertemuan ini.
Perasaan Asiah tidak beda jauh dengan Malik. Dia menangis dalam dekapan laki-laki yang dulu sangat mencintainya. Laki-laki yang dulu siap jadi pelindungnya, laki-laki yang dulu akan terus membelanya, walaupun jelas-jelas perbuatannya salah. Termasuk kasusnya dengan Anema.
"Maafkan abang. Baru bisa menemuimu, selama ini abang sudah berusaha mencari keberadaanmu," ujar Malik mengurai pelukannya dan menyesap air mata yang masih membekas di pipi wanita yang berstatus adik angkatnya itu.
Malik diadopsi oleh Hendro papanya Asiah saat berusia dua belas tahun, pada waktu itu Asiah berusia enam tahun. Beriring waktu papanya Asiah sangat menyayangi Malik, dan dia ingin menikahkan Malik dengan Asiah. Namun, karena Asiah memiliki ke kasih, Asiah menolak permintaan papanya, efek dari penolakan itu Asiah diusir.
Kepergian Asiah dari rumah, membuat perubahan besar pada Hendro. Hendro menyesali perbuatannya, dia droup dan sakit-sakitan. Namun, rasa gengsi mengalahkan perasaannya, hingga dia membiarkan rindu pada Asiah merenggut nyawanya. Setelah sepuluh tahun keluar masuk rumah sakit.
Sebelum Hendro menghembuskan nafas terakhir dia sempat memberi amanah kepada Malik untuk mencari Asiah. Sejak saat itu tujuan hidup Malik hanya ingin menemukan Asiah. Malik menyuruh dan menyebarkan orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan Asiah. Namun, Asiah seperti hilang ditelan bumi.
Malik tak berputus asa, dia terus menyusuri negeri bertuah ini, hingga sampai kepelosok pedesaan dan dia menemukan titik terang kala salah seorang mata-mata Malik menemukan jejak Asiah dan keluarganya berada di negeri seribu parit, dan pada saat itulah dia memerintahkan Fasya untuk mencari keluarga Asiah dan menikahi Alesa.
__ADS_1
"Maafkan aku. Aku sudah jadi anak dan adik yang durhaka," ujar Asiah masih dalam isaknya. Asiah masih ingat, dia mencari maki Malik, kala papanya menginginkannya menikah dengan Malik.
"Sudah! Lupakan yang lalu," ujar Malik lagi dia kembali menyesap air mata Asiah.
"Kamu tidak ingin mengenalkanku pada anak-anakmu." Malik mengalihkan pembicaraan.
Ke empat anak Asiah hanya menatap adegan pelukan Asiah dengan laki-laki asing yang tak mereka kenal. Mereka berempat hanya saling pandang.
"Ayok sini! Salim dengan Om, Om Malik ini, abangnya umi," ujar Asiah. Ke empat adik Alesa pun bersalaman dengan Malik.
Setelah adegan mengharukan itu, Asiah mengajak Malik masuk menjenguk Alesa. Dari peristiwa kejadian hingga sekarang Alesa masih belum sadar, statusnya masih koma. Malik menatap keponakan sekaligus mantan menantunya itu dengan perasaan sedih.
"Apa yang menyebabkan Alesa terluka?" Tanya Malik saat melihat perban di kepala Alesa.
"Semua ini salahku. Alesa menanggung akibatnya," ujar Asiah dengan mata berkaca-kaca.
Sepeninggalan Yanto dan ke empat anaknya, Asiah mendudukkan bokongnya di kursi tunggu, perbuatannya diikuti Malik, kini mereka duduk bersebelahan.
"Katakan padaku. Siapa yang membuat Alesa terluka?" Tanya Malik lagi seraya menatap intens pada Asiah.
"Anema!"
"Apa! Anema!" Malik terkejut, spontan dia terbayang dengan Anema yang sedang terbaring di ruang rawat.
Asiah mulai menceritakan dari awal pertemuannya dengan Anema, penyerangan Anema pada dirinya dan Alesa, hingga keberutalan putranya yang menghajar Anema.
"Berarti Anema terluka di pemakaman tadi ulah adiknya Alesa," batin Malik, karena tadi Malik belum sempat menanyakan penyebab Anema terluka.
__ADS_1
"Aku tidak tahu bagaimana nasib Anema di pemakaman itu, karena melihat Alesa terluka. Aku meninggalkannya," ujar Asiah lagi, dia kembali merasa bersalah karena mengabaikan Anema yang sedang terluka.
"Sudah! Lupakan tentang Anema, kita fokus dengan ke sembuhan Alesa," ujar Malik dia kembali memeluk Asiah yang dalam keadaan cemas, karena memikirkan Anema.
Malik tidak mau melihat Asiah bersedih lagi, dalam pelukan dia mengusap punggung Asiah dengan sayang. Dulu dia sering melakukan itu, jika Asiah menangis karena berkelahi dengan temannya atau di marahi papa angkatnya. Asiah yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, karena ibunya meninggal saat melahirkannya.
Malik diadopsi papanya pun karena permintaan Asiah yang pengen punya saudara. Papa Asiah membesarkan Asiah seorang diri dengan penuh kasih sayang, hingga Asiah tumbuh menjadi gadis manja dan pembangkang.
Hanya Abdurrahman yang bisa mengubah sikap Asiah menjadi wanita penurut. Setelah menikah tiga tahun dan usia Alesa dua tahun, Asiah dan Abdurrahman pernah ke Pekanbaru mengunjungi Papanya. Namun, di pintu gerbang dia malah tak diijinkan security masuk.
"Maaf. Non! Saya tidak berani mengijinkan non masuk, ini perintah dari pak Hendro," ujar sang security, karena Hendro mengancam security itu dipecat, jika mengijinkan Asiah masuk. Sejak saat itu Asiah tak pernah lagi kembali ke Pekanbaru.
Asiah yang tidak pernah merasa hidup susah. Setelah menikah dengan Abdurrahman keadaannya berubah tiga ratus enam puluh derajat, pada waktu usaha ternak ayam Abdurrahman kena musibah, semua ayamnya mati terkena penyakit. Abdurrahman bangkrut, dia menghidupi anak istrinya hanya dari gaji menjadi guru honor.
Kehidupannya dengan Abdurrahman semakin parah setelah Abdurrahman dinyatakan menderita kanker paru-paru, pada waktu itu Asiah sedang mengandung anak bungsunya. Selama menikah dengan Abdurrahman semua dirasanya. Bahkan dia pernah hampir putus asa dan menyerah. Namun, kasih sayang Abdurrahman membuatnya bertahan dan menjadi istri yang taat dan sabar. Asiah pun menghadapi semua masalah hidupnya dengan ikhlas.
"Tapi. Bang..." Asiah mengurai pelukan Malik. Dia teringat Anema yang sedang terluka dan terkulai di atas salah satu kuburan.
"Percaya pada abang. Anema akan baik-baik saja," ujar Malik.
Dreet... Dreet... Dreet... tiba-tiba ponsel Malik berbunyi, Malak merogoh saku celananya, mengambil ponsel dan mengecek siapa yang memanggil, kemudian ijin ke Asiah untuk menerima telepan.
Beranjak menjauh beberapa meter dari Asiah. Malik menggeser gagang telepon berwarna hijau dan menganggat panggilan telepon dari nomor tak di kenal.
"Assalamualaikum. Pak Malik, pasien atas nama Anema sudah terbangun," ujar suster. Tadi Malik memang sempat berpesan pada suster jaga, kalau dia akan keluar, dan meminta suster untuk memberitahunya jika Anema terbangun.
"Baik! Saya segera ke sana," ujar Malik setelah membalas salam suster.
__ADS_1