Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Terungkap


__ADS_3

Part 36


"Assalamualaikum. Pak," sapa Roy.


"Baik. Pak! Kebetulan saya lewat kantor cabang, bapak tunggu di depan, sepuluh menit lagi saya sampai kelokasi," ujar Roy.


Hanya itu yang bisa disimak Alesa, dia tidak tahu Roy bicara dengan siapa, karena Roy menggunakan Headset.


Sepuluh menit kemudian, Roy menepi dan menghentikan mobil di depan sebuah kantor. Seorang laki-laki paroh baya keluar dari pintu kantoa dan berjalan menuju ke arah Roy memarkir mobil. Roy menurunkan kaca jendela.


"Pak Burhan," sapa Alesa kala mengenali laki-laki paroh baya itu yang sedang ditunggu Roy.


Burhan menoleh ke arah suara. Matanya membola saat melihat wanita yang duduk di samping Roy.


"Eh. Non Alesa," sapa Burhan, seraya mengangguk hormat.


Melihat Burhan begitu hormat pada Alesa, membuat Roy heran dan bertanya dalam hati. Siapa sebenar wanita yang sekarang sedang bersamanya.


"Bapak kenal dengan di wanita ini?" Tanya Roy seraya menoleh ke arah Alesa.


"Iya. Dia kan nyonya ke dua bos bapak," ucap Burhan.


"Fasya maksud bapak?"


"Astagfirullah," ucap Burhan seraya menutup mulutnya. Dia baru sadar kalau bicara keceplosan.


"Eh. Anu..." Burhan jadi serba salah.


Seketika wajah Burhan supir pribadi Malik papanya Fasya itu berubah pias, yang kemaren diberi tugas menemani Fasya ke kampung Alesa. Dan dia telah telah berjanji pada Fasya untuk merahasiakan pernikahan Fasya dan Alesa, sekarang dia telah melanggar larangan Fasya dan telah mengatakannya pada Roy


"Ya Allah. Bagaimana ini," ujar Burhan, sambil meraup habis wajah dengan kedua tangannya.


"Tenang. Pak! Rahasia bapak aman di tanganku," ujar Roy menepuk pundak Burhan.


"Aku mohon pada pak Roy, jangan kasih tahu pak Fasya. Aku bisa kehilangan pekerjaanku," ujar Burhan sambil menangkupkan kedua tanhannya di dada.


"Saya janji. Pak," ujar Roy menepuk bahu Burhan.


Setelah menyerahkan file yang di minta Fasya. Burhan pun berpamitan dan memohon kepada Roy untuk menutup rahasia yang terlanjur bocor.


Burhan kembali masuk ke kantor. Roy menekan pedal gas, mobil pun meluncur meninggalkan tempat kerja Burhan dan melaju di jalan raya.


"Jadi kamu istri kedua. Fasya?" Tanya Roy ingin mendapat jawaban dari Alesa.


"Kenapa kamu bertanya lagi, bukannya tadi pak Burhan sudah mengatalannya padamu?" Alesa balik bertanya.


"Apa kamu sudah tahu kalau Fasya punya istri?"


"Sudah," jawab Alesa singkat.


"Dasar penggoda," ketus Roy.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Apa mananya, jika ada wanita mau menikah dengan laki-laki yang sudah beristri, selain penggoda. Atau.... istilah sekarang ini. Peeeelaaakoooor," ujar Fasya sengaja mengeja hurup ke huruf.


Mendengar Roy menyebutnya pelakor. Alesa menoleh ke arah Roy, ingin rasanya dia mencabik mulut laki-laki yang sekarang berada di sampingnya.


"Kenapa? Mau marah? perebut suami orang. Emang peelaakorkan namanya?" Roy memperjelas dengan mengajukab beberapa pertanyaan.


"Berhenti! Turunkan saya di sini," ucap Alesa ketus, seraya menatap Roy intens.


Sakit hati Alesa saat mendengar ucapan Roy yang mengatainya pelakor. Andai tidak ingat kesehatan mata, mungkin dia sudah meraung-raung menangis, karena tidak terima jika dia dikatai pelakor.


Roy tak merespon permintaan Alesa, dia pura-pura tak mendengar dan tetap fokus menyetir.


"Berhenti," teriak Alesa.


Seketika Roy berhenti dan menepikan mobilnya, lalu meraih ponselnya dan menelepon Fasya.


"Assalamualaikum."


Roy mengucap salam dan mengabarkan kalau Alesa sedang bersamanya, posisi dekat kantor gumbur. Setelah selesai menelepon, mobil meluncur kembali, karena Fasya meminta Roy menjaga Alesa dan mengantarkannya dengan selamat.


Alesa kesal melihat Roy sama sekali tak memperdulikannya. Bukannya merespon ucapan Alesa, dia malah bersendung sambil bersiul. Sementara Alesa mengutiki Roy dalam hati, hanya dalam hati, bicara pun percuma.


Dua puluh menit kemudian, Roy sudah memasuki pekarangan rumah Fasya. Roy memarkir mobil, lalu beranjak keluar disusul Alesa.


Baru saja Alesa memegang handle pintu ingin masuk, terdengar suara deru mobil Adra masuk. Alesa menoleh ke arah mobil yang baru datang. Dari dalam mobil keluar dua sosok laki-laki yang tadi sempat bersetegang.


"Alesa! Kamu baik-baik sajakan?" Tanya Adra yang begitu keluar langsung menemui Alesa. Alesa hanya mengangguk.


Setelah bicara begitu, Adra pamit pada Fasya. Kemudian kembali ke mobil dan meluncur meninggalkan rumah Fasya. Sementara Roy hanya memperhatikan gerak gerik dua sahabat itu.


"Sebegitu perhatiannya Adra sama Alesa. Apa Adra menyukai Alesa," batin Fasya.


Setelah dua kali pertemuan, dengan Adra selama bertunangan dengan Carla, ada keanehan yang Fasya rasakan. Perlakuan Adra terhadap Carla biasa-biasa saja. Tapi pada Alesa, perhatiannya luar biasa.


"Atau ku biarkan saja Adra menyukai Alesa," batin Fasya. Namun, ada kebimbangan.


Tit, tit, tit...


Bunyi kelakson mobil Saera yang baru datang membuyarkan lamunan Fasya.


"Mobil baru. Nyah?" Tanya Roy sambil menilik.


Saera yang baru ke luar dari mobil hanya tersenyum lalu mendekati Fasya.


"Terima kasih ya sayang. Sudah memenuhi permintaanku," ujar Saera bergelayut manja, lalu mencium kedua pipi Fasya.


"Bos! Kapan aku di kasih bonus, buat beli mobil baru juga," celetuk Roy sambil nyengir. Fasya membelalakkan matanya mendengar ucapan Roy. Dia sendiri saja sampai saat ini, mobilnya sejak dibeli tujuh tahun yang lalu belum diganti.


Sementara Alesa saat melihat Saera datang, langsung masuk ke kamar. Dia tidak ingin Saera tahu, kalau matanya diperban gara-gara dibokem Fasya.

__ADS_1


"Saera pasti bertepuk tangan. Jika tahu mataku terluka," batin Alesa.


Begitu masuk ke kamar, Alesa mengunci rapat pintu kamarnya. Membuka niqab dan jilbabnya, lalu berdiri di depan cermin, membuka pemban di matanya. Perlahan Alesa membuka kelopak matanya, masih terasa sakit. Alesa mengerjapkan berkali-kali.


"Duh, masih tidak bisa terbuka dengan sempurna, masih terasa sakit," batinnya.


Setelah puas menilik wajahnya di cermin, Alesa naik ke tempat tidur merebahkan tubuh lelahnya. Dan dia terlelap.


Tok


Tok


Tok


Terdengar ketukan keras di pintu, membangunkan Alesa.


"Alesa! Alesa! Buka pintunya." Suara Saera melengking, dia terus mengetik daun pintu.


"Saera! Biarkan Alesa istirahat, dia terlalu capek hari ini." Sayup terdengar suara Fasya.


Mendengar suara Fasya. Alesa yang tadi beranjang ingin membuka pintu, mengurungkan niatnya. Alesa bersandar di daun pintu dan menguping pembicaraan Saera dan Fasya.


"Tapi Alesa harus memasak untuk makan malam," ujar Saera protes.


"Bisa disiapkan sama bibik," ujar Fasya lagi.


"Tidak bisa! Alesa sudah seharian berada di luar, sekarang di harus menyelesaikan pekerjaan rumah."


"Alesa! Alesa! Buka pintunya." Kali ini Saera menggedor-gedor pintu kamar Alesa.


"Saera! Biarkan Alesa istirahat. Dia sedang sakit." Fasya menarik tangan Saera agar menjauh dari kamar Alesa.


"Lepaskan!" Teriak Saera seraya menarik tangannya, lalu masuk ke kamar.


Brak... Saera menghempas daun pintu, hingga berbunyi keras. Kemudian dia melempar botol parfum, hingga berkecai di lantai.


"Saera!" Fasya masuk ke kamar, lalu memegang kedua tangan Saera yang sudah siap melemparkan botol parfum berikutnya.


"Saera! Sudah sayang. Jangan marah lagi." Fasya mendekap kedua tangan Alesa.


"Abang jahat! Terus saja membela Alesa. Bukannya kemaren sudah jadi kesepakatan, kalau dia mengerjakan semua pekerjaan rumah."


Fasya menguraikan dekapannya, lalu menyentuh kedua bahu Saera.


"Dengar Abang. Alesa lagi sakit, tadi dia terjatuh, sesuatu menimpa matanya, hingga terluka dan sama dokter dia disarankan untuk istirahat," ujar Fasya menjelaskan.


"Bukan Abang membela dia. Jika dalam keadaan sakit kamu paksa dia bekerja, nanti dia tak sembuh-sembuh dan kerjanya tidak maksimal," ujar Fasya lagi berusaha membuat Saera mengerti.


Saera mendorong tubuh Fasya, hingga pelukannya terurai, lalu naik ke tempat tidur, mengambil bantal guling dan menbenamkan wajahnya. Kalau Saera sudah begitu, berarti masih ngambek.


"Saera, udahan ngambeknya." Fasya ikutan naik ke tempat tidur, dia meraih tubuh Saera dan membawa ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Besok kita libur ke Bali yuk," bisik Fasya di telinga Saera.


"Bali." Spontan Saera memalingkan wajahnya ke arah Fasya.


__ADS_2