Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Ijab Qabul


__ADS_3

Part 103


Sementara rombongan dari pihak Ridwan, menatap Asiah, begitu juga Ridwan. Rahasia apa yang ingin disampaikan Asiah. Asiah menarik nafas dalam, lalu berujar lagi.


"Mohon bapak ibu, pak cik mak cik, tuan dan puan pertimbangkan lagi untuk melamar putri saya." ujar Asiah, sebenar terasa berat buat Asiah untuk mengatakan yang sesungguhnya, hanya saja dia harus melakukan ini, agar keluarga mempelai laki-laki, tidak merasa ditipu.


"Ada apa ni. Cakaplah, kami dah siap dengarkan apa yang mau mak cik sampaikan," ujar Saherman. Ayah Ridwan tak sabaran.


"Sebenarnya putri saya Alesa. Statusnya..."


"Janda." Ucapan Asiah di sela Saherman. Asiah mengangguk.


"Itu kami semua sudah tahu. Betulkan?" Saherman menoleh ke belakang, memberi isyarat pada rombongan untuk mengangguk.


Mendengar ucapan Saherman. Alesa dan Ridwan saling berpandangan. Ridwan sama sekali tidak pernah memberi tahu pada ayahnya tentang status Alesa yang sebenarnya.


"Dari mana ayah tahu. Kalau Alesa janda," batin Ridwan.


"Nyonya Asiah tidak usah khawatir. Saya dan yang lainnya akan menerima Alesa dengan senang hati apa pun setatusnya," ucap Saherman.


Saherman mengetahui status Alesa janda. Saat dia menguping pembicaraan Ridwan di telepon, kala itu Alesa dengan jelas mengatakan kalau Asiah memintanya rujuk.


"Bagaimana dengan nak Ridwan?" Asiah bertanya seraya menoleh ke arah Ridwan.


"A-aku..."


"Tenang nyonya. Ridwan putraku, akan nurut apapun kataku." Saherman menatap ke arah Ridwan.


Ucapan ayahnya, membuat Ridwan tak berkutik, dia hanya bergeming. Sebenarnya masalah lamaran ini juga ide dari ayahnya. Semalam saat Ridwan menerima telepon Alesa, Saherman mendengarnya. Karena dia dan istrinya sudah putus asa mencarikan pasangan Ridwan. Dia meminta Ridwan sungguhan melamar Alesa.


Dua bulan yang lalu, Ridwan dijodohkan dengan Reren anak rekan kerja Saherman. Saat kencan buta, Ridwan terkaget-kaget saat melihat pakaian Reren yang serba kekurangan bahan, belum lagi make upnya yang menor, membuat Ridwan tak bisa menahan tawanya, hingga Reren tersinggung.


Dengan tegas Reren pun menolak perjodohan itu, pada hal Saherman dan istrinya sudah membeli semua perlengkapan untuk pergi melamar. Saherman dan istrinya sempat kecewa dan marah pada Ridwan, gara-gara kelakuannya Reren kabur.


"Om! Tante! Saya tidak akan menikah dengan Ridwan," kecam Reren.


"Kenapa. Bukannya ayah dan bundamu sudah menyetujui, kalau kamu menikah dengan Ridwan."

__ADS_1


"Dia tidak cocok dengan aku. seleranya terlalu rendah," ujar Reren mengejek lalu pergi.


Waktu itu sempat terjadi salah paham, karena orang tua Reren menyangka kalau Ridwan yang menolak putri, sampai-sampai orang tua Reren memblokir nomor Whatsapp Saherman dan istri. Akhirnya kedua orang tua Ridwan mendatangi orang tua Reren dan menjelaslan semuanya.


Hari ini peralatan hantaran yang akan diberikan ke Reren waktu itu, diserahkan ke Alesa. Saherman memberi ide ke putranya, agar melamar Alesa secara nyata bukan pura-pura. Awalnya Ridwan keberatan takut Alesa marah. Tapi Saherman meyakinnya putranya itu. Apa lagi saat Ridwan memperlihatkan foto Alesa kepada ayahnya. Saherman tambah bersemangat ingin menjadikan Alesa mantunya.


"Bagaimana Ridwan?" Tanya Saherman.


Ridwan mengangkat jempol ke arah ayahnya. Kalau dengan Alesa dia tidak akan keberatan, mau Alesa perawan atau pun janda. Karena Alesa memang katagori wanita idaman Ridwan.


Acara lamaran pun berjalan dengan lancar. Mereka pun menyepakati tentang walimahnya setelah satu minggu lamaran. Mendengar perundingan orang tua Ridwan dengan uminya. Hati Alesa dilanda kecemasan.


Setelah kata sepakat, rombongan pun turun dari rumah Alesa dan kembali ke rumah, para undangan pun satu persatu meninggalkan tempat acara.


Jam menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit saat Alesa kembali ke kamar. Alesa tak habis pikir, kebohongan yang diciptakan bersama Ridwan menjadi rumit. Waktu satu minggu apa yang bisa Alesa lakukan untuk membatalkan pernikahan itu.


Pikiran Alesa kacau, dia tidak bisa berpikir jernih. Alesa meraih ponselnya, kemudian mengirim pesan whatsapp ke Ridwan.


(Abang! Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah pernikahan itu)


(Sekarang kamu rehat dan tidur. Serahkan semuanya ke Abang. Pasti beres) balas Ridwan.


(Iya. Benaran) balasan Ridwan membuat Alesa sedikit tenang.


Setelah mengucapkan terima kasih, Alesa meletak ponselnya di atas nakas, kemudian membersihkan wajah dan mengganti gaunnya dengan baju tidur. Naik ke atas kasur dan tidur


******


Seminggu kemudian di sebuah hotel acara digelar. Dalam satu minggu Alesa tidak diperkenankan keluar rumah, dia dijaga ketat oleh Asiah, hingga tak bisa ke mana-mana. Saat dia menghubungi Ridwan dan meminta maaf karena kejadian tidak sesuai rencana. Ridwan malah bilang santai, kita jalani saja dulu.


"Apa maksud dokter, dengan mengatakan santai dan kita jalani saja." Alesa protes. Meminta pemjelasan.


"Biarkan saja pernikahan ini terjadi. Tapi jika kamu ingin kembali ke Fasya, bicara saja jujur pada umimu. Keputusan ada di kamu. Sa!"


Lama Alesa bermenung, mencerna ucapan Ridwan. Diam dan membiarkan pernikahan terjadi atau bicara pada umi dan kembali pada Fasya. Dua pilihan yang sama-sama berat.


"Kalau pernikahan ini terjadi. Kasian Ridwa jadi korban," batin Alesa seraya menarik nafas panjang. Dia merasa bersalah karena melibatkan dokter baik hati itu dalam masalahnya.

__ADS_1


"Dokter! Aku minta maaf karena melibatkan dokter dalam situasi sulit ini," ujar Alesa.


"Kamu bicara apa. Abang ikhlas membantu, jangan berpikir yang aneh-aneh. Okay."


"Okay," balas Alesa kemudian Alesa menutup panggilan teleponnya.


Satu jam kemudian dua orang MUA dikirim orang tua Ridwan, untuk mendandani Alesa. Tiga menit kemudian Alesa sudah memakai gaun pengantin mewah.


"Buat apa kakak di make up. Kan ditutup pakai niqab. Ngga kelihatan," ujar adik bungsu Alesa, saat wajah Alesa dirias.


"Untuk suami kakak lah sayang," ucap Alesa mengusap gemas kepala adik bungsunya.


Begitu selesai, Alesa di bawa ke luar menuju mobil yang sudah dirias. Yanto membuka pintu mobil dan menyilakan Alesa masuk, duduk di samping Ridwan. Karena tadi Ridwan diantar supirnya untuk menjemput Alesa.


"Hay. Kenapa aku jadi gugup," batin Alesa, tapak tangan mulai berkeringat.


Perasaan Ridwan tidak jauh beda dengan Alesa, saking gugupnya dia jadi salah tingkah, sampai-sampai tak berani melirik ke arah Alesa. Ridwan sibuk mengatur detak jantungnya yang semakin kuat.


Hening dan terjadi kekakuan, tak satu orang pun yang memulai pembicaraan. Keduanya asik dengan pikiran masing-masing.


Tiga mobil iring-iringan mengikuti mobil yang membawa Alesa. Mobil pertama di kendarai keluarga Abdurrahaman yang datang dari Tembilahan. Mobil kedua dibawa oleh Roy yang di dalamnya ada Fasya, Malik, Asiah dan adik-adik Alesa. Sementara mobil terakhir berisi Viral dan kawan kantornya.


Mobil berhenti di depan sebuah hotel berbintang, kedatangan Alesa sudah ditunggu oleh keluarga mempelai laki-laki. Setelah mobil di parkir. Yanto turun membuka pintu untuk Alesa dan Ridwan.


Alesa dan Ridwan turun, lalu secara beriringan memasuki gedung tempat acara di adakan. Ridwan dan Alesa duduk di depan sebuah meja kacil yang di belakannya di dekorasi dengan backdrop yang cantik dan menarik.


Penghulu dan dua saksi sudah stanbay dari tiga puluh menit tadi. Pak penghulu bertanya dengan Saherman apakah acara sudah bisa dimulai.


"Sudah! Silakan pak penghulu."


Penghulu menjabat tangan Ridwan.


"Ridwan bin Saherman. Aku nikahkan engkau dengan Alesa binti Abdurrahman dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas dua puluh empat karat, seberat lima gram dibayar tunai," ucap penghulu tegas.


"Aku terima nikah Alesa binti Abdurrahman dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas dua puluh empat karat, seberat lima gram, dibayar tunai." Ridwan mengucap ijab.


"Sah!" Seraya menoleh ke kiri dan kanan. Penghulu meminta keyakinan para saksi.

__ADS_1


"Sah!" kata saksi dan yang lainnya serentak.


__ADS_2