
Prat 73
Jantung Bambang bergemuruh, debaranya lebih kencang beberapa kali lipat dari biasanya. Entah dari mana dia dapat kekuatan, hingga bisa mengeluarkan kata-kata itu dengan santai dan tanpa beban.
Mendengar ucapan spontan dari Bambang. Mata Brayen membulat, isi dadanya seakan meloncat ke luar. Namun bukan Brayen namanya, kalau hanya mendengar kata-kata itu dia mundur.
"Ini pasti bagian dari permainan Bambang," batin Brayen tak percaya ucapan Bambang, ternyata kali ini, dia tidak bisa menganggap enteng lawannya.
Sementara jantung Alesa ikut berdetak kencang dua kali lipat dari biasanya, saat mendengar ucapan Bambang. Alesa menoleh ke arah Bambang, menatap mata itu, mencari kebenarannya, Bambang mengedipkan mata memberi isyarat. Tahulah Alesa apa maksudnya.
"Oh. Jadi abang pacarnya Alesa?" Tanya Makita ingin meyakinkan dengan memberi pertanyaan.
"Kenapa kamu tak pernah kasih tahu, kalau udah punya pacar?" cicit Makita bertanya lagi, seraya menatap ke arah Alesa, dia sedikit kecewa, karena Makita punya niat mau menjodohkan Alesa dengan abang yang anti wanita itu.
Alesa menatap Brayen, Makita dan Bambang secara bergantian. Dia jadi serba salah dan harus jawab apa pertanyaan dari Makita.
"Ehemm.. Aku.."
"Kami memang sepakat untuk merahasiakannya pada orang lain. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu," sela Bambang, ketika melihat wajah bingung Alesa.
"Iya kan. Sa?" Bambang meminta persetujuan Alesa untuk menguatkan misinya dengan mengajukan pertanyaan, lagi-lagi Bambang memberi isyarat dengan kedipan mata.
"I-iya," jawab Alesa seraya mengangguk.
Brayen tak perduli dengan ungkapan Bambang dan Alesa. Seorang playboy seperti Brayen msu dikadali, mana bisa! Brayen bisa membaca ada kebohongan di mata Bambang.
"Sebelum janur melengkung, masih tetap milik bersama, kecuali sudah ijab qabul," ujar Brayen melirik kearah Alesa. Alesa melotot ke arah Brayen.
"Hay! Dilarang menikung sesama teman," ujar Bambang menyela ucapan Brayen.
"Sudah! Sudah! Kenapa jadi berdebat. Jodoh itu rahasia Allah," kata Alesa menengahi.
Alesa menatap Brayen dan Bambang secara bergantian, lalu dia menghembuskan nafas panjang dan menggelengkan kepala memberi isyarat pada Brayen dan Bambang untuk tidak melanjutkan perdebatan.
Seorang pelayan kantin datang membawa sebuah nampan berisi dua gelas jeruk peras, satu gelas capocino dingin dan jus alfukat. Setelah meletakkan ke empat gelas minuman, pelayan itu kembali ke dapur dan datang lagi dengan membawa dua mangkok nasi sup, sepiring nasi goreng dan satu piring mie goreng.
__ADS_1
"Ayok kita makan." Ajak Makita yang dari tadi hanya menyimak perdebatan Brayen dan Bambang.
Mereka berempat pun makan, sambil ngobrol santai, setelah selesai makam dan membayar pesanan. Mereka menuju musalla kampus untuk melaksanakan shalat berjama'ah dengan mahasiswa lain.
Selesai shalat zuhur Bambang dan Brayen lanjut kuliah. Makita langsung ke parkir, karena sudah ditunggu abangnya. Sementara Alesa kembali ke ruang kerja Adra, menyelesaikan tugasnya yang tertunda.
"Al! Makan siang. Yuk!" Ajak Adra yang baru selesai shalat zuhur di ruang pribadinya.
"Aku sudah makan tadi sama Makita," jawab Alesa tetap fokus pada berkas di depannya.
"Kamu mau pesan apa? Abang mau ke cafe," ujar Adra seraya beranjak dari duduknya.
"Tidak pesan apa-apa," ujar Alesa.
"Baiklah." Adra keluar dari ruang kerja, menuju lift.
Sepeninggalan Adra, Alesa menerima panggilan telepon dari Asiah yang mengabarkan kalau abinya di bawa ke rumah sakit untuk cuci darah.
"Semoga abi cepat sembuh. Umi jangan stres, jaga kesehatan ya. Mi."
"Iya. Sa! Terus lah berdoa untuk abi," ujar Asiah.
Setelah bicara begitu Asiah pun mengakhiri panggilan teleponnya, setelah mengucapkan salam. Alesa menarik nafas panjang, dia ikut merasakan beban penderitaan uminya. Andai derita uminya itu bisa ditranfer, Alesa rela menerima beban yang dipikul uminya.
"Doakan rezekiku lancar. Aku akan memenuhi semua kebutuhan abi dan umi," batin Alesa.
Alesa meletakkan ponselnya, lalu dia meneruskan pekerjaan. Dia harus bekerja keras, agar bisa membahagia umi, abi dan adik-adiknya.
Tiga puluh menit kemudian, Adra muncul membawa dua gelas capocino dingin. Satu gelas diansur ke Alesa, Alesa mengambil gelas capocino itu, seraya mengucapkan terima kasih.
Adra menyedot habis isi gelas capocino, lalu membuang gelasnya dalam tong sampah. Kemudian dia meraih ponsel dan tas kerjanya, karena dia akan melanjutkan pertemuan tadi pagi yang belum mendapat kata sepakat.
"Sa! Pulang nanti bareng abang ya," ujar Adra seraya beranjak.
"I-iya. Bang! Tapi kalau kerjaannya kelar duluan. Aku boleh pulang duluan nggak?" Tanya Alesa sambil memindahkan pandangan pada Adra.
__ADS_1
"Nggak! Wajib nunggu abang. Paling lambat habis asar," ujar Adra sambil melirik jam tangannya. Alesa hanya mengangguk.
Adra ke luar ruangan dan Alesa melanjutkan kerjaannya. Tepat pukul tiga, pekarjaan Alesa selesai, dia merapikan semua berkas laporan, dan mengirimkan file laporannya ke email Adra. Alesa rehat sejenak, dia berbaring di atas sofa panjang, karena lelah dan capek. Alesa tertidur.
"Maaf. Aku ketiduran." Alesa terbangun saat mendengar langkah kaki masuk. Spontan Alesa bangun dan merapikan jilbabnya.
"Shalat dulu, atau langsung pulang?" Tanya Adra, berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Alesa tak salah tingkah.
"Aku pulang sendiri saja. Karena mau singgah ke kantor papa Malik," ujar Alesa, dia tidak memberitahu penyerahan kantor Malik padanya, begitu juga tentang talak yang dijatuhkan Fasya semalam.
Tadi Alesa mendapat pesan whatsapp dari Burhan ada berkas dan beberapa surat masuk yang harus di tanda tanganinya, dan ada surat permohonan cuti dari sebagaian karyawan yang mau pulang kampung untuk bisa magang puasa dengan keluarganya.
"Abang antar ke kantor pak Malik. Tapi kita asar dulu," ujar Adra, karena kantor malik sedikit jauh, takutnya terjebak macet, waktu asar habis. Alesa hanya mengangguk.
Adra dan Alesa kemudian keluar dari ruang kerja, turun dan langsung ke parkir. Setelah masuk ke dalam mobil, Adra menarik pedal gas dan meluncur menuju mesjid yang searah dengan kantor Malik untuk melaksanakan shalat asar.
Dua puluh menit perjalanan, mobil Adra memasuki area parkir kantor Malik. Adra menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama kantor. Alesa turun setelah mengucapkan terima kasih. Adra membunyikan kelakson dibalas lambaian tangan Alesa.
Mobil yang dikendarai Adra meluncur meninggalkan kantor Malik. Sebenarnya dia mau menunggu dan mengantar Alesa ke rumahnya. Hanya saja Adra enggan bertemu dengan Fasya. Bisa saja Fasya berada di kantor papanya juga. Sejak dia tahu Fasya telah menghamili Carla tunangannya. Adra sudah resign dari kantor Fasya.
Sepeninggalan Adra, Alesa masuk disambut ramah para karyawan, dia langsung keruangan Burhan. Begitu melihat kehadiran Alesa, Burhan menarik kursi di depan meja kerjanya dan menyilakan Alesa duduk.
"Non! Cek dulu berkasnya. Saya permisi dulu mau asar," ujar Burhan seraya ke luar ruangan.
Alesa memeriksa semua berkas yang diserahkan Burhan, lalu menggoreskan mata pena di atas namanya, menandatangani semua berkas dan surat. Sepuluh menit kemudian Burhan masuk kembali ke ruangan. Alesa menyerahkan berkas yang sudah ditanda tanganinya ke Burhan.
"Non! Pulang dengan Roy saja. Tadi saya sudah telepon dia supaya menjemput non di sini," ujar Burhan.
Burhan tidak bisa mengantar Alesa, karena berkas yang sudah ditandatangi Alesa, mau di scan dan dikirim. Dia harus menyelesaikan itu dulu, kasian kalau Alesa harus menunggu. karena dua hari ke depan libur dalam rangka nyepi dan cuti bersama, selain itu, Burhan juga mau pulang ke Bengkinang untuk magang puasa dengan sanak saudaranya.
Mendengar ucapan Burhan, Alesa hanya mengangguk. Untuk menolak juga tidak etis karena Burhan sudah menelepon Roy. Alesa pamit turun pada Burhan, saat Roy sudah mengabari kalau dia sudah standbay di depan kantor.
Saat Alesa ke luar dari pintu utama kantor. Mobil Roy meluncur dan berhenti tepat di depannya, Roy turun dan membukakan pintu untuk Alesa.
"Silakan masuk ibu direktur," ujar Roy seraya membungkuk.
__ADS_1