Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Bubur Ayam


__ADS_3

Part 40


Alesa menarik nafas panjang, dia berusaha menetralkan jantungnya yang baru saja diterpa badai, gara-gara membaca pesan Bambang.


"Bambang. Kamu membuatku baper," batin Alesa.


"Lagi chatingan dengan siapa?" Tanya Adra, kala melihat Alesa menarik nafas panjang dan mendekap ponsenya di dada.


"Teman," jawab Alesa asal.


"Teman apa teman," ujar Adra menggoda, membuat Alesa terkesima semakin gugup. Alesa menoleh ke arah Adra.


"Kayak para normal saja," lagi Alesa membatin.


Adra melirik Alesa dengan sudut matanya. Melihat gelagat Alesa yang salah tingkah, mebuat Adra semakin yakin kalau Alesa lagi chatingan dengan seseorang yang istimewa.


"Apa kamu sudah punya pacar?"


Pertanyaan Adra membuat Alesa kelimpungan.


"Hem.. Kenapa salah tingkah gitu. Kalau nggak mau dijawab juga tak apa-apa," ujar Adra meralat pertanyaannya. Dia kembali fokus menyetir.


Sekilas Alesa melirik Adra dari kaca spion. Lalu dia memasukkan ponselnya kemnali ke dalam tas. Alesa tidak ingin meneruskan chatnya dengan Bambang yang bisa menghadirkan kenangan putih abu-abu itu dan membuat hatinya berharap.


"Alesa! Jangan pikirkan laki-laki mana pun. Kamu harus fokus kuliah, kejar impianmu," batinnya berusaha menenangkan hati.


*****


Di Mobil Fasya


Sepanjang perjalanan menuju bandara, pikiran Fasya terus saja tertuju pada Alesa. Dia merasa bersalah karena pergi tanpa pamit, mana Alesa dalam keadaan sakit.


Sementara Saera yang duduk di samping Fasya, sedang tertawa hahahihi, berteleponan dengan kawan-kawannya. Melihat Saera asik dengan ponselnya, Fasya pun mengambil ponsel di saku celananya. Dia menggeser layar ponselnya mencari nomor kontak Alesa.


(Sa! Maaf ya. Abang tinggal pada hal kamu lagi sakit) Fasya mengirim pesan pada Alesa.


Satu menit, dua menit, bahkan sepuluh menit, pesan dari Fasya masih centang dua warna abu-abu.


"Ke mana Alesa. Kenapa pesan tak di bacanya," batin Fasya


(Sa! Jangan lupa sarapan, dan minum obatnya) Fasya mengirim pesan kedua.


Harap cemas Fasya menunggu balasan Alesa, tapi pesannya jangan dibalas, dibaca Alesa saja belum.


"Apa Alesa marah padaku," batin Fasya gelisah. Dia ingin menelepon tapi disebalahnya ada Saera. Fasya tidak ingin suasana hati Saera yang lagi bahagia diusiknya karena menghubungi Alesa. Fasya memasukkan ponselnya kembali ke saku.


Mobil yang dibawa Roy memasuki area bandara, setelah memarkir mobil, dia bergegas turun membuka pintu mobil untuk Fasya dan Saera. Kemudian mengeluarkan travelbag dari bagasi.


Dreet... Dreet... Dreet.


Baru saja turun dari mobil, ponsel Fasya bergetar, dia merogoh saku celananya, mengeluarkan benda pipih kesayangannya. Dari layar ponsel yang bercahaya tertera Dea sekretarisnya sebagai pemanggil.


"Dea," batin Fasya, langsung menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau.


"Assalamualaikum," terdengar suara Dea mengucap salam kala panggilan terhubung.


"Waalaikumsalam." balas Fasya.


"Pak Fasya! Tadi tuan Viral menelepon kalau dia akan singgah ke kantor kita," ujar Dea.

__ADS_1


"Dea! Aku sedang bandara. Aku mau liburan dengan Saera. Jadi semua kerjaan kamu yang hendel ya." Ujar Fasya, dia tidak pernah meragukan kinerja Dea.


"Baik pak! Selamat liburan. Pak," ucap Dea.


Setelah menutup panggilan telepon dari Dea. Fasya menelepon beberapa rekan bisnisnya untuk meminta maaf, karena tidak bisa menghadiri beberapa meting. Dan yang terakhir dia menelepon Viral.


"Assalamualaikum," sapa Adra.


"Waalaikumsalam," terdengar jawaban dari Fasya.


"Maaf pak Varil. Saya tidak bisa menemui anda pagi ini. Dea bisa menggantikan saya."


"Oh. Tidak apa-apa. Saya sudah dapat info dari sekretaris anda yang cantik itu. Selamat bersenang-senang pak Fasya," balas Viral.


Dea memang sekretaris handal, dia siap kapan saja Fasya membutuhkannya. Selain cantik Dea juga punya attitude yang baik. Semua rekan kerja Fasya selalu memuji kecerdasan dan keramahan Dea.


Setelah menutup telepon dari Viral. Fasya bicara sesuatu pada Roy. Dan Roy terlihat hanya menjawab, sambil manggut tanda mengerti. Roy dan Fasya akhirnya berpisah, Roy kembali parkir dan Fasya menyusul Saera.


****


Di dalam mobil Adra.


"Al! Kamu sudah sarapan?" Tanya Adra.


"Hemm... Belum," jawab Alesa. Tadi waktu Adra menjemput, dia baru mau masak sarapan.


"Kamu mau sarapan apa?" Adra bertanya lagi.


"Aku sarapan di rumah saja," jawab Alesa.


Sejatunya Alesa sudah lapar. Namun, dia merasa tidak nyaman kalau harus merepotkan Adra terus. Makanya dia memilih mengatakan sarapan di rumah saja. Sementara Adra sangat berharap bisa sarapan lagi dengan Alesa.


"Tapi..."


"Sudah! Jangan merasa tidak enak gitu. Kitakan teman," ujar Adra lagi, seakan tahu jalan pikiran Alesa.


Alesa melirik ke arah Adra dan akhirnya hanya mengangguk. Kali ini dia merasa tak nyaman menolak ketulusan Adra.


Tanpa meminta persetujuan Alesa. Mobil yang dibawa Adra meluncur menuju kios bubur jualan kang Masnun, langganan Adra yang terletak di perempatan lampu merah. Adra menepi dan mematikan mobilnya di pinggir jalan.


"Yuk! Turun," ujar Adra begitu mobil di parkir.


Di depan kios yang bertulisan bubur ayam kang Masnun, terlihat jejeran antrian. Bubur ayam yang terkenal gurih ini laris manis, hanya bisa di dapati jam sebelas ke bawa.


"Mas Adra. Silakan mas," sapa pemilik kios, saat melihat Adra datang. Sang penjual bubur sudah sangat akrab dengan Arda.


"Seperti biasa," ujar Adra, lalu mencari tempat duduk untuk dia dan Alesa.


Seperlima manit dua mangkok bubur ayam dan dua gelas teh hangat sudah tersaji. Aroma bubur ayam menggaur sangat menggoda.


"Hemm," Alesa menghidu wangi bubur yang menggugah selera.


"Di kasih empeng dan kacang goreng, terasa lebih gurih," ujar Adra menambah emping dan kacang goreng di mangkok bubur Alesa.


Alesa mengambil sendok, kemudian membubuhkan sedikit cabe dan kecap. Bubur yang mengepul hangat membuat setiap penikmatnya akan menguji rasanya.


"Gimana? Enak?" Tanya Adra, kala Alesa memasukkan suapan pertamanya.


"Hooh, enak," ujar Alesa merasakan sensasi hangat dan gurih. Sepertinya sangat pas di lidah Alesa.

__ADS_1


"Oh... Ternyata kamu di sini. Katanya sibuk. Eh malah dengan dia," tiba-tiba Carla masuk seraya menuding Alesa.


Kemunculan Carla yang mendadak mengagetkan Adra dan Alesa. Adra mengalihkan pandangannya pada Carla, lalu menatap dari kepala hingga kaki.


"Bagaimana bisa Carla tahu aku di sini." batin Adra.


Carla tidak pernah menyukai tempat murahan dan warung- warung pinggir jalan. Levelnya restoran-restoran mahal. Dan itu pula yang selalu menjadi pemicu ketidak cocokan Adra dan Carla.


Adra menarik tangan Carla, mengajaknya ke luar kios. Dia tidak mau Carla membuat keributan hingga mengganggu pelanggan kang Masnun.


Kehadiran Carla menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang mengantri. Ada diantara pengunjung yang berbisik tak jelas.


"Kamu ngapain ke sini?" Tanya Adra.


"Kamu yang ngapaian di sini, dengan gadis itu," Carla memencak-mencak. Karena tadi malam Carla mengajak Adra untuk menghadiri pesta temannya di Bangkinang. Adra bilang tak ada waktu. Nyatanya sekarang dia sarapan dengan gadis bercadar itu. Tentu saja Carla marah.


Tadi kebetulan saja Carla lewat dan mengenali mobil yang parkir di pinggir jalan. Dan dia turun hanya ingin memastikan apakah Adra memang Adra yang membawa mobil itu. Saat masuk dan melihat Adra dan Alesa sedang sarapan dan ngobrol santai. Emosi Carla naik ke kepala, karena dia merasa dibohongi Adra.


"Aku tadi menemani Alesa kedokter spesialis mata," jelas Adra berusaha meredam emasi Carla.


"Bukannya semalam aku sudah kasih dia obat," ujar Carla.


"Kamu kasih obat?" Tanya Adra heran.


"Iya. Semalam aku dibawa Fasya ke klinik Carla," ujar Alesa yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Adra.


"Tu kan sayang. Apa kamu meragukan kemampuan aku," ujar Carla menatap Alesa.


"Aku..."


"Bukan begitu. Sayang! Alesa pasti tak akan meragukan obat darimu. Ini hanya bentuk tanggung jawabku, Alesa terluka gara-gara aku," ujar Adra seraya memegang kedua bahu tunangannya itu.


"Kamu lebih mementingkan dia dari aku," rajuk Carla.


"Hay! Aku kan sudah bilang. Ini hanya masalah tanggung jawab. Bukan masalah penting atau tidak penting," ujar Adra lagi.


Adra menghena nafas panjang, dia tidak mengerti, kenapa dia dan Carla selalu saja berdebat. Wakaupun hanya hal-hal kecil, Carla selalu membesar-besarkan masalah.


"Tapi dia kan punya abang. Jadi tak mesti kamu yang antar," ujar Carla lagi, dia tetap bersekokoh kalau dalam hal ini, Adra yang salah.


"Abangku tidak ada. Dia ke Bali bersama istrinya," ucap Alesa membela Adra. Entah kenapa Alesa tak suka dengan sikap Carla yang begitu posesif pada Adra.


"Bali? Dengan istrinya?" Carla balik bertanya. Dia ingin memastikan apa yang barusan di dengarnya. Kali ini berita tentang Fasya lebih menarik perhatian Carla, hingga dia melupakab tentang kesalahan Adra.


"Iya. Baru beberapa jam mereka menuju bandara," ujar Alesa sengaja mengalihkan pembicaraan. Dan benae saja, rona wajah Carla langsung berubah.


Mendengar Fasya liburan bersama istri, membuat Carla membatalkan niat pergi ke Bengkinang. Dia harus menyusul Fasta, ini kesempatan langkah. Carla sudah lama ingin tahu bagaimana rupa istri Fasya yang sebenarnya.


"Aku harus menyusul Fasya ke Bali sekarang," batin Carla sambil melangkah menuju mobilnya.


"Hay! Kamu mau ke mana?" Tanya Adra saat melihat kekasihnya itu meninggalkannya dan Alesa.


"Ke klinik," ujar Carla berbohong.


"Kamu tidak ikut sarapan?" Tanya Adra lagi basa nasi. Adra tak percaya kalau Carla mau ke klinik.


"Nggak." Jawab Carla, lalu masuk ke mobilnya dan meluncur meninggalkan Alesa dan Adra.


"Cewek aneh," guman Adra, setakat ini dia belum memahami karakter tunangan dadakannya itu.

__ADS_1


__ADS_2