Tak Semanis Takdir

Tak Semanis Takdir
Hinaan Carla


__ADS_3

Part 77


"Gugup," jawab Alesa.


Semakin mendekati lift, debar jantung Alesa semakin kencang. Pintu lift terbuka Asela dan Dea masuk, dalam beberapa detik, lift sudah mengantar mereka ke lantai tiga. Begitu lift terbuka, Alesa dan Dea melangkah ke luar menuju room meting.


Alesa menghentikan langkahnya, memasukkan kedua tangan ke dalam saku dresnya, tiba-tiba telapak tangannya berkeringat. Sekian lama tak bertemu Fasya membuatnya sangat gugup.


"Nona kenapa?" Tanya Dea, saat melihat keraguan Alesa memasuki ruang meting. Alesa hanya menggeleng, lalu meneruskan melangkahnya masuk. Saat Alesa masuk semua mata menatapnya. Di sana juga sudah ada Fasya dan carla.


"Hay. Apa wanita ini akan bergabung dalam kerjasama kita juga?" Tanya Carla pada tuan Viral yang mengundang mereka.


"Iya. Nona Alesa perwakilan dari PT. Nusa Anugrah," ujar Viral.


"Apa tuan Viral yakin mengajak dia?" Tanya Carla lagi seraya menudingkan telunjuknya, seraya menilik ke arah Alesa.


"Kenapa tidak! PT. Nusa Anugrah adalah satu perusahan besar di kota itu," ujar Viral lagi.


"Itu waktu dipegang pak Malik, sekarang dia. Hadeeh pak! Dia itu tak tahu menahu masalah bisnis," ujar Carla lagi, sambil menatap sinis ke arah Alesa.


"Hay! Anda bicara apa!" Dea yang dari tadi hanya diam, akhirnya bersuara, dia tak suka mendengar Carla menghina Alesa.


Sementara Alesa, sama sekali tak berani mendongakkan wajahnya, karena apa yang dikatakan Carla benar adanya. Dia baru mau memulai, selama perusahaan di serah Malik kepadanya, yang mengelola adalah Burhan. Bukan dia, dia hanya menerima laporan tiap bulan dan menandatangani berkas-berkas penting saja.


"Aku bicara fakta!" Carla mendelek ke arah Dea.


"Dea sudah! Ayok kita keluar saja dari sini, aku tidak akan bergabung dengan orang-orang yang tak bisa menghargai orang lain," ucap Alesa seraya beranjak dari duduknya.


"Non! Tunggu!" Dea meraih tangan Alesa. Namun, Alesa menepisnya dan terus melangkah menuju lift.


Air mata Alesa tak bisa terbendung lagi, dia sedih bukan karena dipermalukan Carla. Tapi dia sedih saat melihat Fasya seperti tak mengenalnya sama sekali, sedikit pun Fasya tak membelanya, begitu salahkah dia di mata laki-laki itu.

__ADS_1


"Ya Allah! Kenapa kamu begitu rapuh kala berhadapan dengan Faaya Alesa," batinnya Alesa.


Empat tahun berpisah dengan Fasya, Alesa tak pernah bisa melupakannya, walaupun dia tak pernah berkirim kabar. Tapi Alesa selalu update tentang Fasya, semakin dia ingin melupakan Fasya, semakin laki-laki itu ingin dilupakan, semakin melekat dalam ingatannya.


"Pasti Non Alesa sangat tersinggung dengan ucapan Carla. Dasar wanita licik. Fasya juga kenapa diam saja saat melihat Carla merendahkan Alesa," batin Dea geram. Dea hanya tahu kalau Carla itu istri Fasya, tapi dia tak pernah tahu kalau Alesa pernah menikah dengan Fasya.


"Non! Non tidak usah sedih." Dea merengkuh bahu Alesa, lalu mendekapnya kuat.


"Aku sedih, karena apa yang dikatakan Carla itu benar, kalau aku tak layak berada diantara mereka, karena aku memang belum tahu apa-apa," ujar Alesa berbohong.


"Non! Tidak sejelek perkiraan Carla. Aku percaya non hebat dan bisa mengalahkan Carla," ujar Dea seraya mengurai pelukannya.


"Alesa!" tiba-tiba ada seseorang memanggil Alesa.


Mendengar seseorang memanggilnya, secepat kilat Alesa mengusap air matanya dengan sudut hijabnya. Alesa menoleh ke arah sumber suara.


"Hay! Kamu."


"Jadi benar ditawaran kerjasama ini. Melibatkan perusahaanmu juga, ternyata kamu sudah sukses ya. Sudah punya bisnis sendiri," ungkap Bambang.


"Eh itu... Bukan.."


"Iya pak! Kami diundang untuk bergabung, cuman sepertinya Non Alesa tidak tertarik," sela Dea saat melihat Alesa bingung mau menjawabnya.


"Kenapa? Bukannya perusahaan pak Viral sangat bonafit. Dan banyak yang berharap bisa bekerjasama dengannya," ucap Bambang.


Di saat Alesa, Bambang dan Dea sedang berbincang, Viral keluar dari lift, dia menjemput ke datangan Bambang, karena asistennya mengabarkan kalau Bambang sudah berada di loby.


"Selamat datang pak Bambang. Saya menunggu anda dari tadi," sapa Viral hangat seraya merengkuh bahu Bambang.


Viral sudah sangat akrab dengan Bambang, karena ayah mereka adalah dua rekan bisnis yang bersahabat dari kecil, hingga keluarga keduanya saling kenal dan saling bersilatirrahmi. Viral terpaut usia lebih tua lima tahun dari Bambang. Kedua perusahaan milik keluarga viral dan Bambang sudah lama menjalin kerjasama secara turun temurun.

__ADS_1


Bambang membalas sapaan Viral dan juga membalas rengkuhannya. Namun saat Viral mengajaknya ke room meting, Bambang menolak dan mengatakan akan bergabung jika Alesa ada ambil bagian dalam kerjasama ini. Jika tidak, dia mengundurkan diri.


Mendengar ucapan Bambang, Viral memindahkan pandangannya pada Alesa. Sebenarnya Viral memang sangat asing dengan Alesa dan dia percaya seratus persen dengan kata-kata Carla. Tapi kenapa Bambang sangat menginginkan wanita bercadar ini ikut terlibat dalam kerjasama ini.


"Kenapa Anda begitu ingin gadis berniqab ini menjadi rekan kerja kita?" Tanya Viral.


"Karena dia sahabatku waktu ayahku bertugas di Indragiri Hilir dan aku ingin dia bisa belajar dengan anda agar menjadi seorang bisnisman," jawab Bambang.


"Oh. Baiklah kalau begitu. Maafkan atas kejadian tadi, anda bisa ikut kami naik ke atas lagi," ujar Viral.


"Ayoklah. Jangan sia-siakan kesempatan ini." Bambang mencoba menguatkan Alesa yang terlihat ragu.


"Tapi..."


"Aku akan selalu mendampingimu. Tak seorang pun kubiarkan ada yang menyakitimu," bisik Bambang.


Sejenak Alesa berpikir. Mungkin ini tidak ada salahnya jika dia membuka diri untuk mencoba menghadirkan sosok lain di hatinya. Toh Fasya juga sudah menalaknya, secara agama dia sudah pisah, karena kemaren Fasya hanya menikahinya secari siri. Jadi tak perlu ke pengadilan agama, sebab pernikahannya dengan Fasya tidak tercatat.


"Alesa! Lupakan Fasya. Kamu berhak bahagia," batin Alesa dalam hati, keraguan dihatinya berangsur memudar.


"Non! Terima saja tawaran pak Viral dan pak Bambang," Dea ikut memberi support.


Alesa mengangguk, lalu secara beriringan dia melangkah bersisian dengan Bambang. Dan Dea mengikutinya dari belakang.


"Hay! Dasar tak punya malu. Kenapa ada di sini?" Lantang suara Carla saat melihat Alesa kembali ke room meting.


"Nyonya Carla, sekali lagi anda bicara, saya silahkan anda keluar dari room ini," ucap Viral tegas.


Mendengar ucapan Viral, emosia Carla seakan memuncak, dia merasa Viral meremehkannya. Pada hal diantara yang hadir di room meting ini, perusahaannya yang paling bonafit. Carla berdiri sambil manatap intens pada Viral dan siap melancarkan makiannya. Namun, Fasya bertindak cepat dengan membekap mulutnya.


"Duduk dan diam. Jangan bicara sepatah kata pun," bisik Fasya di telinga istrinya.

__ADS_1


"Lepaskan," ujar Carla, seraya menepis tangan Fasya. Wajah Carla pun berubah merah padam menahan marah.


__ADS_2