Takdir Cinta Kita

Takdir Cinta Kita
Pertolongan Darurat


__ADS_3

Hari berikutnya aku bekerja seperti biasa, karena tidak ada jadwal les jadi aku bisa fokus pada pekerjaanku yang kemarin sempat tertunda. Aku harus mengerjakan semuanya sebelum pulang agar aku bisa langsung menyerahkannya pada Bu Sandra. Aku malu jika aku tidak bisa menyelesaikannya hari ini, apalagi besok ada jadwal les Aldrian lagi, meskipun Bu Sandra bisa mengerti tetap saja rasanya tidak enak jika pekerjaanku di kantor jadi terbengkalai karena pekerjaan sampingan ini.


Saat aku sibuk mengetik, ponsel ku berbunyi tapi aku tidak mengenal nomor yang tertera dilayar, aku mengangkatnya karena siapa tahu saja itu telepon penting dan bukan sekedar telepon iseng.


"Halo"


"Tolong aku"


Aku bingung dan terkejut mendengar balasan dari si penelepon, tanpa basa basi langsung berkata minta tolong, tapi suara yang terdengar dibalik telepon terasa tidak asing, tapi rasanya tidak mungkin jika ini adalah dia, karena untuk apa dia meminta tolong.


"Aldrian?" Tapi entah kenapa feeling ku mengatakan kalau ini benar-benar dia.


"Ya ini aku, aku butuh bantuanmu sekarang."


Meskipun aku sudah mengira yang menelpon adalah dia, tapi aku tetap tidak bisa percaya, apalagi tiba-tiba dia meneleponku hanya untuk minta tolong, bantuan apa yang dia butuh dariku sementara dia memiliki seorang pengawal pribadi. Apa jangan jangan terjadi hal buruk padanya.


"Kenapa tiba-tiba menelpon dan minta tolong? Apa terjadi sesuatu? Biar aku sampaikan ke Pak Andrew agar dia segera menemuimu"


"No no jangan, jangan bilang apa-apa pada Paman, aku hanya butuh bantuanmu dan jangan sampai Paman tahu."


"Hah??" Aku semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya, "Bisa tolong bicara lebih jelas? Bantuan apa yang sebenarnya kau butuhkan dariku?"


"Ok bisa kau ke sekolah ku sekarang? Kau akan tahu setelah sampai disini."


"Tapi sekarang aku sedang bekerja, bagaimana bisa aku meninggalkan pekerjaanku?"


"Bukannya sebentar lagi waktunya istirahat makan siang? Kau bisa pergi dengan alasan ada janji makan siang dengan teman kan?"

__ADS_1


Aku tersenyum sinis mendengar alasan yang dibuat Aldrian, teman katanya, aku di ibukota ini belum sampai satu minggu, dan aku pindah kesini untuk bekerja, dari mana mungkin aku sempat punya teman baru selain rekan rekan kerjaku, dan hampir semua rekanku disini tahu hal itu karena aku sempat berkata kepada mereka bahwa aku tidak kenal siapa siapa disini.


"Hmm tapi sayangnya aku tidak punya teman di ibukota yang luas ini, jadi alasan itu akan terdengar tidak masuk akal."


"Kalau begitu cobalah berpikir lebih kreatif, pikirkan alasan apa saja yang menurut mu mungkin, yang jelas kau sudah harus ada disini kurang dari setengah jam dari sekarang, sampai jumpa."


Tuuutt....Tuuuttt....


Aldrian memutus panggilan secara sebelah pihak dan membuatku semakin kebingungan.


Bagaimana ini?? Apa yang harus aku lakukan?? Kenapa pula dengan dia, apa sebenarnya yang terjadi??


Aku perang batin, antara pergi ke sekolahnya sesuai kemauan dia, atau mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaanku, karena sepertinya ini bukanlah masalah yang serius karena dia sama sekali tidak meminta bantuan pada Pak Andrew, atau mungkin hal yang justru sebaliknya, karena ini serius maka Aldrian tidak mau Pamannya tahu. Aaahhhh kepalaku pusing, tapi sebaiknya aku pergi dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri daripada aku hanya duduk diam dan kebingungan.


Jadi aku putuskan untuk segera pergi, dan meminta ijin untuk istirahat lebih dulu dengan alasan ada saudara yang datang dari desaku dan mau tinggal sebentar di kosanku tapi kuncinya aku bawa, jadi aku mau pulang dan menyerahkan kunci kosan ku dulu pada saudaraku. Wah sungguh alasan yang sangat logis pikirku.


Sambil berjalan keluar gedung aku memesan ojek online jadi setelah aku sampai di pintu keluar, mang Ojek sudah ada menungguku jadi aku bisa langsung berangkat.


"Kau sudah sampai?" Aldrian langsung menjawab panggilan dariku.


"Aku sudah di gerbang sekolah, sekarang aku harus kemana?"


"Langsung saja keruang BP."


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau ada diruang BP? Kau berkelahi ya?" Tanyaku penasaran sambil berjalan menuju ruang BP setelah sebelumnya bertanya arah terlebih dulu kepada Satpam.


"Ya ada yang berkelahi, tapi bukan aku, mereka berkelahi karena aku."

__ADS_1


Aku menghentikan langkahku sekejap setelah mendengar jawaban Aldrian, "Apa yang berkelahi perempuan?" Tanyaku penuh firasat.


"Yep seratus buat bu Guru, jadi cepat kesini dan bantu aku!"


"HAHAHAHA." Aku tidak bisa menahan tawaku, mengingat kebodohanku yang terburu buru datang kesini dengan membayangkan hal hal yang buruk, tapi ternyata yang sebenarnya terjadi adalah hal yang menurutku cukup konyol, bisa bisanya anak anak perempuan itu berkelahi hanya untuk memperebutkan Aldrian, yang benar saja, aku akui dia memang tampan tapi tetap saja rasanya memalukan jika berkelahi karena seorang laki-laki.


"Lari kesini sekarang kenapa kau malah tertawa?" Aku mendengar nada jengkel dari suara Aldrian karena tawaku.


"Ok ok aku kesana sekarang, tapi apa yang nanti harus aku katakan? Apa aku harus bertingkah seperti istri sah yang melabrak para pelakor agar tidak menggangu lagi suamiku begitu?" Tanyaku sambil tertawa penuh canda.


"Kau terlalu banyak nonton sinetron, tidak perlu repot-repot, yang ada mereka akan tertawa tidak percaya jika saingan mereka itu ternyata tante tante."


"Waahhh tante? Umur kita cuma beda empat tahun ya, kalau pakai seragam SMA aku juga bakal keliatan gak beda jauh sama mereka." Ucapku penuh percaya diri sambil berjalan melenggang dan mengibaskan rambut.


"Pppffttttt, ya ya kau bahkan masih pantas pakai seragam SMP karena badanmu tidak kalah jauh dari mereka."


Itu merupakan hinaan bernada pujian, intinya dia mengatakan bahwa aku pendek, memang apa salahnya kalau aku pendek?? Aku jadi terlihat imut dan awet muda.


"Yaa yaaa aku tahu kalau aku ini imut seperti anak SMP, sudah tidak perlu memujiku lagi, katakan saja apa yang nanti harus aku lakukan di sana?"


Uhuk- Aku mendengar Aldrian sampai terbatuk-batuk menahan tawanya tapi untungnya dia bisa segera mengendalikan diri dan menjelaskan peranku.


Aku mendengarkan kata-katanya sambil berjalan, dan sekarang aku sudah sampai di depan pintu kantor BP, aku bisa melihat wajah Aldrian dari luar karena dia duduk diseberang jendela, aku menutup telepon kami, dan berjalan melangkah menuju pintu masuk.


Tok tok tok


Semua orang yang ada di sana berpaling ke arah pintu masuk dengan raut wajah yang seakan bertanya "kau siapa?" kecuali Aldrian tentu saja. Wanita paling tua yang ada diruang ini dan aku yakin kalau dia adalah guru BP nya Aldrian mempersilahkan aku masuk dan bertanya, "Maaf anda siapa? Dan ada keperluan apa anda kemari?" Ucapnya.

__ADS_1


"Permisi, saya sekretarisnya Pak Benjamin, dan saya diutus oleh beliau untuk menjemput Tuan Aldrian."


Seketika semua orang yang ada diruangan ini terdiam, dan aku melihat bibir Aldrian tampak tersenyum menyeringai.


__ADS_2