
Hari ini hari Minggu hari yang paling di tunggu oleh sebagian besar orang. Setiap hari minggu perkantoran dan pertokoan tutup. Begitu pula dengan toko buku Dewi.
Menurut Dewi, aktivitas terindah ketika bangun pagi di hari minggu adalah tidur lagi. Benar saja, setelah melaksanakan sholat subuh Dewi kembali dimakan selimut menuju alam mimpinya. Namun panggilan ringtone handphone nya membangunkan Dewi dan merusak tidur paginya.
"Hallo"
"Dengan nona Dewi Prastisia"
"Ya saya sendiri. Ada apa?"
"Bisakah anda datang ke alamat yang sudah saya kirimkan"
"Tidak bisa saya ngantuk, sampai jumpa"
"Saya ingin membeli beberapa kotak buku"
"Baik saya segera kesana"
Bagi siapapun uang adalah segalanya, begitu juga menurut Dewi. Apalagi sekarang dia harus segera mengumpulkan uang untuk membayar hutang dan biaya operasi ibunya. Walau ini hari Minggu, Dewi kembali semangat mendengar seseorang yang katanya akan membeli beberapa kotak buku. Ini adalah rezeki yang tidak boleh di tolak.
Segera Dewi berangkat ketokonya menggunakan sepeda motor bibinya, tak lupa juga ia membawa tas motor untuk tempat buku buku itu nanti.
Sesampainya di toko buku. Dewi mulai memilih dan memasukkan beberapa buku ke kotak. Tak terasa sudah ada empat kotak penuh buku. Kotak pertama berisi buku novel, kotak kedua berisi buku pelajaran, kotak ketiga berisi buku memasak, dan kotak keempat berisi buku bacaan anak anak.
__ADS_1
Setelah selesai Dewi dengan semangat 45 meletakkan sebuah kotak didepan sementara tiga lainnya ia taruh dibelakang. Ia sangat semangat mengantar buku itu karena jika dihitung hitung total bayar buku itu mencapai 5 jutaan lebih. Dengan uang itu dan sedikit tabungannya, itu sudah cukup untuk membayar biaya operasi ibunya.
********
Setelah perdebatan panjang dengan satpam kompleks kawasan elit ini, akhirnya Dewi bisa masuk. Dewi celingukan mencari no rumah dari pembeli buku buku itu. Saat menemukan rumah sang pembeli Dewi langsung memarkirkan motornya didepan pagar dan teriak memanggil penjaga rumah.
Setelah diperbolehkan masuk oleh penjaga, Dewi masuk kerumah mewah itu. Tapi dia tak kelihatan kaget, bahkan biasa saja. Entahlah sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Dewi hanya ia, author dan Tuhanlah yang tahu.
Setelah dipersilahkan duduk oleh pembantu Dewi langsung mendaratkan bokongnya di sofa yang amat empuk itu. Sementara kotak kotak buku yang dibawa Dewi diangkat para penjaga kesebuah ruangan yang menurut Dewi itu pasti ruang baca. Setelah menunggu beberapa menit tampak seorang wanita paruh baya dan seorang pemuda mendekati Dewi.
"Rendy apakah ini wanita itu?" tanya nyonya Ratih. Rendy hanya mengangguk.
"Yaampun kamu sangat cantik. Perkenalkan aku Ratih bundanya Pandu" ucapa Nyonya Ratih sambil mengulurkan tangannya.
Sudah 3 jam sejak Dewi berada ditumah Nyonya Ratih tapi ia tidak diperbolehkan pulang. Sampai Pandu dan Disa masuk ke obrolan keduanya.
"Yaampun kakak peri!! ", teriak Disa saat melihat Dewi.
"Eh Disa kok ada disini"
"Ini rumahku"
Nyonya Ratih bertanya bagaimana Disa bisa mengenal Dewi. Disa pun menceritakan awal pertemuannya dengan Dewi. Disa sangat semangat untuk menceritakan pertemuannya dengan Dewi.
__ADS_1
*********
Saat itu Disa menangis keras karena terjatuh lututnya nampak mengeluarkan cairan merah. Dewi yang melihatnya langsung menghampiri Disa.
"Dek, kakinya kenapa? kakak obatin yah?"
ucap Dewi sambil membersihkan luka Disa.
"Nggak boleh!!!, kata kakak aku nggak boleh ngomong sama orang lain. Semua orang itu iblis" teriak Disa sambil menarik kakinya menjauhi Dewi. Dewi hanya bisa menahan tawa menghadapi gadis kecil ini, ia berpikir pasti kakaknya seorang brengs*k karena mengajarkan anak kecil menganggap semua orang itu iblis.
"Sebenernya kakak itu bukan orang, kakak itu peri. Tugas peri itu mengobati orang sakit"
"Wih beneran? kalau gitu kenalin aku Disa, tapi kata kakak peri itu cuma ada didongeng"
"Buktinya kakak ada didepan kamu" ucap Dewi setelah selesai menutupi luka Disa dengan hansaplast.
"Tapi kak hiks ini sakit" ujar Disa sambil menangis.
"Ah begini kakak ada mantra turun temurun dari peri buat ilangin sakit. Disa mau ikutin" Disa yang mendengar hanya menganggukakan kepalanya.
"Sekarang angkat tangannya" Disa menurut. "Terus kita baca mantra. Sakit pergilah whush" kata Dewi.
"Sakit pergilah whush. Eh beneran sakitnya ilang, makasih yah kakak peri" ungkap Disa dengan senyum polosnya.
__ADS_1
Bersambung..........