
***
Sesuai rencana harusnya Aldrian menjemput ku di kosan tapi dia pulang lebih cepat dan sepertinya dia sudah tidak sabar untuk segera pergi jadi dia menjemput ku di kantor, untungnya dia menungguku di luar gedung sehingga tidak ada yang tahu kalau aku dijemput oleh Cucu dari pemilik gedung ini.
"Kau itu gak sabaran yaa? Biarpun kau jemput lebih cepat kita berangkatnya tetap sesuai jadwal, soalnya aku juga tetep mesti pulang dulu buat mandi, ganti baju, belum makan dulu, lagian jarak dari kantor ke kosan cuma sepuluh menit jalan kaki juga, laah ini malah naik mobil." Aku mencerocos karena kesal juga sebenarnya, bisa bisanya dia datang menjemput ku ke kantor, untungnya dia memberitahukan ku terlebih dulu saat dia sampai jadi aku menyuruhnya untuk menunggu di dalam mobil dan jangan naik ke atas.
"Sssttt, di depan belok ke kanan atau ke kiri?" Aldrian tidak mau mendengar ocehan ku dan hanya fokus ke jalanan.
"Kanan, terus stop depan mini market." Jawabku singkat.
"Tadi kau bilang harusnya aku menjemputmu di kosan? Lihat aku bahkan tidak tahu dimana kosan mu, jadi bagaimana mungkin aku langsung menjemput ke kosan?" Tanya Aldrian dengan tatapan yang masih fokus ke jalan dan tangan di atas kemudi.
"Kau kan bisa menelpon ku dulu dan bertanya dimana kosanku, nanti aku bisa share lokasinya juga!" Aku tahu Ujung-ujungnya pasti kita berdebat dan aku tidak mau kalah tentu saja.
"Ohhh iya juga ya, ko aku gak kepikiran sampai kesana ya, mungkin karena terlalu excited buat liburan, tadinya aku malah mau langsung naik ke lantai 7 dan menunggumu di samping meja kerjamu."
Bulu kudukku langsung berdiri mendengar apa yang dikatakan Aldrian, gak kebayang kalau dia beneran melakukan itu, kayanya aku gak bakalan bisa hidup damai lagi.
"Hmm? kenapa kau diam?" Ucap Aldrian sambil mengehentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah kecil dipinggir jalan.
"No comment, kita sudah sampai ayo turun."
Kami turun dari mobil, aku berjalan lebih dulu diikuti olehnya, dan kemudian kami memasuki rumah kecil yang hanya memiliki satu kamar itu.
__ADS_1
"Oh jadi ini kosan mu? Lumayan juga biarpun tempatnya kecil." Ucap Aldrian sambil mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
"Hmm kalo besar namanya mansion bukan kosan." Jawabku sarkas, dasar tuan muda, dimana mana yang namanya kosan yang begini,aku menggerutu di dalam hati.
"Yes kau benar, kalau rumahku baru bisa disebut mansion." Ucap Aldrian dengan bangga sambil mengangguk angguk kan kepalanya.
"Seriously??? Siapapun yang lihat itu rumah udah pasti nyebutnya istana, gak usah diperjelas lagi, harus ya bikin orang jadi down?"
Kelakuan dan perkataan tuan muda yang satu ini memang selalu sukses membuatku naik darah, tapi dianya malah dengan kalemnya membuka pintu kamarku dan hendak masuk tanpa menghiraukan ocehan ku, lagi.
Sontak aku langsung berlari untuk menghentikannya masuk ke kamarku tapi aku terlambat beberapa detik, dia sudah berada di dalam kamarku dan apa yang tadinya aku khawatirkan terjadi sudah, aku tadi bangun kesiangan jadi aku belum sempat memasukkan pakaian ku yang sudah kering kedalam lemari, pakaian dalam ku terpampang nyata di atas kasur, dan aku langsung berlari untuk mengambilnya dan melemparkannya kedalam lemari.
Aldrian tertawa melihat tingkah lakuku, dan apa yang diucapkannya benar benar diluar perkiraan ku, "B Cup?"
"Hm?" Aldrian pura pura tidak mengerti dengan ucapanku dan memasang wajah polos, "Aku melihatnya secara tidak sengaja, jadi bagaimana bisa kau menyebut ku mesum?"
"Kau masuk kamar perempuan seenaknya dan lagi pengetahuan mu itu sangat luas ya sampai sampai kau bisa mengetahui ukurannya hanya dengan sekali lihat, apalagi namanya kalau bukan otak mesum?"
"Aku dididik untuk memiliki wawasan yang luas dan tidak memperdulikan hal yang menurut orang tabu, karena apa?? Karena aku merupakan penerus perusahaan besar yang memiliki banyak cabang usaha salah satunya adalah pakaian dalam wanita."
Sungguh penjelasan yang sangat rasional untuk hal yang yang tidak rasional menurutku, tapi aku tidak mau berdebat lebih lama lagi dengannya, atau jadwal keberangkatan kami akan banyak tertunda.
"Terserah yang jelas sekarang kau harus keluar dari kamarku dan tunggu aku diluar, terserah kau mau menungguku sambil menonton TV di depan atau kau akan menungguku di dalam mobil mu, yang jelas sekarang enyahlah dari sini." Ucapku sambil mendorong Aldrian keluar dari kamarku dan kemudian mengunci pintu.
__ADS_1
Setelah dia tidak ada lagi di kamarku aku langsung mandi dan berganti pakaian, aku agak terburu buru agar kami tidak pergi kemalaman jadi aku hanya memakai setelan jeans dan kaos agar cepat dan simple. Setelah aku selesai aku keluar dari kamar dan mendapati Aldrian sedang duduk bersila dengan 2 buah mie cup dihadapannya, "Kau menyeduhnya sendiri?" Tanyaku sedikit kaget.
"Memangnya disini ada orang lain lagi? Ya jelaslah aku yang menyeduhnya, aku juga menyeduhkan satu untukmu agar mie nya sudah matang setelah kau selesai bersiap dan tinggal makan, sekalian menghemat waktu." Ucapnya sambil menyodorkan sebuah mie cup ke arahku.
Aku mengambil mie cup dari tangannya dan ikut duduk bersila di depan Aldrian, "Thanks, dan bagaimana kau tahu kalau aku memang mau menyeduh mie untuk ganjal perut?"
"Kau bercanda? Di dapurmu gak ada makanan lain selain mi instan, dan dengan sisa waktu dari jadwal yang sudah kau buat hanya tersisa sekitar lima belas menit lagi sebelum kita berangkat jadi menu inilah yang paling praktis."
"Harus yah kau selalu menjelaskan sesuatu dengan begitu detail?" Ucapku sambil menyeruput mie pemberian Aldrian.
"Aku hanya mencoba menjelaskan serinci mungkin agar mudah kau mengerti dan pahami, karena kau itu orangnya overthinking."
"Uhuk-" Aku tersedak gara gara mendengar ucapannya, aku overthinking?? Iyakah?
"Minum" Aldrian menyodorkan segelas air dan kemudian melanjutkan ucapannya, "Apa kau tidak sadar kalau kau itu overthinking? Otakmu itu bekerja diluar kebiasaan orang biasa."
"Aku.." Aku tidak bisa membantahnya, karena apa yang dikatakannya memang benar, aku terbiasa mengobservasi tingkah laku orang lain, mencoba menebak apa yang ada dipikiran mereka, dan jika aku tidak mendapatkan jawaban pasti aku akan terus memikirkan setiap kemungkinan yang ada, dan yaa itu namanya memang overthinking, tapi bagaimana Aldrian bisa mengetahui sifat ku yang seperti itu dengan hubungan kami yang masih terbilang baru.
"Ya kau, jangan terlalu banyak berpikir atau kau akan cepat tua dan berkeriput."
"KAAUUUUUU"
"Hahahaha."
__ADS_1
Setelah kami menyelesaikan acara makan yang penuh drama ini, kamipun segera berangkat menuju kampung halamanku, aku sudah bisa membayangkan ekspresi yang akan dibuat oleh orangtuaku nanti saat melihat Aldrian.